Comscore Tracker

Bukan Halangan Berkarya, Jenahara Berbagi Prosesnya Berhijab

Baginya, berhijab bukanlah sebuah paksaan

Dalam panggung Hijrah di acara Indonesia Millennial Summit lalu (17/1), perancang Jenahara hadir dan menjadi pembicara dalam sesi "Legacy: Muslim Women Who Impacted the Nation". Ia pun berbagi prosesnya berhijab yang inspiratif.

Bukan sekadar menggunakannya karena seorang muslim, perjalanannya pun membawanya untuk membuktikan jika perempuan berhijab dapat berdampak bagi sesama, bahkan negara.

1. Lahir dari pasangan seniman nan religius, Jehan remaja diminta ibunya untuk berhijab karena telah dianggap baligh

Bukan Halangan Berkarya, Jenahara Berbagi Prosesnya BerhijabJenahara dalam Indonesia Millennial Summit di Gedung Tribrata. 17 Januari 2020. IDN Times/Panji Galih Aksoro

Jenahara Nasution lahir dari pasangan Ida Royani dan Keenan Nasution. Ida dikenal sebagai penyanyi dan aktris yang kerap berpasangan dengan Benyamin Suaeb. Sementara Keenan tenar sebagai musisi yang menyanyikan Nuansa Bening sebelum Vidi Aldiano.

"Alhamdulillah, aku punya ibu dan ayah yang sangat religius. Dua-duanya benar-benar religius sekali. Tapi background-nya mereka tuh musisi. Mereka aktor dan aktris. Jadi, punya dua dunia yang berbeda banget," kata Jehan, sapaan akrab Jenahara.

Hal inilah yang membuat Jehan melihat perspektif menarik dalam kehidupan keluarganya. Namun, sedari kecil Jehan tetap rajin mengaji. Memasuki usia 13 tahun, Jehan mulai berhijab.

Pada masa itu, tepatnya tahun 90-an, pemakaian hijab belum jadi tren seperti sekarang. "Aku inget banget, waktu aku zamannya pakai hijab itu, umur 13 tahun. Cuma aku doang. Di zaman itu, orang yang berhijab itu ibu-ibu, dan nenek-nenek," kisahnya.

"Mamaku bilang, pokoknya kalau udah baligh, harus pakai hijab," tambah istri dari Chef Ari Galih Gumilang ini sembari menirukan ucapan ibunya.

2. Masih belum paham mengapa harus berhijab, lambat laun Jehan mengerti apa yang dimaksud ibunya

Bukan Halangan Berkarya, Jenahara Berbagi Prosesnya BerhijabJenahara dalam Indonesia Millennial Summit di Gedung Tribrata. 17 Januari 2020. IDN Times/Panji Galih Aksoro

Masih sangat belia saat berhijab, Jehan sama sekali tidak mengerti mengapa ia diharuskan berhijab. "Dulu, aku tuh gak paham kenapa aku pakai hijab. Namanya juga anak kecil, ya?" kenangnya.

Semua itu baru terjawab seiring kerapnya Jehan belajar mengaji, belajar Alquran, dan hadis. "Oh, ini toh yang dimaksud mamaku?" ibu tiga anak ini meniru gumamnya dulu.

3. Setelah itu, Jehan sadar kalau berhijab bukanlah sebuah paksaan. Berhijab juga bukan batasan untuk berkarya dan berkembang

Bukan Halangan Berkarya, Jenahara Berbagi Prosesnya BerhijabSakdiyah Maruf dan Jenahara dalam panggung Hijrah Indonesia Millennial Summit 2020 di Gedung Tribrata. 17 Januari 2020. IDN Times/Panji Galih Aksoro

Semenjak mengetahui latar belakang ia harus berhijab, hati Jehan tergerak. Ia tidak lagi merasa bahwa berhijab itu adalah paksaan. "Akhirnya, keimanan itu muncul dengan sendirinya dan bukan karena paksaan," sebutnya.

Seiring dengan itu, baginya, berhijab tidak membuatnya terkungkung. Justru, ia malah semakin getol berkarya. Lagi-lagi, ia harus bersyukur lantaran kedua orangtuanya tetap mendorong putrinya itu untuk maju.

"Alhamdulillah, mama dan papa punya kelebihan, memberikanku akses untuk berkembang dan maju. Tetapi, jangan lupa dengan islamic value yang kamu bawa," jelasnya.

Sebagai contoh, sebagai moeslem fashion designer, ia tetap punya batasan dalam berkarya. "Bajunya gak mungkin dong tiba-tiba bikin yang desainnya seksi, tembus pandang, atau gimana," sebut ibu tiga anak ini.

Selama batasan dari agama itu dijalankannya, mau seperti apa pun ekspresinya, selama tidak bertentangan, maka itu tidaklah masalah.

Baca Juga: IMS 2020: Aby Respati Suntik Hormon & Minum Pil KB Sebelum Berhijrah

4. Berbeda dengan zaman sekarang, Jehan melalui masa-masa di mana orang berhijab dibilang konvensional, norak, atau kampungan

Bukan Halangan Berkarya, Jenahara Berbagi Prosesnya BerhijabJenahara dalam Indonesia Millennial Summit di Gedung Tribrata. 17 Januari 2020. IDN Times/Panji Galih Aksoro

Bila membandingkan perempuan berhijab di era 90-an dengan sekarang, tentu kamu bisa melihat perbedaan yang cukup signifikan. Tak hanya dari segi usia pemakainya saja, gaya dan pandangan orang lain terhadap pemakainya pun berbeda.

"Aku tuh pakai hijab tahun 90-an, tahun 99an lah ya. Memang beda banget ya dan teman-teman kita melihat perkembangan hijab zaman dulu sampai sekarang tuh. Jujur, dulu orang berhijab tuh dibilang konvensional banget," tutur sosok kelahiran tahun 1985 ini.

Jehan mencontohkan, untuk membeli baju muslim saja, seseorang harus mengambil sepaket mulai dari atasan, bawahan, dan hijabnya. Karena itu, hijab dianggap kurang menarik bagi anak muda.

"Mereka mikirnya, ‘Ih, norak ya? Kampungan, yang pakai cuma nenek-nenek,
ibu-ibu. Nanti deh, kalau gua udah nikah atau gua udah nenek, barulah gue pake hijab,’ gitu," jabarnya.

"Ih, ngapain sih Je lu pake jilbabnya dari muda? Dipaksa ya sama orangtua?" Jehan menirukan kata-kata temannya. Padahal, ia sama sekali tidak terpaksa. Ia tahu berhijab adalah kewajibannya sebagai seorang muslimah.

5. Dari pengalamannya itu, ia tergerak mendirikan sebuah komunitas untuk menyampaikan bahwa berhijab tidaklah seburuk itu

Bukan Halangan Berkarya, Jenahara Berbagi Prosesnya BerhijabJenahara dalam Indonesia Millennial Summit di Gedung Tribrata. 17 Januari 2020. IDN Times/Panji Galih Aksoro

"Aku ingin berbagi value ke orang-orang, bahwa it’s not bad memakai hijab," sebutnya. Impiannya terjawab pada tahun 2010, saat ia bertemu dengan teman-teman yang memiliki latar belakang berlainan, namun sama-sama berhijab, pada suatu event.

Semuanya sepakat ingin memberikan inspirasi bahwa berhijab itu bukanlah suatu batasan untuk berkarya. "Menurutku, menarik banget kalau kita bikin satu komunitas, Hijabers Community," kata perempuan yang menikmati olahraga itu.

Intinya dari komunitas itu adalah ingin mengubah stigma orang akan hijab. Hijab bukanlah halangan atau ancaman untuk berkarya serta melakukan apa yang disukai.

"Pada saat itu, orang mau bekerja di bank, di rumah sakit, atau misal mau jadi polisi, mau jadi apa pun itu profesinya, itu terhalang oleh hijabnya karena katanya gak representatif gitu lho," curhatnya.

Ia merasa hal ini sangatlah paradoks. Dengan negara Indonesia yang mayoritas muslim, kenapa hijab begitu ditekan?

"Ini cara yang baik untuk mempresentasikan Islam dengan wujud yang lebih baik, dengan wujud yang jangan dianggap lagi kalau perempuan itu ya di balik layar aja," pungkasnya di akhir sesi.

6. Bukan lagi persoalan menghijabkan dirinya sendiri, Jenahara lewat Hijabers Community telah membuka peluang bagi perempuan berhijab lainnya

Bukan Halangan Berkarya, Jenahara Berbagi Prosesnya BerhijabJenahara dalam Indonesia Millennial Summit di Gedung Tribrata. 17 Januari 2020. IDN Times/Panji Galih Aksoro

Usaha Jehan dan kawan-kawannya berbuah manis. Perempuan berhijab yang tadinya kurang diperhatikan, kini punya suara dan tempat istimewa di hati masyarakat. Melihat perempuan berhijab di suatu instansi, tak lagi terasa asing.

"Alhamdulillah, seiring dengan perkembangan Hijabers Community, kita banyak membantu. Salah satunya, akhirnya sekarang bisa dilihat ya instansi-instansi bank sudah mulai banyak mengizinkan mereka berhijab. Polisi juga, itu salah satunya juga," sebutnya.

Bagi, Jehan ini adalah hasil kerja keras kawan-kawannya di Hijabers Community. Lewat fashion, ia bersama dengan kawan-kawannya membuat instant language yang mudah diterima oleh masyarakat tentang perempuan berhijab.

Itulah secuplik cerita saat Jenahara berbagi prosesnya berhijab. Dari dirinya, ia merangkul semua perempuan berhijab agar berdaya dan punya suara. Jika bukan karena dia dan kawan-kawannya, barangkali perempuan berhijab masih mendapat stigma yang lawas.

Baca Juga: IMS 2020: Orang Hijrah karena Melihatnya Sebagai Kebutuhan

Topic:

  • Febriyanti Revitasari
  • Pinka Wima

Berita Terkini Lainnya