Comscore Tracker

Yoga Massal Tanpa Protokol COVID-19 di Bali, WNA Suriah Dideportasi

Barakeh saat ini ditahan di Rumah Detensi Imigrasi Bali

Gianyar, IDN Times – Seorang warga negara asing asal Suriah, Barakeh Wissam Salem (45), di deportasi ke negaranya gegara bertanggung jawab terhadap kegiatan yoga massal tanpa menaati protokol kesehatan COVID-19.

Yoga massal itu berlangsung di House of Om Bali, Ubud, Kabupaten Gianyar, pada Kamis 18 Juni 2020, mulai pukul 17.00 hingga 19.00 Wita. Barakeh merupakan direktur House of Om (PT. Aum House Bali), yang bertanggung jawab terhadap kegiatan tersebut. 

Namun sebelum Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwilkumham) Bali menindak Barakeh, Sekretaris Daerah Kabupaten Gianyar sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID-19 Kabupaten Gianyar, Made Gede Wisnu Wijaya, terlebih dulu mengontak Bendesa Adat Bitera terkait hal ini.

“Teguran langsung sudah dilaksanakan, dan dia sudah berjanji tidak akan mengulangi karena kehadirannya di luar rencananya. Bapak Bupati sudah tegas kalau mengulangi sanksinya akan ditutup,” jelas Made, Selasa (23/6).

Kemenkumham Bali kemudian mengambil langkah tegas dengan mendeportasi Barakeh. Sebab, WNA tersebut diduga melakukan sejumlah pelanggaran berikut ini:

  1. Kegiatan tersebut tidak mendapat persetujuan resmi dari Desa Adat setempat (hanya pemberitahuan secara lisan)
  2. Pelaksanaan kegiatan tersebut diduga menyalahi aturan protokol kesehatan COVID-19 karena tidak ada social distancing, tidak menggunakan masker, dan tidak ada pembatasan jumlah peserta yang hadir, seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah
  3. Pelaksanaan kegiatan tersebut yang dilaksanakan di tengah masa pandemik COVID-19 dapat membahayakan kesehatan masayarakat sekitar
  4. Penanggung jawab kegiatan tidak berusaha membubarkan atau membatalkan acara tersebut, setelah mengetahui bahwa jumlah peserta yang hadir melebihi dari apa yang telah ditentukan oleh pemerintah

Baca Juga: Penambahan Tertingi di Bali! Sehari Ada 33 Kasus Positif, Dua WNA

1. Acara yoga massal di-share melalui instastory dan diikuti sekitar 60 wisatawan asing

Yoga Massal Tanpa Protokol COVID-19 di Bali, WNA Suriah DideportasiPara wisatawan tengah mengikuti yoga massal tanpa mengikuti protokol kesehatan di Ubud, Gianyar. (facebook/gustielangarya)

Acara yoga massal yang berlangsung di tengah pandemik virus corona itu, dihadiri sekitar 60 wisatawan asing. Mereka kedapatan tidak mematuhi protokol kesehatan COVID-19.

Aktivitas tersebut juga ramai tersebar di media sosial. Selain mengikuti acara yoga saat itu, para wisatawan yang datang juga tengah menggalang dana untuk membantu masyarakat yang kurang mampu.

Kasi Intelejen dan Penindakan Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I TPI Denpasar, Yoga Arian Prakoso mengatakan, timnya segera mendatangi lokasi pada Selasa (23/6) setelah mendapatkan laporan dari masyarakat.

Berdasarkan pengakuan Barakeh ke Kanim Kelas I TPI Denpasar, acara tersebut hanya disebar atau di-share melalui instastory House of Om Bali.

“Kemarin masih boleh pulang yang bersangkutan, dokumennya kami tahan. Tadi kami ambil lagi yang bersangkutan pukul 14.00 Wita,” kata Yoga, Rabu (24/6).

Baca Juga: Depresi, Pria WNA di Bali Jalan-jalan Sambil Telanjang Bulat

2. Barakeh saat ini ditahan di Rumah Detensi Imigrasi Bali

Yoga Massal Tanpa Protokol COVID-19 di Bali, WNA Suriah DideportasiWNA Suriah yang merupakan Direktur PT Aum House Bali meditasi di kamar detensi imigrasi (Dok.IDN Times/Humas Kanwilkumham Bali)

Barakeh diketahui mengantongi izin tinggal model ITAS Investor yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar, yang berlaku dari 12 Desember 2019 sampai 11 November 2021.

Dalam kegiatan yoga massal ini, Barakeh disebutkan terbukti bersalah tidak mematuhi Permenkes Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), dan Instruksi Gubernur Bali Nomor 8551 Tahun 2020 tentang Penguatan Pencegahan dan Penanganan COVID-19 di Bali, yaitu mengenai pembatasan kegiatan yang melibatkan paling banyak 25 orang.

Kepala Kemenkumham Bali Jamaruli Manihuruk menjatuhkan sanksi tindakan administratif Keimigrasian, sesuai Pasal 75 Ayat 1 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian yang bunyinya sebagai berikut:

"Pejabat Imigrasi berwenang melakukan Tindakan Administratif Keimigrasian terhadap Orang Asing yang berada di Wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan berbahaya dan patut diduga membahayakan keamanan dan ketertiban umum atau tidak menghormati atau tidak menaati peraturan perundang-undangan".

“Tadi kan yang dilanggar Pergub, tapi kan menyangkut juga Undang-Undang Imigrasi penyalahgunaan izin tinggalnya,” terang Jamaruli.

Dia menegaskan, sanksi yang dimaksud adalah mendeportasi Barakeh. Namun karena kondisi saat ini terkendala akses penerbangan, maka yang bersangkutan ditahan di Rumah Detensi Imigrasi (rudenim) sebagai tahanan rudenim (Deteni/tahanan imigrasi).

Proses penahanan Deteni di rudenim bisa sampai 30 hari sebelum akhirnya dideportasi. Petugas juga akan segera melakukan rapid test terhadap Barakeh.

“Salah satunya ya kami tahan di rumah detensi (rudenim) ini. Ya nanti kami pulangkan ke negaranya, deportasi. Soal status yang bersangkutan saat ini adalah sebagai Deteni yang dengan sendirinya izin tinggal dia kami batalkan,” tegas Jamaruli.

3. Tidak semua kegiatan orang asing bisa dihubungkan dengan imigrasi

Yoga Massal Tanpa Protokol COVID-19 di Bali, WNA Suriah DideportasiKepala Divisi Keimigrasian Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Sulsel Dodi Karnida. IDN Times/Rudenim Makassar

Terkait penindakan terhadap orang asing yang melanggar aturan selama masa pandemik virus corona ini, Jamaruli mengatakan, hal tersebut bisa ditelusuri selama ada laporan maupun informasi dari masyarakat.

“Kami tidak tinggal diam. Kalau ada laporan mau tiga bulan yang lalu pun bisa saja kami cek lagi. Asal itu nanti terbukti ada pelanggarannya. Nah itu bisa kami lakukan,” ujarnya.

Sebelumnya, pelanggaran protokol kesehatan COVID-19 juga terjadi di beberapa wilayah misalnya Restaurant Oldmans, private party di wilayah hukum Polres Badung, dan keramaian di beberapa lokasi di Seminyak. Namun, itu hanya berujung pada permintaan maaf saja.

Menanggapi hal tersebut, Jamaruli menegaskan, bahwa tidak semua kegiatan orang asing bisa dihubungkan dengan imigrasi. Mengingat kegiatan mereka beragam jenisnya.

“Kalau memang nanti menyangkut urusan imigrasi baru kami turun. Begitu juga dengan perkumpulan-perkumpulan tadi, misalnya private party. Kalau mereka tidak melakukan pelanggaran keimigrasian, ya kami tidak bisa,” tegasnya.

Topic:

  • Sunariyah
  • Jumawan Syahrudin

Berita Terkini Lainnya