Comscore Tracker

Volume Sampah di Tanah Air 175 Ton per Hari, Bagaimana Mengolahnya?

Pengelolaan sampah perlu kerja sama pemerintah dan warga

Jakarta, IDN Times - Volume sampah organik di tanah air menembus angka ratusan juta ton per hari. Baik pemerintah maupun masyarakat diharapkan mampu bekerja sama menghasilkan kebijakan yang mampu berdampak terhadap penurunan signifikan volume sampah harian.

Direktur Utama Indonesia Science Center, Ery Subada, mengatakan volume sampah organik tiap harinya mencapai hampir 175 ton per hari. Sampah masih menjadi momok bagi Indonesia dan sejumlah negara di dunia.

“Kalau kita kalikan, kita bayangkan dari satu bulan bisa hampir 5,2 juta ton per bulan ini sesuatu yang sangat luar biasa. Permasalahan sampah ini tidak hanya dialami oleh negara kita, tapi hampir di semua negara juga memiliki permasalahan yang sama yakni pengelolaan sampah yang sangat luar biasa ini,” ujarnya, Selasa (31/5/2022).

Baca Juga: Warga Protes Sampah Tangsel, Wali Kota Serang: Sampah Bau Kalau Dicium

1. Solusi jitu diperlukan untuk mengatasi sampah

Volume Sampah di Tanah Air 175 Ton per Hari, Bagaimana Mengolahnya?Ilustrasi daur ulang sampah (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)

Indonesia Science Center menilai bahwa pengelolaan sampah di Indonesia memerlukan solusi jitu yang mampu menekan angka sampah dengan cukup signifikan. Sehingga, pengelolaan sampah bisa dijalankan dengan efektif dan efisien. 

“Ke depan mudah-mudahan ada penemuan teknologi khususnya untuk sampah organik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga mempunyai nilai tepat guna dan nilai yang bermanfaat bagi lingkungan dan kita semua,” katanya.

2. Sampah bisa diubah menjadi produk lain

Volume Sampah di Tanah Air 175 Ton per Hari, Bagaimana Mengolahnya?Dok.Pribadi/Bernardinus Amanda Nugraha

Deputi Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mego Pinandito tidak membantah jika permasalahan sampah di Indonesia memang cukup kompleks dan keterlibatan teknologi diperlukan.

“Mungkin saja ada peluang untuk menjadikan sampah sebagai produk yang bisa dicarikan alternatifnya menjadi produk lain yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi,” tuturnya.

Baca Juga: Jokowi Acungkan 2 Jempol untuk Pengolahan Sampah Surabaya

3. Sampah bisa jadi produk ekonomi

Volume Sampah di Tanah Air 175 Ton per Hari, Bagaimana Mengolahnya?Astra kumpulkan 47.013 kg sampah plastik (Dok.Astra)

Menurutnya, sampah kalau dikelola dengan baik jadi sebuah barang yang menjadi sebuah produk nilai tambah dan memiliki potensi sebagai produk yang bisa dijual bisa disebut sebagai produk ekonomi.

“Secara sadar atau tidak setiap harinya kita memproduksi sampah, walaupun kita tahu sampah sebetulnya bagian yang tidak kita perlukan. Namun, tiap hari volume dari sampah terus saja bertambah, bagaimana upaya kita agar sampah tersebut menjadi satu wujud yang punya nilai.” kata Mego.

4. Pengelolaan sampah banyak tantangan

Volume Sampah di Tanah Air 175 Ton per Hari, Bagaimana Mengolahnya?Instagram.com/plastikdetoxbali

Peneliti BRIN Wahyu Purwanta dalam paparannya yang berjudul ‘Pengelolaan Sampah di Indonesia, Tantangan dan Harapan,’ mengemukakan bahwa pengelolaan sampah di Indonesia saat ini masih memiliki banyak tantangan.

“Masih sedikit masyarakat Indonesia yang mempunyai kesadaran untuk memilah sampah mulai dari rumahnya masing-masing. Sebesar 80 persen masyarakat Indonesia tidak memilah sampah mereka. Hal ini salah satu yang membuat sulit pengelolaan sampah di Indonesia,” ujar Wahyu.

5. Sampah yang tidak terkelola masih banyak

Volume Sampah di Tanah Air 175 Ton per Hari, Bagaimana Mengolahnya?Ilustrasi sampah plastik. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

Wahyu menyampaikan, dari 41 juta ton timbunan sampah yang terkumpul dari 149 kota dan kabupaten dalam satu tahun, sampah yang berhasil terkelola sebesar 43 persen. Sedangkan, porsi sampah yang tidak terkelola masih lebih besar daripada sampah yang berhasil dikelola.

“Pemerintah sudah membuat undang – undang mengenai pengelolaan sampah, undang – undang turunannya pun sudah banyak dibuat. Namun, sampah seringkali tidak menjadi prioritas, anggarannya untuk pengelolaannya pun tidak memadai hal ini juga mempengaruhi kemampuan kita untuk mengurangi ataupun mengelola sampah,” katanya.

6. Maggot bisa jadi solusi atasi sampah

Volume Sampah di Tanah Air 175 Ton per Hari, Bagaimana Mengolahnya?IDN Times/Humas Pemprov DKI Jakarta

Pemerintah Kota DKI Jakarta sedang mengembangkan budidaya Maggot untuk membantu mengurai sampah, Maggot merupakan larva yang dapat mengurai sampah dengan memakan material organik Larva maggot tidak menjadi media penyakit, siklus hidupnya hanya 40 hari. Larva ini dapat bernilai ekonomis karena dapat dijual sebagai pakan ternak.

Hewan ternak yang mengkonsumsi maggot hasil dagingnya akan lebih enak dan empuk. Dalam satu hari satu kilogram larva maggot bisa menghabiskan hingga tiga kilogram sampah organik setiap harinya, jika kita bisa memperbanyak penggunaan maggot akan membantu menambah jumlah sampah yang terurai setiap harinya.

Baca Juga: Keberadaan Sampah Plastik yang Menjadi Ancaman Perairan Laut

7. Sampah masih jadi momok bagi Jakarta

Volume Sampah di Tanah Air 175 Ton per Hari, Bagaimana Mengolahnya?ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Timur, Wahyudi Rudiyanto, mengungkap sampah organik mendominasi tempat pembuangan akhir sebesar 43 persen dari total jumlah sampah saat ini.

“Dalam kebijakan strategis daerah DKI Jakarta, kita diamanahkan untuk mengurangi sampah sebesar 24 persen. Ini merupakan tantangan yang berat makanya kami butuh stakeholder yaitu masyarakat yang mempunyai keinginan untuk mengelola sampah dari sumbernya salah satunya rumah tangga,” ucapnya.

Sebagai informasi,  jumlah sampah terbesar DKI Jakarta yang ditampung TPA Bantar Gebang mencapai 7.000 hingga 8000 ton per hari. Tinggi gunung sampah di TPA Bantar Gebang saat ini sudah mencapai 47 hingga 50 meter. Jakarta hanya memiliki satu TPA dan volume sampah di Bantar Gebang sudah hampir memenuhi kapasitas maksimal.

Pemkot DKI Jakarta telah mengubah pola system proses sampah yang semula, kumpul-angkut-buang, kini diubah menjadi kumpul–pilah–olah.

“Kami mulai mencoba masyarakat semua kalangan di DKI Jakarta supaya mengikuti system yang baru, ini salah satu upaya kami untuk mengatasi penumpukan yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang,” ujar Wahyudi.

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya