Comscore Tracker

Predator Anak Asal Mojokerto Ini Jadi Terpidana Kebiri Kimiawi Pertama

Untuk pertama kali kebiri kimiawi dilakukan di Indonesia

Mojokerto, IDN Times - Terpidana kasus percabulan terhadap sejumlah anak di Mojokerto,  Aris (20), akan segera menjalani hukuman kebiri kimiawi. Ini akan menjadi hukuman kebiri kimia pertama yang dilakukan di Indonesia.

"Terpidana melakukan perbuatan cabul terhadap 9 orang anak, di fakta persidangan. Tapi saya yakin itu lebih dari itu. Terakhir ada 12," ujar Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto, Rudy Hartono, ketika dihubungi IDN Times, Minggu (25/8).

1. Kasus ini terungkap melalui rekaman CCTV

Predator Anak Asal Mojokerto Ini Jadi Terpidana Kebiri Kimiawi Pertamapixabay.com/RyanMcGuire

Rudy Hartono mengatakan kasus Aris terungkap pada Oktober 2018 lalu. Melalui rekaman CCTV, pencabulan yang dilakukan Aris terhadap anak-anak di bawah usia 10 tahun, baik laki-laki maupun perempuan, akhirnya terbongkar.

Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke polisi hingga ke meja hijau PN Mojokerto. Sedikit demi sedikit terungkap fakta kegemaran Aris melakukan kejahatan seksual tersebut. Bahkan, kelakuannya telah ia mulai sejak tahun 2015.

Baca Juga: Pencabul 9 Anak Mojokerto Dihukum Kebiri Kimiawi, Ini Tanggapan ICJR

2. Hakim PN Mojokerto menjatuhkan hukuman kebiri dan 12 tahun penjara

Predator Anak Asal Mojokerto Ini Jadi Terpidana Kebiri Kimiawi Pertamaourlawyer.co.za

Setelah menjalani persidangan, Jaksa Penuntut Umum mengajukan tuntutan 17 tahun penjara dengan denda Rp100 juta subsider 6 bulan. 

Namun hakim justru menjatuhkan vonis terpidana dengan hukuman penjara dikurangi menjadi 12 tahun. Namun ditambah dengan hukuman kebiri kimia.

"Kalau pertama kali (Vonis hukuman kebiri di Indonesia) memang setahu saya betul," imbuhnya.

Rudy mengatakan, keputusan hakim atas hukuman kebiri kimia tersebut patut diapresiasi. Menurutnya, kejahatan Aris sudah termasuk kejahatan luar biasa yang setimpal dengan hukuman kebiri.

Selain itu, tidak ada hal meringankan pada kasus Aris hingga membuat hakim menjatuhkan hukuman kebiri.

"Kalau Anda jadi hakim, kenapa harus kebiri nanti? Hukuman mati! Saya sampaikan ilustrasinya seperti itu. Bisa dibayangkan betapa kejinya dia yang terungkap di pengadilan," tuturnya.

3. Terpidana pernah banding ke PT namun ditolak

Predator Anak Asal Mojokerto Ini Jadi Terpidana Kebiri Kimiawi Pertamavaping.com

Merasa tak terima, Aris beserta kuasa hukumnya mengajukan banding ke tingkat Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya. Rupanya, majelis hakim PT Surabaya sependapat dengan hakim PN Mojokerto. Aris tetap dinyatakan bersalah dengan vonis yang sama seperti semula.

"Lalu terpidana dan penasihat hukumnya banding ke PT Surabaya. Oleh PT Surabaya diputus menyetujui dengan keputusan pengadilan tingkat pertama. Sehingga perkara Aris itu sudah mempunyai kekuatan hukum tetap karena tidak ada lagi upaya hukum yang dilakukan oleh terpidana dan kuasa hukumnya," jelasnya.

Hukuman ini tertuang dalam Putusan PT Surabaya nomor 695/PID.SUS/2019/PT SBY tanggal 18 Juli 2019.

4. Eksekusi kebiri wajib dilaksanakan karena sudah ada UU yang mengaturnya. Peraturan pemerintahnya belum ada

Predator Anak Asal Mojokerto Ini Jadi Terpidana Kebiri Kimiawi PertamaIDN Times/Sukma Sakti

Setelah mendapatkan pemberitahuan hasil bandingnya, lanjut Rudy, Aris tak melakukan upaya hukum lanjutan yaitu kasasi hingga 14 hari waktu yang disediakan. Dengan ini, putusan PT Surabaya dinyatakan berkekuatan hukum tetap.

"Sampai pekan lalu, saya minta cek oleh jaksanya biasanya ada surat dari panitera pemberitahuan upaya kasasi atau tidak. Tapi ini saya cek gak ada. Di panitera kasasi PN Mojokerto tidak ada. Di pemberitahuan Jaksa Penuntut Umum juga tidak ada. Sehingga saya pikir dan nyatakan perkara ini memiliki kekuatan hukum tetap," terangnya.

Senin (26/8), Rudy sudah siap menjebloskan Aris ke penjara. Namun untuk kebiri kimia, pihaknya masih berkoordinasi dengan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur untuk menentukan teknis pelaksanaan eksekusi tersebut.

"Teknisnya bagaimana nih? Kalau eksekusi pasti wajib dilaksanakan, teknisnya nanti kita lihat. Karena di UU sudah ada. Tapi kan kita sama-sama tahu PP (Peraturan pemerintah)-nya belum ada," imbuhnya.

Baca Juga: Bali Peringkat 17 di Indonesia dengan Kasus Paedofil Tertinggi

Topic:

  • Dwi Agustiar

Just For You