Comscore Tracker

UGM Ungkap Mahasiswa Panitia Diskusi Ikut Diancam akan Dibunuh  

Pihak yang mengancam datang dari ormas keagamaan

Yogyakarta, IDN Times - Universitas Gadjah Mada turut angkat bicara mengenai diskusi ilmiah yang digelar oleh komunitas Constitutional Law Society (CLS) yang terdiri dari mahasiswa mereka. Dekan Fakultas Hukum UGM, Sigit Riyanto mengatakan teror tidak hanya dialamatkan kepada dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) yang semula akan dijadikan pembicara dalam diskusi dengan tema "Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan" itu. Menurut Sigit, beberapa mahasiswa yang terlibat sebagai panitia dari kegiatan tersebut ikut mengalami teror secara verbal dan fisik. 

Teror kata Sigit dimulai pada (28/5) lalu dan menyasar moderator dan narahubung kegiatan diskusi virtual itu. Ketua komunitas CLS pun tak luput ikut mengalami teror serupa. 

"Teror mulai dari pemesanan ojek online ke kediaman mereka, teks ancaman pembunuhan, telepon dan beberapa orang mendatangi kediaman mereka," kata Sigit melalui keterangan tertulis pada Jumat (29/5). 

Teror dan ancaman kemudian berlanjut hingga (29/5). Pelaku tidak saja menyasar nama-nama yang ada di dalam poster sosialisasi diskusi virtual tersebut, melainkan juga ke anggota keluarga para mahasiswa. Bahkan, pelaku sempat mengirimkan pesan ke orang tua mahasiswa panitia diskusi. 

"Hallo, Pak! Bilangin tuh ke anaknya  ***** kena pasal atas tindakan makar. Kalo ngomong yang bener dikit lahhh.. Bisa didik anaknya gak, Pak? Saya dari ormas Muhammadiyah Klaten. Jangan main-main, Pak. Bilangin ke anaknya. Suruh datang ke Polres Sleman. Kalo gak apa mau dijemput aja? Atau gimana? Saya akan bunuh keluarga bapak semuanya kalo gak bisa bilangin anaknya," demikian bunyi salah satu pesan pendek yang dikirim ke orang tua salah satu mahasiswa yang jadi panitia diskusi tersebut. 

UGM dan UII pun mengecak tindakan teror yang menimpa civitas dan keluarga mereka karena diskusi tersebut. Menurut pihak dekanat, diskusi tersebut murni adalah kegiatan mahasiswa yang sesuai dengan minat dan konsentrasi keilmuwan mahasiswa di bidang Hukum Tata Negara. 

Lalu, apa langkah UGM dan UII selanjutnya menindak lanjuti ancaman teror tersebut?

1. FH UGM meminta agar semua warga bisa menyampaikan pendapatnya secara bebas

UGM Ungkap Mahasiswa Panitia Diskusi Ikut Diancam akan Dibunuh  ugm.ac.id

Dekan Fakultas Hukum UGM, Sigit Riyanto, mengecam sikap dan tindakan intimidatif terhadap rencana diskusi yang berujung pada pembatalan acara. Hal ini merupakan ancaman nyata bagi mimbar kebebasan akademik. Menurut Sigit, Fakultas Hukum UGM mendorong segenap lapisan masyarakat untuk menerima dan menghomati kebebasan berpendapat dalam koridor akademik.

Diskusi itu dituding akan menyebarluaskan paham makar terhadap kepemimpinan Presiden Joko "Jokowi" Widodo diduga bermula dari tulisan seorang akademisi bernama Bagas Pujilaksono di laman media online Tagar. Kepada media tersebut, Bagas yang notabene adalah dosen pascasarjana di Fakultas Teknik UGM itu, mengatakan kelompok terdidik di UGM justru malah sibuk mewacanakan pemecatan Jokowi. Sementara, di sisi lain, mantan Wali Kota Solo itu sedang berjuang melawan pandemik COVID-19

"Kami juga mengecam berita provokatif dan tidak berdasar terkait degan kegiatan akademis tersebut yang kemudian tersebar di berbagai media dan memperkeruh. Hal ini mengarah pada perbuatan pidana penyebaran berita bohong serta pencemaran nama baik," kata Sigit dalam keterangan tertulisnya. 

Baca Juga: Jadi Pembicara Diskusi Ilmiah, Guru Besar UII Diteror Orang Asing

2. Pelaku teror juga meretas akun media sosial dan video conference yang digunakan untuk berdiskusi

UGM Ungkap Mahasiswa Panitia Diskusi Ikut Diancam akan Dibunuh  Aplikasi zoom mobile. (IDN Times/Bayu D. Wicaksono)

Selain meneror dengan mengirimkan pesan pendek kepada mahasiswa dan orang tua mereka, FH UGM juga menyebut pelaku turut meretas akun media sosial yang digunakan oleh komunitas CLS untuk menyosialisasikan diskusi tersebut. Peretasan terjadi pada (29/5) kemarin. 

"Peretas juga menyalahgunakan akun-akun media sosial yang diretas untuk menyatakan pembatalan diskusi sekaligus mengeluarkan (kick out) semua peserta diskusi yang telah masuk grup diskusi," kata Sigit. 

Aplikasi diskusi yang digunakan adalah Zoom. Selain itu, akun Instagram CLS sudah tak lagi bisa diakses. 

3. FH UGM berjanji akan melindungi semua orang yang terlibat dalam acara diskusi virtual

UGM Ungkap Mahasiswa Panitia Diskusi Ikut Diancam akan Dibunuh  Poster acara diskusi yang diselenggarakan oleh Fakultan Hukum UGM sebelum penggantian judul/ Istimewa

Sigit menambahkan pihaknya akan melindungi pihak yang mendapatkan tekanan psikologi dan ancaman teror. Fakultas Hukum UGM perlu untuk melindungi segenap civitas akademika termasuk semua yang terlibat di dalam kegiatan tersebut.

"Dalam hal ini FH UGM telah mendokumentasikan segala bukti ancaman yang diterima oleh pihak terkait serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka melindungi segenap civitas akademika FH UGM serta pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa ini," ujarnya.

4. UII kecam teror ke Prof Dr Ni'matul Huda

UGM Ungkap Mahasiswa Panitia Diskusi Ikut Diancam akan Dibunuh  (Ilustrasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta) Istimewa

Sikap senada disampaikan Universitas Islam Indonesia. Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, mengecam tindakan intimidasi terhadap panitia penyelenggara dan narasumber diskusi Prof. Dr. Ni’matul Huda. Menurut Fathul, tindakan itu tidak dapat dibenarkan baik secara hukum maupun akal sehat.

"Kami meminta aparat penegak hukum untuk memproses, menyelidiki dan melakukan tindakan hukum terhadap oknum pelaku tindakan intimidasi terhadap panitia penyelenggara dan narasumber diskusi dengan tegas dan adil," kata Fathul melalui keterangan tertulisnya.

Fathul juga meminta aparat penegak hukum untuk memberikan perlindungan terhadap panitia penyelenggara dan narasumber, serta keluarga mereka, dari tindakan intimidasi lanjutan. Selain itu, UII juga meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk mengawal penuntasan kasus ini.

"Kami meminta Presiden Republik Indonesia dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk memastikan terselenggaranya kebebasan akademik demi menjamin Indonesia tetap dalam rel demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat di muka umum," ujarnya.

Baca Juga: Dari Bom Sampai Penggal Kepala, Ini Ancaman yang Pernah Teror Jokowi

Topic:

  • Santi Dewi
  • Jumawan Syahrudin
  • Yogie Fadila

Berita Terkini Lainnya