Comscore Tracker

Miris, 80 Warga Desa di Sumut Hanya Nikmati Listrik 2 Jam Sehari

Anak-anak terganggu saat belajar pada malam hari

Tapanuli Tengah, IDN Times - Sudah 74 tahun Indonesia merdeka, tapi masih ada warga di Desa Huta Tombak, Kecamatan Sosorgadong, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, belum bisa menikmati listrik sepenuhnya dari PT PLN.

Desa terluar di Tapanuli Tengah bagian selatan ini berjarak 70 kilometer dari pusat Kota Pandan. Di desa ini, ada sebanyak 109 kepala keluarga (KK) yang belum menikmati listrik sepenuhnya.

"Di sini ada 109 KK, dan yang terlayani listrik hanya 20-an KK," kata Kepala Desa Huta Tombak Lisber Habeahan, Jumat (21/6).

Artinya ada sekitar 80-an KK lagi yang belum menikmati listrik di rumahnya. Yuk simak kisahnya.

1. Satu KK hanya bisa menikmati listrik selama dua jam dari mesin genset

Miris, 80 Warga Desa di Sumut Hanya Nikmati Listrik 2 Jam SehariIDN Times/Hendra Simanjuntak

Listrik masuk ke desa ini sejak 2017. Tapi bagi warga yang belum terlayani listrik, mereka hanya memanfaatkan tenaga mesin genset selama dua jam setiap harinya.

"Untuk mengalirkan listrik ke rumah warga, kami menggunakan tenaga diesel. Itu pun tak bisa menerangi rumah warga selama 24 jam, hanya dua jam saja, mulai jam tujuh malam sampai jam sembilan malam," kata Lisber.

Menurut Lisber, jarak tempuh menuju ke Desa Huta Tombak memang tidak mudah. Kondisi kemiringan jalan yang mencapai 50 derajat, hanya bisa dilalui mobil kecil dan sepeda motor.

"Kalau Desa Simargarap (Kecamatan Sosorgadong) memakan waktu dua jam, itu pun hanya bisa dilalui sepeda motor," kata dia.

Baca Juga: Usung Konsep Baru, Yuk Ramaikan Festival 1.000 Tenda di Desa Meat

2. Setiap hari warga bergantian membeli solar

Miris, 80 Warga Desa di Sumut Hanya Nikmati Listrik 2 Jam SehariIDN Times/Hendra Simanjuntak

Menikmati listrik dari tenaga genset, tentu warga harus membutuhkan bahan bakar diesel atau solar. Untuk membeli bahan bakar tersebut, setiap warga harus mengeluarkan uang Rp40 ribu setiap bulan.

"Satu KK menanggung dua liter (solar) untuk satu hari. Hari berikutnya warga yang lain. Dalam satu bulan itu, satu KK bisa kena dua kali. Nyalanya hanya dua jam untuk makan malam saja," kata Lisber.

Jarak rumah warga yang berjauhan juga menjadi kendala yang mereka hadapi saat ini. Untuk mengaliri listrik ke seluruh warga, mereka harus menambah kabel listrik yang panjang.

"Yang jadi masalah, jarak dari satu rumah warga ke rumah warga lainnya itu berjarak sampai 150 meter, jadi kabel yang ada saat ini masih kurang. Tahun depan kami berencana akan nambah kabel," ungkap Lisber.

3. Butuh bantuan panel surya untuk solusi penerangan

Miris, 80 Warga Desa di Sumut Hanya Nikmati Listrik 2 Jam Sehariebtke.esdm.go.id

Rencananya desa mereka akan mendapat bantuan listrik tenaga surya dari pemerintah. Jika bantuan itu terealisasi, maka setiap rumah akan dipasangi panel surya (solar panel) untuk menyuplai listrik.

"Kemarin kita dapat lampu jalan, untuk percontohan sudah dipasang PLTS, tapi belum bisa difungsikan dan dananya dari dana desa sebanyak tujuh unit," tutur Lisber.

4. Warga Desa Huta Tombak berharap dapat bantuan pemerintah

Miris, 80 Warga Desa di Sumut Hanya Nikmati Listrik 2 Jam SehariPexels.com/Dazzle Jam

Minimnya pelayanan listrik ke Desa Huta Tombak memang menjadi kendala bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas pada malam hari. Bila malam tiba, anak-anak di desa ini kesulitan belajar.

"Kalau pulang sekolah, anak-anak di desa ini pergi ke ladang mulai siang hingga sore, untuk membantu orangtuanya, jadi belajar nya saat malam hari. Sementara, lampu di rumah hanya menyala selama dua jam setiap malam," kata Pasaribu, Warga Desa Huta Tombak.

Melihat kondisi di desa mereka yang belum seluruhnya menikmati listrik, ia dan warga lainnya berharap agar pemerintah segera mengirim bantuan listrik supaya desa mereka bisa menikmati listrik selama 24 jam.

"Kami juga ingin seperti warga lainnya, menikmati listrik selama 24 jam, memiliki TV untuk mengetahui informasi di luar," kata Pasaribu.

5. Harus naik bukit setinggi 700 meter untuk dapat sinyal telepon selular

Miris, 80 Warga Desa di Sumut Hanya Nikmati Listrik 2 Jam SehariDok.IDN Times/istimewa

Minimnya pasokan listrik ke Desa Huta Tombak, tidak hanya dikeluhkan Pasaribu. Saat ditemui, seorang pemuda bermarga Purba juga mengaku harus pergi ke rumah warga yang dialiri listrik untuk menonton televisi.

"Saya ingin sekali desa kami dialiri listrik 24 jam, sama seperti yang lainnya. Mudah-mudahan pemerintah bisa membantu kami yang ada di Desa Huta Tombak," kata pemuda 25 tahun itu.

Selain pelayanan listrik minim, warga Desa Huta Tombak juga dihadapkan dengan sulitnya jaringan telekomunikasi. Untuk melakukan komunikasi melalui telepon selular, tidak sedikit warga harus ke bukit yang berjarak sekitar 700 meter dari desa mereka.

"Kita harus ke bukit agar bisa telepon dan SMS," ujar Purba.

Desa Huta Tombak memang berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, dan merupakan desa tertua di Kecamatan Sosorgadong.

Baca Juga: Manohara Datang ke Kota Medan, Ada Apa Ya?  

Topic:

  • Rochmanudin

Just For You