Comscore Tracker

Ridwan Kamil Tak Kuasa Dongkrak Suara Jokowi di Jabar, Kenapa?  

Kepopuleran Ridwan Kamil disebut akan dongkrak suara Jokowi

Bandung, IDN Times - Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko "Jokowi" Widodo-Ma'ruf Amin harus mengakui keunggulan lawannya, pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto- Sandiaga Uno di Jawa Barat.

Meski sejak jauh-jauh hari Gubernur Provinsi Jawa Barat Ridwan Kamil sudah mentasbihkan diri mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf, nyatanya dukungan orang nomor satu di Provinsi Jabar ini tak mampu mendongkrak perolehan suara Jokowi di wilayahnya.

Ridwan Kamil sendiri baru mendukung Jokowi pada Pemilu 2019. Sebelumnya, pada Pemilu 2014, dia mendukung pasangan Prabowo-Hatta Radjasa. Untuk diketahui, saat itu Ridwan Kamil yang akrab disapa Kang Emil, menjabat sebagai Wali Kota Bandung melalui dukungan Partai Gerindra, yang ketua umumnya adalah Prabowo.

Berubahnya arah dukungan Emil dari Prabowo ke Jokowi pada Pilpres 2019, sempat diprediksi akan memberi dampak magis bagi pasangan calon nomor (paslon) 01. Apalagi, Emil kerap bersafari di akhir pekan ke sejumlah daerah untuk mempromosikan berbagai capaian pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Kepopuleran Emil di mata warga Jabar pun disebut-sebut bakal mendongkrak popularitas Jokowi di Jabar. Harapannya jelas, tim pemenangan nasional Jokowi-Ma'ruf tak ingin mengulang kekalahan menyakitkan di Jabar seperti pilpres 5 tahun lalu.

1. Sudah mampukan Emil mengangkat perolehan suara Paslon 01?

Ridwan Kamil Tak Kuasa Dongkrak Suara Jokowi di Jabar, Kenapa?  ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Berdasarkan hasil rekapitulasi komisi pemilihan umum (KPU) Jabar, Jokowi nyatanya masih kalah dalam perolehan suara dibandingkan Prabowo. Dari 27 kota/kabupaten di Jabar, pasangan Prabowo-Sandi berhasil menguasai perolehan suara di 21 daerah. Sementara pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin hanya unggul di enam daerah yakni Kota Cirebon, Kota Banjar, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon dan Subang. 

Berdasarkan rekapitulasi surat suara untuk pemilihan presiden (pilpres) 2019 di KPU Jabar, pasangan Jokowi-Amin meraih 10.750.568 suara. Sementara pasangan Prabowo-Sandiaga mampu mendulang hingga 16.077.446 suara.

Total pengguna hak pilih dalam Pilpres 2019 di Jabar sebanyak 27.467.370 orang. Sebanyak 26.828.014 dinyatakan sebagai suara sah dan sebanyak 639.356 suara tidak sah. 

2. Peta suara tak beda jauh dengan Pilpres 2014

Ridwan Kamil Tak Kuasa Dongkrak Suara Jokowi di Jabar, Kenapa?  IDN Times/Prayugo Utomo

Pada persaingan Pilpres 2014, di Jawa Barat pasangan Prabowo-Hatta mampu meraup suara mencapai 14.167.381 atau 59,78 persen dengan unggul di 22 kabupaten/kota.

Sedangkan pesaingnya, Jokowi-Jusuf Kalla (JK) hanya berhasil mendapat suara 9.530.315 atau 40,22 persen, dan hanya menang di empat kabupaten/kota yakni Kabupaten Cirebon, Indramayu, Subang, dan Kota Cirebon.

Adapun keunggulan Jokowi-Jusuf Kalla yakni,

1. Kabupaten Cirebon

Prabowo-Hatta: 415.517
Jokowi-JK: 653.687

2. Kabupaten Indramayu

Prabowo-Hatta: 371.044
Jokowi-JK: 540.832

3. Kabupaten Subang

Prabowo-Hatta: 413.671
Jokowi-JK: 447.818

4. Kota Cirebon

Prabowo-Hatta: 78.359
Jokowi-JK: 91.079

Sementara pada Pilpres 2019, Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga kembali  unggul ketimbang Jokowi yang menggandeng Ma-ruf Amin. Meski raihan suara Jokowi meningkat dan daerah yang berhasil memenangkannya bertambah dari empat menjadi enam, tapi total peningkatan suara masih berpihak pada Prabowo.

Berikut perolehan enam daerah yang berhasil dikuasai Jokowi:

1. Kota Banjar

Jokowi-Amin: 63.295
Prabowo-Sandiaga: 55.732

2. Kabupaten Pangandaran

Jokowi-Amin: 164.073
Prabowo-Sandiaga: 96.943

3. Kabupaten Indramayu

Jokowi-Amin: 707.324
Prabowo-Sandiaga: 282.349

4. Kabupaten Subang

Jokowi-Amin: 537.114
Prabowo-Sandiaga: 392.882

5. Kota Cirebon

Jokowi-Amin: 103.878
Prabowo-Sandiaga: 93.036

6. Kabupaten Cirebon

Jokowi-Amin: 823.900

Prabowo-Sandiaga: 449.455

Dengan partisipasi masyarakat yang tumbuh dari 70 persen menjadi 79 persen, pertambahan suara Prabowo di Jabar berhasil mencapai 1.910.65 suara. Sedangkan pesaingnya Jokowi hanya bertambah 1.220.253 suara.

Baca Juga: Klaim Kemenangan Pemilu 54 Persen, Kubu 02 Akan Tarik Saksi di KPU

3. Kepala daerah kurang maksimal dalam berkampanye

Ridwan Kamil Tak Kuasa Dongkrak Suara Jokowi di Jabar, Kenapa?  IDN Times/Debbie Sutrisno

Pengamat Politik Firman Manan menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan perolehan suara Jokowi-Amin di Jabar gagal menyalip suara Prabowo-Sandiaga. Pertama, kepala daerah yang mendukung paslon 01 kurang maksimal dalam berkampanye.

Menurutnya, kepala daerah baik tingkat kabupaten/kota dan provinsi di Jabar yang mendukung Jokowi-Amin sebenarnya banyak. Namun, tidak semua daerah tersebut mampu memenangkan pasangan tersebut.

Saat ini masyarakat berpikir bahwa kepala daerah seharusnya tidak memberikan dukungan untuk paslon manapun. Mereka seharusnya bisa fokus menjalankan roda pemerintahan dan membangun daerahnya masing-masing, jangan sibuk berkampanye.

"Walaupun secara aturan itu (dukungan untuk paslon dan berkampanye) diperbolehkan, tapi masyarakat menilai kalau itu tidak etis," papar Firman ketika dihubungi, Rabu (15/5).

Alhasil, hampir seluruh kepala daerah yang mendukung Jokowi, termasuk Emil, hanya memanfaatkan waktu akhir pekan untuk berkampanye. Hal ini berkebalikan dengan Gubernur Jabar sebelumnya, Ahmad Heryawan (Aher). Kala itu Aher berkampanye secara penuh untuk Prabowo Subianto. Sedangkan Emil yang duduk sebagai Wali Kota Bandung juga ikut serta menyuarakan Prabowo untuk melenggang sebagai presiden.

4. Masyarakat menilai capaian ekonomi pemerintah tidak memuaskan

Ridwan Kamil Tak Kuasa Dongkrak Suara Jokowi di Jabar, Kenapa?  Instagram

Menjelang hari pencoblosan, beberapa lembaga survei merilis masih ada masyarakat yang percaya perekonomian Indonesia di tangan Jokowi kurang berdampak pada masyarakat luas. "Padahal salah satu prioritas alasan memilih seorang pemimpin adalah sektor ini," ujar Firman.

Kondisi masyarakat Jabar yang memiliki pemikiran kritis kemudian membuat mereka ragu memilih petahana, dan lebih yakin perekonomian Indonesia akan semakin baik dan merata dengan kehadiran sosok pemimpin baru.

5. Politik identitas menjadi hal krusial yang disuarakan

Ridwan Kamil Tak Kuasa Dongkrak Suara Jokowi di Jabar, Kenapa?  IDN Times/Abdurrahman

Faktor lain yang membuat suara Jokowi redup di Jabar adalah adanya isu politik identitas. Misalnya, selama masa kampanye, Jokowi tidak pernah lepas dari kriminalisasi ulama.

Pemerintahan saat ini terus dikaitkan dengan aksi penangkapan sejumlah ulama yang dirasa mengada-ada. Hal tersebut memberikan efek negatif di mana Jokowi dianggap tidak dekat dengan para alim ulama meski dia sudah menggandeng mantan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai sinyal bahwa tak ada persoalan pribadi dengan ulama di Indonesia.

"Selain itu ada Ijtima Ulama yang kemudian mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga sebagai representatif pemimpin bagi umat muslim," ujar Firman.

Kemudian, ada juga isu jika Jokowi-Amin terpilih maka tidak akan ada azan di masjid-masjid. Kampanye politik ini juga berkembang di masyarakat Jabar, bahkan hingga ada oknum yang diamankan pihak kepolisian karena informasi tersebut dianggap black campaign.

"Politik identitas ini terpakai di Jabar karena karakteristik Muslim di daerah ini religius. Jadi mereka agak mudah disentuh oleh isu agama," ungkap Firman.

Baca Juga: Ini Pengakuan Anggota KPPS Sakit yang Jalani Perawatan di Rumah Sakit

6. Mesin partai Jokowi-Amin kurang greget

Ridwan Kamil Tak Kuasa Dongkrak Suara Jokowi di Jabar, Kenapa?  ANTARA FOTO/Ampelsa

Hal terakhir yang membuat suara Prabowo lebih tinggi daripada Jokowi di Jabar adalah mesin partai petahana tak bekerja secara optimal untuk mendorong masyarakat mempercayakan kembali Jokowi menjadi presiden.

Firman menilai, sejumlah partai politik yang mengusung paslon 01 melihat bahwa keterpilihan Jokowi hanya akan berdampak banyak pada PDIP sebagai partai pengusung utama. Alhasil parpol pengusung di daerah lebih memilih untuk mengamankan jatah di legislatif baik tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga di pusat.

"Apalagi beberapa partai harus bertarung untuk melewati ambang batas masuk parlemen di Senayan," ungkap Firman.

Di kubu lawan, Gerindra dan PKS justru bisa dibilang memberikan dampak optimal untuk kemenangan Prabowo-Sandiaga di Tanah Priangan. Terlebih selama ini Jabar memang basis dari PKS sehingga militansi mereka untuk mengajak warga memilih Prabowo-Sandiaga tidak diragukan lagi.

Baca Juga: Kuasai Jabar, Prabowo-Sandiaga Unggul di 21 Daerah

Topic:

  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya