Comscore Tracker

Guru Besar UGM Masuk 100 Orang Paling Berpengaruh Versi TIME 

Penelitian teknologi Wolbachia turunkan kasus kasus dengue

Jakarta, IDN Times - Peneliti sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Adi Utarini, masuk daftar 100 orang paling berpengaruh 2021 versi TIME yang dirilis pada Rabu, (15/9/2021).

Prof dr. Adi Utarini atau yang akrab disapa Prof. Uut ini masuk kategori pionir karena memimpin penelitian teknologi Wolbachia untuk pengendalian dengue di Yogyakarta bersama World Mosquito Program  (WMP) Yogyakarta.

"Ini merupakan berkah dari Allah SWT bagi tim peneliti kami di World Mosquito Program Yogyakarta. Ini adalah apresiasi bagi peneliti-peneliti dan seluruh tim yang telah terlibat dalam penelitian, juga mitra kami yaitu Monash University, World Mosquito Program Global, dan Yayasan Tahija sebagai lembaga filantropi yang mendukung penuh penelitian ini," kata Uut seperti dikutip dari laman ugm.ac.id, Minggu (19/9/2021).

Uut juga memberikan apresiasi kepada masyarakat Yogyakarta yang sangat terbuka dengan inovasi dan pemerintah daerah Yogyakarta yang mendukung penelitian ini.

"Semoga penelitian ini bermanfaat lebih luas, untuk mengurangi beban masyarakat karena dengue,” kata Uut.

1. Kolaborasi antara FK-KMK UGM, Monash University, dan Yayasan Tahija

Guru Besar UGM Masuk 100 Orang Paling Berpengaruh Versi TIME wikipedia.org

Kolaborasi WMP Yogyakarta yang sebelumnya bernama Eliminasi Dengue Project (EDP) ini merupakan kolaborasi antara FK-KMK UGM, Monash University dan Yayasan Tahija. Teknologi Wolbachia ditemukan oleh Founder dan Direktur WMP Global, Prof. Scott O'Neill pada 2008.

WMP yang diinisiasi Monash University merupakan lembaga nonprofit yang hadir dengan tujuan melindungi komunitas global dari penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Secara garis besar kewilayahan, WMP beroperasi di 11 negara termasuk Indonesia.

Baca Juga: Gebrakan Cara Profesor UGM Hadapi DBD Ini Diakui Dunia

2. Penelitian pengembangan teknologi Wolbachia dimulai sejak 2011

Guru Besar UGM Masuk 100 Orang Paling Berpengaruh Versi TIME Ilustrasi laboratorium (ANTARA FOTO/Moch Asim)

Peneliti Pendamping WMP Yogyakarta dan Direktur Pusat Kedokteran Tropis FKKMK UGM, Riris Andono Ahmad, menyampaikan penelitian pengembangan teknologi Wolbachia telah dimulai sejak 2011.

Menurutnya fase awal penelitian dilakukan untuk memastikan keamanan Wolbachia, dilanjutkan dengan pelepasan di area terbatas.

3. Wolbachia efektif menurunkan 86 persen kasus dengue yang dirawat di rumah sakit

Guru Besar UGM Masuk 100 Orang Paling Berpengaruh Versi TIME Ilustrasi fogging. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

Pada 2017, uji efikasi Wolbachia dengan metode Randomised Controlled Trial dilakukan di Kota Yogyakarta dengan membagi wilayah Yogyakarta menjadi 24 klaster, dengan 12 klaster mendapatkan intervensi Wolbachia, dan 12 klaster lainnya menjadi area pembanding.

“Hasil uji efikasi Wolbachia ini menunjukkan hasil yang menggembirakan, yaitu Wolbachia efektif menurunkan 77 persen kasus dengue dan menurunkan 86 persen kasus dengue yang dirawat di rumah sakit,” kata Riris.

Sementara, Entomology Team Leader WMP Yogyakarta, Warsito Tantowijoyo, menyoroti tentang aspek keamanan Wolbachia. Wolbachia merupakan bakteri alami yang terdapat pada 60 persen serangga, dan hanya hidup di dalam serangga.

“Wolbachia dalam Aedes aegypti bekerja dengan menghambat perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk sehingga saat nyamuk menggigit manusia, tidak terjadi transmisi virus dengue,” ujar Warsito.

Dia menjelaskan, pada 2021, WMP Yogyakarta bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mulai melakukan implementasi teknologi Wolbachia. Selanjutnya di 2022 akan menerapkan teknologi ini di Kabupaten Bantul.

UGM berharap Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dapat mulai mengadopsi teknologi Wolbachia ini sebagai salah satu strategi nasional dalam pengendalian berdarah dan berharap penelitian WMP Yogyakarta ini dapat menginspirasi para peneliti di Indonesia untuk semakin giat melakukan penelitian yang dapat menjawab tantangan bangsa dan dunia.

Baca Juga: Mengenal Fase Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Cara Penanganannya

Topic:

  • Dwi Agustiar

Berita Terkini Lainnya