Comscore Tracker

Fadilla Mutiarawati Ingin Menyebarkan Semangat Pendidikan Kontekstual

Dila adalah salah satu pengurus Sokola Rimba

Telah 15 tahun berlalu sejak Dila mengawali perjalanannya sebagai sukarelawan di Sokola Rimba. Saat ini, perempuan bernama lengkap Fadilla Mutiarawati tersebut, tengah menempuh studi S3 Ilmu Pendidikan di Universitas Oulu, Finlandia.

IDN Times sempat mengobrol dengan Dila tentang perjalanannya di Sokola Rimba dan seperti apa konsep pendidikan kontekstual yang diusung oleh organisasi pendidikan masyarakat adat tersebut. Untuk tahu lebih lengkapnya, simak artikel berikut ini!

1. Awal mula kisah Dila terjun menjadi sukarelawan di Sokola Rimba

Fadilla Mutiarawati Ingin Menyebarkan Semangat Pendidikan Kontekstualinstagram.com/sukasukadila

Kecintaan Dila pada alam bebas, membuatnya sering berkunjung ke area konservasi alam seperti Ujung Kulon. Pada tahun 2005, tepatnya di acara yang diselenggarakan oleh WALHI, Dila bertemu dengan sosok Butet Manurung selaku Founder Sokola Rimba.

Ia yang saat itu tengah bekerja sebagai penulis di suatu majalah teknologi, akhirnya menawarkan diri untuk menjadi pengajar di sana. Singkat cerita, Dila pun berangkat ke Makassar.

"Waktu aku pertama kali ke Makassar, aku gak langsung ngajar. Aku dibawa mengunjungi penjara oleh koordinator saat itu," ujar Dila. Pada hari pertamanya itu, Dila bertemu dengan salah satu tokoh masyarakat adat yang menjalani proses tahanan sementara.

Dari sana, ia belajar bahwa sistem pendidikan tak lepas dari konteks sosial masyarakat yang berlaku di dalamnya. "Bayangin aja, tadinya aku mikir pas datang langsung ngajar baca tulis kan. Ternyata, malah dikenalin apa masalah-masalah yang ada di lingkungan sekitar," tambahnya.

2. Bicara tentang pendidikan konstektual dan metode pengajaran Sokola Rimba

Fadilla Mutiarawati Ingin Menyebarkan Semangat Pendidikan Kontekstualinstagram.com/sukasukadila

Terdapat beberapa perbedaan antara Sokola Rimba dengan sekolah konvensional. Salah satunya adalah konsep pendidikan kontekstual yang diusungnya. Contoh nyata dari konsep ini terlihat saat situasi pandemik, di mana para murid dan guru gak bisa bertatap muka secara langsung.

"Kita mengharapkan anak-anak belajar dari komunitas masyarakat dan keluarganya. Karena apa yang mereka pelajari hari ini, pasti berguna untuk masa depannya," tuturnya.

Dalam kata lain, menurutnya, sangat penting untuk memberikan kebebasan pada anak tentang apa yang ingin dipelajarinya dan membiarkannya terlibat pada masalah secara langsung.

Di tengah kondisi pandemik COVID-19 yang rentan penularannya, Dila bersama rekan organisasinya pun sepakat bahwa proses belajar mengajar tak harus dilakukan dengan cara menemui masyarakat adat secara langsung.

Ia mengatakan, "Kita percaya masyarakat adat itu punya pengetahuan. Jadi bukan kita yang membawa ilmu, justru kita bisa belajar dari mereka".

Salah satu pelajarannya adalah sistem lumbung yang sudah dikenal lama oleh masyarakat adat. Dalam situasi ekonomi dan ketahanan pangan yang rapuh, bagi Dila, petunjuk seperti ini bisa dipelajari dengan memahami sejarah lama dan pengalaman empiris masyarakat adat.

3. Menyoroti masalah pendidikan di Indonesia yang berpusat pada dunia urban & melihat kesuksesan dari sisi materialistik

Fadilla Mutiarawati Ingin Menyebarkan Semangat Pendidikan Kontekstualfacebook.com/Fadilla M Apristawijaya

Salah satu hal yang mengusik benak Dila sejak dahulu adalah sistem pendidikan di Indonesia yang berpusat pada kebutuhan pabrik dan masyarakat urban saja. Ia mengambil contoh, di daerah yang lekat dengan kekayaan alamnya pun, kurikulumnya tetap disamakan dengan yang ada di perkotaan.

"Kita bisa saling mengisi kebutuhan-kebutuhan yang ada. Kita membutuhkan pengalaman mereka dan sebaliknya. Jadi, kita sadar banget bahwa Sokola Rimba itu adalah komunitas tempat bertukar pengetahuan," ujar perempuan yang hobi menyelam ini.

Berhubungan dengan sistem online learning yang digencarkan dalam situasi pandemik, Dila berkomentar bahwa gak bisa dipungkiri masih ada banyak masalah di dalamnya. Termasuk, ketimpangan akses dan kesenjangan di bidang ekonomi sampai infrastruktur.

Menurutnya, pendidikan tak hanya berhenti pada pertemuan guru dan murid atau kurikulum akademik saja. Tapi, juga bagaimana anak bisa memecahkan masalah dan menggali potensi dirinya.

"Misalnya, dia mau belajar bercocok tanam, jangan hentikan itu! Di masa depan, mungkin kita akan menghadapi kelangkaan pangan. Dan, ternyata dengan menanam satu tanaman saja, mereka sudah dalam proses pendidikan yang real dan berguna," pungkasnya.

4. Tantangan dalam dunia sukarelawan: pressure dari keluarga dan jebakan 'messiah complex'

Fadilla Mutiarawati Ingin Menyebarkan Semangat Pendidikan Kontekstualinstagram.com/sokolainstitute

Saat ditanya apa kendala yang dialaminya, Dila pun flashback pada masa awal dirinya mengambil jalan hidup sebagai sukarelawan. "Mungkin karena keluarga aku tuh orang kota banget, mereka masih melihat keberhasilan dari kacamata masyarakat yang materialistik," ujar Dila sambil tersenyum simpul.

Pertanyaan menyudutkan datang mengejarnya, seperti mengapa harus bekerja di wilayah yang jauh dan kenapa ia tak memilih kerja kantoran. Selain khawatir tentang masalah finansial, orang terdekatnya pun menyoroti masalah keamanan dirinya sebagai aktivis.

Namun, seiring berjalannya waktu, keluarganya mulai mempercayai pilihan hidupnya dan mendukung kebahagiaan Dila. "Menunjukkan kalau kita bahagia dengan apa yang kita pilih, itu paling penting!" ujar perempuan kelahiran tahun 1979 ini.

Selain itu, masalah lain yang sering ditemukan Dila dalam dunia volunteering adalah jebakan 'messiah complex'. Istilah ini terkait di mana seseorang merasa telah menjadi sosok yang lebih hebat karena membantu orang lain. Perasaan bangga tersebut alih-alih datang dari ketulusan, justru sebenarnya merupakan rasa sombong yang disembunyikan.

Baca Juga: Perjalanan Karier Seniman Muda Annisa Rizkiana Rahmasari, Inspiratif!

5. Dua program utama Sokola Rimba, yaitu kebencanaan dan literasi

Fadilla Mutiarawati Ingin Menyebarkan Semangat Pendidikan Kontekstualfacebook.com/Fadilla M Apristawijaya

Program utama dari Sokola Rimba terbagi dua, yaitu literasi dan paskabencana. Untuk program paskabencana atau kebencanaan, fokus kepada proses re-building, pendataan, dan menghibur anak-anak korban terdampak bencana alam.

Selain itu, program literasi punya kurikulum membaca dan menulis bahasa Latin, serta pelajaran menghitung. Program ini tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, antara lain Jambi, Makassar, Kajang (Sulawesi Selatan), Flores, Asmat, Tayawi (Halmahera Utara), Jember, dan Sumba.

Kurikulum pengajarannya berbeda di setiap wilayah. Ini karena disesuaikan oleh kearifan lokal dan permasalahan yang terjadi di masing-masing tempat.

6. Kesibukan Dila di tengah pandemik COVID-19 adalah menyelesaikan studi S3 di Oulu University dan membantu kampanye Sokola Rimba

Fadilla Mutiarawati Ingin Menyebarkan Semangat Pendidikan Kontekstualfacebook.com/Fadilla M Apristawijaya

"Suka sedih kalau orang-orang mulai menghargai aku pas sadar kalau aku S2 di luar negeri. Dan ngomong gini, 'Wah, S2-nya di Finlandia, tempat pendidikan terbaik!' Padahal aku bisa bilang, kalau aku belajar lebih banyak di Sokola," tutur perempuan berusia 41 tahun ini.

Saat ini, Dila tengah menempuh pendidikan S3 di Oulu University, di kampus yang sama tempatnya lulus S2. Ia mengambil subjek 'Ilmu Pendidikan'.

Di tengah situasi pandemik ini, Dila mengaku disibukkan dengan proses akademik serta kegiatannya di Sokola Rimba yang dilakukannya secara jarak jauh. Dia tetap ingin ambil bagian dan membantu para guru di Indonesia.

"Kalau secara urgent, pendidikan kita tuh harus benar-benar berevolusi. Karena kita tuh udah lama banget gak melakukan pendidikan kontekstual," tuturnya.

Bagi Dila, situasi pandemik adalah momentum yang tepat untuk berefleksi tentang sistem pendidikan di Indonesia. "Jadi jangan bilang pendidikan gak berkontribusi pada situasi pandemik," tambahnya.

7. Figur perempuan hebat bagi Dila adalah sang bunda dan para perempuan di Sokola rimba

Fadilla Mutiarawati Ingin Menyebarkan Semangat Pendidikan Kontekstualinstagram.com/sokolainstitute

Dila menuturkan bahwa perempuan kadang mengalami perjuangan yang lebih berat. "Karena untuk membuktikan sesuatu, kita perlu dua kali usaha lebih keras," ujarnya.

Ketika ditanya tentang figur perempuan yang menginspirasinya, Dila langsung menjawab dengan lugas sambil tertawa. "Perempuan hebat itu banyak banget! Semua perempuan yang ada di Sokola, menurut aku hebat. Kalau aku denger cerita tentang para ibu yang di komunitas adat itu, aku benar-benar amaze banget," katanya.

Selain para perempuan yang ia temui di kegiatan komunitasnya, Dila juga mengingat sang bunda yang selalu mendukungnya. Ia mengisahkan, "Kalau figur, aku ingat ibuku dan kehebatannya di bidang memasak. Wah, pengetahuan tentang dapur tuh nomor satu!"

Itu dia rangkuman percakapan IDN Times dengan Dila! Gimana? Selain termotivasi oleh perempuan inspiratif ini, kamu dapat baru tentang dunia pendidikan, kan?

Baca Juga: Kisah Swietenia Puspa Lestari, Sambil Menyelam Sabet Banyak Prestasi!

Topic:

  • Tyas Hanina
  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya