Comscore Tracker

Kisah Perupa Remaja Temanku Lima Benua, Melukis Wajah dalam 2 Menit

Inspiratif!

Sejatinya, bakat harus diasah sejak dini. Ketika tumbuh dewasa, bakat itu tinggal dikembangkan dan diarahkan menjadi lebih serius. Syukur-syukur, bisa menjadi mata pencaharian di masa depan. Ada perupa bernama Temanku Lima Benua yang telah mengembangkan bakatnya sejak kecil. Yuk, ikuti kisahnya berikut!

1. Temanku Lima Benua bukanlah sekadar kata-kata. Ia adalah nama lengkap seorang perupa remaja asal Geritan, Belangwetan, Klaten Utara

Kisah Perupa Remaja Temanku Lima Benua, Melukis Wajah dalam 2 MenitIDN Times/Febriyanti Revitasari

Barangkali orang yang pertama kali mendengar ketiga kata tersebut, menyangka jika Remaja Lima Benua adalah nama sebuah acara. Kenyataannya, ini adalah nama seorang perupa remaja asal Klaten, Jawa Tengah. Terkesan unik, nama panggilannya pun tidak kalah menarik. Liben, panggilannya.

Kini, ia bersekolah di SMA 3 Klaten. Sehari-harinya, ia tinggal di Dukuh Geritan, Desa Belangwetan, Klaten Utara bersama kedua orangtuanya. Ayahnya bernama Haryadi dan bekerja sebagai tukang rumput serabutan. Sementara ibunya, Hidayati, berjualan pecel di pasar. Meski kondisinya seperti itu, tidak menghalangi Liben tumbuh dengan enerjik dan penuh prestasi.

2. Dari melukis di tanah, ia menggambar raut-raut wajah orang yang ditemui di pasar saat ibunya berjualan pecel

Kisah Perupa Remaja Temanku Lima Benua, Melukis Wajah dalam 2 MenitIDN Times/Febriyanti Revitasari

Liben telah menyenangi dunia gambar menggambar sejak SD. Sebenarnya, ia sendiri hidup dalam lingkungan seni. Dahulu, ayahnya dikenal sebagai pemeran pantomim di Klaten dan berteman dengan WS Rendra. Nama Temanku Lima Benua sendiri, didapatnya dari seniman kawakan tersebut.

Bersama-sama dengan kawannya yang anak jalanan, ia belajar menggambar di tanah. Begitu jalanan diaspal, kapurlah yang digunakan. Dikisahkannya, ia terbiasa menjadi pengamen di Car Free Day Klaten. "Saya ngamen melukis. Suara saya dan teman-teman fals. Jadi, ngamen itu tidak mesti menyanyi," kata Liben yang lahir pada 15 April 2002 tersebut.

Sementara alat lukisnya pun, tidak kalah berbeda. Ia menggunakan arang dari berbagai pohon. Ada kayu waru, talok, hingga mangga muda. "Paling bagus, arang pohon mangga," sebut dia.

3. Uniknya, media yang ia gunakan bukanlah kanvas dan tidak beralatkan cat warna-warni sebagaimana perupa pada umumnya

Kisah Perupa Remaja Temanku Lima Benua, Melukis Wajah dalam 2 MenitIDN Times/Febriyanti Revitasari

Tidak seperti pelukis pada umumnya, Liben menggunakan media kertas minyak sebagai kanvasnya. "Orangtua saya bingung. Kok kertasnya hilang," paparnya sambil tergelak tawa. Rupa-rupanya, kertas minyak yang ia gunakan bersumber dari stok kertas pembungkus pecel dagangan ibunya.

Selama menemani ibunya berdagang itulah, ia turut menggambar orang-orang yang ia jumpai. Durasi yang ia targetkan adalah dua menit. "Kalau lebih, dagangannya hilang," katanya sumringah. Dari situlah, ia terbiasa melakukan speed art.

Baca Juga: Kisah Aprila, Memahami Rasanya Menjadi Warga Asli Bumi Cendrawasih

4. Yang lebih unik lagi, ia pernah berulang kali menggelar pameran di tempat yang tak biasa. Sebut saja WC hingga makam pahlawan

Kisah Perupa Remaja Temanku Lima Benua, Melukis Wajah dalam 2 MenitIDN Times/Febriyanti Revitasari

Masalah prestasi, Liben memang belum pernah memenangkan perlombaan. Namun, sudah banyak sekali pameran yang ia gelar. Tidak melulu di gedung pameran, tempat-tempat antimainstream jadi sasarannya. Tidak semua perupa dapat sekreatif ini dan layak diapresiasi.

"Ia menggelar banyak pameran yang tidak semua peseni mampu lakukan. Di jalanan, di desanya, di makam pahlawan, di pinggiran sawah tetangganya, di pasar tempat ibunya jualan pecel, bahkan di WC," tutur Mikke Susanto, salah satu kurator pameran lukisan Liben dan juga kurator Istana Negara.

Banyak sekali hal-hal unik di balik penyelenggaraan pameran tersebut. Di WC, misalnya. Liben menyebut tempat ini sebagai lokasi orang tidak melakukan apa pun dan justru bisa memandangi gambarnya yang tergantung di pintu. "Di Makam Pahlawan Klaten, malah gak ada yang datang. Karena teman-teman saya gak tahu itu di mana. Mereka lebih tahu warung Korea di jalan kecil," Liben ceplas-ceplos.

5. Kini, ia tengah menggelar pameran tunggalnya yang ketiga. Membawa tema Nyiur Melambai, ada sekitar 99 karya ia pamerkan

Kisah Perupa Remaja Temanku Lima Benua, Melukis Wajah dalam 2 MenitIDN Times/Febriyanti Revitasari

Pameran lukisan bertajuk Diary Temanku Lima Benua (Diary Rayuan Pulau Kelapa) dibuka pada 26 Agustus lalu. Bertempat di Museum Nasional Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 Jakarta Pusat, acara ini diawali dengan sambutan dari Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto.

Jika diamati, pameran tersebut menggunakan unsur tanduk pada hampir seluruh lukisannya. "Itu lambang Indonesia, dari kerbau. Di Sumatera, kerbau itu makanan yang enak. Di Jawa, untuk membajak sawah. Di Sulawesi, biasanya digunakan untuk ritual adat dan tanduknya dipasang di depan rumah," tuturnya.

Selain itu, ada perwujudan malaikat dalam karya yang dibuatnya. "Barangkali, ia ingin malaikat menolongnya atau ada cerita di balik orang-orang yang digambarnya. Apakah itu orang yang susah ditemuinya atau apakah itu orang yang memang susah digambar," kata kurator Ipong Purnomosidi.

Baca Juga: Kisah Rainha Boki Raja, Ratu & Pahlawan Ternate yang Kini Terlupakan

Topic:

  • Febriyanti Revitasari
  • Elfida

Just For You