Comscore Tracker

Peringatan Hari Kartini 2020 di Era Pandemik Melalui Gerakan Berkebaya

Yuk, ajak anak muda cinta kebaya!

Seiring peringatan Hari Kartini 2020 pada Selasa (21/4), Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) menggelar diskusi online yang mengambil tema "Yuk Ajak Anak Muda Cinta Kebaya". Ada sekitar 70 peserta yang terdiri dari pencinta kebaya di berbagai organisasi seluruh wilayah Indonesia.

Acara ini mendatangkan narasumber dari Deputi-Kemenko PMK yaitu Nyoman Shuida, Hilmar Farid selaku Dirjen Kebudayaan, Ade Iva Wicaksono sebagai Ahli Psikologi Sosial, serta Nirmala Chandra sebagai moderator. Berikut ringkasan diskusi terkait gerakan anak muda mencintai kebaya dalam peringatan Hari Kartini 2020. 

1. Gerakan berkebaya di Hari Kartini bertujuan sebagai pelestarian warisan nenek moyang pada perempuan generasi muda sekarang

Peringatan Hari Kartini 2020 di Era Pandemik Melalui Gerakan Berkebayainstagram.com/therealdisast

Kondisi pandemik COVID-19 kali ini, memang tidak memungkinkan diadakannya acara berkumpul secara fisik. Namun ketua PBI,  Rahmi Hidayati, menyebutkan bahwa acara masih bisa diselenggarakan melalui teknologi digital seperti sekarang.

Gerakan berkebaya pada peringatan Hari Kartini, bertujuan untuk melestarikan warisan budaya nenek moyang ke generasi muda dan anak-anak. Rahmi berharap, selain kita sendiri di Indonesia, kebaya juga bisa dikenal dunia. 

"Begitu melihat perempuan berkebaya, mereka tahu itu pasti dari Indonesia. Seperti kita tahu kalau kita melihat orang pakai sari, itu pasti orang India. Orang pakai kimono, pasti dari Jepang. Kita pengin begitu orang melihat kebaya, itu pasti orang Indonesia," tambahnya.

Pada kesempatan itu, Rahmi mengutip sepotong tulisan R.A Kartini. 

"Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita, lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam."

Inilah yang mungkin disebut habis gelap terbitlah terang. Rahmi mengungkapkan bahwa  peringatan R.A Kartini bisa jadi semangat kita di tengah pandemik COVID-19 yang menyerang dunia sekarang. 

2. Dalam Manawa Dharmasastra yang merupakan salah satu kitab suci agama Hindu, perempuan ditempatkan sebagai sosok yang sangat mulia

Peringatan Hari Kartini 2020 di Era Pandemik Melalui Gerakan BerkebayaDok. Humas Pemprov Jateng

Nyoman Shuida mengatakan bahwa sangat tepat apabila menempatkan perempuan atau wanita di posisi yang mulia.

"Saya ingin menempatkan wanita itu sebagai sosok yang sangat mulia. Sesuai dengan apa yang dimuat dalam Manawa Dharmasastra, salah satu kitab di Agama Hindu. Kitab ini menyebutkan bahwa di mana wanita dihormati, di sana para dewa senang dan melimpahkan berkah. Sebaliknya, di mana wanita tidak dihormati, tidak ada upacara suci atau apa pun yang membawa pahala mulia," terang dia.

Selanjutnya, ia juga ingin mendedikasikan semangat Hari Kartini kepada perempuan yang ada di frontliner. Mereka adalah dokter, perawat, dan para petugas medis di garis terdepan medan tempur yang berjibaku melawan COVID-19 sekarang. 

3. Ada concern bahwa identitas nasional secara visual semakin menyusut, padahal kebaya juga tentang identitas nasional

Peringatan Hari Kartini 2020 di Era Pandemik Melalui Gerakan Berkebayainstagram.com/anneavantieheart

Hal yang tak kalah penting dari gerakan berkebaya ini adalah, kebaya itu sendiri sebenarnya adalah identitas. Ada keprihatinan karena identitas nasional secara visual, semakin menyusut.

Tren baru fashion dari luar yang muncul, secara tiba-tiba menjadi pergolakan identitas yang sekarang sedang ramai di Indonesia. 

"Kuncinya adalah dengan membuatnya relevan. Semua diskusi kita pasti ada jarak, tapi bukan berarti anak-anak tidak tertarik. Itu bisa dilakukan dengan macam-macam, seperti misalnya kombinasi kebaya dengan fashion terkini atau melalui pendidikan. Jadi namanya kebaya, kain, tenun, tekstil, dan beragam kekayaan budaya kita bisa masukkan di dalam pendidikan," pungkas Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan.

Pada akhirnya, kita tidak bisa cuma mengharapkan orang sadar dengan sendirinya. Perlu ada kerja keras untuk mengingatkan lagi bahwa pakaian ini bukan hanya sekadar tren atau pembalut tubuh. Melainkan juga sebagai identitas bangsa yang mulai tergerus zaman dan harus segera kita lestarikan. 

Baca Juga: Ini Makna Hari Kartini Bagi Perempuan Millennials di Tengah COVID-19

4. Memasukkan kebaya pada generasi muda itu susah-susah gampang. Kita harus tahu lapangan atau ciri generasi serta karakteristik kepribadian

Peringatan Hari Kartini 2020 di Era Pandemik Melalui Gerakan Berkebayainstagram.com/therealdisastr

"Sepotong kebaya adalah material kebudayaan yang menjadi simbol dan alat komunikasi dalam menumbuhkan nasionalisme dan membentuk identitas nasional," Ade Iva Wicaksono -Psikolog Sosial-.

Ade menyebutkan bahwa identitas nasional merupakan reproduksi dan transmisi simbol, nilai, sejarah sebagai pewarisan kebudayaan. Membentuk identitas nasional ini adalah sebuah proses, termasuk di dalamnya, dipengaruhi oleh identitas diri dan kepribadian.

Memasukkan simbol seperti kebaya menjadi identitas nasional, itu susah-susah gampang. Ini karena perlu memperhatikan lapangan atau konteks ciri generasi dan karakteristik kepribadian.

Misalnya, kalau di Jepang ada acara Seijinshiki, di mana pemerintah mengundang anak muda sekitar usia 18-20 tahun untuk memakai kimono di acara tersebut. Kemudian ada national dress di Tiongkok. 

"Kita di Indonesia bisa mereproduksi simbol (kebaya) tersebut dengan memakai kebaya di acara-acara resmi, kenegaraan, atau wisuda. Harus ada hal-hal seperti itu yang membuat semua orang bangga dengan kebaya dan menjadikan kebaya sebagai bagian dari kehidupannya," tambah Ade.

5. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan konsistensi mereproduksi kebaya di setiap lini kehidupan

Peringatan Hari Kartini 2020 di Era Pandemik Melalui Gerakan Berkebayainstagram.com/therealdisastr

Selanjutnya, Rahmi Hidayati menutup dengan beberapa tips terkait mengajak generasi muda untuk melestarikan kebaya.

"Kalau mengajak anak berkebaya itu, jangan dipaksa. Kita bisa belikan yang ukuran sesuai dia. Kalau masih anak-anak, gak usah kita pakai kebaya pakem terlebih dahulu," terang dia. 

Ade juga menambahkan, bahwa perlu adanya konsistensi dalam mereproduksi kebaya. Baik itu tentang kebaya pakem maupun kebaya yang sudah dimodifikasi sesuai kelompok usia.

Itu tadi diskusi online pada peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan oleh komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia. Semoga semangat R.A Kartini selalu bersemayam dalam jiwa kita ya!

Baca Juga: Hari Kartini di Tengah Pandemi, Kekerasan Terhadap Perempuan Meningkat

Topic:

  • Fajar Laksmita Dewi
  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya