Comscore Tracker

Kemenkes: Tidak Ada Klaster Perkantoran, Tapi Klaster Jabodetabek 

Pegawai Kemenkes banyak terpapar COVID-19, ini sebabnya

Jakarta, IDN Times - Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Achmad Yurianto menegaskan, pegawai Kemenkes yang positif COVID-19 penularannya tidak terjadi di kantor. Bahkan ia menekankan, sekarang tidak ada lagi sebutan klaster perkantoran, tapi klaster Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).

“Kontak tracing yang kita lakukan terhadap semua pegawai Kemenkes yang positif COVID-19 itu penularannya tidak terjadi di kantor. Sekarang ini tidak bisa lagi disebutkan klaster kantor, ini sudah klaster Jabodetabek,” tegasnya dilansir laman kemkes.go id, Selasa (22/9/2020).

Baca Juga: Kemenkes, Kementerian dengan Kasus COVID-19 Terbanyak di Jakarta

1. Banyak pegawai Kemenkes yang tinggal di Jabodetabek

Kemenkes: Tidak Ada Klaster Perkantoran, Tapi Klaster Jabodetabek Sejumlah calon penumpang berjalan menuju KRL Commuter Line di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (14/9/2020) (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

Yuri mengungkapkan, pegawai Kemenkes banyak yang tinggal di Jabodetabek. Setiap hari berangkat dari rumah dengan menggunakan berbagai moda transportasi, sehingga risiko penularan bisa terjadi di mana saja.

"Penularan COVID-19 yang terjadi pada pegawai Kemenkes bisa saja terjadi di luar kantor," terangnya.

2. Sebagian besar pegawai Kemenkes bertugas di luar kantor, termasuk di RS Wisma Atlet

Kemenkes: Tidak Ada Klaster Perkantoran, Tapi Klaster Jabodetabek Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat (IDN Times/Besse Fadhilah)

Yuri menjelaskan, Kantor Kemenkes ada di Kuningan tapi sebagian besar pegawainya diperbantukan di luar kantor, seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) baik di Bandara Soekarno Hatta maupun di Bandara Halim Perdana Kusuma.

"Ada juga pegawai Kemenkes yang diperbantukan di RS Darurat Wisma Atlet, menerima ribuan orang setiap hari untuk melakukan kontak tracing. Merekalah yang kemudian terpapar," terangnya.

3. Pegawai Kemenkes tidak bertemu pasien tapi virus langsung

Kemenkes: Tidak Ada Klaster Perkantoran, Tapi Klaster Jabodetabek Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (IDN Times/Dini Suciatinungrum)

Yuri mengatakan, SOP sudah dijalankan dengan baik tapi risiko pekerjaan luar biasa. Ada juga pegawai Kemenkes yang bekerja di laboratorium, memang tidak pernah bertemu pasien tapi bertemu virusnya langsung.

“Ini adalah penyakit menular yang faktor pembawa penyakitnya adalah orang. Gambaran akhir-akhir ini sudah semakin terlihat bahwa kasus-kasus yang terkonfirmasi positif dari pemeriksaan swab, itu sebagian besar bahkan ada yang memperkirakan 80 persen tanpa gejala. Inilah yang jadi problem, karena mereka tidak sakit,” ucapnya.

4. Petugas laboratorium harus memeriksa spesimen lebih dari 1.000 tiap hari

Kemenkes: Tidak Ada Klaster Perkantoran, Tapi Klaster Jabodetabek IDN Times/Elias

Yuri mengatakan, petugas laboratorium yang harus memeriksa spesimen lebih dari 1.000 setiap harinya, risiko itu pasti ada. Ini bagian dari risiko yang sudah diprediksi.

“Ini adalah risiko yang kita tanggung. Ini bukan tertular di kantor Kemenkes, di kantor Kementerian orangnya tinggal sedikit, karena berada di pos-pos terdepan melaksanakan penanganan COVID-19,” jelas Yuri.

5. Kemenkes menerapkan SOP yang sangat ketat

Kemenkes: Tidak Ada Klaster Perkantoran, Tapi Klaster Jabodetabek Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI

Yuri menegaskan, Kemenkes menerapkan SOP yang sangat ketat. Bagi pegawai yang boleh ditugaskan adalah mereka yang tidak memiliki komorbid. Sementara SOP di kantor Kemenkes, penyemprotan disinfektan harus tiga kali dalam seminggu mencakup seluruh ruangan yang ada di kantor Kemenkes.

Bahkan, semua pegawai setelah melakukan tugas bergantian harus diswab, termasuk Menteri Kesehatan setelah melakukan kunjungan kerja ke daerah, begitu kembali ke kantor harus di-swab.

“Dengan swab yang banyak kita bisa temukan semua orang positif COVID-19, karena memang tujuan kami melakukan proteksi pada pegawai supaya mereka bisa terjaga betul kondisi fisiknya dan kinerja bisa maksimal,” ucapnya.

Baca Juga: Kementerian Kesehatan Jadi Klaster COVID-19: Total Ada 252 Kasus 

Topic:

  • Dini Suciatiningrum
  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya