Comscore Tracker

Mengenal Tradisi Mandi Limau Jelang Ramadan di Tapanuli Tengah

Mandi limau sejatinya warisan budaya Hindu

Tapanuli Tengah, IDN Times - Umat muslim di beberapa daerah biasanya menggelar tradisi unik jelang bulan suci Ramadan, seperti bermaaf-maafan, bersilaturahmi dengan kerabat, ziarah kubur, dan berbagai ritual lainnya.

Di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, umat muslim menggelar tradisi Mandi Limau. Tahun lalu tradisi ini sempat dilarang karena masih pandemik, tapi tahun ini belum ada instruksi bupati.

Mandi Limau sudah menjadi tradisi umat muslim di Tapanuli Tengah sejak lama. Masyarakat di sana biasanya menyebut dengan momen Balimau-limau. Umat muslim beramai-ramai mendatangi sungai yang berada di Sibuluan untuk melaksanakan tradisi ini.

"Tidak semua umat Islam Mandi Limau di sungai. Ada yang melakukannya di rumah masing-masing," kata pemerhati Budaya Pesisir Sibolga-Tapteng Syafriwal Marbun, Kamis, 8 April 2021.

Baca Juga: 6 Tanda Menjelang Sakaratul Maut dalam Islam

1. Mandi Limau warisan budaya Hindu

Mengenal Tradisi Mandi Limau Jelang Ramadan di Tapanuli TengahPemerhati Budaya Pesisir Sibolga dan Tapanuli Tengah, Syafriwal Marbun (IDN Times/Hendra Simanjuntak)

Menurut Syafriwal Mandi Limau sudah dilakukan umat muslim di Tapanuli Tengah sejak ratusan tahun lalu. Dan tradisi itu disebutkan merupakan warisan budaya Hindu.

Masyarakat Hindu, kata dia, akan membersihkan diri dari perbuatan tercela atau aib dengan cara memandikan air beraroma wangi yang sudah bercampur dengan rempah-rempah.

"Warisan itu kemudian dilakukan umat Islam untuk mensucikan diri dalam menyambut Ramadan," kata Syafriwal.

2. Mandi Limau berasal dari bahasa pesisir

Mengenal Tradisi Mandi Limau Jelang Ramadan di Tapanuli TengahTradisi mandi limau setiap tahun nya dilakukan masyarakat beragama Islam di Tapanuli Tengah dan Sibolga (IDN Times/Hendra Simanjuntak)

Syafriwal menjelaskan penyebutan Mandi Limau berasal dari bahasa pesisir. Masyarakat pesisir menamai daun jeruk nipis dengan sebutan Limau. Aroma wangi yang tercium dari air limau merupakan campuran antara daun pandan dan daun jeruk nipis (Limau).

Dua bahan itu kemudian dicampur dengan bahan lainnya. "Adalagi campurannya, daun Ambelu, sejenis tanaman jahe. Dihaluskan dan dicampur dengan dua bahan itu. Aroma daun Ambelu memang sangat wangi," kata dia.

3. Menjalankan puasa Ramadan tidak harus melakukan tradisi Mandi Limau

Mengenal Tradisi Mandi Limau Jelang Ramadan di Tapanuli TengahPemerhati Budaya Pesisir Sibolga dan Tapanuli Tengah menyebut mandi limau tidak ada dalam ajaran agama Islam (IDN Times/Hendra Simanjuntak)

Syafriwal menyebut, Mandi Limau tidak wajib dilakukan bagi umat muslim yang ingin menjalankan puasa. Sebab, tradisi ini tidak ada dalam ajaran agama Islam.

Dalam menyambut Ramadan, mandi seperti pada umumnya juga bisa dilakukan masyarakat yang ingin berpuasa. Atau tanpa harus menjalankan tradisi Mandi Limau.

"Yang penting, niatnya. Kalau niatnya baik, mandi yang bersih pakai sabun saja, masyarakat beragama Islam sudah bisa menjalankan puasa. Sekali lagi, niatnya yang penting," kata Syafriwal.

4. Sungai di Tapanuli Tengah selalu ramai didatangi masyarakat menjelang Ramadan

Mengenal Tradisi Mandi Limau Jelang Ramadan di Tapanuli TengahTahun ini larangan mandi limau belum ada dari Kepala Daerah di Sibolga dan Tapanuli Tengah (IDN Times/Hendra Simanjuntak)

Meski tidak diwajibkan, tradisi mandi limau hingga kini masih terus bertahan dan masih dilakukan umat muslim di Tapanuli Tengah. Menurut Syafriwal, sehari menjelang Ramadan, tidak sedikit masyarakat di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah terlihat berbondong-bondong pergi ke sungai untuk menjalankan tradisi itu.

"Sungai di Sibuluan itu tiap tahun pasti ramai dikunjungi masyarakat saat menjelang Ramadan, baik anak-anak, orangtua dan remaja," ucapnya.

5. Tradisi Mandi Limau tidak perlu dipertahankan

Mengenal Tradisi Mandi Limau Jelang Ramadan di Tapanuli TengahKarena wabah COVID-19, tahun lalu tradisi mandi limau sempat dilarang (IDN Times/Hendra Simanjuntak)

Melihat kondisi itu, tradisi Mandi Limau seharusnya tidak perlu dipertahankan. Menurut Syafriwal bertahan dengan tradisi itu akan menimbulkan pandangan yang tidak baik.

Pasangan remaja banyak memanfaatkan momen tradisi itu. Pria dan wanita berkumpul dan mandi di tempat yang tidak terpisah. 

Padahal, untuk menyambut Ramadan umat Islam harus memiliki jiwa dan raga yang bersih. Tidak melakukan dengan bertentangan pada ajaran agama Islam.  Pasangan yang bukan suami istri dalam ajaran Islam disebut muhrim.

"Walaupun Mandi Limau pakai baju, itu tetap salah. Dalam ajaran agama Islam, pasangan yang bukan suami istri itu disebut muhrim," kata Syafriwal.

Syafriwal menyebutkan, selain menimbulkan pandangan yang tidak baik, mandi limau yang dilakukan setelah asar dinilai akan mengurangi niat untuk menjalankan salah satu kewajiban sebagai umat muslim.

Tidak sedikit, kata dia, masyarakat yang sudah lelah setelah Mandi Limau di sungai jadi lalai melakukan kewajiban untuk salat magrib.

"Ada yang pulang dari sungai sudah kesorean, menjelang magrib. Sampai rumah, pastinya tidak bisa mengejar waktu untuk melaksanakan salat magrib. Padahal salat magrib itu wajib dilakukan sebelum salat tarawih," kata Syafriwal.

Baca Juga: Sambut Ramadan, Komunitas ODHA di Tulungagung Gelar Tradisi Megengan

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya