Comscore Tracker

82% Perempuan Indonesia Pernah Alami Pelecehan Seksual di Ruang Publik

Lakukan metode 5D untuk cegah pelecehan seksual

L'Oreal Paris melalui IPSOS Indonesia melakukan riset terkait pelecehan seksual di ruang publik. Data menunjukkan keprihatinan bahwa ternyata masih ada 82% perempuan Indonesia yang mengalami pelecehan seksual di ruang publik.

Walau pandemik, masyarakat masih rentan mengalami hal ini. Mirisnya, rata-rata tersebut lebih tinggi dari 8 negara lain dalam survei. Untuk itu, amat penting menciptakan ruang publik yang inklusif agar perempuan dapat merdeka dari segala bentuk kekerasan dan pelecehan seksual.

Lebih jelasnya, kamu perlu tahu beberapa fakta bentuk pelecehan seksual yang dialami perempuan di ruang publik. Apabila kamu melihat aksi pelecehan seksual, ada baiknya kamu melakukan langkah yang disarankan di bawah ini.

1. Komunikasi verbal dan non verbal yang bersifat seksual termasuk pelecehan

82% Perempuan Indonesia Pernah Alami Pelecehan Seksual di Ruang PublikKampanye Stand Up Against Street Harassment (Dok. Istimewa/L'Oreal Paris)

Survei nasional yang dilakukan oleh L'Oreal Paris dan IPSOS pada Januari 2020 berjudul "L'Oréal's Cause - International Survey on Sexual Harassment in Public Spaces", menunjukkan beberapa fakta perilaku pelecehan seksual. Logikanya, tempat umum merupakan tempat di mana ada banyak orang dan banyak mata memandang. Sayang, perempuan lebih banyak mengalami pelecehan di tempat yang mudah dijangkau orang.

Sebanyak 59 persen perempuan mengaku merasa tidak nyaman ketika mendapatkan pandangan, gestur, tatapan, atau lirikan seksual yang tidak senonoh. Dilanjutkan 45 persen pernah mendapati orang yang berulang bersuit, mengejek, membuat suara ciuman, melolong, atau mendecakkan bibir dengan cara seksual.

Menurut survei, peringkat kedua tertinggi ditempati oleh lelucon seksis. Lelucon ini sifatnya agresif secara seksual dengan menyangkutpautkan penampilan dan anatomi tubuh. Bahkan, ada 29 persen perempuan yang mengaku pernah dihina (anjing betina, jalang, pelacur), atau mendapatkan komentar seksual secara tidak langsung dengan bahasa yang tidak senonoh.

Hal ini menunjukkan bahwa pelecehan seksual tidak selalu menggunakan fisik. Komunikasi verbal dan non-verbal yang sifatnya seksual sudah disebut pelecehan seksual.

2. Hasil survei menunjukkan perempuan kerap mendapatkan perilaku agresif yang bersifat seksual yang tidak nyaman

82% Perempuan Indonesia Pernah Alami Pelecehan Seksual di Ruang PublikKampanye Stand Up Against Street Harassment (Dok. Istimewa/L'Oreal Paris)

Selain komunikasi non verbal, nyatanya perempuan juga kerap mendapatkan perilaku agrestif. Perilaku yang bersifat seksual dan tidak diinginkan merupakan bentuk pelecehan seksual.

42 persen perempuan pernah didesak oleh orang lain untuk memberi tahu nama, nomor telepon, atau informasi pribadi lainnya. Perilaku seperti ini harus diwaspadai karena tidak tampak jelas sebagai bentuk pelecehan seksual.

Pelaku juga bisa menggunakan pendekatan personal untuk mengajukan pertanyaan agresif dan berulang tentang kehidupan pribadi atau seks. Sebanyak 39 persen perempuan telah mengalami hal ini.

Selain itu, ada pula yang mendapatkan pelecehan seksual berupa grafiti seksis. Survei menunjukkan 41 persen perempuan merasa tidak nyaman ketika ada seseorang yang menunjukkan gambar eksplisit secara seksual.

3. Pelecehan seksual yang mudah dikenali seperti lelucon seksis atau tindakan fisik masih dominan dialami perempuan

82% Perempuan Indonesia Pernah Alami Pelecehan Seksual di Ruang PublikKampanye Stand Up Against Street Harassment (Dok. Istimewa/L'Oreal Paris)

Walau lebih rendah daripada komunikasi non verbal, tindakan fisik yang tidak diinginkan masih dominan terjadi pada perempuan. Dalam survei disebutkan bahwa 39 persen perempuan mendapatkan serangan tiba-tiba, seperti sentuhan, pelukan, atau ciuman yang tidak diinginkan.

Secara sengaja, ada pelaku yang memaparkan diri secara seksual dengan cara menunjukkan organ seksual atau bermasturbasi. Sebanyak 32 persen perempuan mengalami hal tersebut, 22 persen perempuan lainnya pernah didesak untuk memperlihatkan bagian tubuh.

Bahayanya tanpa kita sadari, bisa saja ada seseorang yang sengaja berada di dekatmu atau mengikutimu dengan niat seksual. Waspadai hal ini karena sudah ada 31 persen perempuan yang mendapat perlakuan ini menurut survei.

Baca Juga: 5 Cara Cegah Kekerasan Seksual melalui Kampanye No! Go! Tell! 

4. Jangan diam saja ketika ada aksi pelecehan seksual. Saat yang lain diam, #WeStandUp

82% Perempuan Indonesia Pernah Alami Pelecehan Seksual di Ruang PublikKampanye Stand Up Against Street Harassment (Dok. Istimewa/L'Oreal Paris)

Baik sebagai korban atau pembela korban, kita harus berani melawan pelecehan seksual di ruang publik. L'Oreal Paris berkomitmen menggaungkan kampanye global intervensi pelecehan seksual di ruang publik bernama 'Stand Up Against Street Harassment'.

“Saya percaya setiap individu sangatlah berharga dan kita berhak untuk merasa aman dan nyaman untuk menjalani hidup kita dan mencapai impian kita. Bersama-sama kita bisa mengakhiri isu ini dan membuat perempuan Indonesia merasa aman di tempat umum. Itu sebabnya, saya bangga bisa menjadi Spokeperson L’Oréal Paris dan menggunakan suara saya untuk memberikan inspirasi melalui edukasi dan mengajak semua orang mengikuti pelatihan ini, karena saat yang lain diam saja, #WeStandUp!”, ujar Cinta Laura, Spokesperson L’Oréal Paris.

Pelecehan merupakan pengalaman yang bisa terjadi pada siapa pun, tidak memandang orientasi seksual dan latar belakang individual. Bila kita mengetahui adanya pelecehan dan tidak berbuat apa pun, sama saja kita menunjukkan bahwa perilaku tersebut benar.

“Usaha menghapus terjadinya pelecehan seksual di ruang publik tidak akan bisa dilakukan sendiri oleh satu pihak saja. Diperlukan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak, dan sudah menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat untuk bahu-membahu melakukannya. L'Oréal Paris bersama para mitra strategis, akan terus menggaungkan kampanye Stand Up Against Street Harassment di Indonesia, agar lebih banyak masyarakat Indonesia yang mengerti cara mengintervensi situasi pelecehan seksual di ruang publik dan lebih peduli kepada lingkungan sekitar.” jelas Maria Adina, Brand General Manager L’Oréal Paris Indonesia.

5. Lakukan metode 5D untuk mengintervensi aksi pelecehan seksual di ruang publik

82% Perempuan Indonesia Pernah Alami Pelecehan Seksual di Ruang PublikMetode 5D sebagai bentuk intervensi terhadap pelecehan seksual. (Dok. Istimewa/L'Oreal Paris)

Sebagai langkah intervensi yang aman dalam melawan pelecehan seksual di ruang publik, L'Oreal dan Hollaback! memberikan edukasi 5D. Apalagi, sering kali ada persepsi tidak bisa membantu ketika kita menyaksikan insiden pelecehan seksual di ruang publik.

Data menyebutkan hanya 25 persen orang yang mau menolong. Salah satu penyebab utamanya adalah bystander effect (efek saksi). Semakin banyak saksi, maka makin banyak pula orang yang enggan menolong karena merasa ada orang lain yang bisa membantu.

Untuk itu, metode 5D ini perlu diaplikasikan oleh korban atau saksi karena ini akan membantu setiap orang untuk berani bertindak. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Dialihkan: berpura-pura menjadi teman dengan menanyakan waktu, mengalihkan perhatian, atau melakukan hal lain yang lebih kreatif.
  2. Dilaporkan: carilah orang lain yang lebih berwenang (misalnya guru, bartender, atau pengemudi bus) dan minta mereka untuk membantu.
  3. Dokumentasi: jangan lupa untuk menulis atau merekam insiden pelecehan tersebut. Bukti ini bisa dipergunakan sewaktu-waktu. Tapi, jangan pernah mengunggah rekaman tersebut secara daring tanpa izin dari korban.
  4. Ditegur: tegur pelaku pelecehan. Gunakan teguran sebagai upaya terakhir mencegah terjadinya kekerasan. Lalu alihkan perhatianmu pada korban, karena keamananmu dan korban itu penting.
  5. Ditenangkan: posisikan diri sebagai teman agar bisa menenangkan korban usai terjadi pelecehan tersebut.

Demikian hal-hal yang patut diwaspadai dan dilakukan apabila kamu mengalami atau menyaksikan insiden pelecehan seksual. Yuk, bersama melawan pelecehan seksual karena berdiam bukanlah pilihan. Ambil langkah pertamamu untuk menciptakan perubahan positif!

Baca Juga: L’Oréal Paris Adakan Pelatihan 5D Daring untuk Cegah Pelecehan Seksual

Topic:

  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya