Comscore Tracker

Ironis, Sarjana Kalah Bersaing di Dunia Pekerjaan

Duh bagaimana nih pak!

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Februari 2017 lalu, ada 131,55 juta angkatan kerja di Indonesia. Jumlah ini terbilang naik dibandingkan bulan yang sama di tahun 2016 yakni 3,88 juta orang. 

Dari angka tersebut, baru 124,54 juta orang saja yang tercatat telah bekerja. Dan 7,01 juta orang diantaranya masuk dalam kategori pengangguran. Ironisnya, dari data itu juga diketahui bahwa ada 7.005.262 pengangguran terdidik.

Jika dikerucutkan, ada 856.644 orang yang sudah menamatkan pendidikan Diploma dan Universitas namun belum mendapatkan pekerjaan. 

Ironis, Sarjana Kalah Bersaing di Dunia Pekerjaanbps.go.id  Data BPS (2017)

Di sisi lain, Kementerian Riset Tekologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia merilis jumlah tenaga kerja yang berasal dari perguruaan tinggi hanya 11,34 persen dari total yang ada, dan masih didominasi oleh pekerja dengan pendidikan terendah. Sungguh mengkhawatirkan bukan?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy untuk melakukan reformasi pendidikan di Indonesia. Khususnya penyesuaian kurikulum perguruan tinggi untuk bisa melakukan perubahan secara global. 

"Mestinya jurusan-jurusan ini juga harus diganti dengan perubahan-perubahan yang ada. Bisa saja di situ jurusan animasi, jurusan video, jurusan ritel misalnya. Kenapa tidak? Jurusan mekatronika, padahal sudah berubah," tegas Jokowi sebagaimana dilansir Kompas.com.

Ironis, Sarjana Kalah Bersaing di Dunia PekerjaanIDN Times/Iman Suryanto

Seperti terobosan yang dibuat oleh Elon Musk, pendiri SpaceX, yang tengah mengembangkan teknologi Hyperloop. Untuk itu, Jokowi meminta jurusan di perguruan tinggi dibuat spesifik.

Baca juga: Jokowi Minta Kepala Daerah untuk Bijak Berkomentar

Mengomentari hal tersebut, Prof. Dr. Paulina Pannen, M.L.S staf ahli Bidang Akademik Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia saat ditemui IDN Times saat menjadi pembicara diskusi Pendidikan di Sampoerna Unversity Jakarta Selatan, Rabu (25/10) sore mengaku apa yang diungkapkan Presiden Jokowi merupakan sebuah cambuk dan tantangan agar dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi bisa termotivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. 

Untuk itu, diperlukan kerjasama dari semua pihak baik dari sektor pemerintah maupun swasta untuk bisa sama-sama mendukung program ini.

"Saya lihat ada tiga indikator yang harus dilakukan perguruan tinggi dalam berperan meningkatkan kualitas tenaga kerja dari para lulusannya,"terangnya.

Serta perguruan tinggi harus meluncurkan inovasi yang mampu diserap oleh pasar, perguruan tinggi harus dapat mempersiapkan mereka terjun ke dalam dunia kerja serta perguruan tinggi harus mampu berkontribusi dalam perbaikan ekonomi negara.

"Jadi semuanya ada keterikatan satu sama lainnya. Karena Pendidikan itu hajat hidup orang banyak dan bukan hanya pemerintah saja,"terangnya.

Ironis, Sarjana Kalah Bersaing di Dunia PekerjaanIDNTimes/Iman Suryanto

Hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Wahdi Salasi April Yudhi Ph.D, Rektor Sampoerna University yang menegaskan peringkat pendidikan tinggi di Indonesia berada pada peringkat menengah dari 50 negara. Dan hal tersebut juga menjadi perhatiannya. 

"Kita tidak dapat menghindari kenyataan bahwa kompetisi akan semakin ketat, tidak hanya di tingkat lokal namun juga secara global. Kita harus bekerj sama dan melakukan yang terbaik untuk memastikan bahwa generasi masa depan mendapatkan awal yang terbaik melalui pendidikan tinggi yang berkualitas," katanya.

Pendidikan tinggi di Indonesia perlu didukung oleh kompetensi yang memadai, untuk membantu para lulusan universitas agar dapat siap kerja. 

Ironis, Sarjana Kalah Bersaing di Dunia PekerjaanIDNTimes/Iman Suryanto

Untuk itu, institusi-institusi pendidikan di lndonesia perlu menerapkan pendekatan yang lebih global dalam mendidik generasi masa depan. Idealnya, institusi pendidikan harus mengimplementasikan 21“ century skills yang dibutuhkan oleh industri. 

"Kenyataannya, masih banyak tantangan yang dihadapi oleh pemerintah maupun instansi pendidikan dalam mengimplementasinya,"jelasnya. 

Baca juga: 7 Kata yang 'Haram' Diucapkan Saat Interview Kerja

Topic:

Just For You