Comscore Tracker

Beda tapi Tidak Kurang, Perjuangan Teman Autis Mendongkrak Stigma

Mengedukasi masyarakat mengenai autisme

Dilatarbelakangi keinginan menjadikan Indonesia negara yang ramah untuk orang-orang dengan autisme, Alvinia Christiany dan Ratih Hadiwinoto bersama dengan timnya mendirikan Teman Autis. Sebagai wadah digital yang menyediakan informasi edukatif untuk orang tua yang mempunyai anak autisme, Teman Autis kini telah memiliki komunitas yang mayoritas anggotanya adalah orang tua. Mereka juga memiliki lebih dari 100 mitra yang terdiri dari klinik, sekolah, dan fasilitas penunjang.

Alvinia Christiany, co-founder Teman Autis, adalah salah satu penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu (SATU) Indonesia Awards ke-13 untuk kategori kelompok. SATU Indonesia Awards adalah sebuah apresiasi dari Astra Indonesia untuk generasi muda yang telah berkarya dan berjasa untuk masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi. Kategori kelompok mewakili lima bidang tersebut.

Pada hari Sabtu (26/11/2022), Alvinia Christiany mengungkapkan perjalanannya dalam membangun Teman Autis saat diwawancara secara daring. Ingin tahu bagaimana Teman Autis berjuang untuk orang yang mempunyai kondisi autisme? Simak poin-poin penting berikut ini!

1. Riwayat berdirinya Teman Autis

Beda tapi Tidak Kurang, Perjuangan Teman Autis Mendongkrak Stigmaaktivitas jalan bersama di CFD, Sudirman, Jakarta tahun 2017 (dok. Teman Autis)

Organisasi ini dulunya bernama Light It Up Project sebelum berubah nama menjadi Teman Autis di bulan April 2018. Light It Up Project dibentuk oleh Alvinia Christiany dan Ratih Hadiwinoto serta dibantu oleh beberapa teman di tahun 2017.

Alvinia menyebutkan bahwa pada saat itu, banyak berita mengenai anak autis yang mengalami perundungan di sekolah. Tidak sedikit pula orang yang menggunakan label "autis" sebagai bahan lelucon.

Kondisi inilah yang kemudian mendorong mereka untuk bertindak agar penyandang autis beserta keluarganya tidak merasa dikucilkan. Mereka lalu mempelajari lebih jauh tentang kondisi autisme sambil melakukan kegiatan jalan bersama dengan orang tua yang mempunyai anak autisme di acara Car Free Day di Sudirman, Jakarta. Kegiatan ini dilakukan untuk mensosialisasikan kondisi autisme kepada masyarakat.

Alvinia dan rekannya juga mengadakan seminar untuk mengedukasi masyarakat tentang autisme yang termasuk salah satu gangguan perkembangan otak (neurodevelopmental disorder). Mereka kemudian mengetahui bahwa banyak orang tua yang kesulitan mencari tempat terapi untuk anaknya.

Mereka menyadari bahwa informasi mengenai tempat terapi sebenarnya ada tetapi informasi data tidak rapi. Alvinia dan tim kemudian mengumpulkan semua informasi mengenai tempat terapi dan klinik di satu wadah atau online platform yang menjadi Teman Autis di tahun 2018.

2. Lingkup kerja Teman Autis

Beda tapi Tidak Kurang, Perjuangan Teman Autis Mendongkrak Stigmasalah satu acara seminar mengenai karir yang diselenggarakan oleh Teman Autis di tahun 2022 (dok. Teman Autis)

Lingkup kerja Teman Autis selaras dengan visi dan misi mereka, yaitu menjadi penghubung antara orang tua dengan mitra. Mereka ingin memberikan dukungan kepada orang tua yang memiliki anak dengan kondisi autisme.

Teman Autis memanfaatkan kemajuan teknologi dengan membuat direktori tautan. Mereka juga memakai media sosial seperti Instagram dan Facebook untuk menjangkau orang tua dan dan penyandang autisme di seluruh Indonesia.

Berikut adalah contoh layanan informasi yang diberikan oleh Teman Autis untuk orang tua yang mempunyai anak autisme:

  • Direktori tempat terapi, klinik, atau sekolah, artikel, dan informasi untuk orang awam mengenai kondisi autisme yang dapat diakses dari laman resmi Teman Autis, yaitu https://temanautis.com.
  • Direktori tempat klinik atau terapi dan jadwal acara kegiatan juga dapat diakses melalui Instagram resmi mereka, @temanautis.
  • Tes singkat untuk deteksi dini gejala autisme bagi orang tua yang mempunyai anak usia 4 hingga 11 tahun. Tes dapat diakses melalui https://temanautis.com/tes-psikologi.
  • Seminar edukatif yang dilakukan secara daring maupun tatap muka.
  • TAWA (Tanya Jawab Seputar Autisme) yang dilakukan pada tanggal 25 setiap bulan di Instagram mereka, yaitu @temanautis.

3. Konsultasi daring

Beda tapi Tidak Kurang, Perjuangan Teman Autis Mendongkrak StigmaKelas webinar yoga untuk anak Autisme (dok. Teman Autis/Webinar Yoga untuk Anak Autis)

Berawal dari orang tua yang tinggal di luar pulau Jawa yang menghubungi tim Teman Autis untuk mencari tempat konsultasi, mereka kini sedang dalam proses mengembangkan konsultasi daring. Namun untuk saat ini, layanan tersebut terbatas untuk orang tua yang sudah tergabung di WhatsApp support group milik Teman Autis.

Alvinia melalui wawancaranya menyebutkan bahwa hadiah yang diperoleh dari SATU Indonesia Awards akan digunakan untuk mengembangkan layanan konsultasi daring. Saat ini, Teman Autis telah menjalin kerja sama dengan sebuah instansi di Jawa Timur mengenai layanan konsultasi daring. Sosialisasi layanan konsultasi daring ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi dan bimbingan dari mitra agar dapat berkembang.

Baca Juga: Kegigihan Justitia Avila Beri Pendampingan Korban Kekerasan Seksual

4. Kesulitan yang dihadapi Teman Autis saat ini dan harapan di masa mendatang

Beda tapi Tidak Kurang, Perjuangan Teman Autis Mendongkrak Stigmalukisan hasil karya anak dan orang dengan kondisi Autisme (dok. Teman Autis)

Alvinia menyebutkan bahwa timnya sempat mengalami kesulitan saat berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kondisi autisme. Sikap perbedaan perlakuan yang tidak disertai fakta terhadap pengidap autis beserta keluarganya menjadi tantangan tersendiri.

Namun, tantangan ini tidak membuat tim Teman Autis putus asa. Melalui media sosial, mereka menunjukkan sisi positif dari orang yang mempunyai autisme. Mereka juga menggunakan motto bahwa berbeda bukan berarti kurang. Tujuannya adalah untuk menekankan kembali bahwa seseorang yang mempunyai autisme mempunyai potensi, meskipun perilaku mereka berbeda. 

Sejalur dengan slogan dari Astra Indonesia, yaitu Kita Satu Indonesia, Teman Autis berjuang untuk menciptakan Indonesia yang lebih ramah terhadap penyandang autisme dan keluarganya. Teman Autis juga akan terus berupaya untuk menjalin kerja sama dengan mitra dari seluruh Indonesia agar orang tua yang mencari tempat terapi, layanan penunjang atau sekolah dapat terbantu. Kemudian mereka mengembangkan layanan konsultasi baik secara daring maupun tatap muka agar dapat dinikmati oleh orang tua dan orang yang mempunyai autisme.

5. Cara bergabung dan berdonasi ke Teman Autis

Beda tapi Tidak Kurang, Perjuangan Teman Autis Mendongkrak Stigmasuasana pelelangan dalam rangka menggalang dana tahun 2018 (dok. Teman Autis)

Orang tua yang mempunyai anak dengan kondisi autisme ataupun orang dewasa yang mempunyai autisme dapat bergabung ke support group Teman Autisdengan cara:

  • Mendaftarkan diri melalui laman resmi Teman Autis dengan memilih tombol "register/daftar" di sebelah kanan atas atau membuka laman https://temanautis.com/register.
  • Menekan tombol logo WhatsApp di laman resmi Teman Autis untuk terhubung langsung dengan admin Teman Autis.

Kalian yang ingin bergabung ke Teman Autis sebagai sukarelawan dapat mengakses https://temanautis.com/karir. Kemudian bila ingin memberikan donasi dapat dilakukan dengan cara melengkapi formulir elektronik di https://temanautis.com/donasi.

Sekedar informasi, sumber pendanaan yang digunakan untuk mengelola Teman Autis berasal dari dana pribadi tim, donasi, dan penggalangan dana. Semua donasi yang diterima akan digunakan untuk membangun situs web Teman Autis.

Itulah kisah inspiratif Alvinia Christiany dengan timnya dalam melawan stigma autisme di Indonesia. Teman Autis akan terus berjuang untuk menjadi jembatan penghubung antara orang tua yang mempunyai anak dengan kondisi autisme dengan mitra tetap tersambung.

Demikian pula, kita sebagai masyarakat dapat berkontribusi dengan cara menghormati orang yang mempunyai kondisi autisme beserta keluarganya. Contoh sikap menghormati adalah dengan tidak terburu-buru mengkritik orang tua yang anaknya berguling-guling sambil menangis di pusat perbelanjaan. Bisa jadi orang tua ini mempunyai anak berkebutuhan khusus seperti autisme dan membutuhkan waktu untuk menenangkan anak.

Kita juga dapat memberikan kesempatan kepada orang dengan kondisi autisme untuk berkembang di dunia akademik maupun pekerjaan. Contohnya kita dapat memberikan akomodasi ruangan dan ekstra waktu agar siswa yang mempunyai autisme dapat menyelesaikan tugas di kelas.

Baca Juga: Justitia Avila dan Suara Lantangnya Dampingi Korban Kekerasan Seksual

Maria  Sutrisno Photo Verified Writer Maria Sutrisno

"Less is More" Ludwig Mies Van der Rohe.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Izza Namira

Berita Terkini Lainnya