Comscore Tracker

Hannah Al Rashid Ungkap Rendahnya Kesetaraan Gender pada Industri Film

We need more women!

Hannah Al Rashid adalah aktris papan atas Indonesia yang telah berkarya sejak tahun 2008. Gak hanya berkarya di layar kaca, perempuan berusia 34 tahun ini juga dikenal aktif memperjuangkan kesetaraan gender di Indonesia.

Dalam live stream talk show "The Future is Equal" oleh Tokopedia (22/4), Hannah menjelaskan bahwa Industri perfilman masih memiliki tingkat kesetaraan gender yang rendah. Kira-kira apa ya alasannya?

1. Lebih dari 10 tahun berkarier dalam industri film Indonesia, Hannah merasa kesetaraan gender belum terpenuhi

Hannah Al Rashid Ungkap Rendahnya Kesetaraan Gender pada Industri Filminstagram/hannahalrashid

Hannah telah memulai kariernya dalam industri film sejak tahun 2008. Selama berkarier, ia melihat kurangnya jumlah perempuan yang menduduki posisi atas dalam industri tersebut. Padahal, posisi atas sangat menentukan sistem kerja industri film.

"Industri film kesetaraan gender menurutku masih belum. Majority-nya cowok, terutama stakeholders dan decision makers dalam industri perfilman juga cowok," papar Hannah.

2. Double standard industri perfilman menuntut perempuan untuk selalu tampil memesona

Hannah Al Rashid Ungkap Rendahnya Kesetaraan Gender pada Industri Filminstagram/hannahalrashid

Selain kurangnya perempuan dalam posisi atas industri film, Hannah juga merasakan double standard bagi perempuan yang tidak realistis. 

"Double standard di perfilman itu banyak banget. Hal paling dasar dan obvious  itu kecantikan. Perempuan harus selalu on. Dituntut untuk selalu memesona. Mengapa itu jadi double standard? Karena itu tidak dituntut untuk lelaki," ungkapnya.

Ia sendiri tidak mengerti dari mana datangnya standar tersebut. Yang jelas, perempuan akhirnya berlomba-lomba untuk tampil memesona agar tetap eksis dalam industri film.

3. Perempuan dalam industri film tidak mendapat hak pekerja perempuan, seperti maternity leave atau cuti haid karena sistem kerja proyek

Hannah Al Rashid Ungkap Rendahnya Kesetaraan Gender pada Industri Filminstagram/hannahalrashid

Banyak orang melihat aktris perempuan hidup enak dan nyaman. Padahal sesungguhnya, perempuan cukup dirugikan ketika berkarier dalam industri film. Apalagi, ketika perempuan sudah menikah dan memiliki anak.

"Tidak mudah kerja di industri ini, di saat yang bersamaan, harus mengurus keluarga dan anak. Di industri film tuh gak ada maternity leave, cuti haid, dan lainnya because it's project based," tuturnya.

Sistem kerja ini akhirnya membuat perempuan sukar berkarya ketika sudah menikah dan memiliki anak. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa perempuan minim berada di posisi atas industri perfilman Indonesia.

Baca Juga: 10 Potret Menawan Hannah Al Rashid di Usia 33 Tahun, Jago Bela Diri!

4. Terbatasnya peluang perempuan dalam industri pun, menciptakan kompetisi antar sesama perempuan

Hannah Al Rashid Ungkap Rendahnya Kesetaraan Gender pada Industri Filminstagram/hannahalrashid

"Ada asumsi bahwa women break each other down. Padahal, kita harus saling support satu sama lain," tutur pemain film Aruna dan Lidahnya ini.

Hannah merasa perempuan harus saling berkolaborasi dan mendukung untuk mendapatkan kesetaraan. Sayangnya, terbatasnya peluang dalam industri kerap menimbulkan persaingan. 

"Gak bisa dipungkiri, competition between women sering terjadi. Ketika kita ingin mengambil suatu peluang, namun peluangnya cuma satu, we need to be on top of each other. Tapi kalau kesempatan ini lebih banyak, tentu kita gak perlu saling berebut gitu," lanjutnya.

5. "We need more!" Semakin banyak perempuan dalam posisi atas industri film, maka semakin terbuka pula aspirasi perempuan

Hannah Al Rashid Ungkap Rendahnya Kesetaraan Gender pada Industri Filminstagram/hannahalrashid

Untuk merombak rendahnya kesetaraan gender dalam industri film, harus ada cukup banyak perempuan yang menempati posisi atas seperti produser dan sutradara. Dengan begitu, aspirasi perempuan semakin tersampaikan.

"Walaupun sekarang udah banyak filmmaker perempuan, sutradara perempuan, but I think we need more. Kenapa? Karena kalau women banyak, jadinya aspirasi kita sebagai women juga semakin terlihat," ungkapnya.

Akhir kata, Hannah optimis bahwa ke depannya perempuan bisa semakin berkarya luas. Gak hanya dalam industri film, namun juga dalam bidang industri lainnya.

"Don’t say we don’t have a power. We do have a power!" tutup Hannah.

Baca Juga: Sosok Inspiratif Hannah Al Rashid, Artis yang Peduli Kesetaraan Gender

Topic:

  • Klara Livia
  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya