Comscore Tracker

Tinggal di 'Pantai Sampah', Komunitas Remaja Hadir Menjaga Lingkungan

Namanya Komunitas Remaja Tabur Mangrove

Apakah kamu pernah membayangkan tinggal di daerah penuh dengan tumpukan sampah? Tentunya, ini mengerikan sekali! Tapi, ternyata kenyataan miris ini harus dialami oleh warga di daerah pesisir Pantai Tanjung Burung, Tangerang.

Tinggal di daerah yang penuh dengan tumpukan sampah, gak membuat warga Tanjung Burung diam begitu saja. Muncul sebuah komunitas bernama Remaja Tabur Mangrove yang secara sukarela menjadi penjaga lingkungan.

Penasaran dengan komunitas ini? Yuk, simak cerita lengkapnya di bawah!

1. Mirisnya tumpukan sampah di daerah muara Sungai Cisadane, Tanjung Burung

Tinggal di 'Pantai Sampah', Komunitas Remaja Hadir Menjaga Lingkunganinstagram.com/remajataburmangrove

"Kalau bicara sampah, titik sampah itu ada di Tanjung Burung. Sampah dari laut dan sungai di Bogor, Angke, Tangerang itu ujungnya ke Tanjung Burung. Makanya, kalau kita ke ujung Sungai Cisadane itu, seperti ada tumpukan sampah menggumpal," papar Abdul Ghofur (24), Ketua Komunitas Remaja Tabur Mangrove ketika diwawancarai via telepon, Rabu (12/8/20).

Sampah itu menumpuk selama bertahun-tahun di sekitar Sungai Cisadane, Tangerang dan tersangkut di pulau kecil sehingga mengeras layaknya tanah. Bahkan ketika sampai ke muara, kita akan bertemu dengan tumpukan sampah di pesisir Pantai Tanjung Burung. Saking banyaknya, pantai ini pun dijuluki 'pantai sampah'.

Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menghilangkan tumpukan sampah yang sudah mengendap di laut itu. Oleh karena itu, warga Tanjung Burung bersikeras untuk menjaga pesisir lainnya di desa mereka agar tetap lestari.

2. Mangrove adalah pelindung lingkungan pesisir. Oleh karena itu, berdirilah komunitas Remaja Tabur Mangrove

Tinggal di 'Pantai Sampah', Komunitas Remaja Hadir Menjaga Lingkunganinstagram.com/remajataburmangrove

Remaja Tabur Mangrove sesungguhnya merupakan turunan dari komunitas Tabur Mangrove yang dikelola oleh Muhamad Guntur (50). Komunitas ini rutin melakukan kegiatan penanaman mangrove untuk melindungi permukiman daerah pesisir.

Memang, mangrove sangat penting untuk mereka yang tinggal di daerah pesisir. Hutan mangrove dapat menahan pukulan ombak laut, angin dan badai, serta gelombang tsunami yang bisa membahayakan masyarakat sekitar pesisir. 

"Pak Guntur itu jiwanya benar-benar di bidang sosial. Setiap ada kegiatan sosial, dia kayak peduli banget untuk ikut. Terus saya melihat, kasihan Pak Guntur kalau sendirian. Jadi, saya inisiasi Remaja Tabur Mangrove untuk membantu," terang Ghofur.

Komunitas Tabur Mangrove sendiri sering mendapat kunjungan dari berbagai organisasi yang ingin turut membantu melakukan penanaman mangrove. Bahkan Miss Indonesia pun juga pernah melakukan aksi sosial di daerah mereka.

3. Ternyata terbentuknya komunitas ini secara resmi berawal dari inisiasi berdirinya taman baca di Tanjung Burung

Tinggal di 'Pantai Sampah', Komunitas Remaja Hadir Menjaga Lingkunganinstagram.com/remajataburmangrove

Meskipun komunitas ini berawal dari kegiatan menanam mangrove, ternyata secara resmi komunitas ini terbentuk dari pembentukan taman baca di Tanjung Burung lho! Taman baca ini kini dikenal dengan Taman Baca Inovator Thomas Alva Edison.

Tahun 2014, Yayasan Taman Baca Inovator hadir untuk mendirikan taman baca di Tanjung Burung. Yayasan ini lalu menggandeng remaja-remaja Tanjung Burung untuk mendirikan taman baca tersebut. Inilah awal mula terbentuknya komunitas Remaja Tabur Mangrove.

Selama kurang lebih 3 tahun, Remaja Tabur Mangrove didampingi oleh kelompok Stacia Hijau dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) untuk mendirikan dan mengurus taman baca tersebut. Kemudian tahun ini, mereka sudah menjadi komunitas yang mandiri.

"Sekarang dari pihak taman baca ini, mempercayai taman baca di Tanjung Burung ke Remaja Tabur Mangrove. Akhirnya, kita kelola Remaja Tabur Mangrove. Jadi, komunitas ini juga jadi dadakan juga kita buat untuk menjalankan taman baca," papar Ghofur.

Ia sendiri merasa senang bisa terlibat aktif dalam taman baca ini. Ia bisa menggunakan waktunya lebih bermanfaat ketimbang hanya sekadar nongkrong-nongkrong untuk menghabiskan waktu.

Baca Juga: Miris! Daratan di Muara Sungai Cisadane Berubah Jadi Pulau Sampah

4. Lewat taman baca, Remaja Tabur Mangrove pun turut menggerakkan kaum muda untuk lebih aktif melakukan kegiatan sosial

Tinggal di 'Pantai Sampah', Komunitas Remaja Hadir Menjaga Lingkunganinstagram.com/remajataburmangrove

Kini telah berjalan secara mandiri, Remaja Tabur Mangrove pun banyak menggerakkan anak-anak muda untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial. Keterlibatan ini diwujudkan dengan menjadi relawan yang mengajar di taman baca.

"Kita gelar buku di kampung-kampung juga buka taman baca di rumah-rumah. Kita juga merekrut relawan-relawan taman baca dari mahasiswa atau siswa SMA untuk melakukan kegiatan mengajar di taman baca ini setiap kegiatan Senin, Kamis, Minggu," kata Ghofur.

Niat baik ini pun ternyata mendorong relawan lain untuk membuka taman baca juga di daerah-darah lainnya. Semakin banyak taman baca, semakin banyak juga ilmu yang tersebar bukan?

"Ada relawan yang juga inisiatif untuk bangun taman baca lagi di kampung Sukabakti, itu daerah Tanjung Burung juga. Kita dukung inisiatif itu, lalu kalau butuh bantuan bakal kita bantu," lanjutnya.

5. Kini aktif di taman baca, komunitas ini tetap aktif melakukan penanaman mangrove dan pelestarian lingkungan lainnya

Tinggal di 'Pantai Sampah', Komunitas Remaja Hadir Menjaga Lingkunganinstagram.com/remajataburmangrove

Remaja Tabur Mangrove kini memang aktif di taman baca, namun, mereka tetap terlibat dalam kegiatan penanaman mangrove dan pelestarian lingkungan lainnya. Tahun ini mereka diajak bekerja sama dengan RNI (Rajawali Negara Indonesia) dalam program pelestarian lingkungan.

"Kita ada kerjasama dengan RNI (Rajawali Negara Indonesia), itu program baru BUMN. Mereka akan mengadakan penanaman mangrove, budi daya kepiting, budi daya bandeng, dan pembibitan sukun di Tanjung Burung. Jadi, kita sedang mempersiapkan itu sekarang," terangnya.

Kabar baiknya, penanaman mangrove yang menjadi salah satu agenda program ini, rencananya akan dilakukan di seluruh pesisir Banten. Dengan begitu, masyarakat daerah pesisir bisa semakin terlindungi.

6. Remaja tabur mangrove mengajak millennials untuk turut melestarikan lingkungan dan peduli terhadap sesama. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Tinggal di 'Pantai Sampah', Komunitas Remaja Hadir Menjaga Lingkunganinstagram.com/remajataburmangrove

Setelah lama bergelut dalam aksi sosial dan pelestarian lingkungan, Ghofur tahu bahwa kegiatan ini tidaklah mudah. Kalau tidak dari hati, anak muda mungkin malas untuk melakukan aksi sukarela ini.

"Semoga teman-teman di sini tetap semangat, mangrove tetap lestari. Aku juga berharap sampah-sampah mulai berkurang. Semoga kita semakin peduli dengan lingkungan," tutup Ghofur.

Ia pun berharap semoga semakin banyak anak muda yang mau turut melestarikan lingkungan dan peduli terhadap sesama. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Memperingati HUT ke-75 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, IDN Times meluncurkan kampanye #MenjagaIndonesia. Kampanye ini didasarkan atas pengalaman unik dan bersejarah bahwa sebagai bangsa, kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI dalam situasi pandemik COVID-19, di mana kita bersama-sama harus membentengi diri dari serangan virus berbahaya. Di saat yang sama, banyak hal yang perlu kita jaga sebagai warga bangsa, agar tujuan proklamasi kemerdekaan RI, bisa dicapai.

Baca Juga: Aktivis Lingkungan Banyak Temukan Limbah Medis di Sungai Cisadane

Topic:

  • Klara Livia
  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya