Comscore Tracker

IWF 2021: Kisah Inspiratif Sri Izzati, Hobi Menulis Sejak Dini

Mengubah hobi jadi profesi

Kamu punya hobi menulis atau bercita-cita menjadi penulis? Meski kurang populer, tapi profesi ini luas banget. Kamu bisa sekadar menulis blog, artikel, caption, hingga buku.

Ada kalanya, muncul rasa jenuh selama berproses dalam menulis. Namun, kamu gak boleh patah semangat. Kali ini ada kisah inspiratif yang dibagikan oleh Sri Izzati di Indonesia Writers Festival 2021 by IDN Times (30/10/2021).

Mau tahu seperti apa kisahnya di dunia kepenulisan? Yuk, simak!

1. Penulis novel termuda pada masanya

IWF 2021: Kisah Inspiratif Sri Izzati, Hobi Menulis Sejak DiniSri Izzati di IWF 2021 by IDN Times (youtube.com/IDN Times)

Sri Izzati atau kerapa disapa Izzati ini memang hobi membaca sedari kecil. Ia menuangkan ide-ide dan imajinasinya dengan menulis buku harian. Hobi tersebut mendapat dukungan dari kedua orang tuanya.

Zaman pun berkembang, Izzati yang awalnya menulis di atas kertas, kini, berpindah ke layar komputer. Sang Bapak mewujudkan keinginannya dengan mencetak karya Izzati pada lembaran kertas. Tidak berhenti sampai di situ.

Tulisannya dikliping dan diterbitkan secara mandiri. Rezeki gak kemana, karya Izzati pun dilirik oleh Penerbit Mizan. Ia pun sempat meraih penghargaan Rekor MURI, sebagai penulis novel termuda pada masanya.

2. Berawal dari hobi, jadi profesi

IWF 2021: Kisah Inspiratif Sri Izzati, Hobi Menulis Sejak Diniilustrasi passion led us here (unsplash.com/goian)

Izzati mulai menyadari bahwa menulis bukan lagi sekadar hobi, melainkan cita-cita. Meski menjadi penulis tidak mudah dan bukan pilihan karier yang populer. Namun, ia menganggap bahwa menulis berubah bentuk, tapi semangatnya tetap sama.

Seiring waktu berjalan, ia menyesuaikan menulis dengan ruang tumbuh dan lingkungan. Seperti yang dilaluinya, saat kecil, ia berhasil menulis buku. Kemudian, ketika SMA menulis melalui blog.

Saat kuliah membuat kelas menulis untuk membuat lebih banyak orang merasakan manfaat menulis. Setelah lulus kuliah ia menjadi UX writer, setelah itu kuliah Jurusan Kepenulisan Fiksi di Columbia University. Izzati tetap gigih menjadi menulis sebagai pilihan karier, aktivitas sehari-hari, maupun jurusan sekolah.

Ada banyak cara untuk terus beinteraksi dengan menulis. Seperti Izzati yang mengambil Jurusan Psikologi untuk belajar dan menulis tentang manusia. Ia ingin menulis dalam berbagai macam bentuk dan makna.

Baca Juga: IWF 2021: Kisah Sukses Sri Izzati Wujudkan Cita-Cita Sebagai Penulis

3. Dari penulis fiksi menjadi UX writer

IWF 2021: Kisah Inspiratif Sri Izzati, Hobi Menulis Sejak Diniilustrasi UX writer (unsplash.com/wocintechchat)

Dikenal sebagai penulis karya fiksi, justru membuat Izzati tertarik untuk mencoba sebagai UX writer. Ia melakukannya sebagai salah satu langkah untuk menggapai cita-cita. Ini menjadi bagian dari strategi untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, sebelum membuat kelas menulis yang lebih baik lagi.

Sebelumnya, ia memiliki kelas menulis bernama "Pena Rasa". Sayangnya, beberapa waktu belakangan ini hiatus, sebab Izzati tengah menempuh pendidikan S2. Kamu pernah bergabung di kelas tersebut?

Ia sengaja memilih UX writer sebagai bekal intelektual sebagai modal daftar S2. Ternyata, memberikan banyak pelajaran hidup dan dalam menulis. Ia pun belajar proses kreatif dan individu-individu kreatif di luar ranah fiksi.

4. "Kembali" ke dunia kepenulisan fiksi

IWF 2021: Kisah Inspiratif Sri Izzati, Hobi Menulis Sejak Diniilustrasi karya fiksi Izzati (instagram.com/srizzati)

Seperti yang kamu tahu, bahwa saat ini Izzati tengah menempuh pendidikan S2. Hal ini dilakukannya untuk tetap menulis dan "mengaktifkan" kembali kelas menulis yang lebih baik dan benar. Ia pun ingin menerbitkan buku lagi secepatnya.

Meski sempat menjadi UX writer, tapi Izzati tetap menekuni dunia kepenulisan fiksi. Keduanya memang tampak berbeda, ternyata di hasil akhirnya . Ada ketentuan yang berbeda pula di antara keduanya.

UX writer memiliki karakter yang lebih terbatas dibandingkan novel atau buku fiksi. Meski produknya berbeda, tapi keterampilan menulis keduanya saling mendukung. Namun, proses keduanya nyaris sama.

5. Keterampilan yang wajib dimiliki UX writer

IWF 2021: Kisah Inspiratif Sri Izzati, Hobi Menulis Sejak Diniilustrasi berpikir kritis (pexels.com/id-id/julia-m-cameron)

Bagi Izzati, UX writing merupakan pekerjaan yang syarat akan ruang untuk berkembang. Pasalnya, kamu perlu mengombinasikan berbagai macam keterampilan. Ada lima keterampilan yang wajib dimiliki oleh UX writer:

  • Berpikir kritis dan kreatif, menyampaikan ide yang universal dan dimaknai dalam kacamata baru;
  • Keterampilan riset, tahapan yang selalu ada di setiap menulis apapun. Supaya yang kamu tulis gak asal-asalan;
  • Keterampilan untuk empati, yakni empati dengan pengguna dan sesama;
  • Keterampilan desain, membuat rencana dan poin penting yang akan disampaikan pada pengguna;
  • Keterampilan menulis, pasalnya konten-konten yang ditulis akan terbentuk, setelah melalui proses berpikir yang runut. Tentu saja setelah melibatkan keempat proses sebelumnya.

Semua keterampilan tersebut juga akan didapatkan dalam menulis fiksi. Sebab persyaratannya berbeda, kamu juga membutuhkan teknik dalam memilih kata yang tepat, sesuai dengan tujuannya. Ada 3 tahapan yang digunakan UX writer dalam menulis, yakni:

  • Draft, tulisan yang telah melalui riset dan segala prosesnya dan akan disampaikan pada pembaca;
  • Menyaring, memilih dan memilah kata yang tepat dan disesuaikan dengan batas jumlah karakter yang digunakan;
  • Pangkas, menghilangkan bagian dari tulisan yang tidak dibutuhkan.

Ternyata menulis fiksi maupun UX writing memiliki tantangan tersendiri. Meski demikian, prosesnya gak jauh berbeda, bahkan bisa saling melengkapi. Menarik, kan?

Wah, kisah perjalanan Izzati sebagai penulis, menginspirasi, ya! Udah kembali bersemangat untuk menulis? Jangan tunda lagi kalau udah punya ide yang menarik untuk dituangkan dalam tulisan!

IDN Times menggelar Indonesia Writers Festival 2021. Acara yang juga dikenal dengan IWF 2021 ini adalah pertemuan independen yang berkomitmen untuk memberdayakan Indonesia melalui bidang menulis. Acara dengan slogan Empowering Indonesians Through Writing ini dilangsungkan mulai 25 hingga 30 Oktober 2021 melalui zoom dan YouTube channel IDN Times. IWF 2021 sendiri menghadirkan lebih dari 20 pembicara kompeten di berbagai latar belakang seperti Gina S. Noer, AULION, Zarry Hendrik, Kevindra Soemantri, Sri Izzati, dan masih banyak yang lainnya. Simak terus keseruannya di situs idntimes.com, ya!

Baca Juga: IWF 2021: Ilmu yang Wajib Dipunya untuk jadi UX Writer Andal

Fatma Roisatin Nadhiroh Photo Verified Writer Fatma Roisatin Nadhiroh

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Merry Wulan

Berita Terkini Lainnya