Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi pria lari
Ilustrasi pria lari (pexels.com/Bamboo Avee)

Intinya sih...

  • Olahraga sebagai pelampiasan emosiPria memilih olahraga untuk mengeluarkan energi negatif dan mendapatkan rasa kendali kembali.

  • Ngopi sebagai ruang melambatPria memilih ngopi untuk mencari jeda, kontemplasi, dan memberi ruang pada pikiran.

  • Tubuh vs pikiranOlahraga bekerja dari luar ke dalam, sementara ngopi bekerja sebaliknya, tergantung luka mana yang ingin disembuhkan lebih dulu.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah menghadapi hari yang penuh tekanan, pria biasanya memilih satu dari dua pintu keluar: menggerakkan tubuh atau duduk diam dengan secangkir kopi. Olahraga dan ngopi sama-sama terlihat sepele, tapi sering menjadi ritual penting untuk bertahan. Di sanalah stres pelan-pelan dinegosiasikan.

Pilihan ini bukan sekadar soal selera. Ada cerita tentang kepribadian, cara berpikir, dan bentuk luka yang berbeda di baliknya. Dan dari sini, olahraga dan ngopi terlihat seperti dua bahasa berbeda untuk mengatakan, “aku capek.”

1. Olahraga sebagai pelampiasan emosi

ilustrasi pria olahraga (pexels.com/pixabay)

Pria yang memilih olahraga biasanya ingin mengeluarkan semua energi negatifnya. Keringat adalah cara paling jujur untuk membuang beban. Setiap lari, angkat beban, atau tendangan menjadi ruang aman untuk meluapkan amarah.

Di luar itu, olahraga memberi rasa kendali kembali. Saat hidup terasa kacau, tubuh yang digerakkan memberi sinyal bahwa masih ada yang bisa diatur. Dari situ, kelelahan fisik justru berubah jadi ketenangan mental.

2. Ngopi sebagai ruang melambat

ilustrasi pria minum kopi susu di pagi hari (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Pria yang memilih ngopi biasanya mencari jeda, bukan ledakan. Ia ingin tenang, bukan terseok-seok oleh detak jantung yang terlalu cepat. Secangkir kopi adalah alasan sah untuk diam.

Ngopi sering menjadi ritual kontemplatif. Ada waktu untuk merenung, menatap kosong, atau sekadar menikmati rasa pahit yang akrab. Di sanalah pikiran diberi ruang bernapas.

3. Tubuh vs pikiran

ilustrasi pria gym (pexels.com/William Choquette)

Olahraga bekerja dari luar ke dalam. Tubuh lelah dulu, pikiran menyusul tenang. Ngopi bekerja sebaliknya.

Ngopi menenangkan pikiran terlebih dulu, baru tubuh ikut rileks. Keduanya sah, tergantung luka mana yang ingin disembuhkan lebih dulu. Ada yang badannya lelah, ada yang kepalanya.

4. Pelarian atau perawatan diri

ilustrasi pria minum kopi hitam (pexels.com/Thirdman)

Ada garis tipis antara merawat diri dan melarikan diri. Olahraga bisa berubah jadi obsesi, ngopi bisa jadi candu. Saat tujuan bergeser dari menenangkan ke menghindari, bahaya mulai muncul.

Tanda peringatan biasanya sederhana. Ketika tak bisa tenang tanpa gym atau tanpa kafe. Di situlah stres tidak lagi diatasi, tapi disembunyikan.

5. Memilih yang sesuai, bukan yang terlihat keren

ilustrasi orang bekerja sambil minum kopi (pexels.com/pexels)

Tak semua pria butuh angkat beban untuk merasa kuat. Tak semua pria harus ngopi untuk terlihat santai. Pilihan terbaik adalah yang benar-benar menolong, bukan yang terlihat gagah.

Mengatasi stres adalah hal personal. Yang satu pulih dengan keringat, yang lain dengan diam. Tidak ada standar kebahagiaan yang seragam.

Olahraga dan ngopi hanyalah dua dari sekian banyak cara pria merawat dirinya yang lelah. Bukan soal mana yang lebih baik, tapi mana yang lebih jujur terhadap kebutuhan sendiri. Stres tak selalu harus dilawan, kadang cukup dirangkul.

Entah lewat denyut jantung yang cepat atau aroma kopi yang hangat, semua bermuara pada hal yang sama. Pria hanya ingin merasa utuh lagi. Dan itu, tidak akan pernah salah jalur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team