Comscore Tracker

Jakarta Pindah ke Bali, Ini Cerita Pekerja Remote Working Era Pandemik

#IDNTimesLife Lebih tenang dan nyaman!

Gak terasa, kini sudah hampir setahun sejak virus COVID-19 pertama kali masuk ke Indonesia. Tepatnya pada tanggal 2 Maret 2020, presiden Jokowi mengumumkan bahwa dua orang perempuan Indonesia terjangkit virus tersebut. 

Mengikuti pengumuman tersebut, mayoritas kantor akhirnya memberlakukan sistem working from home (WFH) untuk menghindari penyebaran lebih lanjut. Sistem kerja ini pun masih berlaku hingga saat ini.

Di tengah adaptasi sistem kerja baru ini, beberapa pekerja melihat peluang untuk berpindah lokasi. Mereka tak lagi merasa harus tinggal Jakarta untuk bekerja, sehingga memutuskan memulai hidup baru di Bali sembari melakukan remote working. Yuk, simak kisah mereka!

1. Lahir dan besar di Jakarta, akhirnya memutuskan pindah ke Bali saat pandemik untuk ganti suasana

Jakarta Pindah ke Bali, Ini Cerita Pekerja Remote Working Era Pandemikinstagram.com/nilatanzil

Nila Tanzil (44) merupakan pendiri Taman Baca Pelangi yang lahir dan besar di Jakarta. Ia berpindah ke Sanur, Bali pada bulan Juli 2020 lalu, setelah melihat sistem kerja semuanya berubah menjadi online

“Karena pandemik, semua meeting jadi online dan kita juga takut meeting-meeting ketemu orang kan. Di bulan Juli pun, orang-orang sudah mulai terbiasa dengan sistem online meeting. Jadi aku pikir, kalau kayak gini gak tinggal di Jakarta gak apa. Mau ganti suasana juga, apalagi udah lama banget di Jakarta, aku lahir dan besar di Jakarta,” ungkapnya ketika di wawancara via telepon oleh IDN Times pada Senin (15/2/21).

Suami Nila sendiri juga bekerja NGO (Non-Governmental Organization) sehingga gak terlalu terpengaruh dengan lokasi kerja. Alhasil, Nila dan suami memantapkan niatnya berpindah ke Sanur, Bali.

2. Mulanya hanya ingin karantina mandiri di Bali, tapi akhirnya memutuskan tinggal di Bali

Jakarta Pindah ke Bali, Ini Cerita Pekerja Remote Working Era Pandemikdok. Girls in Tech Indonesia

Berbeda dengan Nila, Aulia Halimatussadiah atau kerap disapa Llia (37),  mulanya hanya ingin menghabiskan karantina mandiri di Bali pada Maret tahun lalu. Namun, ketika melihat pandemik semakin mewabah, dan sistem kerja berubah menjadi online, Co-Founder & CMO Storial.co ini pun memutuskan untuk tinggal di Bali.

“Jadi awalnya rencananya cuma dua minggu atau paling lama sebulan. Ternyata, karena berlanjut terus dan kantor WFH, jadi saya memutuskan benar-benar pindah ke Bali. Jadi sewa rumah saya di Jakarta diberhentikan, terus saya pindah ke Bali juga cuma bawa 1 koper aja,” ceritanya lewat Whatsapp pada Senin (15/2/21).

Dirinya pun hidup berpindah-pindah, dengan menyewa rumah atau vila di daerah baru setiap dua bulan sekali di Bali. Sejauh ini, ia pernah tinggal di Sanur, Seminyak, dan juga Canggu.

3. Memutuskan pindah ke Bali untuk tinggal bersama keluarga selagi kantor masih menerapkan sistem WFH

Jakarta Pindah ke Bali, Ini Cerita Pekerja Remote Working Era PandemikPexels.com/Andrea

Selanjutnya ada JD (29), seorang pegawai di perusahaan digital Indonesia yang memutuskan pergi ke Bali pada Agustus 2020 kemarin. Berbeda dengan Llia dan Nila, JD memang memiliki keluarga yang tinggal di Canggu, Bali. 

"Sebenarnya pindah karena memang sekarang sudah WFH dan punya keluarga di Bali. Rencananya sih bakal di Bali terus sampai ada kejelasan sistem kerjanya bagaimana. Kalau misal kantor memutuskan untuk bisa remote working terus, bakal full di Bali," ungkapnya lewat wawancara telepon, (22/2/21).

Salah satu pertimbangannya berpindah ke Bali karena masalah biaya. Meskipun di Jakarta ia juga tinggal dengan keluarga, namun ia berkontribusi untuk membayar kebutuhan rumah seperti listrik dan semacamnya. 

"Kalau di Bali, gak ada alokasi budget ke situ," jelasnya.

Baca Juga: Jaga Teamwork Saat Remote Working? Ini 5 Tips dari Timmy IDN Media

4. Berbeda dengan Jakarta yang padat, Bali menjadi lokasi terbaik untuk hidup lebih dekat dengan alam

Jakarta Pindah ke Bali, Ini Cerita Pekerja Remote Working Era Pandemikunsplash.com/Jara Lenz

Ketika membayangkan Bali, tentu kita teringat dengan pantai, udara yang sehat, dan suasana alam yang menenangkan lainnya. Tentu, hal ini berbeda sekali dengan kondisi Jakarta yang padat dan dipenuhi polusi. Melihat perbandingan inilah, Nila dan Llia memutuskan untuk berpindah ke Bali.

"Kita ingin lebih dekat dengan pantai. Kalau di Jakarta kan orang-orang jalan ke mall, tapi karena pandemik, semua orang juga takut di mall. Apalagi di Jakarta semuanya serba tertutup," ucap Nila.

Sebelum berpindah, perempuan kelahiran 1976 ini tinggal di daerah Setiabudi yang merupakan pusat kota. Ia cukup suntuk dengan suasana macet dan kepadatan Jakarta setiap harinya. Oleh karena itu, ia sengaja memilih lokasi rumah yang terhindar macet dan dekat dengan pantai.  

Seperti Nila, Llia pun juga ingin tinggal dekat dengan alam. Ketika akhirnya memutuskan pindah ke Bali, dirinya merasa lebih bahagia dan sehat.

"Meski WFH kita dekat dengan alam, kalau mau ke pantai tinggal ke pantai, dan aman kan kalau di pantai, outdoor. Kalau mau ke gunung tinggal ke gunung, satu jam perjalanan gitu kan. Jadi apa ya. Aku merasa a lot happier and healthy di sini sih," ungkap Llia.

5. Sudah terbiasa bekerja dengan sistem online, remote working pun gak menjadi masalah untuk mereka

Jakarta Pindah ke Bali, Ini Cerita Pekerja Remote Working Era Pandemikunsplash/@progressive

Baik Nila, Llia dan JD merasa gak bermasalah menerapkan sistem remote working dalam pekerjaannya. Ketiganya mengaku telah terbiasa melakukan online meeting, bahkan sebelum pandemik melanda.

Nila yang bergerak di NPO (Non Profit Organization) memiliki tim di Indonesia Timur sehingga kerap berhubungan secara virtual dengan timnya. Meskipun begitu, ia tetap merasakan kendala ketika harus berhubungan dengan acara tatap muka.

"Yang kesulitan maybe kalau ada media mau wawancara, tapi syutingnya harus di kantornya, aku gak bisa datang. Lalu kalau ada event, itu masih ada yang adain, itu gak bisa," ucapnya.

Selanjutnya, Llia dan JD sama-sama bergerak di perusahaan digital, sehingga terbiasa dengan kolaborasi secara virtual. Pekerjaan mereka pun terasa memungkinkan untuk dilakukan secara full online.

"Di Jakarta memang kerja di Kantor, tapi aku sering berhubungan dengan orang internasional jadi online juga. Jadi waktu harus remote working, gak ada perubahan signifikan karena sudah biasa," papar JD.

 

"Udah biasa bekerja dan kolaborasi secara digital. Jadi hampir gak ada masalah sih. Cuma menggunakan tools-tools yang tepat aja buat berkolaborasi," kata Llia.

6. Ke Bali untuk tinggal, bukan menjadi turis. Mereka pun gak banyak berpergian dan tetap mematuhi protokol kesehatan

Jakarta Pindah ke Bali, Ini Cerita Pekerja Remote Working Era Pandemikpexels.com/cottonbro

Seperti yang kita ketahui, situasi COVID-19 di Indonesia masih belum aman. Jumlah positif COVID di Bali pun masih meningkat. Mengetahui hal ini, narasumber pun membatasi berpergian dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Ya aku mindset-nya untuk tinggal bukan jalan-jalan seperti tourist. Jadi aku pun gak pergi ke tempat-tempat wisata yang ramai karena aku juga menghormati tenaga kesehatan," kata Nila. 

 

Senada dengan Nila, JD juga mengungkapkan, "Kebanyakan stay di rumah karena lagi COVID jadi mau mematuhi protokol."

Walau membatasi diri berpergian, pantai masih menjadi tempat yang dirasa aman. Mereka lebih suka menghabiskan waktu luang saat tak bekerja di pantai.

Baca Juga: Perbedaan WFH dengan Remote Work Menurut HR dan CEO Startup!

Topic:

  • Klara Livia
  • Pinka Wima

Berita Terkini Lainnya