Comscore Tracker

Adakah Dampak Positif dari Luasnya Lahan Kelapa Sawit di Indonesia?

Studi: Kelapa sawit lebih hemat lahan

Jakarta, IDN Times - Satuan Tugas Kelapa Sawit International, Union for Conservation of Nature (IUCN), merampungkan analisis obyektif tentang dampak kelapa sawit terhadap keanekaragaman hayati secara global, serta menawarkan solusi untuk pelestarian lingkungan.

Hasil studi menyimpulkan, komoditas minyak nabati lainnya membutuhkan lahan sembilan kali lebih besar dibandingkan kelapa sawit.

“Dibutuhkan lahan 8 sampai 9 kali lebih luas untuk memproduksi 1 ton minyak nabati. Artinya kebutuhan minyak nabati sampai 2050 akan terus meningkat. Kalau lahan untuk kelapa sawit tidak tambah luas, dibutuhkan lahan luas untuk memenuhi minyak nabati dari jenis lain. Itu bukan solusi,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta, Senin (4/2).

Baca Juga: Menyedihkan, Kebun Sawit Bikin Nasib Orangutan Aceh Jadi Begini

Baca Juga: Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan, Begini Strategi Kutim

1. Memproduksi minyak nabati dari kelapa sawit butuh lebih sedikit lahan daripada non kelapa sawit

Adakah Dampak Positif dari Luasnya Lahan Kelapa Sawit di Indonesia?IDN Times/ Helmi Shemi

Darmin mencontohkan, untuk memproduksi 1 ton minyak nabati, hanya membutuhkan 0,26 hektar lahan kelapa sawit. Sementara butuh 1,43 hektar lahan untuk bunga matahari dan 2 hektar lahan kacang kedelai untuk memproduksi 1 ton minyak nabati.

Dengan demikian, mengganti komoditas kelapa sawit dengan komoditas minyak nabati Iainnya, akan secara signifikan meningkatkan total kebutuhan lahan untuk memproduksi minyak nabati non kelapa sawit, dalam rangka pemenuhan kebutuhan global atas minyak nabati.

“Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi oleh industri kelapa sawit, utamanya di Indonesia, fakta berbasis ilmiah seperti ini sangat diperlukan untuk memberikan pemahaman kepada publik terkait pengembangan kelapa sawit di Indonesia," kata Darmin

2. Butuh 310 juta ton minyak nabati untuk dunia pada 2050

Adakah Dampak Positif dari Luasnya Lahan Kelapa Sawit di Indonesia?Budidaya Kelapa Sawit - PT.Natural Nusantara

Pada 2050, diperkirakan kebutuhan minyak nabati dunia sebesar 310 juta ton. Saat ini minyak kelapa sawit berkontribusi sebesar 35 persen dari total kebutuhan minyak nabati dunia.

“Dengan konsumsi terbesar di India, RRT, dan lndonesia,” sebut Darmin saat menerima hasil studi dari Kepala Satgas Kelapa Sawit IUCN Erik Meijaard.

Adapun proporsi penggunaan minyak kelapa sawit adalah 75 persen untuk industri pangan dan 25 persen untuk industri kosmetik, produk pembersih, dan biofuel.

3. Lahan untuk keanekaragaman hayati

Adakah Dampak Positif dari Luasnya Lahan Kelapa Sawit di Indonesia?IDN Times/ Helmi Shemi

Temuan lain dari studi ini menunjukkan, keanekaragaman hayati di hutan hujan tropis Indonesia diisi sekitar 193 spesies langka seperti orangutan, siamang, gajah, dan harimau.

“Pemerintah Indonesia pun sudah mengalokasikan habitat bagi flora dan fauna tersebut. Jenis habitatnya berupa taman nasional, cagar alam, suaka margasatwa, dan kawasan lindung lainnya dengan luas hutan konservasi sebesar 22,1 juta hektar dan hutan lindung seluas 29,7 juta hektar,” papar Darmin.

Selain memberikan kawasan perlindungan ke satwa, pemerintah juga telah mengalokaskan ruang lain di luar kawasan perlindungan sebagai areal habitat satwa seperti koridor satwa Kawasan Ekonomi Esensial (KEE), serta High Conservation Value (HCV).

Di Indonesia, alokasi pemanfaatan lahan untuk menunjang kehidupan seluas 33 persen atau 66 juta hektar dari total luas daratan Indonesia. Dari luasan tersebut, perkebunan kelapa sawit menjadi yang terluas dengan pemanfaatan sebesar 14 juta hektar, diikuti sawah yang menempati 7,1 juta hektar lahan, dan selebihnya permukiman dan fasilitas publik lainnya.

4. Hasil studi lain tentang kelapa sawit

Adakah Dampak Positif dari Luasnya Lahan Kelapa Sawit di Indonesia?IDN Times/ Helmi Shemi

Hasil studi Erik juga menyatakan bahwa wilayah tropis di Afrika dan Amerika Selatan merupakan daerah potensial untuk penyebaran kelapa sawit. Wilayah tersebut merupakan habitat bagi 54 persen dari spesies mamalia terancam di dunia, dan hampir 64 persen dari spesies burung yang terancam.

Menurutnya, jika kelapa sawit digantikan oleh tanaman penghasil minyak nabati lainnya, maka akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem hutan tropis dan savana di Amerika Selatan.

"Jika melihat dampak kerusakan terhadap keanekaragaman hayati yang ditimbulkan oleh kelapa sawit dengan perspektif global, maka tidak ada solusi yang sederhana. Separuh dari populasi dunia menggunakan minyak kelapa sawit dalam bentuk makanan, dan jika ini kita larang atau boikot, minyak nabati lainnya yang membutuhkan lahan lebih luas akan menggantikan kelapa sawit," papar Erik. 

Dia menambahkan, "kelapa sawit akan tetap dibutuhkan dan kita perlu segera mengambil langkah untuk memastikan produksi kelapa sawit yang berkelanjutan, memastikan semua pihak pemerintah, produsen, dan rantai pasok menghargai komitmen mereka terhadap keberlanjutan."

Baca Juga: Perang Dagang Global, Darmin Nasution Siapkan Strategi bagi Indonesia

Topic:

  • Helmi Shemi
  • Sunariyah
  • Yogie Fadila

Berita Terkini Lainnya