Comscore Tracker

Garap Balada Si Roy, Susanti Dewi Ungkap Kecintaannya pada Dunia Film

#IDNTimesLife Ada bocoran tentang film itu juga!

Nama Fajar Nugros dikenal publik sebagai sutradara, penulis, dan produser yang telah menghasilkan banyak karya. Menilik sedikit ke belakang kehidupan pria yang kerap disapa Nugros ini, ada sosok yang berperan penting di balik keberhasilannya di dunia perfilman. Sosok itu adalah partner kerja sekaligus partner hidup Nugros, Susanti Dewi. 

Kompak dalam kehidupan profesional dan personal, keduanya mendirikan "Demi Istri Productions" yang pada Mei 2020 silam, telah diakuisisi IDN Media dan berganti nama menjadi IDN Pictures. Kami berkesempatan mengupas lebih dalam perjalanan karier Santi di bidang film melalui wawancara khusus pada Selasa (24/11/2020). 

1. Kiprah Santi dalam produksi film dimulai dari kekagumannya pada proses kreatif

Garap Balada Si Roy, Susanti Dewi Ungkap Kecintaannya pada Dunia Filminstagram.com/susantidewi

Awal mula perjalanan Santi hingga sekarang menjadi produser, dimulai saat bekerja menjadi Business Development di salah satu rumah produksi di Jakarta. Saat itu, ia tertarik dengan proses editing dalam proses kreatif di perusahaan tempat ia bernaung.

Terkesima dengan proses produksi serta karya film yang mampu membuat orang bisa menangis dan tertawa pada saat yang sama, ia memutuskan untuk beralih pada bidang perfilman dan mulai menekuni profesi sebagai produser. 

Saat ditanya genre film yang disukai, ia mengaku tak memiliki genre yang spesifik. Namun, ibu dari Sophie Louisa ini berujar bahwa ia lebih menyukai pada cerita tentang hubungan, baik itu hubungan dengan orangtua, dengan pasangan, atau cerita drama dan keluarga.

"Aku suka banget tentang hubungan, cerita yang sangat character driven. Aku weekend kemarin baru nonton serial punya Irlandia, judulnya Normal People. Itu bagus banget. Dia pintar sekali menyampaikan. Ini ceritanya simpel, hubungan anak remaja, ABG, dengan permasalahan mereka. Tapi, bisa dibuat dengan begitu dalam, itu bagus banget sih," ujar lulusan Literasi dan Bahasa Prancis Universitas Indonesia ini. 

2. Bagi Santi, membuat film itu sama saja seperti belajar dari kehidupan

Garap Balada Si Roy, Susanti Dewi Ungkap Kecintaannya pada Dunia Filminstagram.com/susantidewi

Saat diwawancarai secara virtual, ia mengatakan bahwa hidupnya tergolong tidak terlalu banyak rencana. Bagi Santi sendiri, hidup seperti ungkapan asing "let if flow".

Meski begitu, ia bersyukur pada apa yang telah diberikan oleh kehidupan padanya. Termasuk, dalam dunia film yang ia geluti. Apabila tujuan dari film adalah menyampaikan pesan, ia juga mendapat banyak hal menarik di setiap proses pembuat film.

"So far, sudah satu dekade belakang jatuh cintaku pada film dan tidak ada habisnya. Karena, setiap kita bikin film itu, kita kayak belajar dari kehidupan sih. Belajar kayak sekarang, misalnya kita persiapan Balada Si Roy. Jadi kita membedah karakter yang ada di cerita itu dan khususnya Balada Si Roy ceritanya sangat menginspirasi. Hal seperti itu yang aku temukan di setiap pembuatan film. Jadi kayak school of life gitu," terangnya.

"Demi Istri Productions" yang didirikan pada tahun 2013 adalah awal di mana Santi dan Nugros menampung keinginan klien yang ingin memberikan kepercayaan pada mereka. Nama "Demi Istri Production" yang dicetuskan oleh suaminya itu, dibuat untuk mengingatkan para kru dan tim agar tak lupa bahwa mereka tengah bekerja untuk keluarga. 

3. Menjadi produser itu memerlukan skill managing secara mikro dan makro secara bersamaan

Garap Balada Si Roy, Susanti Dewi Ungkap Kecintaannya pada Dunia Filminstagram.com/susantidewi

Perempuan yang juga pemilik bisnis makeup Nood Cosmetics ini, mengaku bahwa menjadi produser itu layaknya menjadi orangtua. Ia membimbing atau mengarahkan anak dalam konteks tim, menjadi satu hal yang baik untuk tujuan bersama. Cakupan pekerjaan produser harus bisa seimbang antara sisi kreatif dan sisi bisnis.

"Jadi produser itu diperlukan skill managing secara mikro, tapi at the same time secara makro. Kita harus very attention to creative detail, tapi saat yang sama, kita harus memikirkan secara bagaimana business tetap berjalan," ujar Santi. 

Menyinggung brand Nood Cosmetics dari Santi yang identik dengan kosmetik berbahan vegan ramah lingkungan dan non paraben, IDN Times pun mengulik hal yang melatarbelakanginya mengawali bisnis makeup tersebut.

 "Itu adalah proyek aku bersama teman-teman. Jadi beberapa waktu yang lalu, kita itu cewek-cewek yang sangat suka dan concern dengan makeup. Kalau aku sendiri, aku suka koleksi lipstik. Temanku yang lain, ada Tiara, Yasmine Wildblood, ada Tatis, ada Dita. Itu semua perempuan yang keren dari background professional berbeda, tapi kita punya interest yang sama," tambah perempuan kelahiran 25 Februari 1981 tersebut.

Menurut produser film Terbang (2018), Moammar Emka's Jakarta Undercover (2017), dan Cinta Selamanya (2015 itu, perempuan tak bisa dipisahkan dari makeup. Ia mengatakan bahwa poin utama dari Nood Cosmetics sendiri adalah tentang bagaimana caranya tetap bisa cantik, tapi juga ramah lingkungan.

Baca Juga: Cerita Soraya Cassandra Merawat Alam Melalui Kebun Kumara

4. Relatability adalah kunci paling penting kenapa film bisa sukses masuk box office dan disukai penonton

Garap Balada Si Roy, Susanti Dewi Ungkap Kecintaannya pada Dunia Filminstagram.com/susantidewi

Tolak ukur film menarik bisa jadi ada berbagai hal. Salah satunya adalah dari cerita yang dibuat. Bagaimana cerita tersebut dapat tersambung dengan penonton, yang membuat orang tertarik.

Menurut Santi, sebuah film bisa menjadi box office karena orang terhubung dengan cerita dan karakter dalam film. Itulah kenapa film bisa sukses, jadi relatability adalah aspek terpenting kenapa sebuah film mendapat perhatian oleh penonton.

"Yang menarik adalah memang begini, pertanyaannya Indonesia industri filmnya masih panjang banget. Total film yang paling laris di Indonesia adalah 6,89 juta penonton dari jumlah penduduk 268 jutaan. Jadi gap antara yang nonton itu sangat besar, maka pasarnya akan sangat berkembang dengan jauh," terangnya.

Apabila dibandingkan film Hollywood dengan penonton yang jauh lebih banyak, ia tetap optimis bagaimana para filmmaker Indonesia dapat menghasillkan karya yang sama bagusnya dengan film garapan luar. Jika kondisi Indonesia sudah lebih baik dalam hal budget dan promosi, kondisi perfilman Indonesia bisa jadi lebih 'berbahaya'. 

5. Resmi bergabung dengan IDN Media, film Balada Si Roy menjadi starter film project IDN Pictures yang spesial baginya

Garap Balada Si Roy, Susanti Dewi Ungkap Kecintaannya pada Dunia Filminstagram.com/susantidewi

Setelah bergabung dengan IDN Media, Santi mengaku senang dengan kultur yang dibangun para founder, yaitu Winston Utomo dan William Utomo. Menurutnya, kultur itu bukan hanya sebuah jargon, tapi juga dijalankan, baik itu dari pemimpin maupun Timmy (sebutan untuk karyawan IDN Media_red). Ia terbayang akan merealisasikan mimpinya bersama IDN Pictures. 

Berbicara mengenai film baru yang akan mulai digarap, Balada Si Roy, perempuan dengan bob hairstyle ini sedikit menceritakan alasan pemilihan cerita dari novel legendaris Gola Gong yang sudah berusia 30 tahun itu. 

"Buku ini sudah 30 tahun sejak pertama kali dipublikasikan dan belum pernah difilmkan. Kesempatan untuk jadi film itu ada di IDN Pictures. Bisa dibayangkan semua pembacanya dari 30 tahun lalu sampai sekarang, mereka sudah membayangkan dan menanti bagaimana filmnya. Jadi, ini privilege banget buat kita IDN Pictures. Makanya, kita lebih padat mempersiapkannya karena ini akan menjadi starter film project IDN Pictures di antara film lainnya," terangnya.

Menurunya, cerita dalam Balada Si Roy cukup penting untuk menginspirasi anak muda karena mereka butuh role model yang berkarakter. Meski ditulis 30 tahun yang lalu, namun cerita masih relevan pada generasi sekarang. Ia bersama Nugros mengangkat cerita ini menjadi film bukan hanya karena legendanya, namun juga isi dan pesannya yang penting buat anak muda. 

6. Pesan untuk sineas muda saat ini, "Kalau menemukan gambar atau cerita di sekeliling menarik, ya harus langsung direkam."

Garap Balada Si Roy, Susanti Dewi Ungkap Kecintaannya pada Dunia Filminstagram.com/susantidewi

Berdasarkan pengalaman menerima tulisan yang pernah dikirimkan padanya, menulis bagi Santi adalah seperti naik atau mengendarai mobil. Sesuatu yang jika semakin tinggi jam terbangnya, maka akan semakin baik.

Ia mengikuti perjalanan tulisan tim dan merasakan betul bagaimana tulisan berkembang menjadi lebih baik. Ia berpesan bagi penulis muda saat ini untuk langsung menorehkan tulisan jika terlintas sebuah ide. "Kalau gak gitu, kapan argo jam terbang kamu akan berjalan?" tambahnya. 

Ia juga bercerita bahwa membuat film di era sekarang jauh lebih mudah daripada senior-seniornya terdahulu. Membuat film zaman dulu lebih ribet karena syuting harus dilakukan dengan film dan butuh biaya yang tidak murah.

"Zaman dulu pakai film. Film itu mahal, bahkan tidak bisa di-preview. Sekarang semua, segalanya lebih mudah. Sama kayak menulis, jangan takut. Elo melihat sesuatu yang tertarik buat elo, jangan takut. Langsung keluarkan aja HP, bisa pakai handycam atau kamera DSLR. Kalo menemukan sebuah gambar atau cerita di sekeliling menarik, ya harus langsung direkam," tutupnya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Bisnis, Ini Cara Audrey Maximillian Mengembangkan Riliv

Topic:

  • Fajar Laksmita Dewi
  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya