Comscore Tracker

Jenderal Pembantu Djoko Tjandra hingga Vonis 2 Penyiram Novel Baswedan

Dua kasus terpanas yang menjadi highlight media massa

Jakarta, IDN Times - Sidang pembacaan vonis dua terdakwa penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dan pemeriksaan jenderal-jenderal Polri yang membantu buron kakap Djoko Tjandra keluar dari Indonesia, menjadi dua topik panas media massa pada Kamis 16 Juli 2020.

Kedua pemberitaan tersebut menjadi sorotan karena ada dua tokoh kuat, yakni Novel Baswedan, yang sudah menunggu 4 tahun untuk mendapat keadilan setelah diserang dengan air keras oleh sosok misterius hingga menyebabkan kebutaan pada indera penglihatnya. 

Kemudian, Djoko Tjandra. Sosok 'kuat' yang mampu memerintah lurah hingga jenderal di negeri ini. Bertahun-tahun menjadi buronan yang sangat licin, kemunculan Djoko Tjandra di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 8 Juni 2020 mengejutkan publik. Dia datang bersama kuasa hukumnya untuk mendaftarkan Peninjauan Kembali (PK) ke bagian pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) PN Jaksel. 

Setelah itu, satu per satu fakta terkuak. Termasuk keterlibatan jenderal-jenderal Polri yang turut memuluskan jalan sang buronan hak tagih Bank Bali agar tidak terdeteksi keberadaannya. 

Berikut highlight kasus hukum terpanas yang dirangkum redaksi IDN Times.

1. Dua penyerang Novel Baswedan divonis 1,5 tahun dan 2 tahun penjara

Jenderal Pembantu Djoko Tjandra hingga Vonis 2 Penyiram Novel BaswedanSidang vonis penyiraman air keras Novel Baswedan (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan vonis selama 2 tahun penjara kepada Rahmat Kadir Mahulette dan 1,5 tahun penjara kepada Ronny Bugis karena terbukti melakukan penganiayaan yang menyebabkan luka berat terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

"Mengadili, menyatakan terdakwa Rahmat Kadir Mahulette terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana secara bersama-sama yaitu melakukan perbuatan penganiayaan dengan rencana lebih dahulu yang mengakibatkan luka-luka berat. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Rahmat Kadir Mahulette berupa pidana penjara selama 2 tahun dengan perintah supaya terdakwa tetap ditahan," kata Ketua Majelis Hakim Djumyanto di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (16/7/2020).

Majelis Hakim menyatakan terdakwa Ronny Bugis terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana secara bersama-sama yaitu melakukan perbuatan penganiayaan dengan rencana lebih dahulu yang mengakibatkan luka-luka berat.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Ronny berupa pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan dengan perintah supaya terdakwa tetap ditahan," ujar hakim Djumyanto.

Keduanya dinilai terbukti melakukan perbuatan berdasarkan dakwaan subsider pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Putusan itu lebih berat dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Utara yang menuntut Ronny Bugis dan rekannya Rahmat Kadir Mahulette selama 1 tahun penjara.

"Hal-hal yang memberatkan, terdakwa tidak mencerminkan Bhayangkara negara, terdakwa telah menciderai citra institusi Polri. Hal yang meringankan, terdakwa berterus terang, terdakwa sudah menyampaikan maaf kepada korban Novel Baswedan, keluarganya, institusi Polri dan seluruh rakyat Indonesia dan belum pernah dihukum," tambah hakim Djumyanto.

Atas perbuatannya, kedua terdakwa langsung menyatakan menerima.

"Terima kasih yang mulia, saya menerima," kata Rahmat.

"Kami menerima putusannya yang mulia," kata Ronny.

Sedangkan JPU Kejari Jakarta Utara menyatakan pikir-pikir.

Baca Juga: Alasan 2 Penyerang Novel Baswedan Divonis Lebih Berat dari Tuntutan

2. Dua penyerang Novel dinilai tidak terbukti berniat melakukan penganiayaan berat

Jenderal Pembantu Djoko Tjandra hingga Vonis 2 Penyiram Novel Baswedan(Penyidik senior Novel Baswedan usai disiram air keras) ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Hakim menyatakan dua terdakwa tidak terbukti berniat untuk menyebabkan luka berat kepada Novel Baswedan meski sudah merencanakan penyerangan.

"Perbuatan terdakwa telah menambahkan air aki ke dalam mug yang telah terisi air aki sebenarnya tidak menghendaki luka berat pada diri saksi korban Novel Baswedan sebab jika sikap batin terdakwa ingin menimbulkan luka berat, tentu terdakwa tidak perlu menambahkan air kepada mug yang telah terisi air aki yang merupakan air keras tersebut atau dengan cara lain apalagi terdakwa anggota pasukan Brimob yang terlatih melakukan penyerangan secara fisik," tambah hakim.

Apalagi, menurut hakim mengutip keterangan ahli Hamdi Moeloek, perbuatan terdakwa ingin memberikan pelajaran kepada saksi korban Novel Baswedan untuk memuaskan impuls terhadap Novel karena ingin membela korps tempat Rahmat dan Ronny bekerja yaitu institusi Polri.

"Karena terdakwa beranggapan semestinya Novel Baswedan memiliki jiwa korps yang sama dengan demikian jelas perbuatan terdakwa memang terbukti mengakibatkan luka berat terhadap saksi berat Novel Baswedan tapi luka berat itu pada faktanya bukan niat atau bukan kehendak atau tidak menjadi sikap batin terdakwa sejak awal sehingga unsur penganiayaan berat dalam dakwaan primer tidak terpenuhi," ungkap Hakim.

Meski tidak terpenuhi penganiayaan berat, namun penganiayaan itu dilakukan dengan rencana lebih dahulu.

"Dalam sidang muncul pengakuan bahwa ada niat terdakwa memberikan pelajaran kepada saksi korban Novel Baswedan yang diawali berusaha mencari alamat, setelah memperoleh alamat tinggal lalu meminjam motor Ronny Bugis untuk melakukan survei pada 8-9 April 2017," tambah hakim.

Setelah yakin alamat Novel maka pada 10 April 2017, Rahmat mengambil sisa air aki ke kontrakan dan mencampur air ke mug yang sudah diisi air aki yang diperoleh dari pool mobil Polri.

"Terdakwa lalu mengajak Ronny Bugis sampai akhirnya terdakwa menyiramkan air aki kepada Novel Baswedan sehingga jelas rangkaian perbuatan terdakwa dilakukan dalam suasana tenang dalam rentang waktu yang cukup antara kehendak dan pelaksanaan kehendak sehingga jelas direncanakan lebih dahulu," tambah hakim Djumyanto.

Ronny dan Rahmat diketahui adalah polisi aktif dari Satuan Gegana Korps Brimob Kelapa Dua Depok.

3. Setelah skandal surat sakti, beredar surat kesehatan Djoko Tjandra dari Pusdokkes Polri

Jenderal Pembantu Djoko Tjandra hingga Vonis 2 Penyiram Novel BaswedanBrigjen Prasetyo Utomo (tengah). (satpolppkalteng.go.id)

Kapolri Jenderal Idham Azis mencopot Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan (Karo Korwas) Bareskrim Polri Brigjen Prasetijo Utomo pada Rabu 15 Juli 2020 setelah terbukti menyalahgunakan jabatannya untuk membantu buronan kelas kakap Djoko Tjandra. Prasetijo terbukti membuatkan surat jalan 'sakti' untuk Djoko Tjandra.

Sayang, pada upacara lepas jabatan yang digelar pada Kamis 16 Juli 2020, Prasetijo absen. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan tensi darah Prasetijo tinggi. Kapolri memutasi Prasetijo ke Yanma Polri, namun sebelumnya dia harus menjalani 14 hari masa tahanan selama dalam pemeriksaan Divpropam Polri.

Setelah skandal surat sakti, muncul skandal baru yang tak kalah menarik. Berkas atau surat kesehatan yang menyatakan Djoko Tjandra bebas COVID-19 beredar ke publik. Surat tersebut dikeluarkan oleh Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri teregister dengan nomor Sket Covid-19/1561/VI/2020/Setkes dan diteken oleh dr. Hambektanuhita yang dituliskan sebagai pembinaan pada 19 Juni 2020 dan diberi stempel Pusdokkes Polri. 

Penerbitan surat itu menambah deretan keterlibatan Polri untuk membantu buronan Djoko Tjandra bebas berlalu-lalang di Indonesia, sementara hukum masih harus menjeratnya.

"Setidaknya ada tiga lembaga di Polri yg memberi karpet merah padanya, yakni NCB Interpol Indonesia, Bareskrim dan Dokkes Polri," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan, dokter yang meneken surat kesehatan bebas COVID-19 untuk buronan cessie Bank Bali Djoko Tjandra sedang diperiksa oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam).

Argo mengatakan bahwa Brigjen Pol Prasetyo Utomo (BJP PU) meminta dokter tersebut masuk ke ruangan yang sudah ada dua orang tak dikenalnya.

"Memang benar jadi dokter tadi dipanggil oleh BJP PU ya, kemudian di ruangannya sudah ada dua orang yang tidak dikenal sama dokter ini dan kemudian melaksanakan rapid," kata dia kepada awak media, Kamis (16/7/2020).

Argo mengatakan dari keterangan dokter itu didapatkan informasi bahwa sang dokter dimintakan surat keterangan sehat setelah orang yang menjalani tes dinyatakan negatif COVID-19.

"Itu sebatas itu. Jadi dokter tidak mengetahui tapi disuruh membuat namanya ini, untuk membuat namanya Djoko Tjandra," kata dia.

4. Hapus nama Djoko Soegiarto Tjandra dari daftar red notice Interpol, Brigjen Nugroho Wibowo diperiksa Propam

Jenderal Pembantu Djoko Tjandra hingga Vonis 2 Penyiram Novel BaswedanSurat Jalan Djoko Tjandra (Dok. MAKI)

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan bahwa Div Propam Polri telah memeriksa Brigjen Nugroho Wibowo (NS) yang diduga menyampaikan surat pemberitahuan kepada Dirjen Imigrasi tentang penghapusan nama Djoko Soegiarto Tjandra dari daftar red notice Interpol.

"Div Propam sudah memeriksa Pak NS dan belum selesai," kata Argo di Kantor Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis 16 Juli 2020.

Dari hasil pemeriksaan sementara, NS diduga telah melanggar kode etik Polri.

Selain masih akan memeriksa NS, Propam juga akan memeriksa saksi-saksi lainnya.

"Propam masih periksa saksi-saksi lain yang mengetahui, memahami, melihat, mendengar terkait hal ini," katanya.

Sebelumnya Ketua Presidium IPW Neta S. Pane menyebut bahwa ada surat nomor: B/186/V/2020/NCB-Div HI tertanggal 5 Mei 2020 yang ditujukan ke Dirjen Imigrasi tentang informasi red notice Interpol atas nama Djoko Soegiarto Tjandra telah terhapus dari sistem basis data Interpol sejak tahun 2014 karena tidak ada permintaan perpanjangan dari Kejaksaan RI.

Surat pemberitahuan tersebut ditandatangani oleh Brigjen NS selaku Sekretaris NCB Interpol Indonesia.

Red notice adalah permintaan untuk menemukan, menahan sementara seorang tersangka yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Red notice diterbitkan oleh Interpol atas permintaan dari Polri untuk membatasi perjalanan tersangka di luar negeri.

Djoko Tjandra yang merupakan Direktur PT Era Giat Prima terlibat kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali yang telah merugikan negara Rp904 miliar. Djoko Tjandra meninggalkan Indonesia pada tahun 2009 saat Mahkamah Agung menjatuhkan vonis kepadanya.

Sejak buron, kabarnya simpang siur. Dia dikabarkan lari ke negara tetangga dan menjadi warga negara Papua Nugini. Red notice dari Interpol atas nama Djoko Tjandra terbit pada 10 Juli 2009.

Pada 5 Mei 2020, Sekretaris NCB Interpol Indonesia memberitahukan bahwa red notice atas nama Djoko Tjandra telah terhapus dari sistem basis data sejak tahun 2014. Ditjen Imigrasi menindaklanjuti hal itu dengan menghapus nama Djoko Tjandra dari sistem perlintasan pada 13 Mei 2020.

Kemudian pada 27 Juni 2020, Kejaksaan Agung meminta Djoko Tjandra dimasukkan dalam daftar pencarian orang (DPO).

Ditjen Imigrasi pun memasukkan kembali nama Djoko Tjandra ke dalam sistem data perlintasan dengan status DPO.

Baca Juga: Pengacara Djoko Tjandra Laporkan Akun @xdigeembox ke Bareskrim

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya