Comscore Tracker

PSBB Jabar, Ridwan Kamil Bolehkan Ojol Antar Penumpang Tapi Ada Syarat

Tranportasi lintas Jabodebek pun harus dikurangi

Bandung, IDN Times - Aturan mengenai ojek daring atau online selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta masih menjadi polemik. Peraturan Gubernur DKI Jakarta menyebut ojek online tidak diperbolehkan mengangkut penumpang, namun masih boleh mengantarkan paket atau makanan.

Namun, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19 yang ditetapkan oleh Menhub Ad Interim Bapak Luhut Binsar Pandjaitan pada 9 April 2020, menyebut pengendalian transportasi pada wilayah yang telah ditetapkan sebagai PSBB seperti Jakarta, di mana disebutkan bahwa untuk sepeda motor baik yang digunakan untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan masyarakat (ojek) dalam hal tertentu dapat mengangkut penumpang dengan syarat-syarat yang ketat sesuai dengan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19. 

Terkait aturan ojek online selama PSBB, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ternyata punya pandangan tersendiri. Berikut penjelasannya.

1. Ojek online masih boleh angkut penumpang, tapi ada syaratnya

PSBB Jabar, Ridwan Kamil Bolehkan Ojol Antar Penumpang Tapi Ada SyaratIlustrasi ojek online (IDN Times/Ardiansyah Fajar)

Kang Emil, begitu dia karib disapa, menilai bahwa ojek online masih bisa mengangkut penumpang. Asalkan, orang yang dibawa adalah mereka yang tengah berjuang di garda terdepan dalam menangani pandemik COVID-19.

"Kalau penumpangnya perawat dan mereka tinggal di kosan atau kontrakan, saat akan ke fasilitas kesehatan seharusnya bisa. Apalagi mereka tidak punya mobil atau motor. itu yang dikecualikan," ujar Emil dalam sebuah teleconference, Sabtu (11/4).

Artinya, lanjut Emil, dalam kondisi seperti ini tidak bisa dipukul rata. Karena bisa jadi ada penumpang yang mereka punya tugas khusus seperti menangani pasien COVID-19.

Baca Juga: Terbitkan Permenhub PSBB, Luhut Bolehkan Ojek Online Bonceng Penumpang

2. Ojek online hanya boleh mengangkut penumpang yang merupakan tenaga medis

PSBB Jabar, Ridwan Kamil Bolehkan Ojol Antar Penumpang Tapi Ada SyaratIlustrasi tenaga medis dengan APD Lengkap (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Namun, selain tenaga medis, ojek online tidak diperbolehkan mengangkut penumpang. Ini berkaitan dengan penyebaran virus corona yang bisa dengan mudah menular kepada orang lain dari mereka yang terpapar COVID-19.

"Maka logikanya untuk penumpang (umum) dilarang karena secara logika kesehatan (bisa menularkan virus)," kata dia.

Jika ojek online maupun ojek pangkalan melakukan itu maka keinginan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus corona tidak maksimal dilakukan.

3. Emil berharap aktivitas KRL dan bus antar kota lebih dibatasi

PSBB Jabar, Ridwan Kamil Bolehkan Ojol Antar Penumpang Tapi Ada SyaratSuasana di dalam gerbong KRL rute Bogor/Depok-Jakarta Kota (IDN Times/Rohman Wibowo)

Selain ojek online dan angkutan kota (angkot) lintas daerah, Emil meminta agar pemerintah pusat agar bisa mengurangi lebih banyak moda transportasi yang berada di daerah Bodebek menuju Jakarta seperti KRL dan TransJakarta. Karena bisa jadi penularan masih akan terjadi ketika banyak orang menggunakan transportasi ini.

"Kami memang inginnya begitu. Kita hanya bisa mengusulkan, tapi untuk itu (KRL dan TransJakarta) kewenangannya bukan di Jabar," papar Emil.

4. PSBB lima daerah sudah ditentukan dan diharap bisa mengurangi dampak COVID-19

PSBB Jabar, Ridwan Kamil Bolehkan Ojol Antar Penumpang Tapi Ada SyaratPengaman PSBB di Halte Adam Malik Petukangan Jakarta Selatan (Dok. Istimewa)

Pemprov Jabar sudah resmi mengajukan permohonan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) lima wilayah secara bersamaan kepada Kementerian Kesehatan. Kelima wilayah itu yakni Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok, serta Kabupaten dan Kota Bekasi (Bodebek). Kelimanya diharapkan masuk ke dalam PSBB Klaster DKI Jakarta dan namanya menjadi Klaster Jabodetabek.

Emil menyatakan, pengajuan status PSBB bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. PSBB mirip dengan sistem lockdown tapi banyak pengecualian misalnya semua urusan logistik tidak boleh berhenti jadi pasar masih buka, transportasi logistik masih jalan, sehingga fleksibilitasnya masih tinggi.

Baca Juga: Izin Sudah Dikantongi, Bogor Berencana Terapkan PSBB Pekan Depan

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya