Comscore Tracker

Prihatin, 12 Orang Gangguan Jiwa di Bandung Masih Dirantai

Pada 2019, jumlah ODGJ di Bandung naik tajam

Bandung, IDN Times - Masyarakat khususnya di Kota Bandung, Jawa Barat, masih memasung orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Para ODGJ dipasung dengan dirantai baik pada kaki atau tangan mereka.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Bandung, Intan Annisa Fatmawaty mengatakan, sedikitnya terdapat 12 ODGJ yang mendapatkan perlakukan tidak layak.

"Jadi sama yang kemarin ada 2 orang tambahan, totalnya 14 orang," kata Intan ditemui di kantornya, Jumat (28/6).

Intan menuturkan, selama ini pihaknya sudah melakukan sosialisasi, bekerja sama dengan pihak kelurahan maupun Puskesmas setempat yang dekat dengan alamat rumah ODGJ, mengenai tata cara penanganan mereka.

Harapannya, keluarga yang mengurus tidak merantai atau memasung, dan harus memperlakukan ODGJ dengan layak agar bisa sembuh dari penyakitnya. "Karena kalau seperti itu juga kurang manusiawi dan tidak ideal," papar Intan.

Baca Juga: Idap Gangguan Jiwa, Perempuan Ini Melahirkan di Tengah Sawah

1. Jumlah ODGJ di Bandung terus meningkat

Prihatin, 12 Orang Gangguan Jiwa di Bandung Masih DirantaiIDN Times/ Ardiansyah Fajar

Intan menuturkan, dari data yang dihimpun seluruh Puskesmas di Kota Bandung, jumlah ODGJ kian bertambah. Pada 2016 jumlah skizofrenia atau gangguan jiwa cukup lama tercatat 507 orang. Angka ini sempat menurun pada 2017 menjadi 299 ODGJ. Tapi pada 2019, jumlahnya meningkat pesat menjadi 741 orang.

Untuk gangguan akut dan sementara angkanya juga perlahan naik. Pada 2016 mencapai 11 orang, kemudian naik menjadi 24 dan bertambah kembali hingga 86 pada 2018.

"Angka ini masih bisa naik, karena kita belum menghimpun data yang masuk langsung ke rumah sakit tanpa terdata oleh Puskesmas yang dikirim ke kami," ujarnya.

2. Mayoritas penyebab ODGJ karena tekanan mental

Prihatin, 12 Orang Gangguan Jiwa di Bandung Masih Dirantaiunsplash.com/Anthony Tran

Menurut Intan, mayoritas penyebab ODGJ karena tertekan secara mental dengan berbagai faktor. Misalnya, mereka yang bercerai, tekanan ekonomi, hingga mendapat perundungan dari pihak lain.

Masalah-masalah tersebut berlangsung secara lama, dan kemudian akan sampai pada titik puncak membuat orang yang bersangkutan hilang akal dan menjadi ODGJ.

Sebelum masuk dalam fase ODGJ, tekanan yang terjadi tidak datang dalam waktu dekat. Artinya, kondisi yang mampu membuat mental turun terjadi dalam waktu lama dan terus berulang.

"Mereka merasa sangat stres dan depresi, kemudian tidak terkendali dan menjadi ODGJ," papar Intan.

Meski demikian ada juga faktor genetik yang angkanya tidak besar sekitar lima persen. Tapi, angka ini tetap harus diperhatikan karena genetik yang ada ditambah dengan lingkungan kurang mendukung tumbuh kembang sang anak, bisa membuat penyakit ODGJ lebih cepat terjadi.

3. Harus mampu mengatasi persoalan keseharian

Prihatin, 12 Orang Gangguan Jiwa di Bandung Masih DirantaiIDN Times/ Ardiansyah Fajar

Intan menjelaskan, setiap orang sebenarnya berpotensi menjadi ODGJ. Sebab, mental siapa pun bisa tertekan dengan berbagai macam pekerjaan keseharian dan membuat seseorang hilang akal.

Di sini, kemampuan seseorang dalam mengatasi tekanan sangat penting agar mereka bisa menjaga diri, sehingga tekanan yang ada justru berdampak positif.

"Stres itu kan ada yang positif dan ada yang negatif. Itu bagaimana kitanya untuk mengendalikan," paparnya.

4. Langkah meminimalisir ODGJ

Prihatin, 12 Orang Gangguan Jiwa di Bandung Masih DirantaiIDN Times/ Ardiansyah Fajar

Guna meminimalisir ODGJ, Dinkes Bandung berencana membuat program keluarga sehat, di mana salah satu indeksnya adalah tidak ada ODGJ di rumah. Di sisi lain jika ada ODGJ yang berada di rumah, maka masyarakat sekitar wajib ikut memantau penggunaan obat bagi yang terjangkit.

"Kita sedang menyiapkan konsep, sehingga nanti urusan jiwa ini bukan hanya masalah kesehatan," ujar Intan.

Hal ini penting karena keberadaan ODGJ di rumah yang tidak terurus, bisa mengganggu sosial keluarga hingga persoalan ekonomi. Misalnya, ketika ada suami yang ODGJ maka sang istri bisa jadi harus mengurus dia dan tidak mencari nafkah untuk keluarga. Permasalahan ini sudah pasti merepotkan keluarga tersebut.

Baca Juga: Apa itu ODGJ? 5 Hal Penting Ini Perlu Kamu Tahu Tentang Gangguannya

Topic:

  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya