Comscore Tracker

Mastitis dan 9 Keluhan Ini Sering Dialami Ibu Selama Menyusui

Beberapa di antaranya dapat menghambat proses mengASIhi

Menyusui seharusnya menyenangkan. Bayangkan, dengan tatapan penuh kasih, bonding antara ibu dan bayi dapat terbangun ketika ibu memberikan nutrisi terbaiknya untuk si kecil. Sayangnya, keindahan seperti itu kadang terganggu dengan beberapa keluhan yang sering dialami oleh keduanya. Terlebih, ketika proses menyusui anak pertama, baik ibu maupun bayi masih sama-sama belajar.

1. Payudara terasa penuh dan kencang di hari-hari awal menyusui

Mastitis dan 9 Keluhan Ini Sering Dialami Ibu Selama Menyusuiunsplash.com/charlesdeluvio

Biasanya ASI tidak langsung keluar begitu ibu melahirkan. Setelah bayi berusia 3-5 hari, barulah produksi ASI mulai memenuhi kebutuhan bayi. Ibu akan merasakan payudara "penuh". Tak jarang terasa sensasi kencang atau keras yang menyebabkan ketidaknyamanan. Atau tiba-tiba ASI merembes dan menetes dari puting payudara.

Hal ini sangat normal terjadi karena payudara ibu sedang menyesuaikan kebutuhan si kecil. Kuncinya adalah sering menyusui bayi dengan posisi dan pelekatan yang tepat. Dalam beberapa hari, produksi ASI akan mengikuti kebutuhan bayi sehingga sensasi penuh ini tak lagi dirasakan. Ibu tak perlu khawatir, produksi ASI tetap cukup bagi kebutuhan bayi selama tetap disusukan sekehendak bayi. Yang penting, selalu pantau tanda-tanda kecukupan ASI seperti frekuensi buang air kecil (BAK) dan kenaikan berat badan minimal.

2. Bendungan ASI atau sumbatan saluran ASI

Mastitis dan 9 Keluhan Ini Sering Dialami Ibu Selama Menyusuiistockphoto.com/AndreyPopov

Bendungan ASI ditandai dengan payudara yang membengkak dan kemerahan. Rasa nyeri biasanya mengiringi gejala ini. Ibu bisa jadi mulai merasakan demam. Beberapa kemungkinan penyebabnya adalah inisiasi menyusu dini (IMD) tidak langsung dilakukan segera setelah proses persalinan, proses menyusui belum dilakukan secara rutin 2-3 jam sekali sekehendak bayi, atau karena posisi dan pelekatan yang belum tepat. Sumbatan saluran ASI memiliki gejala yang mirip dengan bendungan ASI, terjadi karena saluran ASI tersumbat oleh air susu yang memadat. Penyebabnya sama, namun bisa juga terjadi karena benturan pada payudara atau pakaian yang terlalu ketat.

Sama seperti keluhan sebelumnya, solusi untuk mengatasi bendungan ASI dan saluran yang tersumbat ini adalah dengan terus menyusukannya pada bayi. Pemijatan lembut juga bisa dilakukan pada payudara sembari menyusui untuk mengurangi sumbatan pada saluran ASI. Untuk mengurangi rasa nyeri, ibu bisa mengompres payudara terlebih dahulu dengan air hangat, dan setelah disusukan bisa kembali dikompres dengan air dingin atau menggunakan lembaran daun kol yang ditempelkan pada payudara.

3. Mastitis

Mastitis dan 9 Keluhan Ini Sering Dialami Ibu Selama Menyusuiistockphoto.com/Staras

Mastitis ditandai dengan pembengkakan dan kemerahan akibat peradangan payudara. Payudara terasa keras dan nyeri ketika disentuh. Berbeda dengan bendungan ASI, pembengkakan pada mastitis umumnya hanya terjadi di salah satu bagian payudara saja. Mastitis biasa terjadi pada 2-3 minggu setelah kelahiran.

Lagi-lagi penyebab keluhan ini adalah posisi dan pelekatan saat menyusui yang kurang tepat sehingga proses pengosongan payudara tidak bisa efektif. Bisa juga karena trauma atau tekanan berlebih pada payudara, atau jeda menyusui yang terlalu lama. Awalnya mastitis terjadi karena ASI yang terlalu lama berada di dalam payudara (milk stasis) dan tidak dikeluarkan sehingga menyebabkan sumbatan, atau sering disebut sebagai mastitis non infektif. Apabila terdapat luka maupun lecet pada puting, atau milk stasis dibiarkan terlalu lama tanpa penanganan berarti, mastitis infektif dapat terjadi.

Berkonsultasi dengan dokter adalah cara terbaik untuk mengatasi hal ini. Biasanya dokter akan meresepkan analgesik untuk mengurangi rasa nyeri, dan antibiotik jika terjadi infeksi. Dokter juga tetap menyarankan ibu tetap melanjutkan menyusui untuk menghilangkan milk stasis.

Baca Juga: 5 Makanan Ini Ternyata Baik Untuk Ibu Menyusui

4. Abses

Mastitis dan 9 Keluhan Ini Sering Dialami Ibu Selama Menyusuiistockphoto.com/Anetlanda

Jika ibu merasakan nyeri luar biasa pada payudara dan ada perubahan warna pada bagian yang bengkak, terlebih muncul nanah dari puting, dapat dipastikan mastitis telah berkembang menjadi abses. Tindakan dokter sudah pasti diperlukan yaitu melalui pembedahan ringan untuk mengeluarkan nanah. Tidak perlu khawatir, dalam waktu beberapa hari setelah rasa sakit berkurang, umumnya dokter sudah memberikan ijin ibu menyusui si kecil kembali. Kecuali pada kasus khusus, misalnya jika ibu pengidap HIV positif.

5. Puting luka atau lecet

Mastitis dan 9 Keluhan Ini Sering Dialami Ibu Selama Menyusuistock.adobe.com/tolikoff2013

Rasa perih dan nyeri hampir pasti dialami oleh semua ibu baru. Proses mempelajari proses yang "katanya" alami ternyata tak semudah yang dibayangkan. Puting lecet di bagian ujung hingga ke pangkalnya adalah salah satu sebab rasa perih ini. Dilema pun menghantui pikiran ibu: akan disusukan, rasa ngilunya hingga ke ubun-ubun, namun bila tak disusukan, payudara akan membengkak dan timbul rasa nyeri yang lain.

Posisi ibu dan bayi saat menyusui serta pelekatan mulut bayi terhadap payudara ibu yang belum tepat adalah penyebab luka pada puting ibu. Pelekatan yang benar, mulut bayi mencengkeram sebagian besar areola, bagian payudara yang berwarna gelap, bukan hanya di bagian puting saja.

Puting lecet dapat sembuh dengan sendirinya saat posisi dan pelekatan sudah tepat. Untuk itu, tak ada salahnya ibu meminta bantuan konselor laktasi untuk mengoreksi posisi dan pelekatan saat menyusui.                                                                           

6. Seriawan dan infeksi Candida

Mastitis dan 9 Keluhan Ini Sering Dialami Ibu Selama Menyusuiistockphoto.com/mrfiza

Seriawan akibat infeksi jamur Candida dapat terjadi baik pada mulut bayi maupun pada payudara ibu. Penularan dapat pula terjadi di antara keduanya. Nyeri pada payudara ibu dengan sensasi seperti ditusuk-ditusuk, kadang tak jua hilang meski posisi dan pelekatan sudah oke. Atau areola dengan rasa gatal dan muncul ruam kemerahan sehingga muncul perubahan warna merupakan beberapa gejala yang diakibatkan oleh infeksi ini.

Infeksi Candida pada mulut bayi menyebabkan munculnya bercak-bercak putih pada pipi bagian dalam atau lidah yang menyerupai endapan susu, namun tidak dapat hilang saat diusap dengan kain kasa basah. Bayi bisa juga menunjukkan tanda-tanda kesakitan saat menyusui akibat seriawan ini.

Infeksi oleh jamur Candida biasa terjadi saat ibu mengonsumsi antibiotik, misalnya saat pengobatan mastitis. Konsultasi dengan dokter sangat diperlukan untuk mengatasi infeksi ini karena dokter akan mengamati apakah cukup ibu saja yang diobati, atau termasuk bayi. Hal ini dilakukan untuk menghindari infeksi terjadi bolak-balik dari ibu ke bayi dan sebaliknya.

7. Anatomi puting yang unik (datar, tenggelam, besar, atau panjang)

Mastitis dan 9 Keluhan Ini Sering Dialami Ibu Selama Menyusuiistockphoto.com/altedart

Setiap manusia itu unik, bahkan bentuk payudara dan puting pun sangat bervariasi. Beberapa bentuk puting memang menyulitkan bayi saat ia harus menempelkan mulutnya ke payudara. Bentuk puting terbalik, misanya, memiliki jaringan ikat yang menahannya dari hisapan bayi sehingga puting tidak bisa muncul ke luar.

Memancing bayi dengan mengoleskan sedikit ASI di bagian puting payudara juga bisa dilakukan agar si kecil mudah mengarahkan mulutnya ke bagian yang tepat. Ibu dengan bentuk puting seperti ini tak perlu khawatir. Bayi menyusu bukan pada puting, melainkan pada areola. Hal ini akan membantu meningkatkan kepercayaan diri busui. Jam terbang perlu ditingkatkan baik bagi ibu maupun bayi, sehingga keduanya akan menemukan posisi yang dirasa paling pas dan nyaman untuk menyusui. 

Yang harus diingat, penggunaan dot atau empeng sebaiknya dihindari karena membuat bayi "malas" membuka mulut. Seiring bertambahnya usia bayi, mulutnya akan melebar dan membuatnya makin mudah "menangkap" payudara. Jaringan ikat yang menahan puting tenggelam pun lama-kelamaan akan mengendur sehingga ia akan muncul seiring berjalannya waktu. 

8. Produksi ASI (dirasa) kurang

Mastitis dan 9 Keluhan Ini Sering Dialami Ibu Selama Menyusuiistockphoto.com/Aliseenko

Sebagian ibu merasa, produksi ASInya tidak cukup memenuhi kebutuhan bayinya. Payudara dirasa terlalu lembek, tidak lagi penuh oleh ASI. Atau saat diperah, hasil perahan hanya berupa tetesan saja. Atau bayi tampak selalu kehausan, ditandai dengan tangisan dan gestur mencari-cari payudara. Saat menyusu pun bisa berjam-jam lamanya.

Benarkah produksi ASI ibu kurang?

Untuk memastikannya, ibu harus mengamati tanda-tanda kecukupan ASI yang berupa frekuensi BAK dan peningkatan berat badan (BB) bayi. Jika bayi tidak memenuhi tanda-tanda kecukupan tersebut, bisa jadi bayi tidak mendapatkan cukup asupan nutrisi dalam ASI. Kasus yang paling banyak ditemui adalah:

  • Bayi tidak segera disusui sesering mungkin, sehingga payudara belum mampu menyesuaikan kebutuhan bayi baru lahir
  • Pelekatan bayi yang belum pas pada payudara menyebabkan hisapannya tidak cukup kuat. Akibatnya, tidak banyak ASI yang masuk ke dalam saluran pencernaan bayi. Hal ini bisa diatasi dengan memperbaiki posisi dan pelekatan
  • Bayi tidak disusukan sekehendaknya atau sesuai kebutuhannya.
  • Ibu sering berganti-ganti bagian payudara sebelum satu sisi kosong sehingga bayi tidak mendapatkan cukup hindmilk yang kaya lemak.
  • Memberikan ASI atau susu formula menggunakan dot, atau dengan memberikan empeng agar bayi tenang. Ini akan menyebabkan hisapan bayi saat menyusu tidak efektif lagi.
  • Memberikan makanan atau minuman selain ASI sehingga bayi tak lagi sering menyusu. Padahal produksi ASI sangat ditentukan oleh permintaan (supply by demand). Akibatnya payudara tak lagi menghasilkan cukup ASI untuk si kecil.

Ibu perlu tahu bahwa dengan menyusui bayi sesering mungkin dan dengan manajemen laktasi yang baik, produksi ASI akan menyesuaikan kebutuhan bayi.

9. Bayi terus menerus menangis

Mastitis dan 9 Keluhan Ini Sering Dialami Ibu Selama Menyusuiistockphoto.com/damircudic

Menangis adalah cara bayi berkomunikasi dengan dunia luar. Menangis bukan melulu karena bayi lapar. Ada banyak alasan mengapa ia menangis:

  • Bayi sakit, atau merasa kesakitan. Mencari tahu lokasi atau penyebab rasa sakit ini perlu dilakukan untuk menentukan tindakan selanjutnya.
  • Bayi lapar sehingga membutuhkan ASI lebih banyak dari biasanya. Fase ini sering disebut sebagai growth spurt. Ibu hanya perlu menyusui lebih sering sesuai permintaannya, produksi ASI ibu otomatis akan menyesuaikan kebutuhan si kecil.
  • Alergi dengan makanan yang dikonsumsi oleh Ibu. Ada beberapa bayi yang memiliki kecenderungan alergi. Ibu perlu mengingat bahan pangan apa yang baru saja dimakan. Umumnya susu, telur, kedelai, teh, kopi, atau kacang-kacangan sering dituding sebagai pencetus alergi ini. Cukup hindari dulu sementara waktu sambil melihat reaksi bayi. 
  • Kolik atau gangguan pada saluran pencernaannya. Bayi sering menangis, terutama pada malam hari dengan kaki ditekuk sebagai tanda perut tidak nyaman. Gejala ini sangat sering pada bayi baru lahir dan akan mereda dengan sendirinya saat bayi berusia 3-4 bulan. Sering menggendongnya dengan posisi tegak atau dengan rutin melakukan pijat ILU dan gerakan gowes pada kakinya akan membantu mengurangi keluhan ini.
  • Bayi butuh kenyamanan. Kadang bayi hanya ingin digendong atau disusui untuk mendapatkan kenyamanan. Rawat gabung atau rooming in sangat dianjurkan agar ibu dapat mempertajam intuisinya dan membuatnya cepat dan tanggap mengenali jenis-jenis tangisan bayi.

10. Kelebihan pasokan ASI

Mastitis dan 9 Keluhan Ini Sering Dialami Ibu Selama Menyusuiistockphoto.com/iprogressman

Kelebihan pasokan ASI ditandai dengan:

  • Bayi sering menangis seperti pada gejala kolik
  • Bayi sering BAB dengan tekstur lembek dan berwarna kehijauan
  • Kenaikan berat badannya tidak cukup signifikan sesuai grafik pertumbuhan
  • Ibu sering mengalami let down reflex (LDR) akibat peningkatan hormon oksitosin yang menyebabkan aliran ASI mendadak deras sehingga bayi segera melepaskan hisapannya pada payudara ibu.

Manajemen laktasi yang baik akan membantu mengurangi keluhan ini. Lagi-lagi ibu harus memastikan posisi dan pelekatan saat bayi menyusui, serta menyusui di salah satu sisi payudara hingga terasa "kosong", baru memindahkannya pada payudara yang lain. Hal ini perlu dilakukan untuk memaksimalkan hindmilik yang diminum bayi. Terlalu banyak foremilk yang kaya laktosa menyebabkan perut kembung, kolik, dan BAB berwarna kehijauan. 

Berbagai masalah di atas adalah warna-warni yang melengkapi kisah menyusui para ibu. Semoga hal tersebut tidak menggentarkan kita untuk terus memberikan nutrisi yang terbaik bagi buah hati. Selamat mengASIhi wahai ibu..

Baca Juga: 7 Makanan Terbaik untuk Ibu Menyusui, Bayi Jadi Makin Ceria!

Yusnita M. Anggraeni Photo Writer Yusnita M. Anggraeni

An introverted extrovert, includer, and enthusiastic learner. A happy playmate and best friend for a 2-year-old toddler.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya