Comscore Tracker

Kisah Inspiratif di Balik Komunitas Finansial Kampus Keuangan Keluarga

Bicara soal pentingnya melek ilmu pengelolaan finansial

Rizki Laila Harahap dan Dian Mariesta mendirikan komunitas 'Kampus Keuangan Keluarga' pada pertengahan tahun 2020. Komunitas finansial ini memiliki misi untuk mengedukasi 1.000 keluarga Indonesia agar lebih cerdas mengatur uang.

Dalam wawancara khusus bersama IDN Times yang dilaksanakan pada Rabu (20/10/21), pukul 15.00 WIB, mereka membagikan kisah di balik latar belakang komunitasnya. Selain itu, keduanya juga bercerita seputar perjalanan inspiratif mereka untuk berkarya sebagai diaspora.

1. Pandemik mungkin membatasi mobilitas, tapi gak menghalangi mereka untuk berkarya

Kisah Inspiratif di Balik Komunitas Finansial Kampus Keuangan KeluargaDok. Istimewa (instagram.com/kikyharahap)

Pandemik COVID-19 membawa banyak dampak terhadap kehidupan manusia. Salah satu aspek yang paling terpengaruh dari masa-masa wabah ini adalah aspek ekonomi atau keuangan. Perubahan tatanan hidup membuat kemampuan beradaptasi kita diuji.

Hal itu juga yang dirasakan oleh Rizki Laila Harahap atau yang akrab disapa Kiky. Perempuan yang tinggal di Kuwait ini merasakan mobilitasnya sangat berkurang. 

"Jadi, benar-benar kaya burung dalam sangkar emas, ya. Tantangannya gak ada sih, malahan menemukan blessing in disguise. Salah satunya pembentukan Kampus Keuangan Keluarga pada Agustus 2020," tuturnya.

Cerita yang serupa juga dibagikan oleh Dian yang kini berdomisili di Malaysia. Ia mengatakan, "Paling terasa itu kegiatan rumah jadi lebih banyak, terutama mendampingi anak untuk sekolah online. Manajemen waktu di awal pandemik agak sedikit amburadul, tapi sekarang udah beradaptasi".

2. Motivasi mendirikan Kampus Keuangan Keluarga

Kisah Inspiratif di Balik Komunitas Finansial Kampus Keuangan KeluargaDok. Istimewa (instagram.com/bubundian)

Pada awal masa pandemik, Kiky sering mendapat ajakan untuk bergabung dalam sesi IG Live yang diadakan seorang teman. Acara bincang-bincang santai itu diselenggarakan setiap weekend.

"Temanku itu seorang dokter spesialis, tapi dia pengen tahu ilmu finansial. Karena ternyata waktu itu, dokter merupakan salah satu profesi yang penghasilannya drop," pungkasnya.

Setelah itu, Kiky dan Dian pun tergerak untuk membuat kelas keuangan. Kedua saudara ipar ini mulai merancang kelas tak berbayar dalam 5 kali pertemuan. Sambutan masyarakat cukup baik dan ada 100 orang yang mendaftar.

Setelah grup komunitas dibuat, keduanya menyadari bahwa ada banyak beragam permasalahan finansial yang dialami masyarakat selama pandemik. Kiky juga menyadari bahwa pemahaman seputar literasi keuangan yang basic masih belum dimiliki masyarakat secara luas.

"Agustus 2020 kita launching kelas pertama kita dan Kampus Keuangan Keluarga. Kita buat format kelas yang serius tentang financial planning. Visi misi awalnya itu ingin meningkatkan literasi keuangan keluarga Indonesia," ujar Dian.

Co-Founder dari Kampus Keuangan Keluarga ini pun menyebutkan misi komunitasnya yaitu untuk menciptakan 1.000 keluarga Indonesia cerdas atur uang.

Selain itu, misi lainnya yang ingin mereka capai adalah untuk membuat zona belajar keuangan yang nyaman. Dian mengatakan bahwa mereka ingin menghilangkan stigma yang menempel soal ilmu finansial. Pasalnya, selama ini masih banyak orang yang menganggap pelajaran finance terkesan membosankan dan terlalu rumit.

"Kita pengen mendobrak stigma itu. Kalau belajar finance itu bisa kok pakai bahasa yang mudah dimengerti atau membumi," tambahnya.

3. Kiky merupakan seorang certified financial planner, sedangkan Dian telah lama bergelut di bidang kepenulisan dan aktif berkomunitas

Kisah Inspiratif di Balik Komunitas Finansial Kampus Keuangan KeluargaDok. Istimewa (instagram.com/kikyharahap)

Salah satu hal yang membuat Kiky bersemangat untuk mempelajari ilmu pengelolaan keuangan berasal dari pengalamannya sendiri. Saat ia, keluarga kecilnya masih tinggal di Indonesia dan sempat struggling untuk mengatur pengeluaran.

"Ketika itu ada tawaran pekerjaan di Kuala Lumpur dan kita mempertimbangkan bisa gak meninggalkan apa yang kita punya di Jakarta," tuturnya.

Ia dan suaminya pun membereskan segala urusan utang-piutang dan memutuskan untuk memulai kehidupan baru di negeri tetangga di tahun 2011. Dua tahun berselang, pada 2013, perempuan asal Medan ini meraih gelar certified financial planner (CFP) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Ia mengatakan, "Kita gak pernah diajarin soal ini di sekolah, gak ada kan mata pelajaran pengelolaan keuangan? Kita gak belajar tentang investasi serta menghitung pengeluaran di masa mendatang".

Dian yang bekerja sebagai penulis juga memiliki keresahan yang sama sebelum membangun komunitas ini. Di waktu pandemik, ia menyadari bahwa ada banyak orang di sekitarnya yang mengalami kesulitan keuangan. Mulai dari pemangkasan gaji sampai pemecatan.

"Sebelum itu mungkin mereka gak punya safety net. Kalau sudah tahu tentang financial planning, mungkin mereka gak akan terlalu terjebak dengan situasi pandemik seperti tahun lalu," tuturnya.

Meski uang gak bisa membeli kebahagiaan, bagi Dian maupun Kiky kondisi finansial yang stabil bisa menawarkan banyak pilihan.

Terdapat beberapa kegiatan di dalam komunitas keuangan ini, di antaranya: rangkaian kelas perencanaan keuangan, IG Live, e-bulletin, podcast, serta e-book. Kelas financial planning juga terpecah jadi beberapa kelas lagi. Mulai dari kelas intensif berjenjang, kelas private, kelas tematik, sampai webinar gratis.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Suci Arumsari, Co-founder dan Direktur Alodokter

4. Dukungan keluarga menjadi salah satu api semangat untuk kedua ibu muda ini berkarya

Kisah Inspiratif di Balik Komunitas Finansial Kampus Keuangan KeluargaDok. Istimewa (instagram.com/bubundian)

"Kami memiliki keluarga kecil dan sama-sama punya satu orang anak. Kedua pasangan kami pun mendukung dan dari awal berpesan untuk fokus memberikan manfaat untuk orang lain," ujar Kiky.

Bagi perempuan berusia 37 tahun ini, bentuk support dari keluarga kecilnya menambah semangatnya untuk berkarya.

Hal yang sama juga dituturkan oleh Dian. Ia bilang, "Suami Kak Kiky itu akuntan, beliau juga sempat bantu mengisi kelas tentang membaca laporan keuangan. Suamiku juga sempat mengisi sharing session membicarakan aset digital".

Komunitas yang dibangun dari hubungan persaudaraan ini membuat mereka sering mendiskusikan perihal keuangan dengan keluarganya masing-masing.

"Bahkan anak-anak juga sempat kita ajak ngobrol bareng dalam video yang ngomongin kids and money. Kita pengen tahu seperti apa sih wawasan mereka tentang duit," pungkas perempuan berkacamata ini.

Setelah 1 tahun berlalu dari awal mendirikan platform e-learning ini, baik Kiky maupun Dian, sama-sama menemukan pengalaman berharga.

"Aku paling happy kalau ada orang yang datang dan bilang 'Kak, thank you ya udah ngasih tahu banyak hal'. Terus, orang itu cerita tentang perkembangan pengelolaan finansial mereka," ujar Kiky.

Seperti saudara iparnya, Dian juga merasakan keharuan yang sama ketika bisa membuat peserta kelas mereka menjadi lebih tercerahkan soal pengelolaan keuangan.

Ia menuturkan, "Kalau baca testimoni aku senang banget. Rasanya hangat sekali di hati! Kayanya apa yang kami kerjakan itu berguna buat kehidupan mereka".

Pendirian komunitas keuangan ini juga memberikan dampak khusus buat mereka. Kiky selaku Founder dari Komunitas Keuangan Keluarga merasa lebih bertanggung jawab dengan saran-saran keuangan yang ia berikan.

"Rules dalam perencanaan keuangan itu gak banyak. Aku lebih banyak sharing pengalaman, gimana cara bangkit dari masalah, dan gimana supaya kita gak masuk ke lubang yang sama," ujarnya lagi.

5. Kisah perjuangan mereka sebagai keluarga diaspora

Kisah Inspiratif di Balik Komunitas Finansial Kampus Keuangan KeluargaDok. Istimewa (instagram.com/kikyharahap | instagram.com/bubundian)

Kiky menceritakan pengalamannya saat keluarga kecilnya pergi merantau ke Malaysia. Terdapat banyak perubahan dan adaptasi yang harus dilakukannya. Di tahun 2012, ia pun memutuskan untuk bersekolah kembali.

"Masa pendidikannya itu 2 tahun untuk ngambil sertifikat. Setiap weekend aku dan suami bagi tugas. Karena aku sekolah selama 2 hari," tuturnya.

Setelah memiliki CFP, Kiky mencoba melamar di banyak tempat yang bergerak di pengelolaan keuangan. Ia pun memutuskan untuk fokus pada edukasi.

"Aku sempat menjadi guru matematika selama 2 tahun di international school. Terus, lagi enak-enaknya ngajar, kami pindah lagi ke Kuwait," tambahnya.

Masa-masa penyesuaian itu pun kembali dialaminya. Dari mulai beradaptasi, mencari teman, hingga bergabung dengan berbagai macam komunitas.

Berbeda dengan Kiki, Dian mengawali pertualangannya di Negeri Jiran sejak masih bersekolah. Tepatnya pada tahun 2005, perempuan berusia 33 tahun ini berkuliah di Malaysia.

Setelah mendapat gelar sarjana, Dian sempat pulang sebentar ke kampung halamannya di Palembang.

"Orangtua pengen aku lanjut kuliah lagi. Jadi, aku kembali lagi ke Malaysia untuk S2 pada tahun 2010-2012," tuturnya.

Pada masa-masa penyelesaian tesis, Dian pun menikah dengan suaminya.

Ia mengatakan, "Karena suami udah dapat kerja di sana, jadi aku ikut suami sampai sekarang".

Setelah gelar S2 Manajemen Komunikasi di National University, Malaysia diraihnya, perempuan kelahiran Palembang ini sempat mencoba bekerja di kantor.

"Ternyata aku gak bisa kerja 9-5 dan akhirnya memutuskan untuk kerja di rumah," ujarnya lagi.

Walaupun sebagian besar waktunya dihabiskan di kediamannya, Dian cukup aktif mengikuti berbagai kegiatan atau komunitas. Sebab, ia sendiri merasa bahwa salah satu tantangan yang dihadapi para perempuan adalah menjaga keinginan belajarnya.

"Aku percaya setiap perempuan berhak mendapat kesempatan untuk belajar hal baru, mengembangkan dirinya, mengerjakan passion-nya, atau berkarya sesuai keinginannya," tutur Dian. Poin yang sama juga disampaikan oleh Kiky.

Sebagai istri dari seorang ekspatriat, Kiky mengakui privilege yang dimilikinya, salah satunya berhubungan dengan kondisi finansial yang cukup stabil.

Ia mengatakan, "Privilege itu harus dimanfaatkan. Sebab, waktu yang kita punya dengan orang lain kan sama-sama 24 jam. Jangan batasi diri kita sendiri. Kita bisa belajar apa pun, gak cuma soal keuangan".

Tantangan lainnya yang dialami oleh perempuan adalah menghadapi keraguannya terhadap dirinya sendiri.

Kiky mengungkapkan opininya terkait hal itu, "Ada banyak perempuan yang melimitasi potensi diri mereka karena mengkhawatirkan pendapat pasangannya. Padahal, kalau ada kesempatan dan kemampuan, kita bisa fokus pada diri sendiri untuk maju".

6. "Perempuan hebat adalah perempuan yang tahu apa yang terbaik buat dirinya. Gak mudah mengeluh & terus menantang dirinya sendiri," ujar Kiky

Kisah Inspiratif di Balik Komunitas Finansial Kampus Keuangan KeluargaDok. Istimewa (instagram.com/kikyharahap)

Di penghujung wawancara, Kiky dan Dian membagikan kisah perempuan yang dianggap mereka paling menginspirasi dan berdampak positif untuk kehidupan. Keduanya kompak menceritakan sosok ibu mereka masing-masing.

"Ibuku itu super sibuk, tapi dia mampu mengatur waktu. Selalu aktif berorganisasi dan punya banyak teman-teman baik," tutur Kiky.

Ia menceritakan sosok ibundanya yang dianggapnya serba bisa dan jarang bergantung kepada laki-laki. Menurutnya, itu menjadi salah satu teladan untuk dipelajarinya di dalam kehidupan.

Dari sudut pandang Dian, ibunya yang menjadi stay at home mom juga memberikan banyak inspirasi.

"Walau gak punya jenjang akademik yang tinggi, aku lihat dia tumbuh menjadi seorang perempuan yang bijak, bertutur kata bagus, manajemen waktu baik, serta memiliki skill komunikasi yang mumpuni," ungkapnya.

Dari sosok ibunya, Dian sadar bahwa jenjang akademik gak bisa menjadi takaran pasti untuk menilai kualitas hidup seseorang.

Untuk menutup sesi wawancara khusus bersama IDN Times, Kiky dan Dian menitipkan pesan untuk para perempuan milenial yang membaca artikel ini.

Kiky bilang, "Jangan malas membaca dan terus gali potensi diri kita. Jangan berhenti dan mudah puas diri. Ketahuilah bahwa bumi ini sangat luas untuk dieksplorasi".

Sedangkan, Dian mengatakan, "Perempuan adalah ujung tombak peradaban. Sebab, peradaban dimulai dari rumah, di tangan-tangan para perempuan yang menjadi ibu".

Artikel #AkuPerempuan kali ini kembali membawa banyak inspirasi, ya? Semoga kamu bisa memetik banyak pelajaran dari obrolan seputar keuangan, keluarga, dan pentingnya keinginan untuk belajar bagi setiap perempuan. Yuk, tetap semangat mengembangkan diri!

Baca Juga: Perjalanan Hidup Rika Widjono, Co-Founder Komunitas Ceritalahir

Topic:

  • Pinka Wima

Berita Terkini Lainnya