Comscore Tracker

Teman Autis: Penebar Harapan untuk Wujudkan Indonesia Ramah Autisme

Bangkit meningkatkan kesadaran autisme di sekitar kita!

Miris, ketika membaca dan mendengar berita tentang pengidap autisme yang kerap menjadi korban perundungan. Ini tidak hanya terjadi pada anak-anak autis, tapi juga dewasa autis. Apalagi pelaku dapat berasal dari lingkungan di sekitar mereka, seperti lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar rumah.

Tantangan dan kesedihan pengidap autisme di lingkungan sosial membuat hati Alvinia Christiany, Ratih Hadi Winoto, dan beberapa temannya terenyuh. Kepedulian mereka terhadap nasib dan masa depan pengidap autisme tidak sebatas perasaan dan pikiran. Mereka juga ingin mewujudkannya dalam aksi nyata untuk bisa membuat pengidap autisme bangkit bersama dan tersenyum.

Alvinia Christiany, awalnya termasuk orang awam yang kurang mengerti tentang autisme. Siapa sangka, lulusan Desain Interior, Raffles College of Higher Education Singapura ini juga pernah mengalami perundingan

“Saya tidak ingin melihat teman-teman lain, apalagi teman-teman autis yang dirundung bukan karena kesalahan mereka. Namun, karena kondisi mereka,” ungkap Alvinia yang dihubungi via Zoom.

Niat baik Alvinia dan teman-temannya untuk mengenal serta meningkatkan kesadaran tentang autisme terwujud dalam gerakan Light It Up Project yang kini dikenal sebagai Teman Autis. Mereka bercita-cita, kelak masyarakat luas semakin mengenal autisme dan mewujudkan Indonesia ramah autisme.

1. Alvinia dan tim menjadi sukarelawan untuk menebar harapan

Teman Autis: Penebar Harapan untuk Wujudkan Indonesia Ramah Autismekegiatan Teman Autis jalan bersama para orang tua dan anak autis (dok. pribadi/Alvinia Christiany)

Pada tahun 2017, maraknya perundungan terhadap pengidap autisme menarik perhatian Alvinia dan tim. Hatinya tergerak untuk mencari tahu apa itu autisme dan berbagai hal lainnya tentang autisme. Ia akhirnya memahami bahwa autisme merupakan kondisi gangguan neurologis, bukan penyakit menular yang ditakuti banyak orang.

Berbekal pengetahuan tersebut dan dana pribadi, ia bersama sejumlah temannya menjadi sukarelawan untuk memperkenalkan autisme pada khalayak. Mereka mencoba menumbuhkan kesadaran, setidaknya di sekitar lingkungannya. Dengan begitu, teman-teman autis tidak dirundung dan dapat bangkit kembali.

Melalui kegiatan Light It Up Project, Alvinia semakin gencar menyosialisasikan tentang autisme. Kala itu, mereka mulai melakukan jalan santai bersama anak-anak yang mempunyai kondisi autisme, beserta orang tuanya saat Car Free Day di kawasan Sudirman, Jakarta. Tidak sebatas itu, mereka juga berbincang dengan para orang tua, terutama yang memiliki anak dengan kondisi autisme.

Kegiatan lain, seperti seminar tentang autisme dan tidak melewatkan sesi berbincang dengan para orang tua untuk mencari tahu apa saja yang mereka butuhkan. Ternyata, para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi autisme kesulitan mencari klinik dan tempat terapi untuk kebutuhan anaknya.

Kemajuan teknologi tidak serta merta menjawab persoalan tersebut. Ada banyak informasi yang bisa diakses dan ditemukan melalui internet, tapi masih tercerai berai. Alvinia dan tim pun memiliki ide membuat wadah informasi tentang autisme yang khusus untuk memudahkan para orang tua. Sehingga, para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi autisme dapat memberikan penanganan terbaik atau membesarkan anaknya secara maksimal.

Munculnya ide tersebut, kemudian menumbuhkan Teman Autis pada tahun 2018, tanpa melupakan niat awal Alvinia dan tim untuk meningkatkan kesadaran terhadap autisme. Kumpulan informasi tentang autisme, seperti tips, tempat terapi, klinik, dan sekolah, mereka wadahi dalam sebuah laman www.temanautis.com.

Informasi yang dimuat tidak hanya menyasar para orang tua, tapi juga masyarakat Indonesia yang bahkan masih awam tentang autisme. Sebab, mereka ingin mewujudkan tujuan mereka untuk membantu para orang tua dan meningkatkan kesadaran terhadap autisme.

Sejak rampungnya Teman Autis, Alvinia dan tim melakukan penggalangan dana. Sejumlah donatur telah membantu mereka dalam pengembangan laman tersebut. Selain itu, keberlangsungan Teman Autis tetap disokong oleh pendanaan secara mandiri.

2. Aksi nyata Teman Autis untuk mengedukasi masyarakat Indonesia

Teman Autis: Penebar Harapan untuk Wujudkan Indonesia Ramah Autismekegiatan Teman Autis lelang lukisan karya anak dengan kondis autisme (dok. pribadi/Alvinia Christiany)

Langkah selanjutnya, Teman Autis fokus pada laman yang telah dibuat sebagai layanan utama untuk memberikan directory mengenai klinik, tempat terapi, dan sekolah untuk pengidap autisme. Seperti informasi tempat terapi beserta layanannya, kontak yang dapat dihubungi, dan foto. Hal tersebut bukan sekadar mengedukasi, tapi juga memudahkan para orang tua dalam proses penentuan tempat terapi, klinik, maupun sekolah yang tepat untuk buah hatinya.

Melalui laman tersebut pula, Teman Autis menyediakan artikel dengan beragam isi tentang autisme. Misalnya, tips dan cara yang ditulis oleh para ahli dibidangnya untuk mengajarkan anak autis supaya mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Ada pula yang berisi tentang makanan dan kebutuhan gizi anak dengan kondisi autisme.

Sedangkan untuk masyarakat awam, tersedia informasi dasar mengenai autisme. Mulai dari apa itu autisme, apa saja gejalanya, dan bagaimana cara menanganinya. Jika ada tanda-tanda atau gejala autisme pada anak, apa yang harus dilakukan, dan lain sebagainya.

Tidak cukup menggunakan laman yang dapat diakses melalui internet, Alvinia dan tim juga mengedukasi melalui berbagai acara menarik. Acara ini dilakukan secara dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring). Seperti halnya, mereka mengundang seorang dewasa autis yang sudah berkarier lebih dari 10 tahun. Kehadiran tersebut mampu mengajarkan, memotivasi, dan menginspirasi teman-teman dewasa autis lainnya yang belum memiliki pekerjaan.

Pandemik COVID-19 tidak menyurutkan semangat Teman Autis untuk terus mengedukasi masyarakat Indonesia. Selama masa pandemik, mereka tetap menggelar berbagai webinar. Mereka mengundang para ahli di bidangnya untuk berbagi ilmu mengenai autisme. Sering kali, topik yang dipilih justru berasal dari permintaan dan masukan para orang tua.

Mereka juga tetap gencar mengedukasi melalui media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Melalui media sosial, mereka membagikan berbagai konten yang relevan dengan autisme. Mereka juga memanfaatkan fitur live Instagram setiap tanggal 25 setiap bulannya dengan cara TAWA (Tanya Jawab Seputar Autisme). Para orang tua dapat mengajukan pertanyaan hingga konsultasi gratis kepada para ahli.

Alvinia dan tim melakukan berbagai pendekatan untuk melebarkan sayap, merangkul berbagai pihak untuk bekerja sama dengan Teman Autis. Baik melalui media sosial, saling berbagi dan berbincang mengenai autisme, dari teman ke teman, hingga mengarahkan ke komunitas lain yang belum terhubung dengan Teman Autis.

Baca Juga: Demi Indonesia Lebih Baik, Alvinia Bentuk Komunitas Teman Autis  

3. Pantang mundur kala rintangan menghadang

Teman Autis: Penebar Harapan untuk Wujudkan Indonesia Ramah Autismekegiatan Teman Autis seminar karier dewasa autis (dok. pribadi/Alvinia Christiany)

Perjalanan Teman Autis untuk mewujudkan Indonesia ramah autisme tidak selalu mulus, sejumlah rintangan harus tetap dihadapi. Saat awal merintis Teman Autis, Alvinia dan tim sudah cukup kesulitan mencari sesama komunitas yang mau berkolaborasi. Meski hanya sekadar menjadi sumber informasi yang akan ditampilkan melalui laman Teman Autis. Pasalnya, kala itu belum banyak yang mengenal mereka.

“Seiring berjalannya waktu, kami menjalin pertemanan, berbincang dengan komunitas lain. Dari situ, kami bisa mendapatkan solusi untuk tantangan ini,” ujar Alvinia Christiany.

Rintangan akan terus ada sering berkembangnya Teman Autis. Saat ini salah satu hal yang paling dirasakan, yakni keterbatasan sumber daya manusia. Padahal, mereka bermimpi ingin menjangkau seluruh masyarakat dan para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi autisme di Indonesia. Tampaknya cukup sulit menjangkau semua daerah bagi Alvinia dan tim yang saat ini ber-13 orang. Namun, mereka tetap berjalan meski perlahan dengan harapan memiliki jangkauan yang lebih luas suatu saat nanti.

Teman Autis bersama para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi autisme turut menghadapi tantangan kurangnya dukungan dari pihak keluarga dan lingkungan sekitarnya. Fase penolakan kerap dialami para orang tua, sehingga mereka tidak dapat memberikan penanganan maksimal untuk anaknya yang mengidap autisme. Parahnya lagi, penolakan ini dapat terjadi dari pihak pasangan, kakek-nenek, dan tetangga terdekat.

Kurangnya dukungan ini dapat terlihat dari cara orang-orang terdekat tersebut tidak menerima kondisi autisme, tapi justru menghakimi. Ada pula yang memberikan informasi tanpa tahun kebenarannya. Hal tersebut membuat para orang tua mengalami mental breakdown. Akhirnya, mereka cenderung menyembunyikan kondisi anaknya.

Teman Autis menghadapi tantangan ini dengan membuka grup WhatsApp, menjadi wadah bagi para orang tua untuk saling mendukung. Selain itu, Alvinia dan tim memberikan informasi tentang berbagai komunitas terkait autisme. Misalnya, komunitas melukis untuk anak-anak autis, sehingga hobi anak dapat tersalurkan dan para orang tua dapat tetap saling mendukung. Maka, terwujudlah komunitas yang sehat.

“Kita memang tidak dapat mengontrol reaksi orang lain. Maka dari itu, kami ingin membantu teman-teman autis dan orang tuanya. Walaupun lingkungan sekitarnya belum dapat menerima, setidaknya mereka memiliki komunitas yang sehat,” lanjut Alvinia.

Kondisi lain yang harus dihadapi Teman Autis, yakni banyak orang awam memiliki prasangka, prinsip, atau pemikiran tentang autisme yang dibuat-buat sendiri. Pemikiran tersebut bukan berdasarkan fakta dan pengetahuan. Bahkan, beberapa di antaranya menggunakan autisme sebagai ledekan. Mirisnya lagi, tidak hanya dilakukan langsung secara verbal.

Berbeda lagi dengan orang awam yang sama sekali belum memahami autisme, kemungkinan besar lebih mudah menerima karena belum memiliki pemikirannya sendiri. Lain pula dengan mereka yang memiliki pengalaman kurang baik dengan anak autis, misalnya saat si anak sedang tantrum dan marah-marah. Maka, akan muncul pemikiran bahwa anak autis bandel. Padahal, pengidap autis juga memiliki tantangan untuk mengekspresikan emosinya dengan baik.

Sebagian besar orang awam yang belum mengetahui sampai tahap tersebut, kerap kali menghakimi dan cukup sulit diubah. Namun, Teman Autis terus memberi pemahaman dan mencoba untuk memperlihatkan seperti apa pengidap autis. Jangan hanya melihat dari kekurangannya, mereka juga memiliki kelebihan masing-masing. Pengidap autis sebatas berbeda, bukan berarti hanya memiliki kekurangan.

“Salah satu motto yang sering kami pegang, berbeda bukan berarti kurang,” tegas Alvinia.

Secara pribadi, Alvinia juga memiliki kekhawatiran jika menunjukkan tentang autisme di media sosial. Betapa pedasnya kalimat netizen yang memiliki kemungkinan dibaca oleh individu dengan kondisi autisme. Hal tersebut dapat membuat kondisi psikisnya terganggu. Sebab, akan ada pihak yang tidak setuju dan belum dapat menerima autisme ini. Maka dari itu, Alvinia dan tim sangat berhati-hati dalam mempublikasikan konten-konten yang melibatkan individu autis.

4. Teman Autis berkembang pesat dan mampu merangkul banyak mitra

Teman Autis: Penebar Harapan untuk Wujudkan Indonesia Ramah Autismekegiatan Teman Autis seminat autism 101 (dok. pribadi/Alvinia Christiany)

Di balik rintangan yang harus dihadapi, Teman Autis mengalami perkembangan pesat selama 4 tahun ini. Digawangi oleh empat orang, termasuk Alvinia Christiany, kini timnya sudah menjadi 13 orang. Mereka pun memiliki tugas masing-masing, seperti tim media sosial dan tim mengurus laman. Kehadiran teman-temannya membuat Alvinia sangat terbantu dalam mengembangkan Teman Autis.

Sempat kesulitan mencari mitra, kini sudah banyak kenalan melalui beragam acara dan berkomunikasi melalui media sosial. Banyak pula klinik, tempat terapi, sekolah, dan komunitas yang berkolaborasi. Kini menjadi mitra yang menampilkan informasinya melalui laman Teman Autis. Jika dihitung, sudah ada lebih dari 100 mitra Teman Autis.

Mereka kerap berkolaborasi setiap bulannya dan saling memberikan dukungan secara luring maupun daring. Ada kalanya membuat webinar dan live Instagram bersama. Hal ini menjadi kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi Alvinia. Pasalnya, mereka dapat saling mendukung dan inklusif.

Sembari tetap fokus memberikan edukasi, Teman Autis juga menerima orang dari berbagi kalangan untuk bergabung dengan tim internalnya. Hal ini berlaku juga ada posisi yang tersedia. Pasalnya, sebagian besar anggota tim bekerja paruh waktu dan memiliki kegiatan masing-masing.

Kini, Alvinia Christiany berperan sebagai co-founder dan Chief Content Officer Teman Autis. Ia bertanggung jawab atas seluruh konten Teman Autis. Alvinia juga bertanggung jawab untuk implementasi digital platform Teman Autis.

Berbeda lagi dengan teman seperjuangannya, Ratih Hadiwinoto. Ia sebagai inisiator dan Chief Executive Officer yang memimpin pengelolaan Teman Autis. Hal ini termasuk penentuan strategi dan kebijakan operasional Teman Autis.

5. Teman Autis meraih apresiasi dalam proses mewujudkan mimpi

Teman Autis: Penebar Harapan untuk Wujudkan Indonesia Ramah AutismeAlvinia Christiany (facebook.com/semangatastraterpadu)

Kala itu masa pandemi, Teman Autis tengah mengembangkan konsultasi daring. Hal ini terinspirasi dari seorang Ibu yang memiliki anak dengan kondisi autisme. Beliau tinggal di luar Pulau Jawa dan menghubungi Teman Autis untuk mendapatkan informasi tempat terapi di Jakarta bagi anaknya.

Biasanya, terapi tidak dilakukan hanya sekali atau dua kali. Jika dipikirkan kembali, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pelayanan terbaik bagi anaknya.

Teman Autis menghubungi sejumlah mitranya untuk mendapatkan informasi terkait kebutuhan Ibu tersebut. Ternyata, selama pandemi banyak pelayanan pengidap autisme yang membuka konsultasi secara daring. Namun, untuk terapi masih cukup sulit. Dari situlah Alvinia berniat menjembatani para orang tua dan mitranya melalui layanan konsultasi daring.

Alvinia dan tim sebagai “wadah” dan “jembatan” mencoba senetral mungkin. Sehingga dapat mengakomodasi berbagai instansi dengan berbagai kepercayaan mengenai autisme. Selain itu, sebisa mungkin memberikan informasi terpercaya dengan dasar medis atau ilmu pengetahuan.

Kegigihan Alvinia dan tim berhasil mengantarkannya meraih apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2022 dari PT Astra International Tbk. Apresiasi ini diberikan kepada anak bangsa yang senantiasa memberikan manfaat bagi masyarakat. Pemberi manfaat ini dibagi menjadi lima bidang berbeda, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi. Ditambah satu kategori kelompok yang mewakili kelima bidang tersebut.

Berawal dari sebuah undangan yang dari SATU Indonesia Awards 2022 melalui surat elektronik. Alvinia dan tim Teman Autis memenuhi persyaratan dan mencoba untuk mendaftar. Tidak lupa, ia  mengisahkan kegiatan Teman Autis selama ini. Setelah melalui proses wawancara, Alvinia pun lolos ke babak 24 besar. Kemudian, Tim SATU Indonesia Awards 2022 melakukan peninjauan langsung secara luring saat Teman Autis melaksanakan kegiatan bersama salah satu mitranya.

Mereka kembali melenggang ke babak 12 besar dan masuk dalam tahap penjurian. Kala itu wawancara dilakukan secara daring. Syukur, sebuah kabar gembira bagi Alvinia Christiany melalui Teman Autis lolos ke babak 6 besar dan menjadi salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2022. Ia sebagai Pejuang “Teman Autis” meraih apresiasi untuk kategori kelompok.

Prestasi yang diraih Alvinia dan tim tidak lantas membuat mereka berpuas hati. Hadiah dari kemenangan tersebut rencananya akan digunakan untuk mengembangkan konsultasi daring yang telah dirancang sebelumnya. Saat ini, layanan tersebut masih dalam masa percobaan untuk para anggota grup WhatsApp Teman Autis. Jika sudah lebih rapi dan siap, maka akan dipublikasikan untuk masyarakat umum.

Saat ini, Teman Autis menyediakan layanan konsultasi daring tersebut melalui laman mereka. Pasalnya, mereka menyesuaikan dengan target khalayak, yakni para orang tua yang cukup kesulitan jika menggunakan aplikasi telepon seluler. Selain itu, mereka harus mengedukasi kembali para orang tua untuk menggunakan layanan tersebut. Tidak hanya lebih mudah, penggunaan laman dianggap lebih hemat biaya dibandingkan aplikasi.

“Semoga ke depannya, kalau ternyata sesuai dengan kebutuhan orang tua, mungkin kami akan mengembangkan di aplikasinya,” kata Alvinia penuh harap.

6. Terus melangkah untuk memberikan manfaat hingga ke pelosok negeri

Teman Autis: Penebar Harapan untuk Wujudkan Indonesia Ramah Autismekegiatan Teman Autis jalan bersama para orang tua dan anak autis (dok. pribadi/Alvinia Christiany)

Teman Autis terus melangkah untuk memberikan manfaat hingga ke pelosok negeri yang menjadi mimpi mereka selama ini. Alvinia dan tim  ingin masyarakat Indonesia menerima keberadaan teman-teman autis di lingkungan masing-masing. Dengan begitu, pengidap autisme lebih mudah menjalankan kehidupan sehari-hari. Tidak sebatas itu, dalam bidang pekerjaan pun teman-teman autis tidak boleh dipandang sebelah mata, mereka juga berpotensi memiliki kemampuan di bidang yang diminati.

“Kesadaran terhadap autisme harus ditingkatkan, kami ingin Indonesia ramah autisme. Kami terus bekerja meningkatkan kesadaran autisme di sekitar kami, melalui Teman Autis ini untuk masyarakat Indonesia,” tutur Alvinia.

Salah satu titik utama perkembangan anak autis yakni orang tua, hal ini menjadi salah satu fokus Teman Autis. Alvinia dan tim berharap dapat membantu para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi autisme di seluruh Indonesia. Sehingga, semua anak autis di seluruh Indonesia dapat berkembang secara maksimal. Mereka ingin merangkul semua mitra yang ada di daerah lain. Harapannya, para mitra tersebut dapat terhubung dengan orang tua. Para orang tua pun mendapatkan bantuan sesuai dengan kebutuhan.

Sayangnya, sebagian besar tim Teman Autis tinggal di Jakarta dan Tangerang, sehingga kegiatan atau acara luring kerap dilakukan di kedua kota tersebut. Namun, demi mewujudkan mimpi mereka untuk Indonesia ramah autisme, kegiatan daring pun menjadi salah satu cara utama untuk memperluas jangkauan.

Mimpi mereka tidak terkubur begitu saja, selain secara daring juga mengunjungi kota-kota lain. Salah satu yang sudah terwujud, yakni bekerja sama dengan salah satu instansi di mana mereka dapat menyosialisasikan layanan daring di Jawa Timur. Di masa depan, Teman Autis juga ingin ke daerah laun untuk menyosialisasikan layanan ini. Sehingga, para orang tua di daerah lain dengan akses terbatas ke layanan yang dibutuhkan bisa mendapatkan solusi dan penanganan langsung dari ahlinya.

Kehadiran Teman Autis memberikan pengaruh besar bagi pribadi para orang tua dan anak autis. Para orang tua merasa didengar dan mendapatkan dukungan. Mereka juga mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Para orang tua dan anak autis pun mendapatkan inspirasi dari acara-acara yang diselenggarakan. Sedangkan dewasa autis lebih bersemangat dan tumbuh keinginan berkarier di bidangnya.

Dampak positif juga dirasakan Alvinia secara pribadi, ia yang mengaku sebagai pemalu telah banyak belajar untuk berani berbicara di hadapan banyak orang. Kemampuannya pun terus terasah dan lebih terbuka.

Pengetahuannya tentang autisme semakin bertambah, ia lebih mampu menerima dan mengerti terlebih dahulu dibandingkan menghakimi. Di sisi lain, ia juga mendapatkan gambaran cara membesarkan buah hari dengan berbagai kesulitannya. Hal ini dapat menjadi bekalnya kelak jika menjadi orang tua.

Berawal dari keresahan di hati berubah menjadi langkah kecil untuk membantu sesama di sekitarnya. Demikian pula dengan Alvinia dan tim yang tergabung dalam Teman Autis. Mulai dari belum dikenal banyak orang, tapi konsistensinya sampai saat ini membuat satu per satu mimpinya terwujud.

“Saya pikir anak muda lainnya pasti bisa, asal mau melakukan dari hal kecil itu secara konsisten. Suatu saat juga akan bertemu dengan orang-orang yang hatinya tergerak. Sehingga dapat bekerja sama dan menjadi lebih besar, menambah pengetahuan atau dampak positif dari yang telah dikerjakan itu,” kata Alvinia di akhir pertemuan via Zoom.

Pernah mengalami perundungan tidak membuat Alvinia Christiany berkecil hati. Ia justru mengambil langkah kecil serta konsisten mewujudkan mimpi untuk membuat orang lain bangkit dan tersenyum kembali melalui Teman Autis. Semangat, Alvinia Christiany dan Teman Autis untuk mewujudkan Indonesia ramah autisme!

Baca Juga: 5 Upaya Elmi Sumarni Ismau Kenalkan GARAMIN pada Publik, Salut!

Fatma Roisatin Nadhiroh Photo Verified Writer Fatma Roisatin Nadhiroh

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Izza Namira

Berita Terkini Lainnya