Comscore Tracker

Didera Mountain Sickness, Fransiska Dimitri Tak Gentar Mendaki Everest

Maju terus pantang mundur!

IDN Times menggelar Indonesia Millennial Summit 2019. Acara dengan tema "Shaping Indonesia's Future" ini dilangsungkan pada tanggal 19 Januari 2019 di Grand Ballroom Hotel Kempinski Jakarta.  IMS 2019 menghadirkan lebih dari 50 pembicara kompeten di berbagai bidang, dari politik, ekonomi, bisnis, olahraga, budaya, lintas agama, sosial, lingkungan sampai kepemimpinan millennial.  Ajang millennial terbesar di tanah air ini akan dihadiri oleh 1500-an pemimpin millenial.

Fransiska Dimitri Inkiriwang, salah satu perempuan pertama dari Indonesia yang berhasil mendaki puncak Everest juga akan jadi pembicara di IMS 2019. Bagaimana prestasi dan sosoknya? Yuk kita simak profil Fransiska Dimitri Inkiriwang, pendaki Everest tak menyerah meski sempat diserang Acute Mountain Sickness (AMS).

1. Bersama Hilda, ia telah bergabung di WISSEMU sejak tiga tahun sebelum pendakian

Didera Mountain Sickness, Fransiska Dimitri Tak Gentar Mendaki Everestinstagram.com/ina7summits

Fransiska Dimitri Inkiriwang atau akrab disapa Deedee, merupakan pasangan dari Mathilda Dwi Lestari dalam misi pendakian tujuh puncak tertinggi dunia. Puncak itu adalah Carstensz, Elbrus, Kilimanjaro, Aconcagua, Vinson Massif, Denali, dan Everest. Usianya 24 tahun saat mencapai Everest.

Di saat yang sama, ia adalah mahasiswi jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Parahyangan. Ia bergabung dalam misi The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Unpar (WISSEMU) yang telah dibentuknya dari tiga tahun sebelumnya.

2. Orangtuanya mendukung penuh kecintaan Deedee pada alam

Didera Mountain Sickness, Fransiska Dimitri Tak Gentar Mendaki Everestinstagram.com/ina7summits

Lahir dari keluarga yang cinta kegiatan alam bebas, membuat Deedee bersyukur. Sebab ini membuatnya selalu didukung dalam kegiatan pecinta alam Mahitala hingga pendakian Everest tersebut. Ini pun memotivasinya untuk membuat buku tentang perjalanannya agar dukungan keluarga, teman, dan semua bangsa Indonesia menjadi kenangan yang bisa dibanggakan. 

3. Sempat mengalami penyakit ketinggian saat mendaki puncak Carstensz Pyramid di Papua

Didera Mountain Sickness, Fransiska Dimitri Tak Gentar Mendaki Everestinstagram.com/ina7summits

"Waktu di Carstensz, gunung pertama kami, saya terkena Acute Mountain Sickness (AMS) yang memengaruhi pernapasan dan koordinasi tubuh. Saya jalan lamban sekali tetapi bisa menyelesaikan pendakian,” kenangnya. Meski begitu, ia tak kapok dan masih gigih mendaki puncak-puncak lainnya.

Satu momen yang menyedihkan untuknya adalah timnya yang bernama Dian Indah Carolina harus mundur dari misi pendakian. Di Aconcagua, Dian terkena AMS parah dan harus turun segera. “Aconcagua meninggalkan kesan yang sangat mendalam untuk terus maju dan menghadapi apa yang diberikan,” lanjut Deedee.

Baca Juga: Mathilda Dwi Lestari, Srikandi Indonesia Penakluk Everest di Usia 24

4. Prestasi Deedee ini tidak diraihnya secara instan, melainkan pelan-pelan dari nol

Didera Mountain Sickness, Fransiska Dimitri Tak Gentar Mendaki Everestinstagram.com/ina7summits

Prestasi membanggakan Deedee dimulai dengan penuh usaha dan kerja keras. “Saya menjalani semuanya selangkah demi selangkah. Saya yakin langkah-langkah kecil yang membawa kami kesini dan mudah-mudahan bisa menggenapkan prestasi untuk Indonesia,” tutupnya. 

Saat hendak mendaki saja, ia melakukan persiapan fisik, mental, dan finansial. “Di negara tropis nggak punya medan latihan yang menyerupai gunung-gunung high altitude. Strateginya adalah menyusun urutan pendakian didasarkan pada tingkat kesulitan. Sehingga gunung yang didaki adalah latihan untuk gunung berikutnya,” ungkap Deedee. Selain itu, ia berupaya keras menghadapi ketinggian baru dengan kondisi oksigen yang tipis dan tekanan udara yang rendah. 

5. Darinya, kita bisa belajar untuk tetap bermimpi dan jangan menyerah ketika menggapainya

Didera Mountain Sickness, Fransiska Dimitri Tak Gentar Mendaki Everestinstagram.com/ina7summits

Pencapaian Deedee menuju puncak Everest bukanlah untuk dirinya sendiri. Ia pun ingin orang lain terinspirasi. “Kami ingin memberi contoh kepada generasi muda Indonesia untuk pantang menyerah menggapai cita-cita. Fokus dan gigihlah mencapai semuanya,” kata Deedee.

Itulah inspirasi dari Fransiska Inkiriwang, pendaki Everest yang tak pantang oleh penyakit ketinggian. Bagaimana denganmu? Sudah siap pantang menyerah dan menggapai mimpi-mimpimu?

Dalam IMS 2019, IDN Times  meluncurkan Indonesia Millennial Report 2019. Survei ini dikerjakan bersama oleh IDN Research Institute bekerjasama dengan Alvara Research Center. Melalui survei yang melibatkan 1400-an responden di 12 kota ini, IDN Times menggali aspirasi dan DNA millennial Indonesia. Simak hasilnya di IMS 2019, dan ikuti perkembangannya di situs kami ya.

Baca Juga: Kisah Melisa Irene: 3 Tahun Lulus, Jadi Petinggi Perusahaan Investasi

Topic:

  • Febriyanti Revitasari
  • Pinka Wima

Just For You