Comscore Tracker

Perkembangan Pesat Islam di Korea Bikin Nyaman Jadi Rumah Kedua

Inspirasi Ramadan IDN #Part18

Korea Selatan menjadi salah satu negara paling diminati sebagian besar anak muda Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Budaya pop berpengaruh besar pada reputasi Negeri Gingseng ini. Musik dan drama mereka adalah komoditi laris manis di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Gak heran kalau lambat laun negara itu sendiri menjadi tujuan yang menarik bagi millennials tanah air.

Namun, Korea Selatan tidak seperti Amerika Serikat yang latar belakang penduduk dan budayanya begitu plural. Juga berbeda dengan Indonesia yang penuh dengan keberagaman SARA. Sama seperti beberapa negara Asia Timur lainnya, Korea hampir homogen dari segi demografi etnis penduduknya. Seorang pengunjung dari negara lain akan terlihat mencolok dan berbeda bagi warga asli sana. Paling tidak ini yang terjadi waktu Ummul Hasanah, 28 tahun. Untuk pertama kalinya, ia mengunjungi Korea pada 6 tahun yang lalu.

Mereka pernah memandangi jilbab Ummul dengan tatapan aneh.

Perkembangan Pesat Islam di Korea Bikin Nyaman Jadi Rumah Keduawww.instagram.com/miss_uchani

Ummul mengenang kembali pengalamannya saat pertama kali menginjakkan kaki di Korea Selatan. Saat itu, ia sedang menempuh pendidikan S2 di Chulalongkorn University, Thailand, yang menggelar pertukaran pelajar ke Seoul National University, Korea Selatan.

Dosen sekolah vokasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu merasa kerap dipandangi dengan penuh keheranan, bahkan seperti dipelototi. Fokus warga setempat bertumpu pada kerudung yang dikenakannya. Tatapan yang begitu intens membuatnya merasa tak aman dan nyaman mengenakan jilbab.

Memang, penampilan Ummul tampak kontras dibandingkan masyarakat setempat. Tampaknya, pemahaman terhadap agama selain ajaran konfusianisme, Buddha, Katolik, atau Protestan belum populer di Korea Selatan pada saat itu.

Dulu, makan tak bisa sembarangan, hidangan halal pun tak mudah dijumpai.

Perkembangan Pesat Islam di Korea Bikin Nyaman Jadi Rumah Keduawww.instagram.com/miss_uchani

Belum populernya agama Islam di Korea Selatan membuat Ummul harus esktra hati-hati memilih makanan. Pasalnya, di sana belum ada kesadaran makanan halal untuk umat muslim. Ada sih beberapa toko yang menjual bahan makanan halal, tetapi jumlahnya masih dalam hitungan jari. Langka dan jauh. Misalnya hanya di Ansan, daerah yang terkenal ramai para pekerja asing, termasuk Tenaga Kerja Indonesia.

Pemahaman agama Islam di Korea Selatan semakin berkembang pesat.

Perkembangan Pesat Islam di Korea Bikin Nyaman Jadi Rumah Keduawww.instagram.com/miss_uchani

Sejak 2011 hingga sekarang, Ummul sudah beberapa kali bolak-balik ke Korea untuk liburan maupun tugas dinasnya. Tahun ini, dia harus kembali menetap sementara di sana untuk menjalankan Fellowship Program dari Korea Foundation. Ia merasa banyak perubahan yang cukup signifikan, terutama terkait penerimaan masyarakat lokal terhadap agama Islam dan pemeluknya.

Misalnya, menjalankan ibadah bulan suci Ramadan tak lagi sesulit yang dibayangkan. Meski waktunya lebih panjang yakni mencapai 16 jam, tetapi suhu yang sejuk dan toleransi di sana membuat Ummul lebih mudah menjalani puasa. Ya, sekarang Korea Selatan tak lagi kekurangan informasi soal Islam seperti waktu 2011 dulu lagi.

Baca Juga: Ramadan di UK: Rindu Iklan Sirup Hingga Takut Tak Bisa Puasa Penuh

Banyaknya mahasiswa asing dari negara super plural, seperti Inggris dan Kanada, secara tidak langsung juga mempermudah Ummul. Mereka sudah tak asing lagi dengan Islam, sehingga ia tak perlu repot-repot menjelaskan ibadah yang dijalaninya. Selain itu, Ummul pun tak sendiri menjalankan puasa Ramadan. Ada beberapa teman dari Mesir yang juga berpuasa.

Sekarang, berjilbab tak lagi jadi fenomena aneh di mata masyarakat lokal. 

Perkembangan Pesat Islam di Korea Bikin Nyaman Jadi Rumah Keduawww.instagram.com/miss_uchani

Wawasan masyarakat setempat tentang Islam semakin berkembang, seiring dengan banyaknya pengunjung dari negara-negara muslim, seperti Malaysia, Indonesia, dan Turki. Mereka tak lagi memandang aneh atau heran dengan wanita berkerudung. 

"Kecuali kalau pergi ke pelosok ya, kadang anak-anak kecil masih penasaran 'kenapa kepalanya ditutupi?'" ujar Ummul. Kalau di kota besar, biasanya masyarakat sudah tahu maksud penggunaan jilbab. Malah banyak yang langsung menebak "Anda dari Malaysia ya?"

Sebagian orang Korea asli sudah paham. Sebagian lainnya masih penasaran, tetapi dengan pendekatan yang lebih bersahabat. Sesekali songsaenim (guru) yang mengajar Ummul bertanya lebih banyak untuk memahami Islam. Misalnya apa alasan seseorang mengenakan jilbab, bagaimana cara pakainya, mengapa gaya berjilbab tiap negara berbeda-beda. Ia pun dengan senang hati menjelaskannya.

Makanan halal bukan lagi sesuatu yang langka di Seoul. 

Perkembangan Pesat Islam di Korea Bikin Nyaman Jadi Rumah Keduawww.instagram.com/miss_uchani

Tak hanya itu, kesadaran pentingnya makanan halal sudah sangat terpupuk. Bahkan, tak sedikit pebisnis asli Korea Selatan melihat hal ini sebagai peluang bisnis yang bagus, apalagi jumlah pengunjung dari negara mayoritas muslim terus meningkat. Sekarang, mencari bahan makanan halal tak lagi sesulit dulu.

Biasanya, ia berbelanja dua kali dalam sebulan di toko bahan makanan Indonesia di Ansan, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Dia tak perlu lagi menebak-nebak atau berdoa lebih banyak karena khawatir makanan yang disantapnya tak halal. Rumah makan halal pun sudah banyak di temui di daerah pusat seperti Itaewon, Seoul. Meski kebanyakan hidangan Timur Tengah atau Melayu, yang penting tak ada kekhawatiran ketika menyantapnya.

Jumlah masjid dan musala sudah meningkat dibandingkan 6 tahun yang lalu. 

Perkembangan Pesat Islam di Korea Bikin Nyaman Jadi Rumah Keduawww.instagram.com/miss_uchani

Ummul tak lagi merasa ada perbedaan berpuasa di Indonesia atau Korea Selatan. Sebab, banyak kemudahan saat berbuka dan sahur. Lingkungan pun cukup kondusif untuk menjalankan puasa dengan segala aktivitasnya. Hanya saja, ia selalu merindukan kesakralan tarawih berjamaah di masjid. "Ada sih masjid, tapi jauh banget dari apartemenku. Plus, tarawih di sini baru mulai pukul 21.30," kata alumnus Universitas Gadjah Mada jurusan Sastra Inggris itu.

Tapi tak mengapa, bagi Ummul, kemajuan baru untuk Islam di Korea bisa terlihat dari banyaknya masjid dan musala. Ia merasa cukup bahagia. Contohnya seperti masjid di Itaewon yang sering menyebarkan informasi dan ajaran Islam. Masjid dan musala juga sudah mulai banyak dibangun di kampus-kampus dan tempat wisata.

Kalau begini, Korea jadi semakin nyaman menjadi rumah kedua. Kerja lancar, ibadah pun tak akan terganggu. "Kamu kapan main ke sini, Dan?" celetukan Ummul memicuku mengingat-ingat saldo tabungan di bank, sudah cukup belum ya untuk berkunjung ke sana. 

Baca Juga: Inspirasi Ramadan: Indahnya Ramadan Bagi Seorang Mualaf

Topic:

Just For You