Comscore Tracker

Kisah Penggali Makam Kuburkan 10 Jenazah COVID-19 dalam Semalam

Tak digaji, Juri hanya andalkan upah dari keluarga jenazah

Semarang, IDN Times - Pagi itu suasana TPU Jatisari di Jalan Amarta Meteseh Mijen, Semarang, tampak kelabu. Langit mendung masih menggelayut menutupi sinar matahari. Sisa hujan semalam membuat jalanan di TPU Jatisari masih terasa licin, karena bercampur dengan tanah liat dari area pemakaman yang berbukit itu. 

Sejumlah gundukan tanah makam-makam baru terlihat dari kejauhan. Juri, berjalan dari area makam di bukit seberang di menuju kantor UPTD TPU Jatisari. Jalannya diseret agar tanah liat yang menempel di sepatu boot berwarna kuning yang dikenakannya lepas.

Saat IDN Times menyapa, lelaki berkulit gelap yang memakai kaos garis-garis berwarna hitam putih itu dengan ramah menjawab, ‘’Pagi, saya habis mengecek makam baru dari jenazah COVID-19 yang dimakamkan pukul 07.00 WIB tadi.’

1. Sejak awal pandemik, Juri telah memakamkan 250 jenazah pasien meninggal akibat COVID-19

Kisah Penggali Makam Kuburkan 10 Jenazah COVID-19 dalam SemalamJuri (73 tahun), relawan penggali kubur di makam COVID-19 TPU Jatisari Mijen Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Empat tahun sudah Juri bekerja sebagai penggali kubur di pemakaman milik Pemerintah Kota Semarang. Statusnya hanya sebagai pekerja lepas. Tapi sejak ada COVID-19 selama 7 bulan belakangan, dia menjadi relawan di TPU yang dijadikan makam bagi pasien meninggal karena virus corona itu.

Lelaki 73 tahun itu menceritakan, dari awal pandemik sampai sekarang kurang lebih sudah 250 jenazah yang dimakamkan olehnya bersama petugas pemakaman di UPTD TPU Jatisari Mijen. Rasa khawatir dan takut sempat mendera ketika awal-awal bertugas memakamkan pasien COVID-19.

‘’Awal-awalnya ya takut. Takut tertular karena virus ini kan gampang menular, tapi akhirnya ya nekat saja yang penting sudah sesuai protokol kesehatan dan keluarga mendukung pekerjaan ini,’’ ungkap warga Sumber Mulyo Jatisari RT 01 RW 01 Mijen itu.

Baca Juga: [FOTO] Merinding, TPU Pondok Ranggon Nyaris Penuh Jenazah COVID-19 

3. Dalam sehari pernah memakamkan hingga 10 jenazah COVID-19

Kisah Penggali Makam Kuburkan 10 Jenazah COVID-19 dalam SemalamMakam-makam baru tampak di pemakaman COVID-19 di TPU Jatisari Mijen Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Juri menuturkan, saat kasus COVID-19 di Kota Semarang tinggi, ia bisa memakamkan hingga 10 jenazah dimakamkan di TPU Jatisari setiap harinya. Namun, saat ini per hari hanya satu hingga 3 jenazah yang dimakamkan di sana. 

‘’Sekarang ini sudah agak reda virus coronanya. Selain itu, tidak selalu jenazah COVID-19 yang meninggal di Semarang dimakamkan di sini. Semua kembali kepada keluarga mereka, mau dimakamkan di mana. Kalau dulu sih bisa 6 sampai 9 jenazah dimakamkan dalam semalam,’’ ungkapnya. 

Kendati demikian, Juri selalu siap menyambut berapa pun jenazah COVID-19 yang akan dimakamkan di pemakaman tersebut. Jenazah COVID-19 datang dari sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, seperti RSUD KRMT Wongsonegoro, RSUP Dr Kariadi, RS Tugurejo, dan lainnya dalam keadaan yang sudah dipeti dan dibungkus plastik.

4. Juri sering kali menguburkan jenazah pasien COVID-19 pada dini hari

Kisah Penggali Makam Kuburkan 10 Jenazah COVID-19 dalam SemalamPemakaman pasien meninggal COVID-19 di TPU Jatisari Mijen Kota Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Pemakaman jenazah pasien COVID-19 tak sama dengan jenazah pada umumnya. Persiapannya sudah dilakukan dua jam sebelum jenazah datang, mulai menggali liang lahat, menyiapkan peralatan pemakaman, hingga mengenakan baju hazmat dan alat pelindung diri lainnya.

Selain butuh persiapan yang cukup panjang, kata Juri, penggali kubur juga harus siap siaga. Sebab, waktu kedatangan jenazah tidak dapat diprediksi.

‘’Seringnya harus memakamkan pada dini hari antara pukul 01.00 hingga jelang Subuh. Ya, mau gak mau harus siap misalnya ada panggilan, Mbah Juri nggko ana jenazah teko jam 02.00 (Mbah nanti ada jenazah datang jam 02.00). Ya, mulai siap-siap dari jam 24.00 malam,’’ tutur Juri yang sebelumnya bekerja sebagai penjaga garasi bus jurusan Semarang-Boja itu. 

Tugas menjadi relawan yang menjalankan pekerjaan menggali liang lahat hingga memakamkan pasien meninggal COVID-19 itu kini menjadi rutinitas yang dijalani Juri dengan ikhlas dan niat untuk membantu sesama. 

Adapun, ketika ditanya terkait pengalaman memakamkan jenazah COVID-19 selama ini, Juri mengatakan karena sering menguburkan jenazah pasien corona dia seperti berhalusinasi. ‘’Rasanya kayak tom-toman (halusinasi) dan kebawa mimpi. Seakan-akan seperti sedang menguburkan banyak jenazah COVID-19,’’ imbuhnya.

Baca Juga: Kisah Pilu Pemakaman Jenazah COVID-19 di TPU Pondok Ranggon

5. Tidak digaji, Juri hanya mengandalkan upah dari keluarga jenazah yang dimakamkan di TPU Jatisari

Kisah Penggali Makam Kuburkan 10 Jenazah COVID-19 dalam SemalamMakam-makam baru tampak di pemakaman COVID-19 di TPU Jatisari Mijen Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Kakek yang memiliki 9 cucu ini mengaku hanya menerima upah jika keluarga pasien meninggal COVID-19 memberikan uang lelah. Padahal, pekerjaan sangat berisiko dan menguras tenaga serta waktunya. Saat ditanya berapa upah yang diberikan oleh keluarga jenazah, Juri mengatakan tidak pasti, kadang ada yang memberi, kadang juga tidak.

‘’Ya, kadang ada yang memberi Rp 100ribu ada kadang juga Rp200ribu, kemudian saya bagi dengan penggali kubur lainnya. Kalau yang menggali 4 orang berarti per orang dapat Rp 25 ribu, jika dikasih Rp100 ribu. Namun, juga tidak apa-apa kalau tidak diberi, karena tujuan saya kerja ini untuk membantu teman, jadi saya ikhlas. Apalagi, saya sudah tua umur segini ini masih bisa kerja ya Alhamdulillah,’’ ujarnya. 

Pada sela waktu memakamkan pasien meninggal COVID-19, bapak empat anak ini juga turut mengurus makam. Mulai dari memperbaiki makam jika ada yang rusak, membersihkan makam, sampai menanam tanaman di sekitar pemakaman. 

6. Disperkim Kota Semarang sediakan lahan hingga 10 hektare untuk pemakaman jenazah COVID-19

Kisah Penggali Makam Kuburkan 10 Jenazah COVID-19 dalam SemalamTPU Jatisari Mijen merupakan lokasi pemakaman pasien meninggal COVID-19 di Kota Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Sementara itu, Pemerintah Kota Semarang menyediakan lahan untuk makam COVID-19 di TPU Jatisari Mijen seluas 10 hektare. Jini sudah ada 260 makam dari pasien meninggal karena virus corona di sana.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Ali mengatakan, area pemakaman di TPU Jatisari seluas 13 hektare. Seluas 3 hektare untuk makam umum dan 10 hektare disediakan untuk makam pasien COVID-19.

‘’Sehingga, tidak perlu khawatir karena areanya masih sangat luas. Selain itu, petak makam untuk jenazah muslim dan non muslim juga kami pisahkan agar keluarga mereka lebih mudah menemukan jika ingin ziarah,’’ katanya saat dihubungi, Rabu, 28 Oktober 2020.

7. Petugas pemakaman dari UPTD TPU lain diperbantukan di makam COVID-19

Kisah Penggali Makam Kuburkan 10 Jenazah COVID-19 dalam SemalamJuri (73 tahun), relawan penggali kubur di makam COVID-19 TPU Jatisari Mijen Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Selama pandemik, Disperkim menugaskan 6 petugas yang terdiri dari ASN dan non ASN, baik dari UPTD TPU Jatisari maupun UPTD di sekitarnya.

‘’Kami menugaskan banyak personel karena setiap hari harus menyediakan minimal 6 sampai 8 liang lahat. Hal ini karena pemakaman jenazah COVID-19 tidak bisa ditunda, sehingga jangan sampai kehabisan lubang untuk mengubur dan untuk mempersiapkan itu butuh paling tidak 4 jam sebelum pemakaman,’’ jelasnya. 

Baca Juga: Kisah Penggali Kubur COVID-19, Dilarang Pulang hingga Dijauhi Tetangga

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya