Comscore Tracker

Makeup Artist Ini Ajarkan Tak Ada Kata Telat untuk Kejar Passion

#AkuPerempuan Temukan passion saat usianya tak lagi muda

Surabaya, IDN Times - Ika Damajanti tak pernah mengira bahwa setelah ditentang ibunya saat masih muda, kini ia benar-benar menjalani profesi sebagai seorang makeup artist. Bahkan, karena berbakat, ia pun kerap diundang ke sejumlah forum untuk berbagi pengetahuan tentang riasan wajah.

1. Passion Ika untuk berkecimpung sebagai perias wajah muncul ketika ia sudah tak muda

Makeup Artist Ini Ajarkan Tak Ada Kata Telat untuk Kejar PassionIDN Times/Stella Azasya

Penampilan Ika sangat mudah diingat: kacamata bening, rambut model pixie, kemeja hitam yang dihiasi kalung cantik, serta rok etnik. Pembawaannya juga enerjik dan cara berbicaranya enak didengar. Meski sehari-hari berurusan dengan foundation dan blush-on, tapi riasan wajah perempuan berusia 46 tahun ini terlihat sederhana dan manis.

Ia mengoreksi bahwa no makeup makeup, atau dengan kata lain tampilan wajah yang seperti minim riasan, tidak berarti tanpa polesan bedak atau lipstik sama sekali. "No makeup makeup itu justru full of makeup, lho!" ucapnya.

Apa yang ia ketahui tentang makeup dan kemampuannya untuk memoles wajah klien tidak muncul ketika usianya masih muda. Sebaliknya, ia harus menjalani profesi sebagai public relations selama 10 tahun dulu sebelum akhirnya hijrah ke dunia yang sangat berbeda di usia 30 tahun.

Ika menceritakan bahwa ibunya, mantan pegawai sebuah perusahaan kosmetik Indonesia, melarangnya untuk mengikuti jejak di bidang yang sama. Alasannya adalah bahwa Ika wajib berpendidikan tinggi dan bekerja kantoran. Namun, semua berubah setelah Ika berkarir di korporasi sepanjang satu dekade.

Baca juga: Berusia 88 Tahun, Perempuan Ini Jadi Peraih Gelar Doktoral Tertua di Jepang

2. Jatuh dan bangun dalam mengejar passion adalah hal wajar

Makeup Artist Ini Ajarkan Tak Ada Kata Telat untuk Kejar PassionIDN Times/Stella Azasya

Ika mengaku sejak lama suka membeli berbagai perlengkapan makeup terbaik. Hanya saja, ia tidak menggunakannya. Hingga suatu saat Ika belajar makeup kepada salah seorang teman. Ibunya yang memprotes pola kerja kantoran pun pada akhirnya menyuruhnya untuk menjadi makeup artist karena fleksibilitas waktu. Keputusan yang berbeda 180 derajat dibandingkan sebelumnya.

Mengawali profesi baru tentu tidak mudah. Pasalnya, ia wajib membuktikan diri kepada klien bahwa kemampuannya layak dihargai. Ika pun pernah tidak dibayar sama sekali. Bayaran pertamanya adalah Rp 50 ribu. "Jatuh bangun itu biasa," ujarnya sambil tersenyum.

Perlahan tapi pasti, namanya kian dikenal. Bukan hanya untuk merias wajah klien, tapi juga ia diundang untuk menjadi narasumber di sejumlah acara. Tak cukup sampai di situ, Ika pun beberapa kali diliput oleh media. Menjadi makeup artist, kata Ika, merupakan passion yang selama ini ia cari.

"Kalau ada yang nulis 'I love my job' dulu suka bertanya kapan aku juga [mengakui] 'I love my job'," ungkapnya. Suatu hari, ketika merias wajah klien, meskipun sangat lelah, tapi klien puas dan ia pun merasa bahagia. "Jika kamu suka sesuatu, don't let it go, karena itu passion kamu."

3. Perempuan Indonesia sebaiknya menerima standar kecantikan itu tidak hanya satu

Makeup Artist Ini Ajarkan Tak Ada Kata Telat untuk Kejar PassionIDN Times/Stella Azasya

Berbicara tentang makeup pasti juga menyinggung mengenai kecantikan. Sebab sudah menjadi pengetahuan umum bahwa seseorang berdandan karena memang agar terlihat lebih cantik dan menarik. Sayangnya, masih banyak yang menilai standar kecantikan Eropa atau Korea Selatan.

Ika sendiri tidak mengingkari ada pandangan seperti itu. "Gak salah sih kalau orang ingin menjadi seperti idolanya," kata Ika. Namun, ia berharap bahwa perempuan Indonesia tidak terlalu terpaku kepada itu semua, sebab "setiap negara punya standar kecantikan yang berbeda-beda".

Ia menegaskan bahwa,"Pekerjaan rumahnya adalah bagaimana sih supaya bangsa kita itu menjadi dirinya sendiri. Bangga dengan [kulit] sawo matangnya, bangga dengan rambut keritingnya kalau di daerah timur. Nah, tugas kita ya mengedukasi."

Baca juga: Jadi Guru Terbaik di Dunia, Perempuan Ini Menangkan Rp 13 miliar

Topic:

  • Pinka Wima

Just For You