Comscore Tracker

8 Pelajaran Berharga dari Miniseri Maid, Perempuan Harus Berdaya! 

Serial Netflix yang sarat akan makna

Sudah lebih dari dua minggu Netflix merilis miniseri Maid. Serial berjumlah sepuluh episode besutan Warner Bros. Television Studios ini diangkat dari memoir karya Stephanie Land. Ia membagikan pengalamannya sebagai ibu tunggal dalam sebuah buku berjudul Maid: Hard Work, Low Pay, and a Mother's Will to Survive.

Miniseri ini dibintangi deretan artis peran kenamaan. Di antaranya Margaret Qualley dan si kecil Rylea Whittet sebagai tokoh utama, Nick Robinson, Andie McDowell, Anika Noni Rose, hingga BJ Harrison.

Lebih dari sekadar hiburan, Maid sarat makna yang membuatnya menjadi daftar wajib tonton. Apa saja, nih? Yuk, kita bahas bersama! Disarankan, kamu menontonnya terlebih dahulu karena ulasan berikut mengandung spoiler

1. Domestic violence tidak selalu berupa fisik

8 Pelajaran Berharga dari Miniseri Maid, Perempuan Harus Berdaya! Margaret Qualley, Rylea Whittet, Nick Robinson (instagram.com/hedofthebloom)

Serial yang diproduseri aktris Margot Robbie ini menceritakan perjuangan seorang ibu muda bernama Alexandra Russell (Margaret Qualley). Ia diketahui mengalami domestic violence atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Bukan berupa fisik, Alex mendapat kekerasan emosional dari kekasihnya Sean Boyd (Nick Robinson). Selain mengalami hinaan yang merendahkan, kalimat kasar, dan pengendalian, ia bahkan tidak dapat mengakses keuangannya sendiri. Sean mengambil alih kartu debit milik Alex. Karena berbagai perlakuan kasar tersebut, perempuan ini ketakutan padanya.

KDRT bisa terjadi pada siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Namun kasus di Indonesia lebih banyak dialami perempuan. Tidak selalu fisik, kekerasan dapat berupa emosi dan ekonomi seperti yang dialami Alex. Bahkan melakukan hubungan seksual tanpa consent atau persetujuan salah satu pasangan dapat dikategorikan sebagai kekerasan.

2. Big no terhadap toxic relationship

8 Pelajaran Berharga dari Miniseri Maid, Perempuan Harus Berdaya! Margaret Qualley sebagai Alex Russell dan Rylea Whittet sebagai Maddy Boyd dalam miniseri 'Maid' Netflix (dok. Netflix/Maid))

Hubungan yang dijalani Alex dan Sean jelas termasuk toxic relationship. Awalnya, Alex tidak memahami jika yang dialaminya adalah bentuk kekerasan. Karena perlakuan buruk Sean, Alex menderita trauma berkepanjangan berupa rasa takut jika sang pacar mengamuk. Ia mengalami post traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma.

Toxic relationship biasa terjadi pada hubungan yang tidak setara. Konteks ketidaksetaraan di sini adalah adanya pihak yang berkuasa dan pihak yang diserang. Sean memang tidak sampai menyerang Alex secara fisik, namun ia melukai mental Alex dengan menghina hingga merendahkan harga dirinya sebagai perempuan.

Hubungan beracun ini dapat dikenali dari hal terkecil seperti yang Sean lakukan pada Alex. Mulai dari rasa egois Sean yang melarang Alex mengejar mimpinya, mengontrol, lalu menguasai kehidupannya. Pada akhirnya, Sean selalu melampiaskan amarah pada Alex ketika sesuatu berjalan tidak semestinya.

3. Rapuh, sembuh, dan tumbuh bersama inner child

8 Pelajaran Berharga dari Miniseri Maid, Perempuan Harus Berdaya! Margaret Qualley sebagai Alex Russell, Rylea Whittet sebagai Maddy Boyd, dan Nick Robinson sebagai Sean Boyd dalam miniseri 'Maid' Netflix (Dok. Netflix/Maid)

Luka masa lalu berupa inner child yang dialami Alex dan Sean rupanya masih terbawa dan berimbas di kehidupan dewasa mereka. Sama-sama anak broken home, Alex dan sang mama mendapat kekerasan dari ayahnya. Sementara Sean memiliki ibu yang kasar.

Mempunyai masa lalu buruk memanglah tidak menyenangkan. Terlebih mengalaminya saat usia dini, tubuh yang kecil itu akan semakin rapuh. Namun bukan berarti kita harus kalah dan jatuh. Walaupun sulit, berdamai dengan inner child atau apa pun bentuk luka di masa lalu menjadi proses terbaik untuk menyembuhkan diri.

Dengan belajar dari masa lalu, kita dapat membentuk diri di masa sekarang. Kita bisa tumbuh bersama inner child dan bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik. Namun saat kita merasa kesulitan menghadapi proses itu, sah-sah saja, kok untuk meminta bantuan orang lain. Bukan lemah, saling membantu berarti juga saling menguatkan.

4. Menjadi ibu bukan berarti tidak boleh bercita-cita tinggi sekaligus mewujudkannya

8 Pelajaran Berharga dari Miniseri Maid, Perempuan Harus Berdaya! Margaret Qualley sebagai Alex Russell dalam miniseri 'Maid' Netflix (Dok. Netflix/Maid)

Alex mempunyai cita-cita menjadi seorang penulis. Selang 4 tahun sebelum ia bertemu Sean dan memiliki putri Maddy, ia mendapat beasiswa dari University of Montana jurusan Creative Writing. Namun ia meninggalkannya untuk hidup bersama Sean.

Saat perilaku buruk Sean semakin parah dengan melemparkan barang-barang ke arahnya dan Maddy, Alex dengan berani meninggalkan lelaki tersebut. Ia lalu bekerja sebagai petugas kebersihan untuk menghidupi dirinya dan sang anak. Mimpi Alex untuk menjadi penulis rupanya tidak padam meski ia sudah menjadi ibu.

Ketika jati dirinya yang hilang akibat hubungan manipulatif mulai kembali, Alex berusaha mengejar cita-citanya. Ia memulai segalanya dari awal tanpa melupakan kehadiran Maddy.  Menjadi ibu bukan berarti mimpi seorang perempuan harus terhenti. Layaknya laki-laki, perempuan pun memiliki ruang berkarya baik di rumah maupun publik.

Baca Juga: 6 Film dan Serial Dokumenter Netflix Rilis Oktober 2021

5. Privilege terbesar adalah diri kita sendiri 

8 Pelajaran Berharga dari Miniseri Maid, Perempuan Harus Berdaya! Margaret Qualley sebagai Alex Russell dan Rylea Whittet sebagai Maddy Boyd dalam miniseri 'Maid' Netflix (dok. Netflix/Maid))

Maid berakhir dengan happy ending. Alex dapat berkuliah di University of Montana sekaligus mendapat hak asuh penuh atas Maddy. Namun yang tidak orang lain perhatikan, ia membutuhkan perjuangan lebih karena bukan berasal dari keluarga mampu. Selain kesejahteraan ekonomi, statusnya sebagai ibu tunggal pun cukup menyulitkan.

Demi cita-citanya, Alex harus membersihkan 338 toilet, mencari tujuh jenis bantuan pemerintah, menghabiskan tahun ketiga usia Maddy dengan pindah rumah sebanyak sembilan kali, hingga bermalam di lantai dermaga feri. Yang paling membuatnya sedih, ia pun diharuskan melihat putrinya tumbuh di rumah singgah korban KDRT.

Banyak orang mengira privilege berasal dari keluarga kaya raya adalah anugerah. Namun mereka terkadang lupa dengan talenta unik yang dimiliki oleh diri sendiri. Dengan usaha dan doa maksimal, hal ini membantu kita meraih cita-cita. Kita tidak perlu khawatir, talenta tidak akan hilang bak materi karena ia dianugerahkan langsung oleh Tuhan Yang Maha Esa.

6. Anak berhak memiliki orangtua yang sehat

8 Pelajaran Berharga dari Miniseri Maid, Perempuan Harus Berdaya! Margaret Qualley sebagai Alex Russell dan Rylea Whittet sebagai Maddy Boyd dalam miniseri 'Maid' Netflix (dok. Netflix/Maid))

Perlahan tapi pasti, Alex memahami bahwa dirinya adalah korban kekerasan dari orang tua sekaligus pasangan. Ia tidak ingin mewariskan luka yang sama kepada Maddy. Alex berusaha memutus rantai lingkaran setan bernama toxic relationship. Ia memilih untuk tidak denial pada "hubungan impian" seperti yang dialami sang mama.

Jika Alex menyadari kondisinya, tidak dengan Sean. Ia kesulitan terlepas dari jeratan itu. Perilaku toxic-nya semakin parah karena kecanduan alkohol. Meski sempat menahan Maddy, Sean akhirnya memberi hak asuh penuh sang putri pada Alex. Ia menyadari dirinya bukanlah ayah yang baik karena tidak bisa mengendalikan emosi.

Bukan suatu hal bijak mempertahankan toxic relationship demi anak atau bahkan berharap pasangan berubah lebih baik. KDRT memberi trauma fisik dan psikis terhadap pihak yang diserang, termasuk anak-anak. Mereka berhak memiliki orangtua terutama ibu yang sehat baik secara fisik, mental, maupun rohani. Happy mom, happy baby!

7. KDRT bukan sesuatu yang dapat diwarisi 

8 Pelajaran Berharga dari Miniseri Maid, Perempuan Harus Berdaya! Margaret Qualley sebagai Alex Russell dan Rylea Whittet sebagai Maddy Boyd dalam miniseri 'Maid' Netflix (dok. Netflix/Maid))

Jelang akhir cerita, ayah kandung Alex menutup mata atas KDRT yang menimpa putrinya. Sang ayah seolah-olah memaklumi perilaku Sean yang melakukan kekerasan pada anaknya. Hal ini pula yang terjadi di berbagai belahan dunia, KDRT dialami secara turun-temurun. Padahal, ia bukanlah sesuatu yang seharusnya diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam banyak kasus, korban KDRT kesulitan lepas karena kebingungan harus mengadu kemana. Hal itu biasanya terjadi pada ibu penuh waktu di mana finansialnya bergantung terhadap suami. Sebagian besar masyarakat pun masih menganggap KDRT sebagai persoalan pribadi suami dan istri. Karenanya, masalah ini tak tersentuh ranah publik.

KDRT diperparah oleh budaya masyarakat yang menganggap laki-laki sebagai pihak kuat, berani, dan penguasa. Masalah ini semakin pelik dengan kelirunya pemahaman agama. Pada praktiknya, istri dianggap durhaka saat meninggalkan hingga mengajukan cerai terhadap suami meski mereka mengalami domestic abuse.

8. Yuk, menjadi perempuan berdaya dengan merangkul sesama

8 Pelajaran Berharga dari Miniseri Maid, Perempuan Harus Berdaya! Margaret Qualley sebagai Alex Russell dan BJ Harrison sebagai Denise dalam miniseri 'Maid' Netflix (Dok. Netflix/Maid)

Sebagai penyintas KDRT dengan trauma berkepanjangan, Alex memang tidak boleh mendapat intervensi dari siapa pun dalam mempelajari keadaan hingga mengambil keputusan. Termasuk dari pendamping rumah singgahnya. Kendati diharuskan belajar dari dirinya sendiri, bukan berarti Alex dapat lepas tanpa dirangkul oleh sesama.

Di Indonesia, rumah singgah bagi para penyintas KDRT masih sangat minim. Tidak hanya masyarakat, korban justru dijauhi keluarga sendiri. Mereka menganggap sepele kekerasan yang terjadi. Apalagi jika korban tidak mengalami luka fisik. Tidak jarang, pihak yang mengajukan perceraian terutama perempuan mendapat perundungan daripada dukungan.

Perceraian memang tidak dibenarkan dalam agama yang dianut mayoritas rakyat Indonesia. Namun mempertahankan pernikahan yang merusak dan memberi pengaruh buruk terhadap orang-orang di dalamnya pun tidak akan memberi keberkahan. Yuk, stop mengabaikan KDRT apa pun bentuknya serta rangkul para penyintasnya!

Baca Juga: 10 Serial Bertema Distopia yang Bisa Ditonton di Netflix, Seru!

Aqeera Danish Photo Verified Writer Aqeera Danish

edith

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Izza Namira

Berita Terkini Lainnya