Comscore Tracker

#GreenBeauty Rawat Bumi, Sudahkah Keseharian Kita Bijak Pakai Plastik?

Yuk, kita mulai kendalikan penggunaan plastik sehari-hari

Sampah plastik sudah menjadi masalah global bagi keberlanjutan bumi. Memang dari sisi industri dan ekonomi, keberadaan plastik hadir dengan beberapa manfaatnya dibandingkan dengan bahan lain. Namun, kelemahan plastik yang sulit untuk terurai pun menjadi masalah serius bagi lingkungan.

Gaya hidup dan ketergantungan akan produk plastik menjadi semakin meningkat tiap tahunnya membuat volume sampah juga ikut meningkat. Belum lagi keterbatasan untuk mendaur ulang sampah plastik memungkinkan proses pengelolaan sampah ini membutuhkan waktu cukup lama. Untuk itu, menjaga dan merawat ekosistem bumi dan lingkungan dari sampah plastik adalah komitmen yang harus kita lakukan.

Meski kita tidak bisa mengontrol produksi plastiknya, namun kita mempunyai pilihan untuk secara bijak menggunakan produk plastik yang ada serta mengendalikan penumpukan sampah yang berakhir di tempat pembuangan atau menjadi polutan laut. Lalu, seperti apakah konsep bijak menggunakan plastik yang bisa kita terapkan?

1. Ketergantungan konsumsi plastik dan alarm darurat krisis lingkungan hidup

#GreenBeauty Rawat Bumi, Sudahkah Keseharian Kita Bijak Pakai Plastik?ilustrasi sampah plastik (unsplash.com/@martijnbaudoin)

Sifat plastik yang serbaguna, tahan lama, dan ekonomis menjadi alasan tingginya konsumsi plastik. Tidak bisa dimungkiri, hampir semua bidang industri secara masif menggunakan material plastik. Total konsumsi plastik ini pun semakin meningkat terutama di daerah kota-kota besar. Gaya konsumsi plastik yang dianggap hanya sebagai produk sekali pakai berujung pada penumpukan sampah dan krisis lingkungan yang baru.

Sampah plastik termasuk dalam sampah dengan daya urai cukup lama. Bahkan, sebagian besar sampah plastik yang saat ini berada di tempat pembuangan akhir (TPA) adalah sampah dari beberapa tahun lalu. Sampah plastik juga menjadi salah satu polutan laut yang membahayakan biota laut. Beberapa biota laut menganggap sampah plastik ini sebagai makanan yang akan mengganggu sistem pencernaannya dan tak jarang berakhir pada kematian.

2. Awalnya, plastik adalah penemuan terbaik untuk mengatasi ketergantungan pada alam

#GreenBeauty Rawat Bumi, Sudahkah Keseharian Kita Bijak Pakai Plastik?ilustrasi kantong plastik (pixabay.com/users/cocoparisienne)

Sejatinya, penciptaan material plastik dimaksudkan sebagai solusi dari ketergantungan industri masa lalu pada sumber daya alam sekaligus upaya menyelamatkan bumi demi keberlanjutan. Contohnya adalah pada industri pengolahan kantong kertas yang membutuhkan material kayu. Semakin banyak permintaan akan kantong kertas, maka semakin banyak jumlah pohon yang harus ditebang.

Karakteristik plastik yang ekonomis, praktis, serbaguna dan mudah dibentuk akhirnya secara masif diproduksi sebagai alternatif untuk menggantikan kantong kertas dengan tujuan pakai berulang kali. Lambat laun, revolusi penggunaan plastik makin gencar di dunia industri untuk berbagai keperluan. Hingga akhirnya, persepsi penggunaan plastik ini mulai bergeser pada penggunaan sekali pakai.

Kondisi ini menyebabkan meningkatnya permintaan akan produk plastik yang berakibat pada penumpukan sampah plastik yang menyebabkan isu lingkungan. Terlebih setelah ditemukannya kasus penumpukan sampah di lautan yang mengakibatkan rusaknya ekosistem biota laut. Dari sinilah muncul kekhawatiran mengenai plastik dan menjadi sampah yang diwaspadai. Ragam kampanye antiplastik pun mulai digaungkan.

Baca Juga: #GreenBeauty 5 Cara Mudah Dukung Lingkungan Minim Plastik 

3. Bukan hanya meminimalkan plastiknya tapi juga pada mengubah kebiasaan penggunaannya

#GreenBeauty Rawat Bumi, Sudahkah Keseharian Kita Bijak Pakai Plastik?ilustrasi membawa kantong belanja (unsplash.com/@mistermon)

Dari kondisi yang telah dipaparkan sebelumnya, perlu adanya perubahan pola kebiasaan dan tanggung jawab dalam penggunaan plastik. Plastik sudah menjadi bagian dari keseharian manusia. Hampir sebagian besar produk yang kita gunakan menggunakan bahan material plastik. Munculnya beragam kampanye anti penggunaan plastik justru memunculkan dua kubu berseberangan, mereka yang menganggap produk plastik sebagai 'musuh' dan mereka yang menanyakan 'apakah kita bisa hidup tanpa plastik?'.

Kubu kedua sangat menarik bahkan mungkin sebagian besar masyarakat akan setuju bila hidup tanpa plastik itu akan sulit. Pasalnya, selain kantong dan sedotan plastik yang sering menjadi permasalahan, beberapa produk dan komponennya sudah terbuat dari bahan plastik dan belum tersedianya material alternatif. Selain itu penggunaan plastik pada barang tersebut karena tepat guna dan tahan lama. Contohnya pulpen, smartphone, peralatan rumah tangga, aksesori dan lainnya. Kubu pertama juga benar karena memang dampak pencemarannya sangat nyata.

Melihat fakta hal ini, yang bisa kita lakukan adalah merubah pola kebiasaan penggunaan produk tersebut dan mengendalikan peredarannya. Karena jika dilihat lebih jauh, sampah plastik bukan satu-satunya kesalahan tetapi perilaku masyarakatnya juga perlu diubah. Selain membawa sedotan, kantong belanja, maupun botol minum sendiri, kita bisa menekan peredaran plastik dengan memilah produk plastik yang digunakan. Tinggalkan produk plastik yang tidak bisa didaur ulang dan mulai mendaur ulang produk plastik yang tak digunakan. Hal ini agar produk tak berakhir di pembuangan maupun lautan.

Ingat, kita tidak perlu langsung zero plastic karena beberapa produk plastik mungkin sulit ditinggalkan. Paling minimal adalah less plastic. Kita lakukan bertahap karena hal kecil tersebut menjadi #OneGreenStep untuk dampak yang lebih besar bagi keberlanjutan alam.

4. Konsep 3R (reduce, reuse, dan recycle) adalah solusi pengelolaan sampah yang sederhana namun efektif

#GreenBeauty Rawat Bumi, Sudahkah Keseharian Kita Bijak Pakai Plastik?ilustrasi recycle sampah (unsplash.com/@sigmund)

Menekan peredaran plastik adalah salah satu cara bijak dalam menggunakan plastik. Hal ini bisa dilakukan dengan solusi pengelolaan sampah dengan konsep 3R yaitu reduce, reuse, dan recycle. Bahkan saat ini, telah muncul penambahan konsep baru yang menyertai konsep 3R yaitu recovery dan disposal

1. Reduce (mengurangi)
Tahapan ini adalah mengurangi produksi dan penggunaan barang terutama plastik yang berpotensi menjadi sampah atau menggunakan produk secara berulang, bukan sekali pakai. Reduce adalah tahapan paling prioritas untuk bijak menggunakan plastik. Contohnya yang umum adalah membawa kantong belanja atau sedotan sendiri.

2. Reuse (menggunakan kembali)
Pengelolaan sampah selanjutnya didukung dengan tahapan reuse. Reuse berarti menggunakan kembali produk sampah untuk keperluan lain. Misalnya, jika kamu punya botol plastik, kamu bisa mempergunakannya sebagai pot tanaman atau kerajinan tangan.

3. Recycle (mendaur ulang)
Sederhananya, proses recycle adalah proses mendaur ulang material sampah seperti plastik. Proses recycle ini pada dasarnya memberikan kesempatan kedua pada sampah tersebut untuk dijadikan material dari produk baru yang lebih bernilai ekonomis. Selain itu, daur ulang berguna untuk mengurangi suatu produk menjadi limbah sampah yang tak terkendali.

Saat ini, masyarakat yang ingin mendaur ulang sampahnya semakin dipermudah dengan adanya dukungan teknologi. Salah satunya dengan memanfaatkan platform aplikasi eRecycle. Garnier berkolaborasi dengan eRecycle mengkampanyekan program #GarnierGreenBeauty sebagai bentuk komitmen Garnier memerangi limbah plastik sekaligus sebagai solusi untuk masyarakat berpartisipasi dalam program daur ulang.

Khusus Jadetabek, kamu bisa memanfaatkan eRecycle ini untuk melakukan penjemputan sampah. Eitss, agar lebih memudahkan prosesnya, terlebih dahulu pilah sampahmu ya! Sampah-sampah yang telah dikumpulkan ini selanjutnya akan didaur ulang menjadi berbagai produk baru seperti furniture rumah tangga, reusable packaging, dan eco bricks. Aplikasi eRecycle ini bisa kamu unduh di Google Playstore dan App Store.

Gimana, keren kan! #GarnierxIDNTimes mengajak kamu ikut ambil bagian dalam kampanye #GarnierGreenBeauty ini dan bersama-sama mengelola sampah plastik. Untuk informasi selengkapnya, kamu bisa langsung cek laman https://www.garnier.co.id/greenbeauty.

4. Recovery
Proses pengelolaan ini mengacu pada sampah yang tidak bisa didaur ulang akan diproses lebih lanjut untuk diubah menjadi produk energi seperti biogas atau jenis bahan bakar lainnya.

5. Disposal
Tahapan akhir ini adalah produk sisa atau residu dari proses recovery seperti abu ataupun jenis sampah yang tidak bisa didaur ulang dan tidak memiliki nilai ekonomis akan dialokasikan ke tempat pembuangan akhir (TPA) untuk diproses lebih lanjut.

Fungsi dari konsep 3R dan dua tahapan yang menyertainya tak lain adalah menerapkan siklus tertutup (loop closed cycle) untuk mengurangi jumlah peredaran dan timbunan sampah plastik di tempat pembuangan akhir (TPA). Sebisa mungkin, pengolahan sampah bisa berakhir cukup di lingkup terkecil seperti rumah tangga.

5. Industri juga perlu memulai memperhitungkan nilai suatu material produk dan menjadi bagian dari ekonomi bisnis sirkular

#GreenBeauty Rawat Bumi, Sudahkah Keseharian Kita Bijak Pakai Plastik?ilustrasi garnier green beauty (instagram.com/garnierindonesia)

Tak hanya dari konsumen sebagai pengguna produk, bijak menggunakan plastik juga harus dimulai dari rantai pertama pembuatan produk, yaitu industri. Saat ini, industri sudah harus mulai memperhitungkan nilai guna suatu material produk, harus bisa memproduksi barang dengan meminimalkan terjadinya pembuangan produk yang berujung pada sumber sampah. Ada proses siklus berulang dari sebuah barang yang bisa dimanfaatkan lebih lanjut sehingga menguntungkan dari sisi ekonomi. Konsep ini dikenal dengan istilah sebagai ekonomi sirkular. Beberapa industri sudah mulai menerapkan konsep ini. Salah satunya adalah merek kecantikan terkemuka, Garnier.

Sebagai bagian dari komitmen Garnier lewat kampanye #GarnierGreenBeauty, Garnier telah menerapkan konsep ekonomi sirkular ini. Sejak tahun 2019, Garnier meniadakan penggunaan selofan (lembaran plastik transparan) di produknya. Pada tahun 2021 ini, produk Sakura Glow Water-Glow Essence menggunakan 100 persen plastik daur ulang. Botol kemasan Micellar Water pun menggunakan 25 persen plastik daur ulang. Kemasan dari kedua jenis varian produk ini 100 persen dapat didaur ulang. Selain itu, produk masker wajah Garnier dengan lapisan tisu dapat terurai dengan metode kompos. Dengan begini, Garnier meminimalkan produknya berakhir menjadi sampah.

Komitmen ini terus diproyeksikan oleh Garnier untuk jangka panjang. Pada tahun 2022 nanti, Garnier akan menghemat 402 ton plastik baru. Hingga pada tahun 2025 mendatang, semua produk Garnier akan dibuat tanpa plastik baru. Jika, setiap industri mulai menerapkan konsep ini, peredaran sampah plastik bisa diminimalkan sehingga keberlanjutan bumi tetap terjaga.

6. Sudah tahu karakteristik produk plastikmu? Mulai sekarang, cobalah untuk mengenali jenis plastik yang beredar

#GreenBeauty Rawat Bumi, Sudahkah Keseharian Kita Bijak Pakai Plastik?ilustrasi kemasan plastik (unsplash.com/@steve_j)

Salah satu bentuk komitmen untuk bijak menggunakan plastik adalah mengetahui jenis dan karakteristik produk plastik yang kita gunakan. Dengan mengetahui karakteristik plastik dari produk yang kita gunakan, kita dapat memilih produk mana yang bisa kita manfaatkan lebih lanjut sehingga ada tanggung jawab penggunaannya.

Setidaknya, ada 7 jenis karakteristik plastik yang perlu kita ketahui. Tiap karakteristik plastik ini ditandai dengan simbol segitiga dengan nomor tertentu pada kemasan produknya. Apa saja?

1. Polyethylene Terephthalate (PET atau PETE)
Jenis plastik ini biasa ditemukan sebagai kemasan produk minuman. Jenis produk ini juga bisa ditemukan pada beberapa wadah makanan. Pada kemasannya, jenis plastik ini ditandai dengan simbol segitiga panah dengan angka 1. PET merupakan jenis plastik sekali pakai. Jika kamu bertanggung jawab dalam penggunaannya, jenis plastik ini bisa didaur ulang.

2. High-Density Polyethylene (HDPE)
Jenis plastik ini ditandai dengan simbol segitiga panah dengan angka 2. Plastik HDPE banyak ditemukan pada produk galon air minum dan produk berkemasan tebal seperti botol sampo dan deterjen. Jenis plastik ini bisa didaur ulang dan dapat digunakan berulang kali.

3. Polyvinyl Chloride (PVC)
Jenis plastik ini ditandai dengan simbol segitiga panah dengan angka 3. PVC banyak digunakan sebagai material pipa air dan beberapa mainan anak. Produk plastik ini tidak bisa didaur ulang sehingga penggunaan plastik PVC sebaiknya dihindari.

4. Low-Density Polyethylene (LDPE)
Jenis plastik termasuk dalam jenis plastik yang paling banyak digunakan. Plastik LDPE banyak ditemukan pada produk kantong kresek, kantong sampah, dan beberapa kemasan makanan. Produk jenis ini ditandai dengan segitiga panah dengan angka 4. Dapat digunakan berulang kali namun cukup sulit dan butuh waktu untuk didaur ulang.

5. Polypropylene (PP)
Jenis plastik ini ditandai dengan simbol segitiga panah dengan angka 5. PP termasuk jenis yang tahan panas sehingga digunakan pada wadah makanan. Jenis plastik ini juga ditemukan pada sedotan, lapisan kotak sereal, tutup botol plastik dan wadah mentega. Jenis plastik PP bisa didaur ulang. Namun, alangkah baiknya untuk dihindari.

6. PS (Polystyrene)
Jenis plastik ini ditandai dengan simbol segitiga panah dengan angka 6. PS banyak digunakan sebagai material gelas minuman sekali pakai, garpu dan piring plastik. PS juga menjadi bahan yang dipakai dalam pembuatan styrofoam. Penggunaan jenis plastik ini sebaiknya dihindari selain karena alasan kesehatan juga tergolong sulit didaur ulang.

7. Other Plastic
Kategori ini ditandai dengan simbol segitiga panah dengan angka 7. Contohnya adalah acrylic, nylon, polycarbonate dan polylactic acid (PLA). Beberapa negara termasuk Indonesia melarang kemasan polikarbonat yang mengandung BPA untuk digunakan sebagai wadah makanan atau minuman karena menimbulkan risiko kesehatan. Namun, tidak semua kemasan dengan simbol 7 terbuat dari plastik polikarbonat. Untuk itu, kamu harus lebih teliti ketika memilih produknya. Biasanya produsen mencantumkan slogan BPA Free sebagai jaminan produk tersebut bebas dari material BPA. Tingkat daur ulang plastik jenis ini sangat rendah sehingga perlu dihindari kecuali jenis plastik PLA yang masuk dalam golongan bioplastik yang dapat terurai lebih cepat di lingkungan (bio-degradable).

Yuk, mulai sekarang kita komitmen untuk lebih bijak lagi menggunakan plastik. Mulai dari mengenal plastiknya, bertanggung jawab dalam penggunaannya hingga aware terhadap industri yang memproduksinya. Hal ini agar meminimalkan potensi produk plastik menjadi sampah.

Baca Juga: #GreenBeauty Lakukan 5 Aksi Nyata untuk Kurangi Limbah Plastik

Dede Surya Pradipta Photo Verified Writer Dede Surya Pradipta

Pop news geek in superhero movie, comics, and series

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Merry Wulan

Berita Terkini Lainnya