Comscore Tracker

Akibat COVID-19, 15 ART di Semarang Dipecat Lewat Pesan Medsos

Mereka dijanjikan akan dipekerjakan lagi usai pandemik

Semarang, IDN Times - Sebanyak 15 asisten rumah tangga (ART) di Semarang, Jawa Tengah, dipecat majikannya karena terdampak virus corona atau COVID-19.

Serikat PRT Merdeka (SPRT) Semarang, mencatat pemecatan PRT terjadi sejak Maret lalu.

1. Sebanyak 15 PRT di Semarang dirumahkan melalui WA

Akibat COVID-19, 15 ART di Semarang Dipecat Lewat Pesan MedsosIlustrasi WhatsApp. IDN Times/Irma Yudistirani

Koordinator SPRT Semarang Nur Kasanah menyebut setidaknya ada 15 PRT yang dipecat majikannya sejak Maret 2020.

"Itu kejadiannya sejak Maret kemarin sudah muncul. Tapi paling banyak, ya April. Ada 15 PRT dipecat. Karena ada corona, majikannya takut tertular dari PRT yang datang dari luar rumah," ujar Nur kepada IDN Times, Minggu (31/5).

Para majikan umumnya memecat PRT karena takut tertular COVID-19. Bahkan, pemecatan dikabarkan melalui pesan pendek WhatsApp.

"Rekan-rekan PRT cuma diomongin gak usah kerja, nanti dipanggil masuk kerja lagi kalau pandemiknya sudah mereda. Itu pun cuma via WA. Otomatis mereka sejak Maret nganggur tanpa ada kejelasan sama sekali," ungkap Nur. 

Baca Juga: Penjahit di Semarang Bikin Masker Khusus Untuk PRT Rentan COVID-19

2. Para ART tidak mendapat THR Idulfitri

Akibat COVID-19, 15 ART di Semarang Dipecat Lewat Pesan MedsosIlustrasi (IDN Times/Anjani Eka Lestari)

Mirisnya, kata Nur, mereka sama sekali tak dapat THR ketika Lebaran Idulfitri tiba. Para majikan hanya menjanjikan akan mempekerjakan mereka lagi ketika COVID-19 sudah mereda. 

"Setelah dipecat, ada 15 PRT gak dapat pesangon, gak dapat THR. Ada juga yang disuruh masuk, tapi dapatnya separuh gaji sekitar Rp600 ribu. Alasannya, majikannya saat ada virus corona kerjanya juga di rumah," kata dia. 

3. Beberapa ART cuma mendapat THR berupa makanan ringan

Akibat COVID-19, 15 ART di Semarang Dipecat Lewat Pesan MedsosIDN Times/Ita Malau

Dari 250 ART yang menjadi anggotanya, kata Nur, mayoritas yang dipecat tinggal di Kedungjangan, Mijen. Ia menyebut tindakan majikan yang seenaknya memecat ART sama saja dengan upaya mengemplang pembayaran THR.

Bahkan, kata Nur, pihaknya menemukan beberapa ART yang hanya mendapat THR berupa biskuit dan sebotol sirup. 

"Selama pandemik, para majikan ini berupaya ngemplang THR. Modusnya menghindari pemberian THR. Ada juga yang ngasih THR seadanya, hanya ngasih kaleng biskuit dan sirup. Itu kejadiannya banyak di Kedungjangan. Ketika virus Corona muncul, tindakan yang mereka lakukan malahw lebih frontal," jelas dia. 

4. Kebanyakan ART terpaksa ngutang untuk mencukupi kebutuhan Lebaran

Akibat COVID-19, 15 ART di Semarang Dipecat Lewat Pesan Medsos(IDN Times/Arief Rahmat)

Untuk mencukupi kebutuhannya saat Lebaran, belasan ART itu terpaksa berutang ke sejumlah tempat. Tanggungan utangnya saat ini berkisar Rp500 hingga Rp1 juta per orang. 

"Secara mereka gak bisa kerja lagi, di sisi lain kebutuhan hidupnya bertambah dengan ada beban biaya tambahan anaknya yang harus belajar online, maka utangnya jadi numpuk-numpuk. Ketika Lebaran ada yang cari utangan Rp500 ribu, ada yang sejuta," kata Nur.

SPRT Merdeka, menurut Nur, telah berusaha membantu meringankan beban hidup para PRT dengan menyalurkan paket bantuan sembako. Tiap ART mendapat jatah beras 7 kg dan ragam bahan pokok lainnya.  Bantuan paket sembako diberikan kepada PRT sebanyak tiga kali mulai Maret hingga Mei 2020.

Baca Juga: Berjuang Keras, Ini Perjalanan Farida Nurhan dari ART Jadi YouTuber

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya