Comscore Tracker

7 Penulis Non Bahasa Inggris yang Novelnya Wajib Dicicip

#IDNTimesLife Selain Elena Ferrante dan Luis Sepulveda

Penggemar novel berbahasa asing? Pasti sudah hapal dengan nama-nama novelis Barat yang cukup umum. J.K. Rowling, Stephen King, Harper Lee, Virginia Woolf, atau Margareth Atwood mungkin sudah kamu tamatkan semua bukunya. Ingin memperluas wawasan literaturmu?

Coba karya tujuh novelis non Bahasa Inggris berikut. Berasal dari Asia sampai Amerika Latin, karya mereka yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris tetap punya keunikan dan ciri khas sendiri. 

Daftarnya gak terbatas sama Isabel Allende, Stieg Larsson, Elena Ferrante, dan Luis Sepulveda, kok. Boleh tengok dulu dan catat mana yang menarik perhatianmu. 

1. Paolo Cognetti 

7 Penulis Non Bahasa Inggris yang Novelnya Wajib DicicipThe Eight Mountains oleh Paolo Cognetti (instagram.com/simonandschuster)

Sebelum dikenal sebagai penulis, Paolo Cognetti adalah mahasiswa matematika yang memilih banting setir menjadi pembuat film dokumenter. Di usia 30, ia meninggalkan kehidupan kotanya untuk tinggal di pegunungan dan akhirnya melahirkan novel debutnya yang berjudul The Eight Mountains. Novel itu laris manis, meraih penghargaan literatur tertinggi di Italia dan telah diterbitkan di 38 negara. 

Kepiawaian Paolo merangkai kata untuk menjabarkan latar dan emosi karakter di novelnya disejajarkan Elena Ferrante. Sementara, nilai jual bukunya turut dibantu dengan pemilihan latar yang pas. Romantisasi Paolo akan gunung dan pedesaan yang mulai ditinggalkan penduduknya terasa sangat lekat dengan kondisi Italia saat ini. Ia seakan menginspirasi generasi muda di negaranya untuk kembali ke desa dan berkawan kembali dengan alam. 

Novel debutnya itu akan segera difilmkan dan ia sudah mengumumkan tanggal terbit untuk novel keduanya. Selain novel, Paolo Cognetti juga menulis cerpen dan dua buku non-fiksi berisi memoar dan catatan perjalanan. 

2. Olga Tokarczuk 

7 Penulis Non Bahasa Inggris yang Novelnya Wajib DicicipDrive Your Plow Over the Bones of the Dead oleh Olga Tokarczuk (instagram.com/buzzybookhoarder)

Olga debut lewat novel House of Day, House of Night yang bestseller di Polandia dan akhirnya dilirik penerbit internasional di tahun 2003. Novel multikarakternya, Flights yang rilis tahun 2007 mengantar Olga mendapatkan Nobel Prize in Literature dan Booker Prize. Flights dipercaya sebagai kumpulan narasi yang unik, perpaduan antara antologi cerpen dan novela yang dijamin gak bikin bosan. Sejak itu, namanya makin diperhitungkan.

Penulis asal Polandia ini kemudian merilis Drive Your Plow Over the Bones of the Dead yang bahkan berhasil naik layar lebar. Karya-karya Olga Tokarczuk cocok untuk yang penasaran dengan kondisi sosial politik di Eropa Timur. 

3. Sayaka Murata

7 Penulis Non Bahasa Inggris yang Novelnya Wajib DicicipDua novel karangan Sayaka Murata (instagram.com/thisbookmagnet)

Untuk yang tertarik dengan literatur Asia Timur, bakat menulis Sayaka Murata boleh diuji. Karya-karyanya cukup khas. Sayaka suka membangun narasi lewat karakter perempuan dianggap tidak bersedia menerima dan melakoni ekspektasi dan norma sosial yang berlaku di Jepang.

Convenience Store Woman dan Earthlings layak dicicip. Keduanya membahas krisis identitas yang melanda perempuan saat mereka ditekan oleh lingkungan. Bedanya, satunya dibalut dengan humor, sementara satu novel lainnya dikemas lebih gelap dan suram. 

Baca Juga: 8 Novel Berlatar Pedesaan yang Bisa Jadi Pelipur Bosan

4. Fredrik Backman

7 Penulis Non Bahasa Inggris yang Novelnya Wajib DicicipAnxious People oleh Fredrik Backman (instagram.com/buriedbeneathpages)

Fredrik Backman bisa dibilang penulis Swedia kontemporer terbaik selain Stieg Larsson. Ia adalah orang di balik A Man Called Ove, Britt Marie Was Here dan Beartown yang kemudian memukau pembaca lewat Anxious People. Backman dikenal dengan kepiawaiannya membangun cerita dari investigasi kriminal. Jika Beartown cukup mencekam, ketiga novel lainnya dikemas lebih ringan dan humoris.

Keempat novel terlaris Backman tadi sudah naik layar lebar, baik jadi film maupun serial. Terakhir Beartown sudah diadaptasi jadi serial dan tayang di HBO. Sementara, Anxious People sedang dalam proses penggarapan. 

5. Mariana Enríquez

7 Penulis Non Bahasa Inggris yang Novelnya Wajib DicicipThings We Lost in Fire oleh Mariana Enriquez (instagram.com/just.one.more.paige)

Memulai karier kepenulisannya sebagai jurnalis dan editor di surat kabar, Mariana Enriquez merilis kumpulan cerpen pertamanya yang berjudul The Dangers of Smoking in Bed pada 2009. Disusul dengan novela Things We Lost in the Fire di tahun 2016 yang tak kalah sukses. 

Kedua buku karya Mariana mencoba menggabungkan unsur supernatural, horor, dengan realita kehidupan modern. Campur aduk antara tragedi, cinta, pengkhianatan, penyalahgunaan narkoba, pembunuhan, hingga mitos-mitos mistis, karya Mariana Enriquez dicap cukup berani dan menampar. Jika ingin mencoba novel horor yang beda, novel Marian boleh dipertimbangkan. 

6. Hwang Jungeun

7 Penulis Non Bahasa Inggris yang Novelnya Wajib DicicipOne Hundred Shadows oleh Hwang Jeungun (instagram.com/ain_bookedout)

Hwang Jungeun adalah novelis Korea Selatan yang cukup disegani. Dua novelnya sudah diterjemahkan dan dirilis secara internasional. One Hundred Shadows dan I'll Go On tentu beda plot dan karakter, tetapi sama-sama membahas realita kehidupan masyarakat Korea modern yang jarang diekspos K-Drama. 

Karakternya selalu terinspirasi dari kalangan kelas pekerja yang berada di tatanan menengah ke bawah. Lambat, melankolis, tetapi menghanyutkan. 

7. Jenny Erpenbeck

7 Penulis Non Bahasa Inggris yang Novelnya Wajib DicicipGo, Went, Gone oleh Jenny Erpenbeck (instagram.com/fleurishes)

Jenny Erpenbeck adalah novelis asal Jerman yang karyanya sangat reflektif. Novel pertamanya, Visitation serasa observasi naratif yang ia lakukan pada sebuah lahan yang selama beberapa dekade berubah fungsi dan penghuni. Dilanjut dengan The End of Days yang lebih tepat dibilang kumpulan cerita dari beberapa perempuan bernama sama, tetapi berbeda nasib dan generasi.

Terakhir, novel Go, Went, Gone, kali ini pada akhirnya ia fokus pada satu karakter. Seorang pria tua yang melihat hidupnya dan menyadari privilesenya setelah melihat kehidupan pengungsi di satu kawasan dekat tempat tinggalnya.

Novel-novel terjemahan non Bahasa Inggris selalu membuka wawasan. Banyak hal yang gak Amerika sentris bisa kita temukan di sini. Menarik buat dinikmati. 

Baca Juga: 6 Novel Internasional buat yang Jenuh dengan Cerita Amerika Sentris

Dwi Ayu Silawati Photo Verified Writer Dwi Ayu Silawati

Pembaca, netizen, penulis

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Tania Stephanie

Berita Terkini Lainnya