Comscore Tracker

Tim Peneliti Vaksin Nusantara dari Fakultas Kedokteran UGM Mundur

Pengembangan vaksin Nusantara sejak 12 Oktober 2020

Semarang, IDN Times - Pengembangan Vaksin Nusantara tidak hanya menuai  pertanyaan dari banyak pihak. Baru-baru ini dilaporkan, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) mundur dari tim pembuatan Vaksin Nusantara.

Dua dosen dan satu dekan FK-KMK UGM memutuskan tidak terlibat dalam penelitian Vaksin Nusantara, yang digagas oleh mantan menteri kesehatan Terawan Agus Putranto.

Lalu bagaimana dengan peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) dan RSUP Dr Kariadi Semarang, yang terlibat pada pengembangan Vaksin Nusantara? Sampai di mana perkembangan penelitian Vaksin Nusantara hingga saat ini?

Baca Juga: Beri Catatan soal Vaksin Nusantara Terawan, Kepala BPOM Dicecar DPR

1. Peneliti Vaksin Nusantara dari Undip Semarang menolak berkomentar

Tim Peneliti Vaksin Nusantara dari Fakultas Kedokteran UGM MundurPetugas kesehatan menunjukan vaksin saat simulasi uji klinis vaksin COVID-19 (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Saat dihubungi IDN Times melalui aplikasi pesan WhatsApp, Rabu (10/3/2021), anggota tim peneliti Vaksin Nusantara Dr Yetty Movieta Nency, menolak berkomentar mengenai perkembangan penelitian yang sedang dilakukan. Termasuk soal keluarnya peneliti UGM dari tim penelitian Vaksin Nusantara.

‘’Tunggu saja nanti publikasi resminya. Sekarang, kami biar fokus meneliti,’’ tuturnya.

Baca Juga: 5 Fakta Jejak Vaksin Nusantara di Semarang, Jaringan Amerika Terlibat

2. Perkembangan penelitian Vaksin Nusantara akan dipublikasikan secara resmi

Tim Peneliti Vaksin Nusantara dari Fakultas Kedokteran UGM MundurInformasi mengenai vaksin nusantara (IDN Times/Sukma Shakti)

Ketika ditanya apakah Vaksin Nusantara sudah memasuki uji klinis tahap kedua, dosen Fakultas Kedokteran Undip itu menyampaikan, saat ini belum memasuki uji klinis tahap kedua. Namun secara spesifik ia justru meminta untuk bisa mengonfirmasi kepada bagian Litbangkes Kementerian Kesehatan.

‘’Langsung hubungi Litbangkes saja, karena yang punya proyek ini mereka,’’ tandasnya. 

Pihak RSUP Dr Kariadi Semarang pun juga memberikan tanggapan yang sama saat ditanya terkait perkembangan penelitian Vaksin Nusantara.

Untuk diketahui, penelitian vaksin yang menggunakan metode sel dendritik autolog itu dilakukan di laboratorium rumah sakit milik pemerintah pusat itu. 

‘’Untuk publikasi penelitian vaksin sementara cukup ya. Nanti menunggu perkembangan baru nggih (red: ya),’’ ujar Humas RSUP Dr Kariadi, Parna, ketika dihubungi IDN
Times, Rabu.

3. Tim peneliti Vaksin Nusantara belum bersedia diwawancara

Tim Peneliti Vaksin Nusantara dari Fakultas Kedokteran UGM MundurVaksinasi sopir dan driver ojek online di Tangerang (ANTARA FOTO/Fauzan)

Parna juga meminta maaf, karena tim peneliti Vaksin Nusantara di RSUP Dr Kariadi belum bisa melayani wawancara kepada awak media.

‘’Mohon maaf tim minta waktu agar bisa melanjutkan tugas penelitian yang masih panjang. Jadi mohon maaf untuk sementara belum bisa melayani wawancara. Terima kasih,’’ ungkapnya.

Hal senada disampaikan Humas Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Utami Setyowati, saat dikonfirmasi IDN Times belum lama ini.

"Sudah saya tanyakan ke tim dokter peneliti. Untuk saat ini sedang fokus penyempurnaan fase (uji klinis) I. Untuk sementara belum bersedia untuk di-interview. Mohon maaf," katanya.

Untuk diketahui, tim pengembangan dan peneliti Vaksin Nusantara terdiri dari PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bersama AIVITA Biomedical asal Amerika Serikat, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, RSUP Dr Kariadi Semarang, dan Litbangkes Kemenkes.

4. Pengembangan Vaksin Nusantara sudah dilakukan sejak 12 Oktober 2020

Tim Peneliti Vaksin Nusantara dari Fakultas Kedokteran UGM Mundur(Simulasi uji klinis vaksin sinovac COVID-19 di RSUP Unpad, Kota Bandung) IDN Times/Azzis Zulkhairil

Vaksin Nusantara dikembangkan menggunakan teknologi sel dendritik, di mana satu vaksin dibuat hanya untuk satu orang, sehingga Terawan dan tim mengklaim aman bagi orang yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan.

Cara kerja Vaksin Nusantara berasal dari sel dendritik autolog (komponen dari sel darah putih) yang dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-COV-2. Sel dendritik yang telah mengenal antigen akan diinjeksikan ke dalam tubuh kembali. Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap SARS COV-2.

Berbagai proses sudah dilalui dalam pengembangan vaksin sejak 12 Oktober 2020, yakni dengan penetapan tim penelitian uji klinis vaksin sel dendritik oleh Kemenkes KMK No. HK.01.07/MENKES/2646/2020. Kemudian, tanggal 23 Desember 2020 sampai 6 Januari 2021 penyuntikan uji klinis fase pertama hingga 11 Januari 2021, dan 3 Februari 2021 dilakukan monitoring dan evaluasi.

Baca Juga: Uji Klinis Vaksin Nusantara Diam-diam Mencatut Nama Peneliti UGM

Topic:

  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya