Comscore Tracker

Kata Sejarawan soal Kerajaan Agung Sejagat yang Hebohkan Purworejo

Perlu kajian mendalam

Purworejo, IDN Times - Kemunculan Kerajaan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah, menghebohkan warga sekitar. Sejarawan menyebut kisah dan riwayat yang disampaikan pemimpin kerajaan yang disebut Sinuhun, Totok Santosa Hadiningrat, tak bisa dipercaya begitu saja.

Perlu adanya literatur agar bisa dikaji lebih mendalam terkait Kerajaan Agung Sejagat yang mengklaim sebagai penerus Kerajaan Majapahit. Sebab informasi yang beredar sekarang ini rancu.

Baca Juga: Klaim Penerus Majapahit, Keraton Agung Sejagat Tak Mau Disebut Sesat

1. Sinuhun diminta membuktikan riwayat sejarah Kerajaan Agung Sejagat dengan jelas

Kata Sejarawan soal Kerajaan Agung Sejagat yang Hebohkan PurworejoRaja dan ratu Kerajaan Keraton Agung Sejagat (purworejo24.com)

Sejarawan dan budayawan Purworejo Soekoso DM mengatakan Totok, sang pemimpin kerajaan atau Sinuhun, harus membuktikan sejarah mereka dengan literatur yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan.

"Ya itu harus ada bukti yang kuat atau dasarnya apa perjanjian yang sudah disebutkan. Kalau dasarnya saja sudah tidak jelas seperti ini, ya tidak bisa diterima masyarakat,” kata dia, Purworejo, Jawa Tengah, Selasa (14/1).

2. Kisah sejarah Kerajaan Agung Sejagat tidak berdasar

Kata Sejarawan soal Kerajaan Agung Sejagat yang Hebohkan PurworejoSejarawan dan Budayawan Purworejo Soekoso DM. (purworejo24.com)

Soekoso mengatakan sejauh ini sejarah yang telah ia pelajari dan berdasarkan literasi yang ada, Kerajaan Majapahit runtuh pada 1478. Jika Sinuhun mengatakan Majapahit masih melakukan perjanjian dengan Portugis pada 1518, adalah sejarah yang tidak berdasar.

“Kalau tahun Saka runtuhnya (Majapahit) adalah tahun 1400 dengan sengkala Sirna Ilang Kertaning Bumi. Karena ada perbedaan dengan tahun Masehi dan tahun Saka, yaitu 78 tahun,” kata dia.

Baca Juga: Heboh Kerajaan Agung Sejagat, Polisi Segera Panggil Raja dan Ratu

3. Kerajaan Majapahit runtuh bukan 1518

Kata Sejarawan soal Kerajaan Agung Sejagat yang Hebohkan PurworejoAcara Wilujengan dan Kirab Budaya yang diselenggarakan Kerajaan Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. (Tangkapan Layar YouTube Kudaku On Top)

Soekoso menjelaskan Majapahit runtuh pada 1478 M, namun ada trahnya yang membangun Kerajaan Demak.

Bahkan, pada zaman Ratu Kalinyamat pernah menyerang Portugal di Malaka dan berlanjut menjadi Kerajaan Pajang, hingga menjadi Mataram Islam.

Kemudian, menurut kisah dari perjanjian Giyanti 1755, ada rekayasa Belanda, sehingga pecah menjadi Sala dan Jogja.

4. Literatur Stadblaad Atlantic Kerajaan Agung Sejagat dipertanyakan

Kata Sejarawan soal Kerajaan Agung Sejagat yang Hebohkan PurworejoSinuhun dan Kanjeng Ratu Kerajaan Agung Sejagat saat menggelar acara Wilujengan. (Tangkapan video YouTube.com/Kudaku On Top)

Terkait literatur Stadblaad Atlantic yang disebut oleh kelompok Kerajaan Agung Sejagat, Soekoso mengaku belum mengetahui hal tersebut. Jika ada perjanjian 500 tahun di Malaka, Soekoso justru mengaku bingung.

"Yang tanda tangan siapa? Penguasa mana saat itu? Ya masih perlu kajian metodologi sejarahnya. Raja Agung Sejagat ini terkesan ngayawara (mengada-ada),” kata Soeksoso, mengutip laman Purworejo24.

5. Kerajaan Agung Sejagat menggelar Wilujengan dan Kirab Budaya

Kata Sejarawan soal Kerajaan Agung Sejagat yang Hebohkan PurworejoKerajaan Keraton Agung Sejagat menggelar acara Wilujengan dan Kirab Budaya di Purworejo, Jawa Tengah. (Tangkapan video YouTube Kudaku On Top)

Sebelumnya, Kanjeng Sinuhun Keraton Agung Sejagat, Totok Santosa Hadiningrat didampingi permaisuri Kanjeng Ratu Dyah Gitarja pada Minggu (12/1) menggelar Wilujengan dan Kirab Budaya. Acara digelar sebagai bentuk penyambutan kedatangan Sri Maharatu Jawa kembali ke tanah Jawa setelah perjanjian 500 tahun. Terhitung sejak hilangnya kemaharajaan nusantara, yaitu Imperium Majapahit pada tahun 1518 sampai tahun 2018.

“Perjanjian 500 tahun tersebut dilaksanakan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa terakhir Imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang-orang barat di Malaka pada tahun 1518. Maka setelah perjanjian tersebut berakhir kekuasaan harus dikembalikan ke tanah Jawa,” papar Kanjeng Sinuhun Totok, juga mengaku memiliki trah Wangsa Sanjaya.

Baca Juga: Kesaksian Warga soal Kerajaan Agung Sejagat: Itu Keraton Jin

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya