Comscore Tracker

Tragedi AMARAH dan Pemantik Reformasi dari Tanah Makassar

Jauh sebelum reformasi 1998 terjadi, mahasiswa Makassar sudah menyuarakan protes terhadap Soeharto. Tiga di antaranya harus meregang nyawa.

Makassar, IDN Times - Sejarah perjuangan mahasiswa untuk menggulingkan Presiden Soeharto tak bisa dilepaskan dari Kota Makassar. Meski puncak aksi menuntut reformasi terjadi di Jakarta, namun pergerakan mahasiswa di daerah tersebut tak bisa dipandang sebelah mata.

Bahkan, Makassar disebut sebagai pemantik adanya pergerakan masif dari mahasiswa. Ini tak lepas dari meninggalnya tiga orang mahasiswa Makassar pada tahun 1996 saat menyuarakan protes terhadap kepemimpinan Soeharto.

1. Dimulai dengan peristiwa "AMARAH" pada 24 April 1996

Tragedi AMARAH dan Pemantik Reformasi dari Tanah MakassarPantai Losari, salah satu landmark Kota Makassar. Pergerakan mahasiswa dari kota ini menjadi pemantik gerakan pro-reformasi. (IDN Times/Ardiansyah Fajar)

Pergerakan mahasiswa di Makassar sebenarnya sudah dimulai sejak 5 tahun sebelum reformasi. Namun, gerakan ini sifatnya masih terselubung karena kekangan penguasa. Berbagai upaya untuk berpendapat dilakukan oleh mahasiswa. Salah satu yang dilakukan adalah dengan membentuk lembaga pers mahasiswa. Namun mereka menamainya Media Mahasiswa karena penggunaan nama Pers saat itu dilarang oleh Departemen Penerangan. 

Media mahasiswa inilah yang disebut menjadi menjadi cikal bakal pergerakan mahasiswa di Makassar dan menjalar ke Yogyakarta, Surabaya, Palembang bahkan Jakarta. Lewat media mahasiswa, para civitas akademik mulai bisa mengkritisi kepemimpinan Soeharto. Puncaknya pada tahun 1996. Protes keras disuarakan mahasiswa di Makassar terutama Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar dan Universias 45 Makassar. 

IDN Times pun mencoba menggali informasi dari seorang aktivis 1998 asal Makassar, Zulkifli Tahir. Ia masih mengingat betul kejadian pada 24 April 1996 yang terkenal dengan nama April Makassar Berdarah (AMARAH ). Saat itu, ia mengaku sedang duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA). "April berdarah itu terjadi bentrokan antara mahasiswa UMI yang demo menutup jalan dengan aparat. Mengakibatkan tiga korban jiwa meninggal, ini yang menjadi protes keras sebelum kejadian di Medan dan Jakarta untuk meminta Soeharto lengser" ujarnya saat ditemui di Makassar, Jumat (5/5).

Tiga korban tewas antara lain, Syaiful Bya, (21) mahasiswa teknik arsistektur UMI. Ia ditemukan meninggal di sungai Pampang, dengan luka memar di bagian dada dan belakang seperti bekas pukulan pada 24 April 1996. Kemudian Andi Sultan Iskandar (21) mahasiswa ekonomi akuntansi UMI yang meninggal dengan luka pada dada bagian kiri bekas tusukan benda tajam. Terakhir adalah Tasrif, (21) mahasiswa ekonomi studi pembangunan UMI, meninggal akibat benda keras dan dibunuh kemudian ditenggelamkan di sungai Pampang.

2. AMARAH dipicu kenaikan tarif angkutan kota

Tragedi AMARAH dan Pemantik Reformasi dari Tanah MakassarArqam, salah satu aktivis 98 Makassar saat ditemui IDN Times, Sabtu (6/5). (IDN Times/Ardiansyah Fajar)

Sementara itu, Wakil Ketua Senat 1994-1995 FISIP Universitas Sultan Hassanudin (UNHAS) Makassar sekaligus aktivis 98 Makassar, Arqam Azikin menceritakan AMARAH berawal dari kebijakan pemerintah dan keluarnya SK Menteri Perhubungan tentang kenaikan tarif angkutan umum yang ditindak-lanjuti dengan SK walikota Makassar tentang penyesuaian tarif angkutan kota di kota Makassar pada 3 April 1996.

Kebijakan itu dianggap sangat memberatkan dan membuat semakin terpuruknya ekonomi masyarakat, dari inilah muncul geliat-geliat mahasiswa Makassar dalam merespons kebijakan pemerintah yang sangat tidak memihak masyarakat. 

Geliat-geliat ini akhirnya berakibat digelarnya aksi demonstrasi besar-beasaran oleh mahasiswa Makassar. Pada 8 April 1996 pukul 10.00 WITA misalnya, sekitar 200an mahasiswa yang tergabung dalam forum Pemuda Indonesia Merdeka (FPIM) menggelar mimbar bebas di kampus UMI dan kemudian menuju ke DPRD Provinsi Sulsel untuk mengajukan memorandum pencabutan SK maut dari Gubernur. Aksi itu berlanjut 22 April 1996. FPIM kembali menggelar mimbar bebas di kampus UMI.

"Lalu, 23 April 1996 siang Mahasiswa UMI menggelar aksi spontan dengan menahan mobil Damri di Jalan Urip Sumoharjo sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah. Terjadilah bentrokan, kemudian kami dari UNHAS melakukan long march ke UMI pada 24 April 1996 pagi. Sewaktu kembali ke UNHAS lagi sore itu kami dengar bentrok parah aparat sampai masuk kampus. Dan ada korban teman kami UNHAS. Dari sinilah pemicu gerakan lebih masif terjadi," terang Arqam saat ditemui di Makassar, Sabtu (6/5).

3. Merembet pada perusakan dan penjarahan rumah etnis Tionghoa tahun 1997

Tragedi AMARAH dan Pemantik Reformasi dari Tanah MakassarMeski sempat menjadi sasaran amuk massa, kawasan Pecinan Makassar kini tetap bertahan sebagai pusat pertokoan. (IDN Times/Ardiansyah Fajar)

Pasca peristiwa AMARAH, Makassar makin mencekam. Memasuki tahun 1997, kesenjangan ekonomi kian terasa. Zulkifli yang kala itu bersiap kuliah ke Yogyakarta mengingat kalau tahun 1997 krisis ekonomi di Makassar dan seluruh Indonesia tak karuan. Rasa sentimen terhadap orang asing dan etnis Tionghoa mulai muncul. Akibatnya, kawasan pecinan mulai dari Jalan Sulawesi hingga ke Jalan Dotu Museng dan sekitarnya jadi sasaran amuk massa.

Setelah diusut mendalam, salah satu pemicu peristiwa kerusuhan itu adalah terbunuhnya seorang anak sepulang mengaji. Pembunuhan itu diduga dilakukan oleh seorang warga Tionghoa bernama Benny. Yang lebih membuat mahasiswa marah adalah korban merupakan anak seorang dosen.

Tragedi AMARAH dan Pemantik Reformasi dari Tanah MakassarTampak pengendara motor melintas di kawasan Pecinan Makassar yang dulunya sempat mengalami penjarahan pada tahun 1998. (IDN Times/Ardiansyah Fajar)

"Itu Beny memang dikenal tidak waras. Massa langsung meledak semua, mahasiswa juga turun karena anaknya dosen kan. Tapi, tidak semuanya dirusak, mereka (etnis Tionghoa) mempunyai siasat dengan memajang sajadah di depan rumahnya menandakan kalau pro muslim dan orang Makassar Sebenarnya juga ada pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa tapi tidak diusut tuntas. Pangdam waktu itu masih Agung Gumelar," ungkap Zulkifli.

Meski sempat menjadi sasaran rusuh massa, kawasan tersebut saat ini tetap dipertahankan sebagai pusat pertokoan. Namun, beberapa rumah memang terlihat kosong.

Baca juga: Tak Kalah Heroik, Begini Aksi Mahasiswa Surabaya Menuntut Reformasi 1998

3. Pada tahun 1998 angin reformasi makin kencang, massa berkumpul di Lapangan Karebosi

Tragedi AMARAH dan Pemantik Reformasi dari Tanah MakassarLapangan Karebosi, salah satu titik berkumpulnya massa saat demo menuntut reformasi. (IDN Times/Ardiansyah Fajar)

Sementara Arqam mengaku masih mengingat betul saat memasuki tahun 1998. Geliat gerakan dan gelora semangat mahasiswa untuk menggulingkan Soeharto kian deras. Ia pun tidak mau ketinggalan untuk bergabung bersama para aktivis lainnya meski sudah dinyatakan lulus dari UNHAS Makassar.

"Pada Bulan Maret, tepatnya tanggal 11 itu saya sidang skripsi. Kondisi di kampus sudah sangat tidak kondusif. Aktivitas yang ada kebanyakan turun jalan semua. Demo di mana-mana, setelah saya dipastikan lulus saya langsung gabung dengan adik-adik dan aktivis lainnya," ungkap Arqam.

Tragedi AMARAH dan Pemantik Reformasi dari Tanah MakassarLapangan Karebosi saat ini menjadi ruang pubik dan salah satu landmark Makassar selain benteng Fort Rotterdam. (IDN Times/Ardiansyah Fajar)

Puncaknya, lanjut Arqam, ketika masuk bulan Mei para mahasiswa dan masyarakat makin berapi-api. Ia menyebut tokoh seperti Amien Rais, Adnan Buyung, Yousril dan diperkuat dengan retaknya kondisi internal kabinet, membuat mahasiswa termotivasi lebih getol menjatuhkan kekuasaan Soeharto.

"Pada tahun 1998 inilah media sudah berani memberitakan, teman-teman semakin bergejolak. Apalagi saat ada berita tertembaknya mahasiswa Trisakti itu menjadi puncak kemarahan kami. Semua langsung berkumpul di Lapangan Karebosi untuk aksi menggulingkan Soeharto dan saya punya firasat dia akan mundur;" ungkapnya.

4. Banyak yang menghianati cita-cita reformasi

Tragedi AMARAH dan Pemantik Reformasi dari Tanah MakassarIDN Times/Sukma Shakti

Firasat Arqam pun terjawab, pada 21 Mei 1998 kekuasaan keluarga Cendana pun berakhir. Ia mengatakan euforia di Makassar tak bisa lagi dibendung. Para mahasiswa bersuka cita bak merayakan kemenangan setelah perjungan bertahun-tahun melengserkan Soeharto.

Namun, setelah 20 tahun berjalan, Arqam menilai bahwa cita-cita reformasi belum sepenuhnya terwujud. "Karena reformasi kala itu tidak memiliki kejelasan arah mau dibawa ke mana. Keterbukaan sudah ada, janji untuk sistem politik sudah terwujud mulai munculnya banyak elit parpol. Tapi, mental orba masih ada. Banyak koruptor yang sejatinya mereka yang ingin reformasi terwujud justru menghianatinya bahkan lebih parah," pungkas Arqam.

Baca juga: 'Student Movement in Indonesia' Ingatkan Soal Harga Mahal sebuah Reformasi

 

 

Topic:

Berita Terkini Lainnya