Comscore Tracker

5 Hal yang Bikin Permintaan Maaf Terdengar Menjengkelkan

Kamu sudah tahu belum nih?

Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Karenanya, kita perlu meminta maaf. Namun, meminta maaf ternyata bukan perkara gampang lho. Salah-salah, bukannya dimaafkan, orang-orang justru jadi tambah membenci kita.

Kok bisa begitu? Ini nih 5 hal yang bikin permintaan maaf kita malah terdengar menjengkelkan:

1. Sering minta maaf tetapi terus mengulangi kesalahan yang sama

5 Hal yang Bikin Permintaan Maaf Terdengar MenjengkelkanPixabay.com/kalhh-86169

Permintaan maaf kita memang penting. Namun sebenarnya ada yang lebih diharapkan orang daripada sekadar permintaan maaf kita. Yaitu kita sungguh-sungguh berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kalau kita hobi minta maaf sekaligus terus mengulangi kesalahan yang sama, kita jadi terkesan hanya main-main dengan permintaan maaf yang kita sampaikan. Kita bahkan terlihat tidak benar-benar menyesali kesalahan yang pernah dilakukan atau malah sebenarnya merasa itu bukan sesuatu yang salah.

2. Raut wajah bertolak belakang dengan ucapan permintaan maaf

5 Hal yang Bikin Permintaan Maaf Terdengar MenjengkelkanPixabay.com/Alexas_Fotos-686414

Saat kita sudah akrab dengan seseorang, kita memang jadi agak susah kalau akan memasang raut wajah serius meski baru melakukan kesalahan padanya. Akibatnya, saat meminta maaf pun kita akan melakukannya sambil setengah bercanda. Pada kesalahan yang ringan dan asal tidak sering dilakukan, orang mungkin tidak merasa keberatan.

Namun kalau kita selalu seperti itu, bibir meminta maaf tetapi raut wajah justru cengengesan padahal kesalahan yang diperbuat juga cukup besar, wah, bisa-bisa orang jadi tersinggung. Kita terkesan menyepelekan dampak dari kesalahan kita alias tidak berempati pada orang-orang yang menjadi korban kesalahan kita.

3. Minta maaf sambil membela diri dan mencari-cari pembenaran

5 Hal yang Bikin Permintaan Maaf Terdengar MenjengkelkanPixabay.com/kalhh-86169

Menjelaskan situasi yang membuat kita melakukan kesalahan dengan atau tanpa disengaja berbeda dengan membela diri dan mencari-cari pembenaran. Contoh sederhana, saat kita terlambat datang pada sebuah janji temu dengan seseorang.

Pertama, kita berkata, "Maaf banget ya, aku telat dan kamu jadi harus menunggu. Di tempatku hujan deras banget sampai susah sinyal dan koneksi internet. Buat pesan taksi online susah, mau kasih kabar kamu kalau aku bakal telat juga gak bisa."

Kedua, kita berkata, "Maaf ya, aku telat dan kamu jadi harus menunggu. Tapi gak apa-apa, kan? Gak terlalu lama juga kan, menunggunya? Kalau hujannya gak deras banget, aku juga pasti gak bakal telat."

Beda kan, kesan yang ditimbulkan dari kedua permintaan maaf tersebut? Yang pertama menjelaskan situasi secara masuk akal, tidak dibuat-buat, sebatas menerangkan hubungan sebab akibat.

Sementara yang kedua justru membela diri dengan mengeklaim keterlambatannya tidak parah dan mencari-cari pembenaran dengan menyalahkan hujan. Bahkan sampai berani memastikan keterlambatan itu tidak akan terjadi jika tidak turun hujan. 

Baca Juga: Ingat ya, Jangan Minta Maaf untuk 12 Hal Ini

4. Minta maaf untuk kesalahan orang lain

5 Hal yang Bikin Permintaan Maaf Terdengar MenjengkelkanPixabay.com/Alexas_Fotos-686414

Misalnya, kita punya sahabat dan sahabat kita jelas-jelas melakukan kesalahan pada seseorang. Namun ia tidak mau mengakui kesalahannya apalagi minta maaf. Kita jadi merasa tidak enak pada orang itu dan akhirnya memilih untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan sahabat kita padanya.

Barangkali, kita hanya bermaksud menjadi penengah supaya suasana kembali cair. Tetapi tindakan kita bisa jadi justru akan membuat orang itu kian marah. Permintaan maaf kita jelas bukan yang diharapkannya. Permintaan maaf seharusnya datang dari seseorang yang melakukan kesalahan padanya.

Dalam kasus-kasus seperti ini, yang diinginkan orang tak pernah sesederhana ucapan permintaan maaf yang meluncur bebas dari bibir siapa pun, melainkan bagaimana orang yang bersalah mau bertanggung jawab atas perbuatannya sebagai bentuk penghormatan atas harga diri orang lain. Ini jelas tak seperti kasus sebuah buku yang tertinggal di suatu tempat bisa dibawakan oleh siapa saja yang kebetulan menemukannya.

Apalagi, sahabat kita juga sudah bukan anak kecil lagi. Tidak seharusnya kita pasang badan untuk kesalahan-kesalahannya. Kalau kita melakukan itu, selain membuat sahabat kita tidak pernah belajar mengakui dan meminta maaf atas kekeliruannya, kita juga hanya akan membuat orang lain merasa sangat muak baik pada sahabat kita maupun kita sendiri.

5. Minta maaf dengan terpaksa

5 Hal yang Bikin Permintaan Maaf Terdengar MenjengkelkanPixabay.com/markzfilter-1699072

Sebenarnya sih, tidak ingin minta maaf. Tetapi karena beberapa hal, akhirnya kita terpaksa meminta maaf. Permintaan maaf jenis ini biasanya ditandai dengan ucapan, "Iya deh, aku minta maaf," atau, "Ya sudah, aku minta maaf."

Pada kalimat pertama, lawan bicara kita pasti sontak ingin menyahut, "Ya iyalah, memang sudah seharusnya kamu minta maaf. Masa gak? Keterlaluan kalau gak."

Sementara pada kalimat kedua, kita terkesan ingin cepat-cepat menyudahi urusan dengan meminta maaf aja deh. Ikhlas gak ikhlas, serius gak serius, yang penting minta maaf dan urusan kelar. Kita jadi terdengar meremehkan, tidak merasa menyesal, bahkan sebenarnya tidak menyadari letak kesalahan kita sendiri. Meminta maaf dengan cara begitu benar-benar membuat kita tampak palsu.

Nah, itulah 5 hal yang membuat permintaan maaf kita malah jadi menjengkelkan buat orang lain. Maka lebih berhati-hatinya ya, saat hendak meminta maaf. Sebab perasaan orang-orang yang terkena dampak dari kesalahan kita pasti juga sedang sangat sensitif.

Baca Juga: 6 Hal yang Kamu Tidak Boleh Minta Maaf Karena Telah Melakukannya

Marliana Kuswanti Photo Community Writer Marliana Kuswanti

Esais, cerpenis, novelis. Senang membaca dan menulis karena membaca adalah cara lain bermeditasi sedangkan menulis adalah cara lain berbicara.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Agustin Fatimah

Just For You