Comscore Tracker

Pakar: Sunda Empire dan Kerajaan Agung Sejagat Masyarakat Utopis

Kenapa muncul kelompok ini?

Bandung, IDN Times - Kekaisaran Sunda Empire tengah menjadi perbincangan di media sosial. Ramainya pembicaraan Sunda Empire ini setelah kegiatan mereka yang disebut-sebut berlangsung di Kota Bandung, Jawa Barat, dan viral di media sosial.

Lalu, bagaimana pandangan secara sosiologi munculnya kelompok-kelompok Sunda Empire dan Kerajaan Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. Berikut pendapat Pengamat Sosiolog Universitas Padjadjaran (Unpad) Aei Ganjar.

1. Ridwan Kamil dinilai tidak pantas menuduh pengikut Sunda Empire stres

Pakar: Sunda Empire dan Kerajaan Agung Sejagat Masyarakat UtopisGubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (tengah). (Dok.Humas Jabar)

Pakar Sosiolog Universitas Padjajaran (Unpad) Ari Ganjar menilai, kemunculan kelompok-kelompok yang menghebohkan masyarakat Indonesia saat ini belum tentu karena faktor psikologis.

"Apakah mereka itu sakit mental, tentu saja pakar psikologi yang menentukan. Tidak bisa pejabat pemerintah yang menentukan dengan seenaknya mengatakan itu orang stres, orang sakit jiwa, itu gak bisa. Harus pakar yang menentukan," ujar Ari saat dihubungi, Minggu (19/1).

Menurut Ari, pejabat publik tidak seenaknya menuduh fenomena Sunda Empire tanpa melalui kajian. Peristiwa kemunculan kekaisaran diduga fiktif Sunda Empire bisa dimungkinkan karena faktor permasalahan sosial.

"Kalau ini orang-orang stres, kenapa ada di Bandung? Bukanya di Bandung itu memiliki indeks kebahagiaan yang tinggi? Kenapa sampai ada stres?" ucap dia.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil baru-baru ini ikut berkomentar di media sosial, soal munculnya Sunda Empire. Bahkan, dia menyebut-nyebut sekarang ini banyak orang stres.

"Ini banyak orang stres di republik ini. Banyak menciptakan ilusi-ilusi yang sering kali romantisme-romantisme sejarah ini, ternyata ada orang yang percaya juga jadi pengikutnya," ucap Emil, Jumat (17/1).

Baca Juga: Ada Sunda Empire, Wali Kota Bandung Oded M Danial: Jangan Bikin Gaduh!

2. Sunda Empire termasuk kelompok masyarakat utopis

Pakar: Sunda Empire dan Kerajaan Agung Sejagat Masyarakat UtopisKelompok Sunda Empire (facebook.com/queen.renny)

Ari mengatakan, kemunculan kerajaan diduga fiktif yang terjadi di beberapa daerah akhir-akhir ini, disebabkan beberapa faktor yang tidak bisa dipastikan, tanpa ada penyelidikan mendalam.

Dalam kaca mata sosilogis, pencetus dan pengikut Sunda Empire atau Kerajaan Agung Sejagat, merupakan kelompok yang percaya pada teori konspirasi.

"Mereka bisa dikatakan masyarakat utopis. Dalam sosiologi ada kajian masyarakat utopis. Nah, masyarakat utopis ini dia punya visi yang ideal, tetapi dalam dunia nyata itu hampir mustahil bisa dicapai atau tidak realistis. Tapi bagi mereka hal itu merupakan sesuatu yang realistis pada angan-angannya," terang dia.

3. Karena kecewa pada fenomena sosial atau politik sekitarnya

Pakar: Sunda Empire dan Kerajaan Agung Sejagat Masyarakat UtopisIlustrasi (IDN Times/Helmi Shemi)

Setelah memiliki sesuatu yang ideal, mereka akan bergerak atau tergerak untuk berkumpul. Menurut Ari, berkumpulnya mereka karena persamaan visi.

"Terbentuknya itu cenderung lebih karena kekecewaan terhadap fenomena sosial atau politik yang ada di sekitar mereka," kata dia.

Ari menilai di dalam kelompok itu mereka berbagi tidak hanya karena kesamaan pandangan ataupun ideologi. Tetapi juga mereka menemukan kenyamanan, interaksi yang sama, dan kepercayaan yang barangkali di dunia sebelumnya tidak mereka dapatkan.

4. Keberadaan mereka tidak mengancam kedaulatan negara

Pakar: Sunda Empire dan Kerajaan Agung Sejagat Masyarakat UtopisIlustrasi (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Namun, menurut Ari, kerajaan-kerajaan fiktif yang belakangan ini viral di media sosial, tidak akan berpengaruh pada kedaulatan negara Indonesia. Sebab, fenomena itu muncul sama sekali tidak dilandasi dokumen yang kuat.

"Dari pandangan saya, mereka tidak punya kapasitas untuk membangun kekuatan yang bisa mengancam negara. Tapi mereka tentu meresahkan. Jangan kan mengancam negara. Terhadap masyarakat di sekitarnya saja, mereka saya kira sudah menghadapi satu hambatan besar," kata dia.

5. Akibat modal sosial yang lemah

Pakar: Sunda Empire dan Kerajaan Agung Sejagat Masyarakat UtopisFanni Aminadia, permaisuri Kerajaan Agung Sejagat (ketiga kiri) saat diamankan polisi. (ANTARA FOTO/Immanuel Citra Senjaya)

Sikap dan kehadiran kelompok-kelompok itu, kata Ari, merepresentasikan modal sosial di negara ini semakin lemah.

"Dari sudut pandang sosiologi, keberadaan mereka itu kan merepresentasikan modal sosial kita yang semakin lemah. Modal sosial kita sebagai masyarakat sosial itu harusnya saling memperhatikan, saling berpartisipasi," kata dia.

Dari modal sosial yang lemah tersebut, kata Ari, orang akan mencari pihak lain yang bisa dipercaya di luar lingkungan sekitarnya. Karena ikatan sosial di sekitarnya sudah longgar.

Baca Juga: Sunda Empire Diduga Berpusat di Subang

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya