Comscore Tracker

Pengakuan Mahasiswa Papua, Warga Bandung Lebih Ramah

Mahasiswa Papua ingin bertemu Gubernur Ridwan Kamil

Bandung, IDN Times – Seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, warga Papua juga banyak merantau ke luar pulau. Khusus mahasiswanya, mereka tidak hanya memilih wilayah Jawa Timur untuk tempat menimba ilmu, tapi juga daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, bahkan ke Jakarta dan Banten.  

Weak Kosay, salah satu pemuda Papua, memilih melanjutkan pendidikannya di Bandung, Jawa Barat. Demi mendapatkan pendidikan terbaik, Weak Kosay rela meninggalkan tempat kelahiran dan merantau jauh sekitar 4.300 km ke Kota Bandung.

Selama beberapa tahun tinggal di Bandung, Weak merasakan pahit manisnya kehidupan sebagai perantau, termasuk sikap rasialisme yang terkadang diberikan masyarakat Kota Kembang.

Weak mengakui, rasialisme merupakan risiko yang harus ditanggung bersama rekan-rekan sekampungnya yang berada di luar Papua. Tapi, bukan berarti ia mau membiarkan hal itu. Ia ingin perantau Papua di Bandung dianggap seperti warga Bandung pada umumnya.

Baca Juga: Ini Perintah Presiden Jokowi untuk Tindak Tegas Kericuhan di Papua

1. Warga Bandung lebih ramah, tapi masih ada rasialisme

Pengakuan Mahasiswa Papua, Warga Bandung Lebih RamahIDN Times/Galih Persiana

Menurut Weak, warga Bandung memang lebih ramah terhadap masyarakat Papua, ketimbang seperti yang terjadi di Surabaya dan Malang beberapa hari lalu. Weak tidak pernah menerima perkataan kasar karena ras atau sukunya.

Namun, bukan berarti Weak tidak pernah mengalami sikap rasialisme. “Hal-hal rasis seperti perkataan kasar itu gak ada. Cuma pas naik mobil umum, ada semacam ketidakenakkan buat kami. Misalkan naik angkot, warga di dalam angkot langsung turun, gak mau dekat kami,” kata Weak kepada IDN Times di Asrama Mahasiswa Papua di Kota Kembang, Selasa (20/8).

Di Bandung Raya terdapat sekitar 200 mahasiswa asal Papua yang merantau untuk menempuh pendidikan. Kalau di Jawa Barat, kata Weak, jumlah mahasiswa rantau Papua bisa mencapai lebih dari 500 orang.

2. Ketimpangan fasiltias pendidikan

Pengakuan Mahasiswa Papua, Warga Bandung Lebih RamahIDN Times/Arief Rahmat

Kalau saja Papua punya kampus-kampus dengan fasilitas lengkap, mungkin Weak dan teman-temannya tidak akan merantau. Tapi, kata dia, bagaimana lagi karena sistem pendidikan di Papua tidak sebaik perguruan tinggi di Pulau Jawa.

“Sistem pendidikan negara di Jawa dan Papua itu sangat jauh berbeda. Di sana (Papua) itu sistemnya bukan membuka wawasan kami sebagai mahasiswa, tapi malah menutupnya. Makanya kami cari keluar sini untuk belajar di Bandung,” kata dia.

3. Kembali untuk membangun Papua

Pengakuan Mahasiswa Papua, Warga Bandung Lebih RamahIDN Times/Sukma Shakti

Sejak pertama kali menempuh pendidikan di Bandung, Weak sadar bahwa ia akan lulus dan harus kembali ke kampung halamannya. Di Papua sana, kata dia, ia akan membawa bekal ilmu untuk membangun Papua.

“Begini, kami merasa harus pulang ke Papua setelah dapat ilmu di sini. Apa yang kami dapat di sini, kami terapkan di sana. Seperti mahasiswa rantau di daerah mana pun akan seperti itu, ingin membangun daerahnya masing-masing,” ujar Weak.

4. Bikin izin unjuk rasa di Bandung itu mudah

Pengakuan Mahasiswa Papua, Warga Bandung Lebih RamahANTARA FOTO/Novrian Arbi

Setali tiga uang, Fernando Billy, senior Weak yang juga berasal dari Papua mengatakan, masyarakat Bandung lebih menerima kehadiran perantau Papua dibandingkan daerah lainnya. Di Bandung, kata Billy, tidak sulit mengajukan perizinan misalnya untuk menggelar aksi massa dalam menyampaikan aspirasi.

“Kalau di tempat-tempat lain, misalnya di Bali, di Malang, agak susah. Sementara ormas (organisasi masyarakat) lain di sana selalu mudah mendapat izin untuk menyampaikan pendapat,” ujar Billy.

5. Ingin segera bertemu Ridwan Kamil

Pengakuan Mahasiswa Papua, Warga Bandung Lebih RamahIDN Times/Galih Persiana

Karena itu, saat ini Weak dan teman-teman perantau Papua ingin sekali bertemu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk menyampaikan keresahannya tinggal sementara di Jawa Barat. Ia menilai, setiap perkataan Ridwan Kamil yang akrab disapa Kang Emil, akan didengar oleh masyarakat Jawa Barat.

“Kami berharap begitu, mangkanya kami bilang (ingin) audiensi biar stigma-stigma itu bisa diluruskan. Kalau Gubernur Jawa Barat yang sampaikan, pasti masyarakatnya dengar,” kata Weak.

“Jadi Bapak Ridwan Kamil harus menjelaskan pada masyarakatnya, bahwa sebetulnya mahsiswa Papua itu begini, ingin dianggap seperti masyarakat pada umumnya, bukan mengalami stigma buruk seperti selama ini,” ujar Weak.

Baca Juga: Mahasiswa Papua di Bandung Ngotot Ingin Bertemu Ridwan Kamil

Topic:

  • Sunariyah

Just For You