Comscore Tracker

Distribusi OC Berdasar Urgensi, Kapus Krisis Kesehatan: "Selfless!"

Ini beda tabung oksigen dan oxygen concentrator (OC)

Jakarta, IDN Times - Diprakarsai oleh East Ventures dan beberapa perusahaan di dalam portofolionya, Indonesia PASTI BISA (IDPB) Jaga Oksigen akhirnya berhasil menyediakan 1.450 oxygen concentrator (OC) ke rumah sakit di seluruh Indonesia. Adapun dana yang berhasil dihimpun adalah US$ 1.213.354 dari 790 donatur individu dan mitra korporasi. Angka tersebut melebihi target awal IDPB Jaga Oksigen (121,34% dari target US$ 1 juta) hanya dalam waktu 10 hari.

Melibatkan pihak swasta dan pemerintah, kali ini, Indonesia PASTI BISA Jaga Oksigen mendapat kesempatan untuk berbincang secara eksklusif dengan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Indonesia, Dr. dr. Eka Jusup M. Sc. Ia menyampaikan tugas pokok dan fungsi Pusat Krisis Kesehatan Indonesia dalam pendistribusian OC yang dipersembahkan oleh Indonesia PASTI BISA. Berikut adalah informasinya.

1. Terima beragam wujud empati

Indonesia PASTI BISA (Dok. IDN Media/Herka Pangaribowo)

Pada dasarnya, tugas Pusat Krisis Kesehatan Indonesia adalah melaksanakan penyusunan kebijakan teknis dan pelaksanaan penanggulangan krisis kesehatan berdasarkan kebijakan Menteri Kesehatan dan perundang-undangan yang berlaku. Adanya peningkatan permintaan terhadap ketersediaan OC tentu saja menjadi salah satu fokus Pusat Krisis Kesehatan Indonesia. Namun, ibarat “blessing in disguise”, fenomena seperti ini justru malah mendorong banyaknya kegiatan penggalangan dana yang diinisiasi oleh berbagai pihak untuk pengadaan tabung oksigen maupun OC.

Salah satu di antara kegiatan penggalangan dana tersebut adalah Indonesia PASTI BISA. “Indonesia PASTI BISA ini merupakan kolaborasi dari berbagai pihak. Tak hanya di Indonesia saja, tapi ada juga diaspora dan mitra korporasi di luar negeri, yaitu Singapura. Di tengah masa sulit seperti saat ini, kepekaan sosial cenderung meningkat. Sebagai layanan pusat satu pintu, kami menerima beraneka ragam wujud empati dari kawan-kawan, termasuk tabung oksigen dan OC,” sebut Eka.

2. Emban pendistribusian yang harus dipertanggungjawabkan

Distribusi OC Berdasar Urgensi, Kapus Krisis Kesehatan: Selfless!Indonesia PASTI BISA (Dok. IDN Media/Herka Pangaribowo)

Pusat Krisis Kesehatan Indonesia juga bertugas untuk menyimpan dan mendata barang-barang hibah. Eka berujar, “Kami lakukan proses itu dengan teliti, tapi harus tetap cepat agar dapat segera diimplementasikan dan gudang tidak penuh. Adanya sistem barcode yang ditempel pada tiap boks unit OC Indonesia PASTI BISA itu juga membantu, jadi kita bisa trace lokasi terkini dari unit. Tiap malam, Bapak Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan RI selalu mengadakan evaluasi, meminta update rumah sakit mana saja yang membutuhkan OC. Untuk itu, kami banyak kerja sama dengan Direktorat Jenderal, Layanan Kesehatan, dan Satgas Oksigen yang dibentuk pada tiap provinsi.”

3. Beda tabung oksigen dan OC

Distribusi OC Berdasar Urgensi, Kapus Krisis Kesehatan: Selfless!Indonesia PASTI BISA (Dok. IDN Media/Herka Pangaribowo)

Di tengah perbincangan, Eka juga menjelaskan tentang perbedaan tabung oksigen dan OC. Pada dasarnya, tabung oksigen menyimpan oksigen terkompresi dalam jumlah tertentu yang dapat digunakan hingga habis. Di sisi lain, OC memasok oksigen dengan mengompres dan memodifikasi udara di sekitar pasien ke standar tingkat medis. Artinya, jumlah oksigen yang dihasilkan oleh OC tidak terbatas, selama aliran listrik masih aktif.

Namun, karena OC mengumpulkan oksigen dari udara dan kemudian menyaring dan mengompresnya untuk pasien, proses ini seringkali berisik karena kinerja berbagai komponen dari setiap unit OC. Seiring dengan berjalannya waktu, konsentrator model baru pun dirancang untuk mengurangi kebisingan ini ke tingkat yang hampir tidak terdengar, berkisar di angka 60dB(A), seperti OC yang dipersembahkan oleh IDPB.

4. Makna pemerataan distribusi OC

Distribusi OC Berdasar Urgensi, Kapus Krisis Kesehatan: Selfless!Dok. Pusat Krisis Kesehatan Indonesia

Ketika membahas mengenai pemerataan pendistribusian, Eka menegaskan, “Pemerataan pendistribusian saat ini tidak serta-merta berarti semua rumah sakit dari Aceh hingga Papua sama-sama diprioritaskan. Kita lihat urgensinya.” Karena urgensi itu pula, Pusat Krisis Kesehatan Indonesia juga menerapkan kelonggaran pada quality control yang dilakukan terhadap masing-masing unit OC. “Kendati demikian, kami terus mengontrol pengoperasian OC unit sudah sampai di rumah sakit. Alhamdulillah, sejauh ini belum ada yang bermasalah,” lanjutnya.

Pada kesempatan itu, Eka juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyimpan tabung oksigen atau OC hanya untuk berjaga-jaga. Ia mengungkapkan, “Apabila terinfeksi COVID-19, sebisa mungkin sediakan oximeter. Dengan oximeter, kita dapat mengetahui apabila sewaktu-waktu saturasi oksigen kita berada di bawah 95. Ini jauh lebih bijak, selfless, dan efektif daripada harus menyediakan tabung oksigen atau OC demi kepentingan sendiri. Hubungi fasilitas kesehatan segera setelah mengetahui bahwa saturasi oksigen kita berada di bawah angka normal, mereka tanggap, kok.”

“Sabar, kita prioritaskan terlebih dulu rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang lain. Ayo, kita berjuang bersama. Pertahankan daya tahan tubuh, jalankan 5M dengan benar dan konsisten,” Eka berpesan. Kita telah mendeklarasikan perang dengan COVID-19. Dimulai dari diri kita, lakukan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai individu untuk melawan COVID-19. Indonesia PASTI BISA!

Topic:

  • Amelia Rosary

Berita Terkini Lainnya