Comscore Tracker

5 Sikap Terpuji Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi Ini Bisa Jadi Teladan Diri

pemimpin yang selalu melatih diri agar berdaya tahan besar

Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi merupakan pendiri sekaligus sultan pertama dinasti Ayyubiyah. Pemimpin yang lahir pada 1137 M ini, memiliki kepribadian yang bijaksana dan tegas dalam setiap langkah kehidupannya. Bahkan, dalam waktu yang sama ia juga merupakan panglima perang yang mampu memberikan sumbangsih dalam peradaban.

Dalam memajukan peradaban, para pemimpin dinasti besar Islam terkenal selalu mengedepankan sikap terpuji. Begitu pun dengan Shalahuddin, selama hidupnya terdapat banyak sikap terpuji yang bisa kita teladani untuk kehidupan sehari hari.

1. Panglima tempur yang selalu bersemangat dan menyayangi dalam perjuangan

5 Sikap Terpuji Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi Ini Bisa Jadi Teladan Diriilustrasi potret Shalahuddin Yusuf Al Ayyubi (Unknown author, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Dinasti Ayyubiyah merupakan daulah Islam yang erat hubungan kisahnya dengan perang Salib. Terutama Shalahuddin, bahkan sejak masa mudanya ia sudah berbaur dengan bidang militer. Mulai dari berlatih menunggang kuda, melempar tombak, berburu, dan berbagai pelatihan perang lainnya yang mengalir begitu saja dalam kehidupannya.

Pengetahuan seperti ini dimanfaatkan dengan baik oleh Shalahuddin, terutama saat menjadi wakil pamannya, Asadudin Syirkuh, dalam membantu Dinasti Fatimiyah di Mesir yang saat itu sedang terjadi kekacauan. Namun, misi ini bertepatan dengan rencana pasukan Salib yang ingin menguasai Mesir. Dan, inilah yang menjadi awal perjalanan Shalahuddin menjadi tentara perang, hingga pada masa berikutnya menjadi andalan dalam berbagai misi perdamaian pemberontakan serta Perang Salib.

Perang Salib merupakan perang yang terjadi secara berkelanjutan, bahkan banyak sekali para pemimpin yang terlibat dalam perang ini. Salah satunya Shalahuddin, dibawah kekuasaannya yang saat itu juga sebagai pemimpin Dinasti Ayyubiyah, ia berhasil menguasai Baitul Maqdis pada tahun 1099 M. Bahkan, penyerahan Baitul Maqdis dilakukan secara damai oleh Balian of Ibelin dari pasukan Salib dan menyepakati perjanjian damai bersama Shalahuddin.

Dilansir dari buku Shalahuddin Al Ayyubi : Sang Penakluk Yerusalem karya Abdul Latip Talib, Shalahuddin tidak melakukan kekerasan terhadap penduduk Kristen di Baitul Maqdis, rakyat dikawal dengan ketat oleh tentara muslim ketika keluar dari Baitul Maqdis. Kejadian yang sama juga terjadi pada perang Salib berikutnya yang melibatkan Shalahuddin. Kemenangannya tidak harus dihiasi dengan pertumpahan darah, namun ia juga menawarkan solusi lain seperti melakukan gencatan senjata, membantu korban dan keluarga korban yang terluka atau meninggal saat perang, melakukan perjanjian damai antara tentara muslim dan pasukan Salib, serta membebaskan orang-orang Kristen melakukan ziarah tanpa gangguan ke Baitul Maqdis.

2. Memelihara sikap wara' agar bisa selalu dekat dengan Allah Swt.

5 Sikap Terpuji Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi Ini Bisa Jadi Teladan Diriilustrasi sedang membaca Al-Qur'an (pexels.com/mohammad ramezani)

Wara' adalah meninggalkan atau menghindari segala hal yang mengandung syubhat atau tidak jelas bagaimana status halal dan haramnya. Sikap ini diamalkan oleh Shalahuddin, agar terhindar dari perbuatan yang menimbulkan dosa.

Sikap ini juga digambarkan dalam diri Shalahuddin, yang mana ia juga disebutkan memiliki keistimewaan dengan kesimbangan antara moral dan pemikiran yang luar biasa. Dalam hidupnya, ia lebih mengutamakan ketakwaan dan ketekunan dalam beribadah kepada Allah Swt. Seperti, gemar dalam membaca dan mendengarkan Al-Qur'an serta Hadist Nabi, mengagungkan syiar agama, dan selalu menyempatkan dirinya untuk melaksanakan shalat fardhu maupun sholat sunah bersama pasukannya meski berada di medan perang. 

Seperti pada kisahnya saat memenangkan pertempuran menghadapi pasukan Salib menuju pembebasan Baitul Maqdis yang bertepatan dengan hari Jum'at. Shalahuddin dan semua pasukannya tetap melaksanakan shalat Jum'at meski di medan perang. Hal ini semata-mata dilakukan agar ia dan pasukannya selalu dekat dengan Allah Swt. dan dimudahkan usahanya dalam pembebasan Baitul Maqdis.

Kemudian juga dikisahkan oleh penasehat utamanya Bahauddin bin Syaddad, penasihat utama Shalahuddin, bahwa Shalahuddin juga senantiasa mengerjakan shalat sunah malam. Jika disebabkan oleh hal tertentu, ia akan menunaikannya ketika hampir waktu subuh. Kecuali saat tiga hari terakhir sebelum ia meninggal dikarenakan dalam keadaan sakit dan sering pingsan. Meski begitu, shalat fardhu tetap ia laksanakan. 

Banyak hal yang tetap dilakukan oleh Shalahuddin meski dalam hukum, hal tersebut boleh ditinggalkan. Seperti dalam pembayaran zakat diluar zakat fitrah, selalu bersedekah pada orang yang memerlukan, dan tidak pernah meninggalkan puasa Ramadhan walau dalam keadaan sakit.

3. Suka belajar meski sudah menjadi pemimpin

5 Sikap Terpuji Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi Ini Bisa Jadi Teladan Diriilustrasi potret Shalahuddin Yusuf Al Ayyubi (Michel Bakni, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Dalam kisahnya, Shalahuddin kecil memang dikenal gemar dalam belajar. Meski kelahirannya bertepatan dengan pengusiran keluarganya dari Tikrit oleh seorang penguasa di Baghdad yaitu Mujahidun Bahruz, namun masa kecilnya tidak diiringi dengan kekurangan.

Setelah sang ayah bergabung sebagai emir (komandan) di bawah kepemimpinan Imaduddin Zanki dan kemudian menjabat sebagai Gubernur Ba'albek, keberlangsungan hidup Shalahuddin menjadi lebih terjamin. Shalahuddin dapat mempelajari berbagai ilmu agama, hingga mendapatkan akses untuk pindah ke Damaskus dan belajar bersama anak-anak dari para penguasa saat itu. Bahkan, ia mempunyai sebuah kebiasaan untuk selalu mendatangi tempat-tempat belajar. Seperti, untuk membaca, menulis, menghafal Al-Qur'an dan Hadist, menimba ilmu tentang perperangan, serta mempelajari kaidah bahasa dan dasar-dasar nahwu dari para ulama dan putera-putera raja. 

Setelah dewasa dan menjadi pemimpin, kebiasaan belajar tidak ia tinggalkan. Seperti saat ia diangkat menjadi pengganti wazir dibawah kepemimpinan Nuruddin Mahmud. Ia menganggap jabatan ini merupakan keberkahan dari Allah Swt dan sekaligus menjadi sarana belajar untuk mematangkan ilmu yang sudah dimilikinya. Forum diskusi menjadi metode belajarnya pada saat itu, ia suka belajar ilmu teologi, hadist, serta memperdalam ilmu Al-Qur'an. Ilmu yang ia pelajari digunakannya untuk diri sendiri serta mengatur dan menjalankan roda pemerintahan di masa Dinasti Ayyubiyah.

Baca Juga: 5 Tokoh Besar Pembela HAM, Ada yang Mendapat Hadiah Nobel Perdamaian

4. Mengutamakan sikap sabar meski dalam keadaan sulit

5 Sikap Terpuji Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi Ini Bisa Jadi Teladan Diriilustrasi sedang berzikir (pexels.com/RODNAE Productions)

Ibn Syaddad, penulis biografi Shalahuddin yang mempersembahkan sebuah karya berjudul The Merits of Jihad (Keutamaan Jihad) mengatakan, selama dia mengabdi pada Shalahuddin dari tahun 1188 M hingga wafat, salah satu sikap Shalahuddin yang ia kenang adalah sikap sabar.

Saat melakukan perjalanan untuk menaklukan tentara Salib, Shalahuddin dalam keadaan sakit. Penyakit yang menyerangnya mempersulit gerak dan langkahnya. Penyakit kulit yang dideritanya saat itu membuat bagian bahwa tubuhnya melepuh dan membuatnya susah untuk duduk. Meski demikian, ia tetap menunggang kuda dan melanjutkan perjalanannya sambil menahan sakit.

Dilansir dari buku Perang Salib III: Perseteruan Dua Ksatria: Salahuddin al-Ayyubi dan Ricard Si hati Singa, terjemahan Nadiah Abidin karya James Reston, kesabaran merupakan kelebihan yang dimiliki oleh Shalahuddin. Dia juga berpegang teguh pada Al-Qur'an, salah satunya pada Q.S an-Nahl ayat 110, yang memerintahkan manusia untuk selalu bersikap sabar.

5. Selalu menciptakan ikatan kesetiaan dan solidaritas antar sesama

5 Sikap Terpuji Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi Ini Bisa Jadi Teladan Diriilustrasi berpegangan tangan (pexels.com/Pixabay)

Dilansir dari Ensiklopedia Peradaban Islam karya Muhammad Syafii Antonio, Shalahuddin merupakan seorang panglima yang dikenal dekat oleh para prajuritnya. Ia selalu menciptakan ikatan kesetiaan dan solidaritas, tertama dalam memperbaiki hukum. Seperti saat mendapatkan kemenangan atas Perang Salib, dia tidak menyiksa tawanan perang namun malah membebaskannya. Hal itu juga dilakukan oleh para prajuritnya, meski selalu maju dan bersemangat dalam melawan tentara Salib, setelahnya tetap memperlakukan tawanan dengan baik.

Menurut buku Perang Salib III: Perseteruan Dua Ksatria: Salahuddin al-Ayyubi dan Ricard Si hati Singa, terjemahan Nadiah Abidin karya James Reston, Shalahuddin tidak ingin adanya permusuhan. Ia selalu mengomandokan sikap bijaksana dalam menghadapi setiap orang. Allah Swt. tidak akan memberikan ampunan kepada orang yang bersikap ceroboh sampai orang yang dianiaya tersebut memaafkan terlebih dahulu. Namun, jika sikap tersebut merupakan sebuah terus terang dalam kebenaran, maka Allah Swt. akan mengampunimu dengan bertaubat.

Meneladani sikap terpuji dari para pemimpin merupakan sebuah langkah yang perlu diterapkan agar hidup bisa berproses lebih baik. Seperti, pada kisah Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi ini, terdapat berbagai sikap terpuji yang sukses menginspirasi banyak orang yang mengikuti kisahnya. Semoga kita menjadi salah satu yang dapat meneladan sifat baik dari Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi, ya!

Baca Juga: Sejarah Masjid Islamic Center Jakarta, Mulanya Tempat Prostitusi

Maisix Dela Desmita Photo Verified Writer Maisix Dela Desmita

https://lynk.id/maisixdela

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya