Comscore Tracker

IWF 2020: Ini 7 Tahap Awal Menulis Biografi ala Fenty Effendy 

Menulis biografi tidak sesusah itu, kok! #IWF2020

Kita selalu mendefinisikan arti biografi sebagai buku karangan berisi kisah orang-orang terkenal. Eits jangan salah guys, biografi tidak selalu memandang ketenaran tokoh, melainkan kisah hidup dan perjuangan seseorang dalam mencapai suatu kesuksesan.

Dalam menulis karangan biografi, kita harus dapat memimpin para pembaca terjun dalam kisah tokoh, merasakan emosinya, dan memetik satu pelajaran berharga dari cerita itu. Pertanyaannya, bagaimana membuat suatu karangan biografi menjadi 'juicy' dan menggugah minat pembaca?

Menurut Fenty Effendy, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan agar sebuah buku biografi dapat ‘hidup’ di mata pembaca. Ini sesuai untuk kamu yang tertarik untuk mencoba terjun dalam penulisan biografi. Yuk, simak artikelnya!

1. Tentukan value tokoh yang akan menjadi fokus karanganmu

IWF 2020: Ini 7 Tahap Awal Menulis Biografi ala Fenty Effendy pexels.com/Kaboompics.com

Dalam penulisan biografi, kamu harus mengenal lebih dalam tokoh yang akan kamu tulis. Carilah ‘value’ atau nilai berharga dalam diri tokoh yang ingin kamu sampaikan pada pembaca. Apa ia orang yang pantang menyerah? Apa ia orang yang berani membela kebenaran? Apa ia orang yang gigih dan setia?

Value tersebut dapat menjadi salah satu alternatif pendekatan kita terhadap apa yang kita tulis. Dengan kata lain, kita jadi memiliki satu fokus tertentu untuk penulisan kita dengan berdasar pada nilai tokoh.

2. Biografi bukan soal "siapa" tapi juga "apa"

IWF 2020: Ini 7 Tahap Awal Menulis Biografi ala Fenty Effendy Pexels.com/Andrew Neel

Fenty Effendy menekankan satu poin penting di awal sesi, bahwa spektrum penulisan biografi itu sangat luas. Dengan menentukan ‘value’ seorang tokoh, kamu dapat membingkai rangka penulisanmu menjadi lebih sempit lagi.

Kamu jadi punya bayangan akan kisah sang tokoh sebelum benar-benar mengeksplornya lebih dalam. Ini akan menjadi awal yang baik sebelum kamu terjun dalam reset dan penulisan.

Baca Juga: IWF 2020: 5 Trik Sukses Menulis Biografi Bernyawa ala Fenty Effendy

3. Pengumpulan bahan: riset itu penting!

IWF 2020: Ini 7 Tahap Awal Menulis Biografi ala Fenty Effendy pexels.com/Vlada Karpovich

Riset merupakan fondasi awal dalam menulis biografi. Ibarat membangun rumah, tentu kita harus memiliki dasar atau fondasi yang kuat. Riset yang serius akan menghasilkan karangan biografi yang menarik dan aktual.

Cara kamu menggali informasi tentang seorang tokoh seperti caranya berpikir, berperasaan, bahkan berlogika adalah kunci yang dapat membuat penulisanmu terasa hidup. Dari riset pula, kamu dapat memiliki gambaran besar mengenai karangan biografimu kelak. Kalau dari riset saja sudah tidak meyakinkan, apa yakin masih kukuh melanjutkan?

4. Menemukan konsep dan cara bagaimana kita akan menulis kisah tokoh 

IWF 2020: Ini 7 Tahap Awal Menulis Biografi ala Fenty Effendy pexels.com/Vlada Karpovich

Menemukan konsep cerita dimulai ketika kamu mulai mengenal tokoh tersebut. Dengan riset, kamu jadi dapat memecah koneksi tokoh dengan orang-orang terdekat dan teman-temanya. Ini memudahkan kamu untuk menyeleksi narasumber untuk wawancara nantinya.

Ingatlah bahwa riset itu bersifat dinamis. Baik riset awal dan lanjutan itu sama-sama penting. Jangan mudah menelan suatu informasi mentah-mentah, meski dari narasumber sendiri. Narasumber pun adalah manusia. Sebagai penulis, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk mengecek ulang fakta di balik informasi tersebut.

5. Pengumpulan bahan tahap 2: wawancara gak perlu lama-lama!

IWF 2020: Ini 7 Tahap Awal Menulis Biografi ala Fenty Effendy pexels.com/Ekaterina Bolovtsova

Menurut Fenty Effendy, waktu ideal untuk melakukan wawancara dengan narasumber adalah 2-3 jam. Lebih dari itu, baik narasumber maupun pewawancara akan merasa lelah sehingga hasilnya tidak akan maksimal. Catatlah segala hal yang sekiranya berguna untuk menunjang bukumu kelak.

Dalam wawancara pun, pewawancara harus aktif dan pintar dalam membangun suasana kondusif bagi narasumber. Jangan hanya terpaku pada pertanyaan hasil riset kita, tapi gali pula common sense berdasarkan informasi dasar pada tokoh.

6. Undang-undang menulis: terus membaca dan jangan berhenti menulis 

IWF 2020: Ini 7 Tahap Awal Menulis Biografi ala Fenty Effendy pexels.com/Andrea Piacquadio

Fenty Effendy mengutip kalimat Stephen King, penulis kontemporer Amerika Serikat, bahwa undang-undang menulis hanya dua yaitu, terus membaca dan terus menulis. Sebelum terjun dalam penulisan, kita harus membaca dulu.

Tidak usah memikirkan terlalu jauh mengenai outlining, kepenulisan, dan lain-lain. Jadi jangan pernah jemu-jemu membaca, ya!

7. Jangan takut untuk mengkritik tulisanmu sendiri  

IWF 2020: Ini 7 Tahap Awal Menulis Biografi ala Fenty Effendy pexels.com/Andrea Piacquadio

Tahap terakhir tapi tak kalah penting dengan tahap lain yaitu terus revisi tulisanmu. Seperti kalimat Fenty Effendy, “Draft pertama adalah sampah.” Kita menyadari bahwa apa yang kita tulis pertama tidak selalu berbuah manis. Ada beberapa kesalahan baik itu pengejaan kata, susunan kalimat, bahkan pemilihan diksi.

Oleh karena itu, biasakan setelah menyelesaikan satu bagian, bacalah ulang bagian tersebut dan tanya dirimu sendiri, “Apa kamu mengerti dengan yang kamu tulis?”. Penulis sejati adalah penulis yang siap dengan kritikan. Kalau kamu saja tidak siap membedah tulisanmu sendiri, bagaimana dengan pembaca lain?

Itulah 7 tahap penting dalam penulisan biografi ala Fenty Effendy. Bagaimana, guys? Dengan tips di atas, akan lebih mudah bagi kita untuk perlahan melangkah menghasilkan suatu karangan biografi. Siap mencoba?

IDN Times menggelar Indonesia Writers Festival 2020. Acara yang juga dikenal dengan IWF 2020 ini adalah pertemuan independen yang berkomitmen untuk memberdayakan Indonesia melalui bidang menulis. Acara dengan slogan Empowering Indonesians Through Writing ini dilangsungkan pada 21 hingga 26 September 2020 melalui zoom dan Youtube channel IDN Times.

IWF 2020 sendiri menghadirkan lebih dari 20 pembicara kompeten di berbagai latar belakang seperti Nadin Amizah, Sal Priadi, Agus Noor, Ivan lanin, Tsana, Kalis Mardiasih, dan masih banyak lainnya.

Simak terus keseruannya di situs idntimes.com, ya!

Baca Juga: IWF 2020: Gunakan 5 Teknik SEO Ini agar Artikelmu Dibaca Banyak Orang

Caroline Graciela Harmanto Photo Verified Writer Caroline Graciela Harmanto

Cinta menulis sedari duduk di bangku SD, masih terus belajar agar dapat menerbitkan konten yang berguna bagi masyarakat.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Diana Hasna

Berita Terkini Lainnya