Comscore Tracker

Kisah Jordy Tingkatkan Literasi dan Edukasi di Mansinam, Papua Barat

Gapai asa di tengah banyaknya tantangan

Mungkin tak banyak pemuda di negeri ini yang mau dan rela menuju ke wilayah pelosok untuk berbagi ilmu. Ya, di tengah kelangkaan itu, ada nama Bhrisco Jordy Dudi Padatu yang sudah 2 tahun ini aktif mengajarkan anak-anak di Pulau Mansinam agar mereka juga memiliki tingkat literasi dan edukasi yang lebih baik.

Jordy—begitu ia akrab dipanggil—memang tak kenal lelah untuk mengajarkan dan memberi pemahaman kepada anak-anak di Pulau Mansinam agar mereka mengerti betapa mereka pun layak untuk berpendidikan. Peraih 13th SATU Indonesia Awards dari Astra Indonesia ini memang begitu gigih untuk membagikan ilmu dan apa yang ia pahami di dunia pendidikan.

Kisah inspiratif Jordy ini dibagikan untuk menyebarkan kebaikan dan tentu juga membuktikan bahwa kita bisa bangkit bersama untuk Indonesia. Tersenyumlah Indonesia karena masih ada pemuda-pemudi tangguh yang mau menebarkan semangat dan harapan bagi anak-anak di pulau terpencil. Yuk, ikuti kisahnya!

1. Membentuk Papua Future Project sejak 2020

Kisah Jordy Tingkatkan Literasi dan Edukasi di Mansinam, Papua BaratBhrisco Jordy sudah membentuk organisasi Papua Future Project sejak 2020 lalu. (dok. Papua Future Project)

Kendati tidak mudah, langkah Bhrisco Jordy Dudi Padatu untuk menggapai mimpi dan harapannya selalu ia buktikan dengan konsistensi. Buktinya, ia serius untuk membentuk sebuah organisasi atau komunitas pemuda bernama Papua Future Project. Non-governmental organization (NGO) yang dibentuk pada 2020 tersebut fokus pada isu-isu yang berkaitan dengan edukasi dan literasi di tengah masyarakat yang masih memegang teguh adat atau budaya lokal.

Tentu ia tidak berangkat dari asumsi semata, melainkan bukti di lapangan bahwa masih ada banyak ketimpangan di beberapa wilayah yang ada di Papua Barat. Daerah yang menjadi basis pengajaran Jordy adalah Pulau Mansinam, sebuah wilayah kecil yang letaknya hanya sekitar 6—8 kilometer dari Kota Manokwari.

Sayangnya, meski bisa dituju 20 menit dengan kapal atau perahu, kualitas pendidikan dari anak-anak di Pulau Mansinam masih sangat rendah. Di sana hanya memiliki satu buah bangunan sekolah dasar (SD) yang tidak mendapatkan layanan maksimal dari guru karena pengajaran formal sepertinya hanya berkutat di Kota Manokwari. Hal itulah yang membuatnya mantap untuk membentuk komunitas ini dan membagi ilmunya kepada anak-anak di sana.

2. Tingkat edukasi yang rendah ditambah ketatnya aturan adat

Kisah Jordy Tingkatkan Literasi dan Edukasi di Mansinam, Papua BaratAntusiasme anak-anak di Pulau Mansinam membuktikan bahwa mereka mau untuk belajar dan berpendidikan. (dok. Papua Future Project)

"Kami juga memberikan pemahaman kepada orangtua berkenaan dengan perempuan yang menikah di usia sangat muda di sini. Ada beberapa kerugian menikah muda, seperti ketidaksiapan mental, fisik, dan tentu edukasi yang terhambat."

Berjuang di tengah masyarakat yang masih memegang teguh adat atau budaya lokal yang sangat kental tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Jordy dan kawan-kawan. Salah satunya adalah anggapan bahwa anak-anak perempuan diharuskan menikah pada usia yang masih sangat muda.

Tentu di sinilah peran Jordy dan komunitas Papua Future Project untuk memberikan pemahaman dan pengertian yang benar terhadap orangtua dari anak-anak di Pulau Mansinam. Bahkan, dalam wawancara yang penulis lakukan pada 3 Desember 2022, Jordy menyatakan bahwa warga Pulau Mansinam sudah menganggap alam sebagai ayah dan ibu mereka.

Pendekatan yang ramah dan membumi pun dilakukan oleh komunitas ini yang pada akhirnya mampu mengajak banyak anak di Pulau Mansinam untuk terlibat aktif dalam hal belajar mengajar. Setidaknya, kemampuan literasi mereka bisa meningkat dan mereka pun memahami bahwa pendidikan adalah hak semua orang.

Baca Juga: Justitia Avila dan Suara Lantangnya Dampingi Korban Kekerasan Seksual

3. Tidak bisa dipaksa untuk mengejar kurikulum nasional

Kisah Jordy Tingkatkan Literasi dan Edukasi di Mansinam, Papua Baratkegiatan belajar mengajar di Pulau Mansinam (dok. Papua Future Project)

Tak adil rasanya jika kurikulum nasional dari pusat harus dipaksakan kepada anak-anak di Pulau Mansinam. Ini bukan karena anak-anak itu tak unggul, bukan pula karena semangat belajar yang rendah. Sebaliknya, di tengah antusiasme tinggi yang diperlihatkan anak-anak Pulau Mansinam, perangkat sarana, fasilitas, dan infrastruktur yang ada justru tidak mendukung.

Dalam hal online, misalnya, sinyal internet yang ada di sana pun masih belum cukup bagus untuk dijadikan saranan belajar mengajar. Salah satu solusi yang diambil oleh rekan-rekan sukarelawan adalah mengumpulkan video pelajaran di dalam berkas penyimpanan digital dan akhirnya dikirim ke sana untuk bisa sama-sama dilihat dengan lancar.

Ironisnya lagi, ongkos atau biaya pengiriman ke daerah timur negeri ini sangatlah mahal. Well, itu sebabnya Jordy memiliki teman-teman di Jakarta yang bisa membantu mengirimkan kebutuhan edukasi melalui kapal laut. Terlepas dari itu semua, fasilitas yang ada di Pulau Mansinam memang masih butuh perhatian dari banyak pihak.

4. Gapai asa di tengah tantangan nyata

Kisah Jordy Tingkatkan Literasi dan Edukasi di Mansinam, Papua BaratMenggapai asa dan impian bagi anak-anak di Pulau Mansinam bukannya tanpa tantangan. (dok. Papua Future Project)

Konsistensi yang dijalankan oleh Bhrisco Jordy Dudi Padatu bersama dengan komunitas Papua Future Project bukannya tanpa tantangan sama sekali. Selain wilayah yang hanya bisa dituju dengan kapal atau perahu dengan biaya lumayan mahal, kendala utama yang dialami oleh volunter di sana adalah ketersediaan pemuda yang memiliki waktu untuk mengajar.

"Salah satu tantangan yang ada adalah ketersediaan anak-anak muda yang mau sukarela dan memiliki waktu konsisten untuk mengajar di sini."

Ya, menurut Jordy, keterbatasan guru-guru muda yang ada di Pulau Mansinam memang menjadi salah satu tantangan terbesar. Tidak banyak anak-anak muda dari kota yang mau secara konsisten untuk meluangkan waktunya di Pulau Mansinam. Namun, tentu Jordy dan kawan-kawan tidak menyerah.

Tantangan berikutnya adalah dana atau biaya yang cukup besar untuk melakukan program-program yang ada. Itu sebabnya, donasi dari siapa saja tentu bisa sangat meringankan langka-langkah pejuang literasi di Pulau Mansinam. Untungnya, berkat dukungan dari beberapa pihak, program-program Papua Future Project di Papua Barat bisa direalisasikan.

5. Impian dan harapan

Kisah Jordy Tingkatkan Literasi dan Edukasi di Mansinam, Papua BaratPapua Future Project memiliki impian untuk anak-anak di Pulau Mansinam dalam hal edukasi. (dok. Papua Future Project)

Harapan dan impian dari Bhrisco Jordy Dudi Padatu bersama dengan Papua Future Project tentu masih terfokus pada cita-cita dari anak-anak di Pulau Mansinam. Dengan beberapa program, ia berharap tingkat literasi dan edukasi di pulau ini bisa mengalami peningkatan.

Ia juga berharap apa yang telah dirintis dan dijalankannya hingga kini bisa membawa Pulau Mansinam menjadi lebih baik lagi. Beberapa program yang sudah ia jalankan, di antaranya buku bacaan keliling, penerapan sistem pengajaran sesuai dengan alam, dan pengenalan teknologi komunikasi, menjadi cara-cara potensial untuk meningkatkan minat mereka terhadap hal-hal edukatif.

Tak lupa diharapkan ada keterlibatan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah sampai peran anak-anak muda yang mau dengan rela untuk berkontribusi di sana. Sama dengan daerah lainnya, anak-anak di Pulau Mansinam juga berhak untuk hidup cerdas dan mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

Nah, bangga rasanya ketika kita tahu dan mengenal salah satu sosok hebat di balik SATU Indonesia Awards 2022 dari Astra ini. Kamu pun bisa terlibat untuk memberi dukungan dalam bentuk apa pun dengan cara follow dan menghubungi akun Instagram mereka di @papuafutureproject. Yuk, selalu dukung kisah-kisah inspiratif di negeri ini karena Kita Satu Indonesia.

Baca Juga: Demi Indonesia Lebih Baik, Alvinia Bentuk Komunitas Teman Autis  

Dahli Anggara Photo Verified Writer Dahli Anggara

Age quod agis...

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya