Comscore Tracker

Hambatan dan Tantangan Kepemimpinan Jurnalis Perempuan di Indonesia

Riset ini bertujuan memperkuat suara perempuan di media

Barangkali kamu familiar dengan isu kesetaraan gender, perempuan banyak mengalami hambatan di berbagai bidang. Salah satunya dinamika kepemimpinan perempuan di media. Masih ditemukan pandangan sebelah mata terkait profesi perempuan sebagai jurnalis serta beban kerjanya.

Atas dasar itu, Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) didukung oleh Kedutaan Belanda di Indonesia, berupaya memberikan kontribusi terkait progam gender dan media. Senin (25/10/2021) telah diluncurkan hasil Riset Nasional: Gambaran dan Tantangan Pemimpin Perempuan di Media di Indonesia secara virtual.

Melalui riset ini, perjalanan karier jurnalis perempuan digambarkan sebagai rollercoaster atau kereta luncur. Berikut ini poin-poin penting dalam diskusi peluncuran riset Gambaran dan Tantangan Pemimpin Perempuan di Media di Indonesia.

1. Riset nasional ini resmi diluncurkan Senin (25/10/2021) untuk memberikan wawasan terkait perjalanan kepemimpinan jurnalis perempuan

Hambatan dan Tantangan Kepemimpinan Jurnalis Perempuan di IndonesiaPeluncuran Riset dan Diskusi Rollercoaster Kepemimpinan Jurnalis Perempuan di Indonesia, ‘Mendobrak Stigma Mendorong Kuasa’, Senin (25/10/2021)

Eni Mulia, Executive Director PPMN, menyatakan keresahan terhadap anggapan masyarakat yang terlalu diskriminatif terhadap perempuan di media Indonesia. Masih banyak bias gender dan jauh dari kesetaraan gender. Hal ini mendorongnya dan tim untuk mencetak perempuan yang bisa membuat policy dalam redaksi serta memperhatikan soal kesetaraan gender ini.

Riset yang berjudul Gambaran dan Tantangan Pemimpin Perempuan di Media di Indonesia diketuai oleh Associate Professor Ika Idris dari Monash University Indonesia. Pengumpulan datanya berlangsung dari Maret hingga Mei 2021. Metodenya menggabungkan survei (kuantitatif), autoetnografi, dan Focus Group Discussion (kualitatif).

Riset yang melibatkan 258 jurnalis perempuan dari 118 organisasi media di 30 provinsi ini bertujuan melengkapi studi dan kajian tentang jurnalis perempuan dan kepemimpinannya. Riset ini juga bertujuan untuk memetakan permasalahan kepemimpinan dan mencari metafora yang tepat sesuai dengan masalah yang ada. Terlebih, riset ini diharapkan mampu menginspirasi masyarakat untuk memperjuangkan keadilan bagi perempuan.

2. Berawal dari adanya gap terkait dua framework atau metafora yang bertolak belakang

Hambatan dan Tantangan Kepemimpinan Jurnalis Perempuan di IndonesiaPeluncuran Riset dan Diskusi Rollercoaster Kepemimpinan Jurnalis Perempuan di Indonesia, ‘Mendobrak Stigma Mendorong Kuasa’, Senin (25/10/2021)

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dua metafora yang amat berbeda. Ada glass ceiling dan labyrinth yang sama-sama menggambarkan proses perjalanan kepemimpinan perempuan hingga menduduki posisi puncak.

"Glass ceiling adalah metafora yang menggambarkan bahwa perempuan itu cenderung lancar saja sampai dia menuju ke posisi puncak. Nanti akan ada atap, hambatan yang gak terlihat yang menghambat dia mencapai posisi puncak. Kedua adalah metafora labirin yang mengatakan sebenarnya hambatan terhadap kepemimpinan perempuan itu dari awal. Perempuan itu seperti berada dalam labirin, sehingga dia harus terus mencari jalan keluar dalam kepemimpinannya," ujar Ika Idris, Ketua Tim Peneliti.

Glass ceiling menggambarkan perjalanan karier yang mulus di awal, namun kesusahan di akhir ketika ingin mencapai puncak. Sementara metafora labirin kerap terjadi di Indonesia, para pekerja perempuan menemui hambatan di level organisasi sejak awal dia bekerja.

"Kita tidak bisa menolak kenyataan adanya glass ceiling, perempuan bisa saja diberi kesempatan untuk memegang peran kepemimpinan. Tetapi ada beberapa organisasi yang cenderung memberikannya kepada laki-laki," jelas Profesor Emeritus Drew McDaniel dari Universitas Ohio.

Untuk itu, Ika dan tim peneliti berupaya mencari tahu gambaran kepemimpinan dengan melibatkan gaya kepemimpinan dan hambatan dalam organisasi. Metode autoetnografi dilengkapi dengan survei dan FGD untuk triangulasi penelitian, digunakan untuk menggali pengalaman beberapa pemimpin redaksi perempuan dalam mencapai titik puncak.

"Salah satu yang kami percaya datanya sangat kaya adalah autoetnografi. Di sini kita meminta jurnalis perempuan merefleksikan perjalanan kariernya. Ini berbeda dengan indepth interview, datanya itu sangat kaya karena ditulis sendiri oleh mereka yang mengalami hambatan kepemimpinan. Utamanya kita mempertimbangkan agar data kita cenderung bisa merepresentasikan media tradisional dan juga emerging media,"  tambah Ika.

3. Ada tiga level utama hambatan kepemimpinan perempuan di media

Hambatan dan Tantangan Kepemimpinan Jurnalis Perempuan di IndonesiaPeluncuran Riset dan Diskusi Rollercoaster Kepemimpinan Jurnalis Perempuan di Indonesia, ‘Mendobrak Stigma Mendorong Kuasa’. Senin (25/10/2021). IDN Times/Adyaning Raras

Hasil riset menemukan bahwa terdapat tiga hambatan utama kepemimpinan perempuan di level organisasi, individu, dan sosial budaya. Ika memaparkan bahwa hambatan di setiap level pasti berbeda dan bermacam-macam.

"Di level individu berkaitan dengan rencana karier. Banyak perempuan mau jadi jurnalis tapi gak punya plan. Kedua, soft skill, berkaitan dengan kemampuan berjejaring, melobi, negosiasi, kemampuan menulis. Ketiga, background individu terkait latar belakang pendidikan, usia, apakah sudah menikah atau belum. Lalu ada juga hambatan di level organisasi. Ini kita bagi dua di level struktur dan proses internal organisasi. Terakhir ada sosial budaya, ternyata hambatan tertinggi memang pada level organisasi baru diikuti level individu," jelasnya.

Secara garis besar, ada enam hambatan yang dialami para jurnalis perempuan di media. Hambatan pada sosial budaya, struktur organisasi, proses internal organisasi, soft skill, background individu, dan rencana karier.

"Saya menemukan ternyata struktur organisasi dan kondisi internal organisasi merupakan penghalang yang signifikan dalam peran kepemimpinan perempuan. Ruang redaksi itu dipengaruhi oleh kondisi internal yang kemudian akan memengaruhi juga organisasi itu sendiri. Ketika kita berbicara tentang perempuan dan perannya dalam organisasi, kita harus tahu apa saja tekanan yang ada. Misalnya perubahan dalam teknologi bisa mengubah ruang redaksi," pungkas Professor Drew McDaniel menanggapi hasil riset Ika dan tim.

Hambatan di level organisasi terjadi karena kurangnya mentoring sehingga tidak ada dukungan manajemen terhadap pengembangan karier. Ika juga menambahkan, "Tidak ada kesempatan untuk mempromosikan diri dan mengembangkan karier karena ada aktivitas di dalam organisasi tersebut yang membuat perempuan terisolasi."

Selain itu, ada queen bee syndrome, yaitu fenomena pemimpin perempuan itu lebih tega dan fierce daripada pemimpin laki-laki. Salah satu faktor yang ditemukan menyatakan bahwa ada pemimpin perempuan yang tidak memahami masalah pekerja perempuan.

Nyatanya, hambatan ini juga menjadi tantangan besar untuk para jurnalis perempuan dalam beradaptasi dengan situasi kerja. Pemimpin Redaksi Radar Selatan, Sunarti Sain, mengatakan bahwa budaya patriarki itu masih mengakar begitu kuat. Terlihat dari kondisi perempuan yang dihadapkan dengan beban ganda, yang harus bertanggung jawab di lingkungan rumah dan pekerjaan.

"Sebagai jurnalis perempuan itu naik turun akan selalu ada dalam perjalanan karier. Sebagai ibu harus tetap bisa ngasih ASI ke anak, akhirnya ada kesadaran bahwa kita harus minta kantor untuk pengadaan ruang laktasi. Beban ganda ini kalau tidak didukung oleh kebijakan itu juga menjadi persoalan pada jurnalis perempuan," tuturnya.

Baca Juga: Pemberdayaan Perempuan dalam Ruang Digital, agar Bijak dan Produktif!

4. Hambatan dan kepemimpinan perempuan di media digambarkan melalui elemen wahana rollercoaster

Hambatan dan Tantangan Kepemimpinan Jurnalis Perempuan di IndonesiaPeluncuran Riset dan Diskusi Rollercoaster Kepemimpinan Jurnalis Perempuan di Indonesia, ‘Mendobrak Stigma Mendorong Kuasa’. Senin (25/10/2021). IDN Times/Adyaning Raras

"Dari salah satu partisipan berkata, 'ini kayak rollercoaster, abis naik turun.' Seperti apa sih kondisi psikologis orang yang naik rollercoaster? Ternyata rollercoaster itu kita pecah-pecah bisa menggambarkan kepemimpinan perempuan," ungkap Ika.

Track digambarkan sebagai akar dilema, yaitu hambatan yang ada di level sosial budaya tentang budaya patriarki, stereotip, dan diskriminasi. Track ini pasti dihadapi setiap jurnalis perempuan, hanya berbeda pada ketinggan dan belokannya.

Lalu, speed merupakan hambatan yang ada di level organisasi. Organisasi yang tinggi hambatannya dikatakan memiliki speed yang tinggi, begitu juga dengan organisasi yang rendah hambatan. 

Kereta menggambarkan potensi perempuan dengan pengalamannya. Jadi, ada kereta yang ukurannya besar, kecil, bagus, jelek.

Sementara sabuk pengaman adalah kondisi di mana perempuan yakin bahwa perjalanannya akan aman meskipun harus mengalami naik turun. Misalnya, kebijakan yang mendukung dan adanya funding.

Terakhir, penumpang diibaratkan jurnalis perempuan. Menurut Ika, sebenarnya pemimpin perempuan itu memiliki tantangan 2 hingga 3 kali lebih besar daripada laki-laki agar diakui.

Gambaran perjalanan karier jurnalis seperi rollercoaster yang melewati track landai terlebih dahulu. Semakin tinggi pasti akan ada hambatan yang berbeda.

Menariknya, ada perempuan yang bisa menikmati perjalanan dan ada yang tidak bisa menikmatinya. Semua tergantung pada pengaman yang merupakan tindak keadilan, kesetaraan perlakuan, pemberi hibah, maupun kebijakan.

5. Metafora rollercoaster ini memicu respon psikologis Fight or Flight Response dan berkaitan dengan gaya kepemimpinan

Hambatan dan Tantangan Kepemimpinan Jurnalis Perempuan di IndonesiaPeluncuran Riset dan Diskusi Rollercoaster Kepemimpinan Jurnalis Perempuan di Indonesia, ‘Mendobrak Stigma Mendorong Kuasa’. Senin (25/10/2021). IDN Times/Adyaning Raras

Fight or flight response ini menunjukkan bahwa seseorang bisa bereaksi untuk melawan (fight) atau berlari kabur (flight) ketika dihadapkan dengan peristiwa menakutkan atau memicu adrenalin. Hal ini pun berlaku pada perjalanan karier jurnalis perempuan di media. Ada yang memilih pergi karena tidak suka dengan medianya, ada pula yang masih bertahan dan berusaha menikmati.

"Selama masih di media, dia akan menemukan rollercoaster lain tapi bentuknya berbeda. Memang perjalanan awalnya landai karena perempuan akan bergulat dengan hambatan pribadinya," ujar Ika.

Namun, hasil riset ini menyatakan bahwa semua hambatan itu berkorelasi positif dan signifikan dengan gender consciousness. Artinya, semakin tinggi hambatan organisasi yang dialami oleh jurnalis perempuan, maka kesadarannya terhadap keadilan gender juga semakin tinggi.

Gaya kepemimpinan perempuan yang dominan adalah transformasional (99.6 persen) dan transformatif (96.1 persen). Dengan gaya tersebut, perempuan cenderung tunduk pada konstruksi gender dan turut mengapresiasi perempuan lain. Dalam perjalanan kariernya, para jurnalis perempuan ini sudah berupaya untuk memberdayakan orang lain.

"Perempuan jangan takut menjadi role model untuk sesama jurnalis," tutup Ika.

Demikian beberapa poin penting dalam pemaparan hasil riset nasional Gambaran dan Tantangan Pemimpin Perempuan di Media di Indonesia. Lebih lengkapnya, hasil riset bisa diakses di situs PPMN: https://ppmn.or.id/gambaran-dan-tantangan-kepemimpinan-perempuan-di-media-di-indonesia/.

Baca Juga: 76 Tahun Merdeka, Pemberdayaan Perempuan Masih Jadi Tantangan

Topic:

  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya