Comscore Tracker

6 Alasan Gak Seharusnya Menilai Orang Cuma dari Jenis Kepribadian

#ANGPOIN Lupakan itu semua INTP, INFJ, ESFP, ASMR, YNWA~

Anak-anak muda sekarang sedang gemar membanggakan dirinya berdasarkan kepribadian versi MBTI. Entah itu yang INTJ, ESTP, dan 14 macam kepribadian lainnya. Semacam bahagia sekali akhirnya menemukan jati diri, siapa dirinya, seperti apa dirinya.

Oke, itu memang diperlukan semua orang untuk mengenali dirinya sendiri. Tapi sebenarnya hal itu gak semestinya jadi pembeda dengan orang lain. Apalagi urusan pekerjaan dan pertemanan, jenis-jenis kepribadian itu gak seharusnya jadi tolok ukur kecocokan kita sama orang lain.

Contoh gampangnya begini. Kamu lagi butuh partner kerja. Berhubung kamu orangnya pendiam sedangkan pekerjaanmu membutuhkan seseorang yang periang, jadi kamu mencari orang yang ekstrovert. Hm, sebentar. Emangnya semua ekstrovert periang? Atau kamu butuh mencari orang yang logis ketimbang perasa. Kalau di MBTI dua kepriadian ini berkode 'T' dan 'F'. Memangnya orang yang perasa gak bisa berpikir logis?

Waduh, kalau mengotak-kotakkan seperti itu justu akan menghambat pergaulan lho. Makanya, ini 6 alasan kenapa sebaiknya kita gak menilai seseorang cuma berdasarkan jenis kepribadiannya.

1. Orang itu emang kepribadiannya beda-beda, kita yang harusnya saling menyesuaikan diri

6 Alasan Gak Seharusnya Menilai Orang Cuma dari Jenis Kepribadianasianwiki.com

Ya, ini adalah fakta alamiah yang harus kita akui bersama. Emang manusia itu beragam kepribadiannya, gak ada yang sama persis. Ada yang orang pendiam tapi berani tampil di hadapan banyak orang, ada orang yang baperan tapi ketika memutuskan sesuatu dia selalu mempertimbangkan banyak hal dulu.

Dalam pergaulan maupun pekerjaan, tinggal kita aja yang harusnya menyesuaikan diri dengan orang lain. Bukankah hidup ini semestinya saling melengkapi? Maka perbedaan kepribadian harusnya jadi pemersatu kita semua.

2. Bikin gak open-minded, pertemananmu cuma sama orang-orang dengan kepribadian yang kamu "pilih"

6 Alasan Gak Seharusnya Menilai Orang Cuma dari Jenis KepribadianPixabay/cuncon

Menilai seseorang berdasarkan kepribadian maupun zodiaknya sama aja kamu membeda-bedakan orang. Ujungnya secara gak sadar kamu jadi membatasi diri untuk bergaul dengan orang. Akibatnya, tentu saja kamu jadi gak open-minded terhadap segala hal. Ya, sama kepribadian orang aja kamu pilih-pilih, apalagi sama hal yang lebih luas.

Kalau cuma mau berteman sama orang dengan kepribadian yang menurutmu cocok, malah membuatmu gak punya pengetahuan baru. Efeknya kamu mungkin dipandang tidak menyenangkan oleh orang lain cuma gara-gara membeda-bedakan orang berdasarkan kepribadian.

3. Hidup itu saling melengkapi, kalau cuma butuh teman dengan satu kepribadian malah bikin kamu susah sendiri

6 Alasan Gak Seharusnya Menilai Orang Cuma dari Jenis KepribadianPexels/Ba Phi

Ingat, di kehidupan sosial ini kita berjumpa dengan banyak watak, beragam warna, bermacam pemikiran. Semua itu gak bisa kita kontrol dan menjadikannya sesuai dengan apa yang kita mau. Kalau kamu cuma mau berteman dengan jenis kepribadian tertentu hal ini malah mempersempit lingkaran pertemanan. Hati-hati, mengotak-kotakkan kepribadian seperti ini bisa menunjukkan juga kalau kamu sulit menghargai orang lain lho!

Baca Juga: Wajib Tahu! 5 Keuntungan Punya Pasangan Berkepribadian Melankolis

4. Kepribadian itu sifatnya individu, maka kamu sama sekali gak bisa mengontrol atau mengubah milik orang lain

6 Alasan Gak Seharusnya Menilai Orang Cuma dari Jenis KepribadianUnsplash/Toa Heftiba

Dan perlu dipahami bahwa kepribadian itu sudah ada pada diri manusia sejak dalam kandungan. Jadi, jangan harap kamu bisa mengubah kepribadian seseorang dengan cepat atau bahkan sampai berhasil.

Maka, apa pun jenis kepribadian atau zodiaknya, sebenarnya kamu gak perlu khawatir untuk berhubungan dengan mereka--baik dalam urusan pekerjaan maupun pertemanan.

5. Cocok-gak cocok terkadang bukan karena soal kepribadian melainkan perilaku

6 Alasan Gak Seharusnya Menilai Orang Cuma dari Jenis KepribadianPexels/rawpixel

Misalnya kamu sedang merekrut seseorang untuk menjadi rekan kerja, tentu saja kamu gak bisa langsung merasa cocok dengannya seketika dia pertama kali bekerja. Kamu baru bisa menilainya setelah beberapa waktu dan hasil kerjanya kelihatan. Selama itu pula pastinya kamu berinteraksi dengannya, jadi kamu bisa mengamati perilaku dan bagaimana kebiasaan dia bekerja.

Atau kalau kamu hendak berteman dengannya, pasti baru merasa cocok kalau udah berlangsung lama kan?

Jadi, apakah jenis kepribadian atau zodiaknya mempengaruhi profesionalitasmu dalam bekerja maupun berteman? Coba pikir lagi!

6. Memandang kepribadian lain berbeda bisa jadi tanda kamu meremehkannya, padahal semua orang punya potensi dan keunikan masing-masing

6 Alasan Gak Seharusnya Menilai Orang Cuma dari Jenis KepribadianPexels/Fox

Jangan sampai menyesal sendiri kalau akhirnya orang yang gak kamu pilih sebagai partner kerja cuma gara-gara kepribadian MBTI-nya ternyata punya kemampuan lebih mumpuni ketimbang yang kamu pilih. Atau bahkan melihat berdasarkan zodiaknya, wah itu sih benar-benar kelewatan!

Jangan sedih kalau pasangan yang kamu pilih sekarang ternyata gak sebaik yang kamu bayangkan. Kepribadian MBTI-nya ternyata gak senyata itu, lalu kamu merasa diperlakukan salah. Jangan menyesal kalau ternyata pasangan dengan zodiak tertentu itu justru gak cocok sama kamu meski beragam artikel mengatakan sebaliknya. Gemini katanya cocok sama Scorpio, beneran?

Maka, sudahlah. Kalau mau berteman ya tinggal berteman saja. Gak usah bertanya dulu zodiaknya apa. Gak usah disuruh tes kepribadian dulu pakai aplikasi-aplikasi gratis yang tenar itu. Begitu pula dengan pekerjaan. Toh, yang dilihat tetap kemampuan dan perilakunya--kepribadian itu nomor sekian.

Masih suka membeda-bedakan orang berdasarkan jenis kepribadian? Berkaca lagi!

Baca Juga: Media Sosial Favoritmu Bisa Tunjukkan Kepribadianmu Lho!

Gendhis Photo Community Writer Gendhis

Storyteller

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You