Comscore Tracker

Ngeri! 8.291 Santri Positif COVID-19, Satu Orang Meninggal 

Lapor Covid-19 minta pihak ponpes terbuka

Jakarta, IDN Times - Ancaman klaster pesantren kembali terjadi. Tim LaporCovid-19 mencatat, terdapat 8.291 kasus positif COVID-19 di lingkungan pesantren dan satu kasus di antaranya meninggal dunia.

Tim LaporCovid-19 Firdaus Ferdiansyah mengatakan, data tersebut belum mencakup kondisi keseluruhan karena tidak semua pesantren melaporkan kasus COVID -19.

"Kasus positif di pesantren lebih tinggi dibandingkan sekolah yang mencapai 1.142 orang.Tidak menutup kemungkinan, klaster pesantren bertambah," ujar Firdaus dalam siaran tertulis yang diterima IDN Times, Kamis (25/2/2021).

Baca Juga: Usai Liburan, 632 Santri di Enam Pondok Pesantren Positif COVID-19

1. Klaster pesantren menunjukkan rentannya penularan virus corona di pendidikan asrama

Ngeri! 8.291 Santri Positif COVID-19, Satu Orang Meninggal Ilustrasi santri di pondok pesantren. ANTARA FOTO/Fauzan

Firdaus menjabarkan, kasus klaster COVID-19 di pesantren sudah beberapa kali terjadi. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, sekitar 400 santri terkonfirmasi positif COVID-19 pada pertengahan Februari 2021.

Tahun lalu, sebanyak 550 santri dan guru di sebuah pesantren di Kabupaten Kuningan, Jabar, juga terpapar COVID-19.

"Klaster penularan di pesantren ini juga menunjukkan rentannya penularan di pendidikan asrama, dan sulitnya menegakkan protokol kesehatan di kalangan peserta didik," ucapnya.

2. Pembelajaran tatap muka tetap berlangsung meski banyak santri demam dan kehilangan indra penciuman

Ngeri! 8.291 Santri Positif COVID-19, Satu Orang Meninggal Ilustrasi santri di pondok pesantren. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

Firdaus menambahkan, LaporCovid-19 juga mengumpulkan sejumlah laporan terkait pelanggaran protokol kesehatan di lingkungan pesantren. Misalnya, santri di sebuah pesantren di Serang, Banten, banyak yang abai mengenakan masker dan menjaga jarak.

"Di Subang, pembelajaran tatap muka berjalan di salah satu pesantren sejak 26 Januari 2021, meskipun banyak anak yang demam dan kehilangan indra penciuman," ungkapnya.

3. Pihak pesantren terkesan tertutup dengan orangtua

Ngeri! 8.291 Santri Positif COVID-19, Satu Orang Meninggal ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Firdaus menegaskan, Surat Keputusan Bersama Empat Menteri tentang skema pembelajaran 2020/2021 mengizinkan pembelajaran tatap muka di pesantren dengan sejumlah syarat. Salah satu di antaranya wajib memperhatikan protokol kesehatan dan berkoordinasi dengan Gugus Tugas COVID-19 setempat

“Kami juga menerima laporan warga yang mengaku kesulitan berkomunikasi dengan anaknya di pesantren. Padahal, anaknya dan sejumlah santri terkonfirmasi positif COVID-19. Pihak pesantren terkesan tertutup dengan orangtua, tapi malah mengundang pejabat dalam kegiatan pesantren,” ujar Firdaus.

4. Risiko penularan corona di pondok pesantren tinggi

Ngeri! 8.291 Santri Positif COVID-19, Satu Orang Meninggal Suasana penjemputan santri asal Malaysia di Pondok Pesantren Al-Fatah, Temboro, Kabupaten Magetan beberapa waktu lalu. Dok.IDN Times/Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Magetan.

Menurut Firdaus, pihak pesantren perlu melaporkan kondisi santrinya kepada orangtua santri. Begitupun dengan instansi terkait, seperti dinas kesehatan dan kantor kementerian agama setempat.

“Tentu saja perlu keterbukaan informasi agar wabah tidak semakin meluas. Ini demi keselamatan santri, ustaz/ustazah, kiai, juga masyarakat sekitar,” ujarnya.

Ia mengingatkan, risiko penularan COVID-19 di pondok pesantren sangat tinggi. Sebab, satu kamar bisa diisi lima sampai belasan santri sehingga sulit menjaga jarak. Selain itu, penularan juga berisiko terjadi dengan penggunaan kamar mandi umum.

"Belum semua pesantren juga memiliki Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren) atau penanggung jawab di bidang kesehatan, sehingga sulit melakukan kontrol pelaksaaan protokol kesehatan," imbuhnya

Baca Juga: LaporCovid: Ponpes Belajar Tatap Muka Meski Santri Hilang Penciuman  

Topic:

  • Dini Suciatiningrum
  • Sunariyah
  • Septi Riyani

Berita Terkini Lainnya